draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Jagger memepetkan
wajahnya ke kaca pintu untuk melihat ke dalam. Terlihat bangku-bangku
restoran berjajar dan sampah-sampah berserakan. Asbak, piring-piring
kotor, botol-botol, dan gelas-gelas kosong, tetapi tak terlihat seorang
manusia pun. Jagger mundur, dan didengarnya musik berdentam dari arah
atas. Ia mendongak, dan di lihatnya di atas restoran itu ada jendela
terbuka, dan dari jendela terbuka itulah sumber suara musik berdentam.
Jagger mengetuk
pintu, keras-keras, tetapi tak ada jawaban. Lagi dia mengetuk pintu
keras-keras, dan juga dia berteriak keras-keras ke arah jendela di
atasnya. Setelah berteriak beberapa kali, dilihatnya seseorang melongok
dari jendela.
"Cari siapa?"
Orang itu menyapa dalam bahasa Indonesia.
"Saya Jagger, diundang
Iwan Medan kemari."
"Tunggu bentar ya,
gue bukain pintu!"
Ternyata orang yang
melongok dan membukakan pintu itu adalah Iwan Medan sendiri.
"Ayo, masuk-masuk,
langsung saja ke atas, ini kita anak-anak Kampung Melayu sedang pesta.
Belum selesai dari semalem, tapi ayo saja, asyik, kita enjoy-enjoy
menyambut Tahun Baru."
Melangkah masuk
ke Mawar Medan yang bagian dalamnya bercat warna merah tua, Jagger
mengendus bau ganja.
"Taruh saja
jaketmu di situ."
Iwan menunjuk kepada
satu rak tempat gantungan jaket yang penuh dengan berbagai jaket dan
coat.
Jagger melepas jaket
kulitnya yang penuh dengan hiasan badge berbagai merek minyak pelumas,
dan mengikuti Iwan menaiki tangga.
Restoran Mawar Medan ternyata
terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua digunakan sebagai
restoran, sedangkan lantai ketiga digunakan sebagai gudang dan kantor.
Lantai kedua restoran itu tidak berbangku, hanya ada meja-meja pendek
yang semuanya sudah digeser ke tepi guna menciptakan ruang untuk berjoged.
Beberapa pasangan terlihat sedang berdansa bagai kesurupan. Orang-orang
lain, sekitar duapuluhan jumlahnya, duduk-duduk istirahat atau berpeluk-cium
di atas bangku-bangku yang ditumpuk di tepi dinding ruangan itu.
"Teman-teman,
ini ada sodara baru kita dari Melayu, namanya Jagger!"
Iwan memperkenalkan Jagger dengan
gaya seorang pemandu acara di panggung. Satu persatu Jagger menyalami
orang-orang yang ada di situ. Kira-kira kurang separuh dari orang
di pesta itu adalah orang Indonesia, dan yang lain, tampaknya semua
perempuan Inggris, meski sebagian besar berkulit hitam.
Hanya sebagian nama yang diingat
Jagger. Kecuali Iwan Medan, diingatnya pula nama-nama Donny, Gita,
Asep, dan Adam. Nama-nama lain tak jelas ditangkap karena musik masih
berdegum-degum. Tak seorangpun perempuan Indonesia di situ. Beberapa
perempuan kulit putih dan hitam sedang berasyik masyuk dengan pasangan
pria Indonesianya, di lantai, tak hirau akan orang-orang di sekitarnya.
"Ayo kita party!" seru
Iwan, dan dengan ramah digamitnya tangan Jagger meninggalkan ruang
restoran, naik ke ruangan kantor.
Di kantor ada tiga kawan Indonesia
lagi, yang diperkenalkan sebagai Mamat, asal Bekasi, Herry, asal Palembang,
dan Anto, asal Cirebon. Mamat sedang menggerus-ngerus bubuk putih
di atas meja kaca kantor itu, menggunakan selembar kartu kredit.
"Tutup pintu! Tutup pintu!"
kata Mamat sambil menyalami Jagger agak tak acuh. Jagger mengamati
apa yang sedang dikerjakan Mamat, seperti juga mata semua yang ada
di kantor itu memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan. Mamat
membagi bubuk itu menjadi lima garis tipis memanjang, lalu dengan
tersenyum lebar dia katakan pada Jagger:
"Sialakan, Boss, makan dulu,
selamat datang di London, Selamat Tahun Baru." Sambil berkata
demikian, tangannya meraih gulungan selembar uang dan menyodorkannya
pada Jagger.
"Apa
ini?" Jagger menerima gulungan uang itu sambil heran.
"Bedak. Lu makan saja dulu, baru kita happy! Di Melayu susah
khan, ginian?"
"Apa sih ini?"
"Kokain. Enak kok, lembut naiknya. Lu sedot saja masuk ke hidung.
Pelan saja, jangan kenceng-kenceng."
"Wah, gue belum pernah. Di Melayu biasanya gue ngegele aja."
"Gele tuh bikin ngantuk, ini baru, ini laen, maboknya orang kaya.
Makanya, coba dulu aja!"
Seperti pernah dilihatnya di film,
Jagger memasukkan satu ujung gulungan uang kertas itu ke cuping hidungnya,
sambil satu jari lain menutupi cuping sebelahnya, lalu dia merunduk
dan menyedot habis segaris bedak kokain yang sudah disiapkan oleh
Mamat di atas meja kaca itu. Setelah selesai Jagger menghisap, segera
kawan-kawan barunya itu mengikutinya, seakan tak sabaran.
Kokain itu masuk melalui cuping
hidung dan menempel pada rongga kerongkongan. Jagger merasakan rasa
pahit sedikit, namun rasa pahit itu segera hilang ketika seolah ada
satu gelombang kebahagiaan yang sangat tiba-tiba menghanyutkan dirinya.
Badan terasa ringan dan otaknya
terasa penuh gagasan penting. Kepenatan batin akibat cuaca musim dingin
London yang gelap mendadak sirna, tiba-tiba semua terasa indah, terasa
dia menemukan jalan keluar dari persoalan-persoalannya. Persoalan
apa? Sebenenarnya dia tidak tahu juga apa persoalan yang dihadapinya,
tetapi itu tak penting.
Sehirup kokain ternyata membuatnya
segar dan bergairah. Dirasakannya pula satu perasaan kasih sayang
hangat yang tertuju kepada semua kawan baru di sini. Ingin dia berbicara,
tetapi ditahannya niat berbicara itu karena takut malu jika ngawur
omongannya.
***bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo
Prijosusilo