cerpen Escort Lady
Andi Prawira

Namanya Chingmei. Demikian aku mendengar ketika dia menyebutkan. Tulisannya berbeda; Qunmei. Aku mendengar bunyi sengau ketika di menyebut Qun, di telingaku lebih dekat ke Ching. Marganya Chow. Tertulis Zhou. Persis seperti Zhou En Lai yang kita baca sebagai Chow En Lai. Jadi dia Chow Chingmei.

She is my escort lady. Dalam artian yang sebenarnya. Karena dia yang menjadi penunjuk-jalan dalam beberapa hari terakhir ini di Hangzhou, Cina Tanah Besar. Beberapa waktu dahulu Hangzhou konon pernah menjadi ibu negeri Cina. Karena itu Hangzhou mewarisi budaya tinggi. Pemerintah Cina pun nggak main-main dengan pengembangan kota. Keyamanan transportasi dalam kota nya dapat dibandingkan dengan Singapura.

Bus kota mempunyai 3 jenis bus untuk rute yang sama. Orang boleh pilih mau naik yang mana. Tarif satu yuan jauh-dekat, busnya standard. Dua yuan busnya pakai AC dan ada TV. Tiga yuan ada pramugari di dalamnya, berseragam rapi dan bersarung tangan. Yang kayak gini di Singapura nggak ada.

Aku kesini untuk keperluan bisnis, 3 hari. Lalu aku sediakan waktu luang beberapa hari yang bisa saja aku pakai di Hangzhou ini atau di Shanghai, kota pelabuhan, kira-kira 200 km ke utara. Tergantung mana yang enak.

Aku menemukan Chingmei, atau tepatnya Chingmei menemukan aku ketika kebingungan melihat peta Hangzhou yang ditulis dengan huruf kanji. Gerimis tipis melembabi peta yang aku pegang. Gadis itu mendekat. "Aku mau ke sini" kataku menunjuk China Silk Market.

"Aku kesana kemarin, namun pagi ini aku nyasar lagi."
"Kamu kelihatan lucu" katanya mentertawakan. "Berpakaian lengkap di atas namun dibawah hanya pakai sandal. Di sini sandal kayak gini cuman dipakai di dalam rumah."
"Sori deh, di negeriku kalau hari hujan kita pakai sendal, supaya sepatu nggak basah. Jempol bisa bau. Lagi pula sendal ini bagus sekali, ringan namun cukup kaku sehingga tidak mencipratkan lumpur ke betis seperti kalau kita pakai sendal jepit. Aku baru saja beli semalam, murah saja 7 Yuan."

Chingmei membawa aku ke Bank of China karena aku mau mengambil duit dulu. Disanalah setori ini bermula. Ketika duduk menunggu giliran dipanggil ke counter aku memutuskan mengganti sandal dengan sepatu. Aku membuka ransel dan mengeluarkan sepatu lalu mengelap sisa-sisa lumpur dan air becek di tumit. Dengan tapak tangan. Melihat itu, Chingmei buru buru mengeluarkan tissue dari tasnya dan mengelapkannya ke kakiku. Tentu saja aku tidak memperbolehkan. Aku lap sendiri.

Kami pergi makan. Aku pesan mie kuah yang ada ikan di dalamnya. Kayaknya ikan asin. Yang pasti bukan ikan segar atau fish ball. Lalu ada juga sayuran hijau. Chingmei juga makan mie tapi saya nggak tahu ingredient nya. Makan di Cina Daratan porsinya besar-besar. Beberapa kali saya jajan di food court, dan sekali di kedai Islam orang Xinjiang. Porsinya sama saja besarnya.

Namun Chingmei makan sedikit saja. "Nggak heran kamu langsing begitu," aku berkomentar.

Pusat jajan di tempat-tempat macam shopping center di Cina sangat bersih. Kedai kedai penjajanya teratur rapih dan jarak antar meja di rang makan cukup jauh. Anda bisa shopping dulu sekeliling sebelum memutuskan mangkuk mana yang anda pilih. Kadang kadang orang mengusung periuk tanah atau tong kayu kecil ke meja makan untuk dikeroyok bersama 3-4 orang teman makan.

"Aku bakal jadi guru tahun depan," katanya "guru sejarah. Sekarang aku tahun ketiga di teachers training. Sejarah dunia yang aku pelajari berawal dari lima ribu tahun yang lalu, jauh lebih tua dari sejarah negeri manapun. Bagiku seluruh dunia ini adalah Cina. Peradaban adalah Cina. Jadi nggak kepikir aku suatu saat akan keluar negeri, belajar bahasa asing, lalu pergi jauh dari orang tua, kaum kerabat, teman-teman dll. Kayaknya hal-hal kayak gitu nggak perlu buat orang Cina."
"Aku mengerti kamu berpikiran demikian," aku bilang. "Kamukan satu koma tiga billion. Satu dari empat manusia di dunia ini Cina. Lagian di sini kan Cina semua. Hanya aku yang orang asing."
"Yang aku risaukan, seperti juga yang dipikirkan kebanyakan orang, adalah kapan propinsi Taiwan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mungkin akan ada perang sebentar lagi. Mungkin juga nggak. Tapi propinsi Taiwan mesti kembali."
"Kalau gitu yang kamu perlukan adalah kesabaran" kataku menjawab. "Bukan perang. Taiwan akan kembali dengan sendirinya. Ambil contoh Singapura. Belum lama dahulu Singapura memisahkan diri dari Malaysia. Sekarang mereka sudah sampai kepada batas pertumbuhan, baik fisik maupun ekonomi. Impian Singapura paling indah saat ini adalah menjadi lagi bagian dari Malaysia." kataku.

Lee Kuan Yew mungkin akan memarahi aku kalau ketauan ngomong begini. Tapi demi gadis jelita ini aku mengarang cerita.

"Jadi tunggu saja, Taiwan bakalan kembali."
"You make me happy!"
Lalu cepat cepat aku sambung " Taiwan kembali itu Pasti. Mungkin dalam 50-100 tahun mendatang, mungkin juga lebih cepat."
"Kamu becandain aku ya?"
"Look, sejarah kamu berusia lima ribuan tahun. Apa artinya lima puluh dibandingkan lima ribu."
"Eh, kedengarannya kayak sejarah kamu yang bikin."
"Ah enggak. Sama seperti kamu, aku cuma orang yang belajar sejarah. Aku mempelajari sejarah masa depan."
****

Petang hari aku kembali ke hotel. Yang pertama kali aku lakukan adalah memperpanjang tanggal check-out. Di internet aku lihat Bambang, wartawan koran ibukota itu menjatuhkan pesan: "Pergilah ke Shanghai. Enjoy subwaynya dan coba naik ke Pearl Tower. Pasti menarik. Ntar ceritain gue pengalamannya."

Lalu aku bilang dalam hati; 'Sori deh Mbang, gue gak jadi ke Shanghai. Malam ini ane mau sibuk dulu. Ada opera The Emperor's Concubine.' Aku tidak bilang aku ada escort lady Chingmei. 'Nanti, ente ane ceritain KLCC tower saja ya. Atau Langkawi cable car, yang naik sampai ketinggian 700 meter'

Lalu hari berikutnya aku memperpanjang lagi masa tinggalku di Hangzhou. Dan memperpanjang lagi. Kemudian stop.

Suatu ketika aku mendapati diriku menyusuri pantai West Lake yang taman-taman bunga nya tertata rapi. Hujan hujanan. "Aku suka hujan hujanan," kataku. Chingmei tidak percaya dan memaksa aku masuk kebawah payung yang dipegangnya.

Dilain waktu kami makan ubi bakar panas-panas. Di Hangzhou banyak penjaja jalanan yang mendorong dapur ubi bakarnya di tempat tempat strategis. Aku nggak tau bagaimana konstruksi dapur yang terbuat dari tong besi itu. Mungkin bagian bawah diisi dedak yang kemudian dibakar. Lantas di atasnya ditumpuk bongkahan-bongkahan ubi jalar.

Begitu anda beli, ubi yang anda pilih akan ditimbang dengan seksama. Kemudian anda akan membayar tepat seharga seberat ubi tersebut. Silakan comot dari timbangan lalu gigit dan kunyah. Kulitnya agak keras-keras sedikit namun isinya lembut kemerah-merahan. Mungkin juga agak basah. Yang pasti: wangi.

Aku ceritakan kepada Chingmei. Di kampungku di Bukittinggi, rumah nenek kami tak jauh dari kandang bendi. Kusir bendi biasanya menumpuk taik kuda kering di satu tempat, menyiramnya dengan dedak; Lalu membakarnya. Yang biasa kami lakukan, anak anak kampung, adalah melemparkan ubi kedalam tumpukan membara itu. Tunggu setengah jam. Lalu pesta ubi bakar mulai.
***

Akhirnya sampailah di ujung cerita. Pagi pagi sekali aku harus cabut dari Hangzhou menuju Shanghai. Sebab pesawatku akan berlepas dari Pudong Airport, Shanghai tengah hari.

Aku menumpang kereta api paling pagi. Lalu aku angkat handphone. "Sekarang aku harus pergi. Terima kasih atas beberapa hari terakhir ini. Aku pikir aku nggak bakalan lupa."

Dan sebuah bendungan jebol, sesuatu yang terlambat aku menyadarinya.

"Andi, aku nggak bisa tidur semalaman. Mungkin aku sudah kebanyakan tidur kali yah. Namun aku pingin kamu kembali kepadaku secepat mungkin."

"Well, Begini Chingmei. . . . ." Aku mencoba mencari-cari kata. "Coba kamu bayangkan kamu ditengah-tengah keluarga. Becanda dengan adik lelakimu, dan teman-teman. Orang tua kamu pasti menunggu-nunggu hari graduation day. Lalu mempersiapkan kamarmu yang sempit itu di kampung, serapi yang mereka bisa ; 'Ini untuk kelak ananda kembali."

"Kamu akan jadi guru. Aku percaya itu. Coba lihat mata murid-murid kamu ketika kamu bercerita. . . Your future is bright Chingmei. Ceritakan Taiwan segera kembali, he he he. Bilang juga bahwa seluruh dunia adalah Cina, seperti kamu bilang kepadaku. Aku percaya karena sebentar lagi Cina bakal jadi superpower. OK? Go home!. Lupain saya."

Kereta api bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Para kondektur yang kebanyakan perempuan itu mengambil sikap sempurna di depan pintu menghadap ke luar. Lalu mengangkat tangan mereka ke kening memberikan tanda hormat. Menghormat siapa? Aku tak tahu. Mungkin menghormat kepada disiplin nasional yang mereka sudah berhasil bentuk.

Aku mengeluarkan laptop menulis kisah ini untuk anda semua.
***

Shanghai, 01 November 2002.

ceritanet©listonpsiregar2000