draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Ketika Jagger terbangun,
pertanyaan pertama yang dia ajukan adalah soal ecstasy yang dijanjikan
Elaine. Elaine pun merogoh tas bawaannya dan mengambil sebuah lipatan
kertas kecil. Jagger segera meraih dan membuka, dan terlihat tiga
butir pil berwarna hijau muda bergambar petir. Tiga butir pil pemberian
Julian semalam membuat Jagger tersenyum bahagia. Lama Elaine tidak
melihat senyum Jagger sedemikian senangnya.
"So, this
is the famous ecstasy?"
"Three tablets, Jagger,
for you."
"Can I drink them now?"
"I don't think that
is a good idea, Jagger."
Elaine mencegah suaminya menelan
tablet itu pagi-pagi. Jagger membuat kopi sambil memikirkan ketiga
tablet itu terus menerus. Ingin sekali dia mencobanya, namun Elaine
tidak mengizinkan sebab dia masih terhenyak akibat pemandangan semalam
di tanah pertanian Jonathan. Elaine tidak dapat membayangkan tingkah
laku Jagger bila dia menenggak tablet itu, apalagi kalau ketiganya
sekaligus.
Sanca terbangun dan Elaine segera
menyusuinya, dan sambil dirasakan kemesraan hangat yang mengikat batin
ibu dan anak, dia ceritakan tentang restoran Mawar Medan kepada Jagger.
Tampak Jagger antusias sekali. Kelihatan dia memang sangat rindu untuk
berkongkow dengan kawan Indonesia. satu hal yang dilakukannya tiap
hari saat masih berada di Jogja dan Jakarta.
Persoalan mengenai kapan tablet
itu harus diminum terpecahkan sudah: tablet itu akan dibawa Jagger
sebagai oleh-oleh untuk pengantar berkenalan dengan kawan-kawan di
Mawar Medan di Brixton. Kawan-kawan yang dirindukan sebelum dikenal.
Meski hari itu Tahun Baru, Jagger
tak sabar. Dengan tergesa dia membuka halaman-halaman kuning dan didapatkannya
nomor telpon restoran Mawar Medan. Sambil menyadari bahwa tak mungkin
ada orang di restoran pada hari Tahun Baru, pagi-pagi pula, Jagger
menekan-nekan nomor telpon Mawar Medan.
Terdengar nada sambung panjang-panjang,
berkali-kali. Benar, tak ada orang di restoran itu, pikir Jagger,
tetapi dia tidak meletakkan gagang telpon karena ingin meninggalkan
pesan di mesin penjawab telpon Mawar Medan. Tak terduga, ternyata
ada suara seorang perempuan mengangkat telpon di ujung sana.
"Ya-o?"
Jawab perempuan itu, mengagetkan Jagger. Di latar belakang terdengar
suara degum dentum musik house.
"Ya, ya, hello, is
this "Mawar Medan"?
"Ya, mon, this is Maawaa
Medaan. Who dya wanna speak to, mon?"
"Ah, ah, Indonesian?
Indonesian people?"
"Wait a minute, mon."
Perempuan itu menaruh gagang telpon
dan meneriakkan sesuatu. Jagger kini menyadari, sepertinya di Mawar
Medan sedang ada pesta. Seorang lelaki berbicara di telpon.
"Ya hello,
who is this? Siapa ini?"
"Ah, anu, ah, nama
saya Jagger,
"
"Jagger? Lu di mana?"
"Di Ladbroke Grove."
"Datang saja ke sini,
lu, di sini banyak anak-anak, kita lagi party."
"Sekarang?"
"Ya, sekarang saja,
ngapain besok-besok?"
"Oh, ya, maaf, nama
Anda siapa?"
"Oh, iya, belon kenalan
kita. Gue Iwan, Iwan Medan. Sudahlah, lu kesini saja buruan, ntar
kenalan sama kawan-kawan di sini."
"Naik apa, enaknya,
ya?"
"Lu ambil aja kereta,
Victoria line, sampe ke stasiun Brixton. Dari stasiun tinggal jalan
kaki nggak sampe sepuluh menit. Cari aja Vining Street di peta A to
Z, nggak susah kok. OK, ya, kita tunggu!"
Jagger menutup gagang telpon dengan
wajah berseri-seri. Segera dia jelaskan kepada Elaine bahwa kawan-kawan
Indonesia di Brixton sedang ada pesta di restoran Mawar Medan, dan
dia diundang. Elaine tak menyangka akan ada undangan secepat itu,
namun melihat keceriaan di wajah Jagger tak tega dia melarang Jagger
pergi pagi itu juga. Jagger yang bahagia mendapatkan ijin keluar dari
istrinya dan juga undangan pesta dari Iwan Medan, segera siap-siap
untuk mandi.
Dengan terburu dia kenakan berlapis-lapis
pakaian untuk menghalau dingin, dan terakhir dikenakan pula celana
dan jaket kulitnya. Rambutnya yang panjang di biarkan terurai seperti
penyanyi rock, dan dengan langkah ringan, dituruni anak tangga ke
luar flat tempat tinggalnya. Sampai di luar, dia menyulut selinting
ganja, meraba sakunya untuk memastikan ketiga tablet ecstasy masih
ada di situ, dan berjalan dengan mantap menuju ke stasiun Ladbroke
Grove yang masih sangat sepi di hari Tahun Baru itu.
Rute perjalanan yang harus ditempuhnya
sudah dihafal saat masih dirumah, namun di saku jaketnya dia masih
memerlukan untuk mengantungi satu buku peta seukuran buku saku. Ketika
kereta tiba di statsiun, dia segera naik, duduk di gerbong kosong,
dan mengeluarkan buku petanya. Pada halaman sampul bagian belakang
buku itu terdapat peta jaringan kereta api kota London yang dikenal
sebaai Underground atau Tube.
Dilihatnya jalur yang harus ditempuh:
di stasiun King's Cross, dia harus berganti kereta, dari jalur Hammersmith-City,
ke jalur Victoria, yang di peta digambar menggunakan warna biru muda.
Dari King's Cross ke Brixton, di mana jalur Victoria berakhir, dia
harus melewati delapan stasiun kereta. King's Cross, Euston, Warren
Street, Oxford Circus, Green Park, lalu Victoria. Dari stasiun Victoria
masih ada tiga stasiun antara, yakni Pimlico, Vauxhall, dan Stockwell.
Antara stasiun Pimlico dan Vauxhall, rel kereta melewati rongga bawah
tanah di bawah kali Thames yang lebar dan dalam. Jauh juga perjalanan
untuk mengobati kangen akan pergaulan Indonesia.
Stsasiun King's Cross adalah stasiun
yang besar, tua dan kumuh. Dengan bergegas Jagger mengikuti tanda-tanda
petunjuk untuk mencapai jalur Victoria, dan tak lama kemudian dia
sudah berdiri di atas eskalator stasiun Brixton, dengan buku peta
kecil di tangannya. Sampai di mulut stasiun, di pintu keluar, dia
membelok ke kiri, melewati para gelandangan yang tidur-tidur di emper
dengan selimut tebal bertutup kardus-kardus bekas. Banyak betul gelandangan
di sini, pikirnya, sambil terus kakinya melangkah dengan mantap. Tak
ada seratus meter dia berjalan dan dia sampai di satu perempatan besar.
Jagger berhenti sejenak, mencari papan nama jalan di dinding bangunan
di sudut-sudut jalan itu, dan benar, ternyata bila ia membelok ke
kiri dia akan menyusuri Coldharbour Lane.
Vinning Street pasti tak jauh
dari sini, pikirnya. Kira-kira seratus meter dia berjalan, sampailah
dia di perempatan Atlantic Road, dan seakan sudah hafal, seolah sudah
pernah, Jagger dengan mantap belok kanan menyeberangi jalan, dan tikungan
pertama di Atlantic Road itu adalah Vinning Street. Di seberang jalan,
terlihat restoran Mawar Medan.
Papan nama restoran
terbuat dari lempengan logam yang dipotong menyerupai bunga mawar,
sedangkan huruf-huruf yang membentuk namanya dibuat seolah dari bambu.
Dinding luar restoran berwarna oranye menyala, dan tergantung di pintu
berkaca, ada tulisan dalam bahasa Indonesia TUTUP. Di bawah kata TUTUP
terdapat bahasa Inggrisnya: CLOSED.
***bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo
Prijosusilo