Namanya Chingmei. Demikian aku
mendengar ketika dia menyebutkan. Tulisannya berbeda; Qunmei. Aku
mendengar bunyi sengau ketika di menyebut Qun, di telingaku lebih
dekat ke Ching. Marganya Chow. Tertulis Zhou. Persis seperti Zhou
En Lai yang kita baca sebagai Chow En Lai. Jadi dia Chow Chingmei.
She is my escort lady. Dalam artian
yang sebenarnya. Karena dia yang menjadi penunjuk-jalan dalam beberapa
hari terakhir ini di Hangzhou, Cina Tanah Besar. Beberapa waktu dahulu
Hangzhou konon pernah menjadi ibu negeri Cina. Karena itu Hangzhou
mewarisi budaya tinggi. Pemerintah Cina pun nggak main-main dengan
pengembangan kota. Keyamanan transportasi dalam kota nya dapat dibandingkan
dengan Singapura.
Bus kota mempunyai 3 jenis bus
untuk rute yang sama. Orang boleh pilih mau naik yang mana. Tarif
satu yuan jauh-dekat, busnya standard. Dua yuan busnya pakai AC dan
ada TV. Tiga yuan ada pramugari di dalamnya, berseragam rapi dan bersarung
tangan. Yang kayak gini di Singapura nggak ada.
Aku kesini untuk keperluan bisnis,
3 hari. Lalu aku sediakan waktu luang beberapa hari yang bisa saja
aku pakai di Hangzhou ini atau di Shanghai, kota pelabuhan, kira-kira
200 km ke utara. Tergantung mana yang enak.
Aku menemukan Chingmei, atau tepatnya
Chingmei menemukan aku ketika kebingungan melihat peta Hangzhou yang
ditulis dengan huruf kanji. Gerimis tipis melembabi peta yang aku
pegang. Gadis itu mendekat. "Aku mau ke sini" kataku menunjuk
China Silk Market.
"Aku kesana
kemarin, namun pagi ini aku nyasar lagi."
"Kamu kelihatan lucu" katanya mentertawakan. "Berpakaian
lengkap di atas namun dibawah hanya pakai sandal. Di sini sandal kayak
gini cuman dipakai di dalam rumah."
"Sori deh, di negeriku kalau hari hujan kita pakai sendal, supaya
sepatu nggak basah. Jempol bisa bau. Lagi pula sendal ini bagus sekali,
ringan namun cukup kaku sehingga tidak mencipratkan lumpur ke betis
seperti kalau kita pakai sendal jepit. Aku baru saja beli semalam,
murah saja 7 Yuan."
Chingmei membawa aku ke Bank of
China karena aku mau mengambil duit dulu. Disanalah setori ini bermula.
Ketika duduk menunggu giliran dipanggil ke counter aku memutuskan
mengganti sandal dengan sepatu. Aku membuka ransel dan mengeluarkan
sepatu lalu mengelap sisa-sisa lumpur dan air becek di tumit. Dengan
tapak tangan. Melihat itu, Chingmei buru buru mengeluarkan tissue
dari tasnya dan mengelapkannya ke kakiku. Tentu saja aku tidak memperbolehkan.
Aku lap sendiri.
Kami pergi makan. Aku pesan mie
kuah yang ada ikan di dalamnya. Kayaknya ikan asin. Yang pasti bukan
ikan segar atau fish ball. Lalu ada juga sayuran hijau. Chingmei juga
makan mie tapi saya nggak tahu ingredient nya. Makan di Cina Daratan
porsinya besar-besar. Beberapa kali saya jajan di food court, dan
sekali di kedai Islam orang Xinjiang. Porsinya sama saja besarnya.
Namun Chingmei makan sedikit
saja. "Nggak heran kamu langsing begitu," aku berkomentar.
Pusat jajan di tempat-tempat macam
shopping center di Cina sangat bersih. Kedai kedai penjajanya teratur
rapih dan jarak antar meja di rang makan cukup jauh. Anda bisa shopping
dulu sekeliling sebelum memutuskan mangkuk mana yang anda pilih. Kadang
kadang orang mengusung periuk tanah atau tong kayu kecil ke meja makan
untuk dikeroyok bersama 3-4 orang teman makan.
"Aku bakal
jadi guru tahun depan," katanya "guru sejarah. Sekarang
aku tahun ketiga di teachers training. Sejarah dunia yang aku pelajari
berawal dari lima ribu tahun yang lalu, jauh lebih tua dari sejarah
negeri manapun. Bagiku seluruh dunia ini adalah Cina. Peradaban adalah
Cina. Jadi nggak kepikir aku suatu saat akan keluar negeri, belajar
bahasa asing, lalu pergi jauh dari orang tua, kaum kerabat, teman-teman
dll. Kayaknya hal-hal kayak gitu nggak perlu buat orang Cina."
"Aku mengerti kamu
berpikiran demikian," aku bilang. "Kamukan satu koma tiga
billion. Satu dari empat manusia di dunia ini Cina. Lagian di sini
kan Cina semua. Hanya aku yang orang asing."
"Yang aku risaukan,
seperti juga yang dipikirkan kebanyakan orang, adalah kapan propinsi
Taiwan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mungkin akan ada perang sebentar
lagi. Mungkin juga nggak. Tapi propinsi Taiwan mesti kembali."
"Kalau gitu yang kamu
perlukan adalah kesabaran" kataku menjawab. "Bukan perang.
Taiwan akan kembali dengan sendirinya. Ambil contoh Singapura. Belum
lama dahulu Singapura memisahkan diri dari Malaysia. Sekarang mereka
sudah sampai kepada batas pertumbuhan, baik fisik maupun ekonomi.
Impian Singapura paling indah saat ini adalah menjadi lagi bagian
dari Malaysia." kataku.
Lee Kuan Yew mungkin akan memarahi
aku kalau ketauan ngomong begini. Tapi demi gadis jelita ini aku mengarang
cerita.
"Jadi tunggu
saja, Taiwan bakalan kembali."
"You make me happy!"
Lalu cepat cepat aku sambung " Taiwan kembali itu Pasti. Mungkin
dalam 50-100 tahun mendatang, mungkin juga lebih cepat."
"Kamu becandain aku ya?"
"Look, sejarah kamu berusia lima ribuan tahun. Apa artinya lima
puluh dibandingkan lima ribu."
"Eh, kedengarannya kayak sejarah kamu yang bikin."
"Ah enggak. Sama seperti kamu, aku cuma orang yang belajar sejarah.
Aku mempelajari sejarah masa depan."
****
Petang hari aku
kembali ke hotel. Yang pertama kali aku lakukan adalah memperpanjang
tanggal check-out. Di internet aku lihat Bambang, wartawan koran ibukota
itu menjatuhkan pesan: "Pergilah ke Shanghai. Enjoy subwaynya
dan coba naik ke Pearl Tower. Pasti menarik. Ntar ceritain gue pengalamannya."
Lalu aku bilang
dalam hati; 'Sori deh Mbang, gue gak jadi ke Shanghai. Malam ini ane
mau sibuk dulu. Ada opera The Emperor's Concubine.' Aku tidak bilang
aku ada escort lady Chingmei. 'Nanti, ente ane ceritain KLCC tower
saja ya. Atau Langkawi cable car, yang naik sampai ketinggian 700
meter'
Lalu hari berikutnya
aku memperpanjang lagi masa tinggalku di Hangzhou. Dan memperpanjang
lagi. Kemudian stop.
Suatu ketika aku
mendapati diriku menyusuri pantai West Lake yang taman-taman bunga
nya tertata rapi. Hujan hujanan. "Aku suka hujan hujanan,"
kataku. Chingmei tidak percaya dan memaksa aku masuk kebawah payung
yang dipegangnya.
Dilain waktu kami
makan ubi bakar panas-panas. Di Hangzhou banyak penjaja jalanan yang
mendorong dapur ubi bakarnya di tempat tempat strategis. Aku nggak
tau bagaimana konstruksi dapur yang terbuat dari tong besi itu. Mungkin
bagian bawah diisi dedak yang kemudian dibakar. Lantas di atasnya
ditumpuk bongkahan-bongkahan ubi jalar.
Begitu anda beli,
ubi yang anda pilih akan ditimbang dengan seksama. Kemudian anda akan
membayar tepat seharga seberat ubi tersebut. Silakan comot dari timbangan
lalu gigit dan kunyah. Kulitnya agak keras-keras sedikit namun isinya
lembut kemerah-merahan. Mungkin juga agak basah. Yang pasti: wangi.
Aku ceritakan kepada
Chingmei. Di kampungku di Bukittinggi, rumah nenek kami tak jauh dari
kandang bendi. Kusir bendi biasanya menumpuk taik kuda kering di satu
tempat, menyiramnya dengan dedak; Lalu membakarnya. Yang biasa kami
lakukan, anak anak kampung, adalah melemparkan ubi kedalam tumpukan
membara itu. Tunggu setengah jam. Lalu pesta ubi bakar mulai.
***
Akhirnya sampailah
di ujung cerita. Pagi pagi sekali aku harus cabut dari Hangzhou menuju
Shanghai. Sebab pesawatku akan berlepas dari Pudong Airport, Shanghai
tengah hari.
Aku menumpang kereta
api paling pagi. Lalu aku angkat handphone. "Sekarang aku harus
pergi. Terima kasih atas beberapa hari terakhir ini. Aku pikir aku
nggak bakalan lupa."
Dan sebuah bendungan
jebol, sesuatu yang terlambat aku menyadarinya.
"Andi, aku
nggak bisa tidur semalaman. Mungkin aku sudah kebanyakan tidur kali
yah. Namun aku pingin kamu kembali kepadaku secepat mungkin."
"Well, Begini
Chingmei. . . . ." Aku mencoba mencari-cari kata. "Coba
kamu bayangkan kamu ditengah-tengah keluarga. Becanda dengan adik
lelakimu, dan teman-teman. Orang tua kamu pasti menunggu-nunggu hari
graduation day. Lalu mempersiapkan kamarmu yang sempit itu di kampung,
serapi yang mereka bisa ; 'Ini untuk kelak ananda kembali."
"Kamu akan
jadi guru. Aku percaya itu. Coba lihat mata murid-murid kamu ketika
kamu bercerita. . . Your future is bright Chingmei. Ceritakan Taiwan
segera kembali, he he he. Bilang juga bahwa seluruh dunia adalah Cina,
seperti kamu bilang kepadaku. Aku percaya karena sebentar lagi Cina
bakal jadi superpower. OK? Go home!. Lupain saya."
Kereta api bergerak
perlahan meninggalkan stasiun. Para kondektur yang kebanyakan perempuan
itu mengambil sikap sempurna di depan pintu menghadap ke luar. Lalu
mengangkat tangan mereka ke kening memberikan tanda hormat. Menghormat
siapa? Aku tak tahu. Mungkin menghormat kepada disiplin nasional yang
mereka sudah berhasil bentuk.
Aku mengeluarkan
laptop menulis kisah ini untuk anda semua.
***
Shanghai, 01
November 2002.