novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Sesobek Buram
Mangin sobek blocknote bekas sebuah kongres, mulai menggerakkan pensil di sisa nyala api di tumpukan potongan dahan. Setelahnya, menjelang pagi setelah melantunkan beberapa rhapsody tentang pagi bersama permainan gitar Hotma dia serahkan kepada Dinda.

Dinda melipatnya dan menyimpan di saku kemeja. Karena sempat mendengar bisikan Mangin, HANCURKAN SETELAH DIBACA.

Terus terang saja Mangin direndam rasa gelisah. Kuyuplah dia. Untunglah Dinda tak membaca apa yang diucapkan mata Mangin.

Mencintamu adalah kenistaan
Tak berani kunyatakan
Tak nyata kuucapkan
Karena ini bukan kegelian
(Sumber; SAJAK MAMBU; AMM)

Memalukan sekali. Buram seburam potret yang ditulis ulang oleh Mangin sendiri tadi petang.

Suatu hari pada zaman kompeni. Dibukalah Perkebunan Teh oleh Belanda. Karena secara hukum masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan milik para "kompeni", petani yang semula mengolah lahan kebun teh tersebut mencari lahan jauh dari perkebunan. Lereng pebukitan.

Invasi Jepang, Belanda pergi. Indonesia merdeka, masyarakat merebut kembali tanah perkebunan, mengganti dengan kopi. Sisa perkebunan teh dapat dilihat dari tanaman teh yang dipelihara oleh masyarakat Talang Pasar Raya. Umur kopi dapat dijadikan tolak ukur, bahwa umumnya talang dibuka dalam kawasan pada dekade 1950 -1960.

Menurut salah satu responden, setelah pengusiran oleh kompeni terulang lagi di zaman ini untuk peruntukan suaka marga satwa. Apakah lupa, bahwa yang harus dilindungi juga sekumpulan satwa lain -yang oleh Tuhan diamanatkan menjadi khalifah di muka bumi--; homo sapiens? Padahal sebelum pengusiran di wilayah Talang Gajah yang berbatasan dengan wilayah Lampung sudah kurang lebih 600 KK. Ini bukan talang lagi jangan-jangan, tapi sebuah dusun?

Petani di sini memiliki lahan dengan beraneka pola, membuka sendiri (sejak jaman Belanda ataupun dengan peraturan Bacong Alas pemerintahan Marga), ganti rugi (dari eks transmingrasi tahun 1988 sampai 1991), ganti rugi langsung dan dengan persyaratan (kasus talang Domo dan Talang Damar Asam) dan ganti rugi dengan suatu persyaratan bagi hasil pengelola dan pemilik yang pada umumnya bermukim di luar kawasan. Pembukaan lahan dalam kawasan dilatari ketergantungan ekonomi. Walaupun ada alasan lain yang tidak pernah terucap, yaitu tanah subur tanpa pupuk.

Sebenarnya masyarakat dalam kawasan tahu di dalam kawasan tidak diperbolehkan untuk dilakukan segala aktivitas, baik pertanian, perkebunan, perburuhan dan penebangan kayu. Ketakjelasan batas (patok kuning, patok paralon dan patok putih) karena selama ini anggapan meraka patok kawasan adalah patok BW (Bose Weisen) jaman Belanda, harapan dari oknum aparat desa, kehutanan dan militer yang mengambil pungutan dari tahun 1992 sampai 1998, atau anggapan mereka merupakan lahan ganti rugi, warisan ataupun hak bacong alas yang telah ada sejak Jaman Marga.

Tidak adanya penerangan, kerjasama dan tak ada pelibatan partisipasi rakyat untuk perencanaan kawasan, yang ada hanya paksaan dan intimidasi. Setiap orang yang datang mereka selalu beranggapan sama, selama ini setiap diminta berkumpul yang ada hanya larangan, kekerasan dan perasaan was-was, kalaupun tidak adalah Janggolan (yaitu pungli dari aparat yang tak bertanggung jawab, dimana setiap panen dikenakan 150 kg per bidang tergantung dari jarak lahan, luasan, siapa yang punya serta kedekatannya pada aparat tersebut). Mereka tahu resiko dari pengarapan lahan di daerah kawasan, walaupun kalau ditanya ada yang menjawab pasrah (antara di usir dengan tetap bertahan), alasannya mereka hanya untuk mencari hidup.

Oalah. Kulihat dia tetap saja tercenung dalam paginya menuju pulang ke rumah dari lokasi kegiatan.
"Mangin, aku pulang duluan!"
"Hei, tunggu dulu!"
Aku sudah meloncat ke sepeda motor Hotma.
***
Rumah Jatam, 17 September 2001. 04; 36 WIB
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000