memoar
Gadis
Kecilku
Selma
Hayek
Gereja
tua dan rumah penampungan
Nathan Road; jalan
lurus terpanjang di dunia, itu julukan yang kami berikan. Dua tahun
kuhabiskan waktuku untuk menyapa dan menggaulinya. Gemerlap lampu
malam menghidupkan Kow Loon yang setia menemani langkahku usai dan
berangkat ke kantor di pinggiran Nathan Road, No. 444, di gedung sebelah
Amro Bank, lantai 8.
Ia juga yang menerbitkan
langkah tegapku ketika capek dan jenuh. Sepuluh menit dari kantorku,
masih di Jalan Nathan Road, gereja tua dan rumah kecil yang menempel
di dindingnya menjadi teman untuk melengkapi malamku dan kadang menidurkanku
dengan sisa mabuk dan bubuk putihku. Kelakuanku, manusiawi bukan?
Di gereja dan rumah
itulah kutemui sosok kawan-kawan Indonesia yang nekat, semangat, putus
asa, dan sekaligus sedih. Terkadang, siang hari, kudengarkan celoteh
riang dan duka di jam-jam kerjaku dari rumah kecil itu. Tapi siang
itu, agak berbeda.
Telpon yang kuterima
membangunkan kesedihan dan amarahku. Aku harus menjumpai seorang gadis
kecil malam ini usai kerja, di rumah kecil. Tepat pukul 8 kuistirahatkan
komputerku dan sepuluh menit kemudian Erni membukakan gerbang depan
buatku. Beberapa kamerad Filipina, Sri Langka, dan Nepal menyapaku
dengan ramah dan menawarkan makan malam.
Kuya Norman meneriakiku
dari kantornya di lantai bawah untuk ngedrink ketika menyadari aku
datang. Kujawab dengan teriakan pula: 'sige,sige kuya!'
Di lantai dua, gadis
kecil, rambut pendek, bercelana pendek, polos dari make up dibandingkan
teman-temannya, duduk di sudut ruang tamu. Umurnya tak lebih dari
17 tahun. Aku tak siap menyapanya. Tak siap. Aku yakin gadis itulah
yang harus kuajak bicara malam ini.
Harus! Aku melewatinya,
Ia diam saja, meski matanya tertuju padaku. Tiga hari, ia telah tinggal
di rumah kecil ini.
Kutemui Sri di atas
tempat tidurnya. ``Hai kakak, pulang kerja?``, sapanya. ``Wis maem,
aku masakkan Indomie yoo?``, lanjutnya dengan aksen khas Blitar. Kugelengkan
kepala.
Ada sekitar delapan
tempat tidur di ruangan tengah dan empat di ruangan sebelah kanan.
Pojok kiri, ruangan kerja Ate Dorina dan Manang Dolorosa. Selanjutnya,
sekitar enam teman datang bergabung denganku di atas tempat tidur
Sri, kecuali si gadis kecil itu. Ia masih hening dengan kesendiriannya,
tanpa berbuat apa-apa.
Mulailah aku memasang
kuping untuk mendengarkan celoteh teman-teman tentang kasus mereka
masing-masing. Beberapa dokumen mereka sodorkan, juga keluhan-keluhan
yang kudengar tak berbeda dari hari ke hari; gaji di bawah batas minimum,
tak ada hari libur, jam kerja panjang, kelakuan kasar majikan, tuduhan
mencuri, dll.
Capek!
''Polisi Hong Kong
memang cisin. Masak mereka memeriksa lagi Hong Kong ID-ku malam ini'',
tiba-tiba Eli masuk dengan nggondoknya.
''Heh, hati-hati, kamu pulang
malam. Mereka khan curiga kamu kerja illegal. Pantas saja, mana ada
pembantu keluar malam begini. Peraturannya, kalian harus tinggal di
tempat majikan. Yaa, mereka menyimpulkan kau kerja part time. Itu
dilarang nduk, cah ayu'', kataku.
``Ya, tapi aku kan butuh duit untuk tetap bisa tinggal di sini. Kasusku
selesai, baru aku cari majikan baru lagi``, jawab Eli, membela diri.
''Dasar anak bandel, kon
masuk penjara, dipulangin, baru tahu rasa'', teman-teman si Eli membenarkan
perkataanku, bersahutan.
Sesekali mataku kuarahkan
ke gadis kecil itu. Tak ada reaksi balik. Aku pun jadi sibuk dengan
cerita dari satu persatu teman-teman TKI yang sedang bermasalah. Toh,
nggak setiap hari kuhabiskan waktuku bersama mereka. Mereka butuh
teman untuk berkeluh kesah dan membantu persoalan rumit mereka.
Malam itu sebelum
pulang, Manang Dolorosa memberiku beberapa berkas kasus yang harus
kupelajari dan kuterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.
Kerjaan ekstra.
Seperti biasa, di
akhir percakapan menjelang tengah malam, salah satu dari mereka membukakan
pintu gerbang dan menungguku sampai aku naik bis menuju apartemenku
di Kow Loon City. Selanjutnya, malamku, kuakhiri dengan San Miguel
di Kow Loon City Ferry Terminal bersama bulan yang berkompetisi dengan
lampu-lampu hasil teknologi canggih made in buruh China.
Kau kalah bulanku,
tapi kau masih ada!
***
''Aku diperkosa,
kakak. Empat laki-laki''. Itu yang ia lontarkan, plus jeritan. Ia
menubrukku ketika aku belum siap dengan posisi dudukku. Ia menjeritkan
semua peristiwa yang ia alami hari itu ketika usai berbelanja, menunggu
bis, dan empat laki-laki mendorongnya masuk ke mobil, ketika empat
laki-laki itu bergantian memperkosanya, ketika ia sadar tergolek di
pantai yang ia tak kenal, dan berjalan sempoyongan hingga menemukan
apartemen mewah dan minta tolong petugas keamanan menelpon majikannya
untuk menjemput.
Penuh jeritan!
Tanpa titik atau koma. Teman-teman terdiam, terpaku di kursi dan lantai
kayu. Aku tertegun. Satu lagi korban, satu lagi, keluhku. Aku tidak
menyangka dia mengenalku sebagai teman yang bisa dia pakai sebagai
tempat sampah pelampiasan putus asanya.
Sekian detik, pipiku
basah. Tak ada percakapan.
Eli meninggalkan
kami dan kembali dengan teh hangat dua gelas. Satu gelas ia teguk,
satu lagi buat gadis kecil.
Ate Dorina memberiku
jatah Carlsberg dingin, satu kaleng. ``Jancuuukkk``, terucap dalam
hatiku.
Aku yakin teman-teman
TKI yang mengelilingiku sudah mendengar cerita gadis kecil ini berulang
kali. Kutatap wajah polos gadis kecil itu, tersimpuh di depanku, basah
dengan aliran air mata.
''Duh Gusti, betapa
tak adilnya dunia ini. Berapa gadis kecil yang telah menjadi korban
kemiskinan di negerinya dan harus cari pekerjaan di kejamnya Hong
Kong, sekaligus menjadi korban kekuasaan laki-laki? Sekarang, gadis
kecil ini kau korbankan lagi. Kapan kau ijinkan aku bahagia menatap
kehidupan di sekelilingku dengan indahnya?'', akal dan rasaku protes.
Yang bisa kulakukan
hanyalah menggenggam kuat-kuat tangan si gadis kecil; Warna. Ida dan
Eli mengulurkan tangan mereka dan menaruhnya di pundak Warna.
''Sabar..sabar..kuat,
sing kuat cah ayu'', kata si Eli lembut. Mataku pun kabur, tapi aku
sadar, aku tak boleh menangis di depan mereka. Tak boleh.
``Aku mau pulang...
mau pulang! Hong Kong kejam, kejam sekali ke aku. Aku nggak mau di
sini lagi, nggak mau kakak``, jerit Warna.
Duh, dadaku sesak
sekali. Mataku makin kabur.
Aku rengkuh dia
dalam pelukanku. Riri bangkit dengan mengusap matanya, diikuti si
Eli. Mbak Tutik yang punya anak gadis sebaya Warna terlihat lebih
tegar.
Ate Dorina melihatku,
tersenyum. Ia kepala rumah penampungan para TKI ini. Kupikir ia orang
yang sangat kuat untuk menerima dan mendengar peristiwa seperti ini
setiap waktu. Luar biasa. Sementara aku, seringkali harus lunglai
dan mengusir tangis dan capekku dengan alkohol dan bubuk putih.
''Kuat, kamu harus
kuat. Selesaikan kasusmu dulu. Bawa empat laki-laki itu ke penjara.
Dapatkan uangmu kembali. Baru pulang ke Jawa. Kuat, Warna. Waktu masih
memberimu kesempatan. Kami di sini akan membantumu. Bangkit!...malam
ini, kau boleh menangis, tapi malam selanjutnya kau harus bukakan
pintu gerbang buatku dengan senyumanmu. Baru kita bercerita'', itu
yang terucap dari mulutku.
Warna menatapku,
cantik sekali. Dia usap pipinya, mencoba tersenyum. Ia mengangguk.
Teman-teman TKI lain pun memberi semangat. Kamu tidak sendirian, Warna.
Banyak kawan yang mempunyai nasib yang sama denganmu. Kamu tidak sendirian,
gadis kecilku.
Jadwalku betul-betul
berubah untuk gadis kecilku.
Setiap malam usai
kerja, kuhabiskan bersama Warna. Kadang dia menelpon pada jam kerjaku,
hanya untuk menanyakan kabarku atau bercerita kalau sudah menyiapkan
makan malam buatku, tanpa daging, sayuran saja. Ia menjadi teman malamku.
Bulan purnamaku tak sendirian lagi.
Ia kuijinkan menikmati
bulan purnama bersamaku. Apartemenku penuh tawa Warna dan teman-temannya,
juga masakannya pada Sabtu dan Minggu. Cengkraman tangannya pun menguat,
langkahnya semakin tegap, tak ada lagi jeritan putus asa untuk pulang
ke Jawa. Eli dan kawan-kawannya ikut berbagi waktu menyemangati si
Warna.
Mengharukan melihat
Warna, Eli, dan kawan-kawan lain mempersiapkan diri menghadapi mediasi
di Kantor Labour Departement; berdebat mengenai jawaban yang kira-kira
mereka akan pakai, perkiraan bahwa majikan mereka akan menuduh mereka
sebagai pencuri atau alasan-alasan lain, hingga kemungkinan majikan
mereka tidak akan memenuhi panggilan sehingga mengulur waktu lebih
lama buat mereka untuk menjadi pengangguran.
Kadang-kadang mereka
harus pontang-panting mencari Manang Dolorosa untuk mendapatkan salinan
pernyataan dan kronologi kasus, hingga aturan hukumnya. Sudah menjadi
kesepakatan di antara kami bahwa kasus satu teman TKI akan menjadi
kasus bersama rumah penampungan.
''Aku ingin mengaji,
itu saja kakak. Jangan sampai orang tuaku tahu kalau aku bernasib
seperti ini'', kata Warna suatu malam. ''Aku harus menang kakak, aku
harus menang. Besuk kita ke Labour Department dan aku akan dapatkan
uangku kembali. Agen TKI gila itu harus dapat pelajaran!''.
Dia bukan lagi Warna
yang pertama kali membuatku terpuruk dengan jeritan putus asanya.
Dan kalau Warna di apartemenku, aku harus menyembunyikan cimeng produk
Hong Kong, pengusir lelahku.
***
Terminal
III, Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
Halaman bandara yang luas, gersang,
tanpa pohon, dipenuhi para penjemput yang tak sabar menunggu saudara,
pacar, atau anak perempuan mereka.
Mereka tak sabar untuk mencium,
memeluk, dan mendapatkan kucuran sekian dollar Singapore, ringgit,
ataupun dollar Hong Kong. Terdengar panggilan dari corong menyebut
namaku. Warna telah datang, aku pun melangkah.
Di pintu gerbang bekas hanggar
itu, kujumpai petugas dan Warna dengan koper besarnya, berdiri tiga
langkah di depanku. ''Kakak!'', teriaknya.
Petugas itu menanyakan KTPku.
''Kau bukan saudaranya Warna, jadi tak bisa membawanya pulang''.
Kata-kata itu menghantam muka
dan dadaku. ''Aku pengacaranya ketika dia mendapatkan kasus di Hong
Kong'', seketika kukeluarkan kartu pengacaraku. Tidak mempan.
Aku merasa salah karena berterus
terang. Seharusnya kuakui saja bahwa aku saudaranya Warna, titik.
Pasti beres. Aku membawa Warna dalam kesulitan.
Petugas itu malah membawaku masuk
ke ruangan Lembaga Bantuan Hukum TKI, yang aku yakin sudah tidak berbeda
dengan cukong-cukong pencuri uang dari orang seperti Warna. Benar!
Aku dan Warna duduk; menunggu
nama Warna dipanggil. Untuk mengalihkan kekuatiranku, kutanyakan kabar
Eli dan konconya di Hong Kong. Saat itulah, telingaku menangkap pertanyaan-pertanyaan
standar dan mekanis yang diajukan oleh para pengacara Lembaga Bantuan
Hukum TKI. Apa kasusmu, ceritakan, dan 'kami akan bawa kasusmu ke
Departemen Tenaga Kerja.'
Aku mulai gelisah, tak mungkin
Warna menceritakan kasusnya kembali di hadapan mereka. Tak mungkin.
Begitu nama Warna dipanggil dan
kami harus menghadap ke pengacara laki-laki. Kutolak dengan pilihan
kalimat tegas dan menahan emosiku.
''Aku minta kasusnya ditangani
pengacara perempuan, harus. Dengan penuh rasa hormat'', kataku pelan.
Mereka pun berunding dengan berbisik-bisik.
Bingung. Aku telpon temanku di Lembaga Bantuan Hukum Jalan Diponegoro
untuk meminjam namanya sebagai penjamin, sekaligus pengacaraku kalau
aku diperkarakan dalam kasus ini. Apapun bisa terjadi. Dadaku mulai
sesak.
''Aku nggak mau cerita kasusku
lagi kakak. Nggak mau. Kalian bangsat semua. Biarkan uangku hilang,
yang penting aku ikut kakakku pulang'', jawab Warna di antara tangisnya
ketika dicecar pertanyaan dari seorang pengacara perempuan, dari Lembaga
Bantuan Hukum TKI.
''Hei, bisakah kita bicara tentang
hukum dan peraturan dengan rasa kemanusiaan? Bayangkanlah kalau kamu
atau adik perempuanmu diperkosa kemudian harus bercerita ke orang
lain, yang tidak mereka kenal, meronta, dan menangis seperti gadis
kecil ini! Lihatlah kembali ke diri kalian sendiri'', ucapku pelan
tapi berang.
Telunjukku menunjuk muka pengacara
berseragam hijau-hijau itu. Persis telur asin. Ada TKI perempuan yang
terluka di atas kursi roda menoleh padaku, antri, menunggu giliran
namanya dipanggil.
Para pengacara di ruangan berukuran
6X6 meter itu berunding dan sesekali melihatku.
''Tapi ini peraturan dan Warna
berhak mendapatkan uang asuransinya kembali. Tapi dia harus menceritakan
peristiwanya dengan jelas dan akan saya tulis dengan lengkap'', jawab
pengacara itu sok paham hukum.
Aku naik pitam. Aku tak bisa mentolerir
lagi kelakuan mereka.
''Kau dengar, gadis ini tak butuh
uangnya. Ia hanya mau pulang bersamaku. Aku penjaminnya dan nama ini
bisa kau telpon setiap waktu kalau kau masih ingin tetap mengusahakan
uang Warna balik dengan utuh'', jawabku. Aku pakai nama besar seorang
teman baik di LBH Jalan Diponegoro.
Aku lirik Warna kembali menjadi
Warna yang dulu pertama kali kutemui. Lemah dengan isak tangisnya.
Kami harus kalah total sebagai warga negara yang tak bisa mengelak
dari pasal-pasal hukum, yang mestinya untuk melindungi warga.
Warna meninggalkan paspornya
pada pengacara perempuan itu, namanya Nining Sunining S.H. Ia pula
yang menuliskan kalimat ''kasus perkosaan dan telah diurus oleh Labour
Department Distrik New Territory Hong Kong'' di lembaran kertas berwarna
hijau, dan mencantumkan nama Warna.
Kasus Warna harus dilanjutkan
di negerinya sendiri tanpa rasa nyaman dan, dan tanpa keadilan. Kehidupan
belum berpihak pada Warna.
Esok adalah esok, hari ini adalah
hari ini. Yang kita punya adalah masa lalu yang selalu harus melekat
dalam diri kita, kemanapun kita melangkah.
Aku melangkah keluar
dari hanggar yang pengap itu, bersama gadis kecilku. Aku tinggalkan
sumpah serapahku, tapi langit Jakarta tetap abu-abu, tak biru.
***
Setahun setengah
ketika kudapatkan kabar tertulis di whiteboard kamarku. ''Aku di Pesantren
Banyuwangi, mengaji''. Salam, Warna.
***
Mengenang gadis kecilku,
Eli, dan kawan-kawan yang mengajarikan kekuatan.
Dili, Juli 2002
Kuya (Tagalog) : panggilan
kepada laki-laki yang lebih tua, abang
Ate (Tagalog) : panggilan kepada perempuan yang lebih tua
Manang (Tagalog) : Ibu atau panggilan kepada perempuan yang telah
menikah
Sige (Tagalog) : OK, setuju
Cece (Mandarin, Cantonese) : kakak perempuan
Kon (Bahasa Jawa Timuran) : kamu
Wis (Bahasa Jawa) : sudah
Maem (Bahasa Jawa) : makan
Cisin (Cantonese) : gila
Nduk (Bahasa Jawa) : panggilan kepada anak perempuan
Cah (asal kata Bocah, Bahasa Jawa) : anak
Ayu (Bahasa Jawa) : cantik
Cantonese : Dialek Bahasa China di Hong Kong