memoar Hutagalung
Tumpal HS Siregar

Pertama kali aku bertemu dia duabelas tahun lalu. Kami baru saja memasuki rumah kreditan di pinggir kota. Kompleks perumahan kami kemudian menjadi pasar yang, menurutku, dipertimbangkannya sangat potensial.

Hari-harinya selama tiga bulan dihabiskannya dengan banyak berbasa-basi bersama penghuni rumah baru, disertai dengan penawaran jasa pembuatan aneka kebutuhan rumah yang terbuat dari besi dan seni las mengelas.

"Hutagalung," katanya pelan ketika kami pertama kali berjabat tangan waktu itu. Badannya kecil, kulitnya keriput dan tangannya terasa kasar saat berjabat tangan.

Sebelum masuk ke inti masalah, Hutagalung bercerita banyak tentang masa lalunya. Suaranya pelan, tak menunjukkan identitasnya sebagai orang Batak yang bersuara keras dan suka meledak-ledak. "Saya lahir di Menado, dan besar di kota-kota di Sulawesi," katanya memulai.

Ayahnya seorang polisi yang berpindah-pindah tugas jauh dari asalnya di pedesaan daerah Sibolga, di Tanah Tapanuli. Kupikir, pastilah ayahnya bukan perwira karena dari sosok Hutagalung ini tak terlihat sedikitpun bekas-bekas orang yang pernah hidup enak. Ketika memasuki masa pensiun, ayahnya dipindahkan ke Medan. Hutagalung, kenalan baruku ini, kemudian menjadi anak buah dari sebuah usaha las, hingga kini.

"Ini di belakang kompleks ini. Ada kampung orang kita di situ " jawabnya ketika itu, saat aku menanyakan tempat tinggalnya.

Dari Hutagalung itu kemudian kutahu ada sebuah komunitas Batak yang terselip diantara perkebunan kelapa sawit. Beberapa kali aku berkunjung
ke warung tuak di kampung itu pada dua tahun pertama tinggal di kompleks perumahan kami. Di warung itu, aku lebih banyak menjawab pertanyaan, mulai dari bagaimana hingga mendapatkan rumah kreditan sampai kepada pekerjaanku dan marga istriku serta mobil Charade tahun 1978, yang menurut mereka sedan mewah dan sangat pas untuk keluarga kami.

Saat-saat itu pula kemudian berkembang komentar macam-macam, mulai dari ketololan orang yang dengan rela membayar tiga ratusan ribu setiap bulan selama sepuluh tahun. Kudengar juga persekongkolan mereka dalam mendapatkan komisi penjualan angutan kota bekas sampai orang yang minta
tolong untuk dicarikan pekerjaan karena, beberapa diantara mereka mengetahui aku adalah insinyur yang bekerja di suatu lembaga pemerintah, yang, menurut mereka, pastilah bisa menemukan pekerjaan.
Aku juga mendengar perselisihan antar keluarga di kampung itu, sampai pembahasan negara dan pemimpinnya.

Sesekali aku menjadi semacam guru bagi mereka, dengan menjelaskan sistem dan mekanisme yang sebenarnya dari suatu keadaan di negeri ini. Akupun pernah mengajak seorang teman dari Peru yang rela berkunjung ke rumah kami, setelah tertarik dengan Batak ketika jadi sahabatku waktu sekolah di Belgia beberapa tahun lalu.

"Cesar, kau tidak perlu jauh ke Tapanuli untuk mengetahui hidup orang Batak, cukup empat ratus meter di belakang rumahku."
***

Hari-hariku setelah berkenalan dengan Hutagalung, kemudian dihabiskan dengan tegur sapa setiap sore.

Soalnya, tiga bulan itu Hutagalung selalu pergi dari satu rumah ke rumah lain menawarkan jasanya. Kami sendiri tidak menggunakan jasanya karena
sudah sempat memanggil tukang lain. Seringpula aku bertanya tentang objekan yang diperolehnya.
Nyatanya, hanya sedikit sekali rumah yang menggunakan jasanya, karena hampir semua menempuh kebijaksanaan seperti kami.

Tetapi dia selalu menyebutkan pintu belakang rumah pak anu dia yang mengerjakan. Demikian juga jerajak besi jendela rumah pak anu. Dia menjelaskannya dengan tenang dan pelan.

Seringkali waktu itu aku iba dan sempat berpikir untuk menciptakan kebutuhan untuk menggunakan jasanya, mengingat ketulusannya dan nasibnya yang tidak berhasil menarik pengguna begitu banyak. Tapi, aku batalkan sendiri karena kupikir toh kami bukan sebentar di kompleks perumahan ini.

Tahun berjalan, Hutagalung kemudian kulihat membuka bengkel las sederhana di pinggir jalan besar. Bengkel yang dibangun dari gedek bambu dengan peralatan sederhana. Sesekali dia melihatku melintas dan dia selalu melambaikan tangan.

Kurang lebih lima tahun dia mengelola sendiri bengkel itu. Setiap hari aku melintas, tidak banyak pelanggannya. Dia tidak menggunakan anak buah. Ketika satu kali aku pulang berjalan kaki, bersamaan dengan kepulangannya dari bengkel sederhananya. Kami bercerita banyak lagi.

"Saya menyewanya dua juta setahun.." jawabnya tentang bengkelnya. Penampilannya tetap saja seperti ketika pertama kali kami bertemu; bicara pelan, tidak meledak-ledak untuk mencoba menjelaskan sesuatu secara lengkap, tapi ragu-ragu untuk mengutarakannya.

Aku tetap pada posisi yang banyak bertanya dan sesekali memberi komentar. Ketika aku menanyakan pelanggannya, dia masih optimis akan dapat lebih banyak, meskipun realitasnya diakui hanya dua atau tiga saja yang datang, dan umumnya angkutan kota yang meminta jasanya untuk las knalpot.

Lama kemudian aku tidak memperhatikan bengkelnya bila melintas. Sesekali kulihat sepintas dia sibuk, kali lain bengkelnya tutup. Kami bertemu lagi ketika dua tahun lalu jasanya kami gunakan untuk memotong lembar-lembar kaca waktu kami merestorasi rumah. Ada seorang tukang yang merekomedasikannya.

Aku sempat sedikit terkejut perihal kemampuannya memotong kaca, karena dia adalah tukang las besi ; kaca dan besi?

Tapi kupikir, inilah satu kesempatan untuk menggunakan jasanya. Inilah saatnya dia masuk ke dalam rumah kami dalam arti sebenarnya. Hutagalung kemudian membawa peralatannya, dan aku menganggapnya sebagai teman lama.

Kenyataannya, pekerjaan Hutagalung amburadul. Tiga perempat dari kaca yang dipotongnya berpecahan. Dia gagal. Tetapi tetap kuberi semacam uang lelah.

Hutagalung --lagi dengan suara pelan-- menjelaskan kegagalannya "Kacanya sudah terlalu lama, jadi sangat susah dipotong". Kuamini saja pembelaannya, meskipun kami gagal merealisasikan rencana rumah impian kami karena kegagalannya.

Hari hari kemudian adalah saling angkat tangan bila kebetulan dia bertemu mata dengan aku di mobil tua kami. Sesekali dia masih melintas di depan rumah kami, entah itu pulang dari berkunjung ke rumah yang menggunakan jasanya, atau mengantarkan undangan pesta. Tetap dia kusapa sebagaimana ketika pertama kali aku bertemu dengan dia.
***

Tiga tahun aku tidak bertemu dia karena tugas ke luar kota, sampai kemudian dua minggu lalu kanlpot Suzuki Sidekick kami kropos. Kuingat Hutagalung lalu kuhampiri bengkelnya.

Kupikir, kali ini dia bisa menunjukkan kemampuannya kepadaku.Ternyata bengkel sudah berganti jadi warung kopi. Kutanya pengelola warung kemana
Hutagalung berpindah. "Itu, dua ratus meter, bersebelahan dengan pencuci mobil ".

Kuhampiri dia di tempat yang dimaksud. Ternyata di tempat itu ada bengkel khusus knalpot. Tidak bisa kukalahkan kebutuhan dan prioritasku, jadi tak bisa pula aku saksikan kemampuan Hutagalung. Kuminta jasa bengkel knalpot itu, tapi kuhampiri dia sambil bersalaman.

Hutagalung kelihatan sudah lebih berkeriput. Beberapa lembar jenggotnya yang tumbuh tidak rata sudah memutih, sama dengan rambutku. Hutagalung kemudian bercerita kepindahannya ke lokasi itu setelah mereka bersama-sama dengan usaha lain menyewa tempat itu. Lokasi itu terdiri dari berbagai usaha, Hutagalung diantaranya, masih terbuat dari gedek.

Kutanya kembali pelanggannya, Hutagalung menjawab persis ketika dia menjawab pertanyaanku saat baru berkenalan dan saat menyewa bengkel di pinggir jalan besar. Pelanggannya tidak banyak, tetapi dia berharap kelak akan banyak. Hutagalungpun masih belum menggunakan anak buah. Bicaranya masih tetap seperti dulu : pelan, mencoba meyakinkan tetapi ragu-ragu.

Dua jam kami ngobrol, sampai kemudian aku pamit. Hutagalung kutinggalkan di bengkel barunya itu.
***
Tanjung Morawa, 19 Desember 2002.

ceritanet©listonpsiregar2000