Ia kembali memandangi api itu
di dalam mimpinya dan menjadi panik. Bagaimanapun ia harus menemukan
cara untuk menyampaikan mimpi itu kepada orang-orang. Tapi anak-anaknya
benar-benar tak berperasaan. Mereka memandanginya seperti seorang
cacat yang tak berguna. Mereka menanggapinya secara tak serius, seolah
ia hanya akan menceritakan sesuatu yang tak penting. Mereka tak menaruh
hormat lagi pada usia lanjut; hingga ia pun tak percaya apakah mereka
juga akan menghormati misteri mimpi. Dan karena keraguan sesaat menggelapkan
benaknya, ia menjadi lupa hendak mengatakan atau menceritakan apa
setiap kali berhadapan dengan mereka.
Maka, selalu begitu: anak-anaknya,
menantu-menantunya, cucu-cucunya itu, akan menggeleng-gelengkan kepala
dengan kecewa, dan mengin gatkan, bahwa mereka tak perlu diganggu
untuk hal-hal yang tak begitu penting.
Tapi ia tidak sekali atau dua
kali memandangi gereja itu dibakar api. Ia telah menyaksikannya berulang-ulang
di dalam mimpinya. Di depan gereja ia berdiri di antara orang-orang
yang sedang membeli buku-buku maupun kaset lagu-lagu rohani. Beberapa
anak merasa terganggu oleh sosoknya yang besar dan menghalangi langkah
mereka. Ia menjadi merasa bodoh ketika seorang tua mengajarinya minggir
dan menunggu di tepi halaman. Sepertinya ia dianggap
sudah pikun, karenanya ia mencoba menjelaskan.
Tapi tak ada suara yang keluar
dari mulutnya yang menjebi kaku. Wajahnya berkeringat tersengat panas
matahari siang. Kebaktian pagi baru saja selesai,
persis tengah hari; tapi ia merasa masih mengikuti acara kebaktian
di halaman gereja itu.
Memang masih banyak orang-orang
yang sengaja menunggu seperti dia di depan gereja itu, mengobrol dan
tertawa-tawa atau saling menyalami karena pertemuan sekali semi nggu,
tapi sebagian besar sudah memutuskan berkemas-kemas meninggalkan halaman
gereja dan beberapa orang dengan tak sabar sudah melontarkan kata-kata
"makan siang di restoran saja".
Sementara ia masih harus menunggu
salah seorang cucunya, datang menjemputnya. Hal mana membuatnya merasa
tak enak, karena ia selalu membuat salah seorang dari mereka terpaksa
meninggalkan kesibukan, acara-acara liburan pribadi, ataupun secara
sengaja menunda dan bahkan membatalkan satu janji demi tugas mengantar
jemput "ayah yang tak pernah membuka mata untuk kota besar",
"mertua yang masih kolot", atau "kakek yang sudah pikun".
Sungguh menyakitkan menyadari
kenyataan seperti itu -- dengan kebiasaannya mengikuti kebaktian setiap
hari minggu -- ia hampir merasakan dirinya sebagai penjahat di tengah
keturunannya yang lebih bahagia dengan acara masing-masing pada setiap
hari minggu di kota besar itu. Acara-acara 'duniawi' yang tak berhubungan
sama sekali dengan "perintah Tuhan untuk beristirahat pada hari
ketujuh".
Ia teringat masa kanaknya di kampung
halaman, di mana orang-orang menjadikan acara kebaktian hari minggu
sebagai jadwal tetap dalam kehidupan mereka -- maka orang-orang akan
meninggalkan rumah pada jam yang sama pada pagi hari minggu, mengunjungi
dan menikmati hari yang sama di sebuah gereja ber dinding papan dan
berlantai tanah-mereka saling mengetahui siapa yang tak hadir pada
minggu tertentu dan apa alasannya.
Tentu saja, ia dan ayah-ibunya
selalu hadir di gereja sederhana itu dan menikmati kegembiraan pertemuan
di halaman terbuka, ketika acara kebaktian selesai dan orang-orang
belum lagi ingin pulang ke rumah, tapi masih saling bertukar kabar
seolah sudah lama tidak berjumpa; padahal setiap hari mereka berkesempatan
bersua di pasar, di sekolah, ataupun di jalan-jalan menuju ladang
masing-masing.
Ia selalu diingatkan oleh ayah-ibunya,
untuk menyalami semua pengurus gereja; dan ia senang merasakan kesejukan
dari tangan-tangan mereka yang kasar karena banyak bekerja di ladang.
Atau, apabila ia lupa dan kedua orang tuanya tak mengingatkan, besoknya
ia akan sengaja pergi menyalami para pengurus itu di ladang mereka,
meminta maaf karena kemarinnya terlupa dan langsung pulang ke rumah.
Di kampung halamannya, bahkan
menyalami seorang pengurus gereja telah menjadi bagian tak terlupakan
dari jadwal mengikuti kebaktian setiap hari minggu. Sementara, kini,
menunggu di depan gereja besar dan berdinding beton tinggi itu, di
tepi halaman, di antara orang-orang yang berkemas mau pulang ke rumah
dan saling berombongan sesama mereka, ia tak bisa mengurangi perasaan
bahwa sesaat ia seperti sedang berada di halaman gereja desanya, serayasepasang
matanya mencari-cari para pengurus gereja yang tak muncul-muncul juga
untuk disalami.
Ketika cucunya akhirnya tiba,
ia katakan kepada anak lelaki itu bahwa ia masih menunggu pengurus
gereja; ingin menyalami mereka seperti pada hari-hari minggu sebelumnya.
Ia belum mau pu lang ke rumah karena masih harus melaksanakan pesan
ayah-ibunya. Tapi anak lelaki itu tampaknya tidak mengerti apa yang
dikata kannya, dan kemudian malah bertanya apakah ia mau membeli buku-buku
atau kaset lagu-lagu rohani. Siapa penyanyi kesukaan Kakek?
Ia meralat anak lelaki itu, menjelaskan
bahwa ia sedang menunggu pengurus gereja, para pengetua yang harus
disalaminya sebagai pertanda rasa hormat dan berterima kasih atas
"firman" yang telah mereka bacakan dan jabarkan dengan ilustrasi
kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka sebagai peladang tadah
hujan di pedala man hutan rambung itu.
Ia merasa marah karena pertama
kalinya keinginan baiknya diperlakukan sebagai persoalan tak penting.
Anak lelaki itu sudah 2 tahun menjadi mahasiswa dan tampaknya masih
seorang bocah ketika berhadapan dengan sang kakek yang tiba-tiba saja
berting kah aneh, dan ia mulai menyesalkan: mengapa dengan begitu
mudah, ia menerima tugas mengantar jemput sang kakek mengikuti kebaktian
di gereja kali ini. Sementara, matahari siang semakin panas. Dan ia
terlanjur sudah menerima uang komisi dari ayah ibunya untuk melakukan
pekerjaan sosial di tengah keluarga itu!
"Kakek mau
membeli sesuatu tidak?"
"Ya. Ya. Sebentar lagi mereka pasti keluar."
"Kalau buku, lebih baik beli di toko. Kasetnya saja beli di sini,
karena pengedarannya memang terbatas."
"Ke mana para pengetua itu?"
"Yaaa... Kakek ini sebenarnya mau apa, sih?"
"Saya harus menunggu mereka. Besok mungkin tak berjumpa."
"Saya buru-buru, Kek!"
Anak lelaki itu beranjak, merangkul
tangan si kakek, rupanya ingin menarik si kakek dari halaman itu,
dan si kakek menoleh.
"Saya akan menunggu dan menyampaikannya
kepada mereka... Heh, lepaskan tanganku!"
"Yaaa, Kakek... Hari
sudah siang. Dan di sini panas sekali. Kita pulang."
"Kau mau pulang, pulang saja. Kau bisa pulang sendiri, kan? Saya
masih harus menyampaikan mimpi...tunggu dulu!..."
Ia mengeluarkan selampe dari
saku dan melap keningnya yang dibasahi keringat. "Saya harus
menceritakan tentang api yang membakar
gereja. Kalau tidak, siapa yang akan menyampaikan?"
Ia memasukkan selampe yang basah
itu ke saku jasnya yang berwarna hitam. Melihat itu, si anak tak dapat
membayangkan betapa gerahnya tubuh dan perasaan si kakek terkurung
pakaian tebal hitam-hitam di bawah terik matahari siang itu. Si anak
merasa kasihan memandangi si kakek.
Si anak akhirnya melepaskan tangan
si kakek dan keluar dari halaman gereja. Ia melihat, karena para pengunjung
sudah banyak yang pulang, jalanan di depan gereja sudah mulai sepi
dari mobil-mobil yang diparkir. Ia sudah dapat memindahkan mobilnya
lebih dekat lagi ke halaman gereja. Pikirnya, biarlah si kakek tenggelam
beberapa saat lagi dalam kepikunannya. Terus terang, ia merasa tak
sepandai saudara-saudaranya menyiasati dan mengatasi tingkah laku
si kakek bila muncul pikunnya.
Sementara, para pedagang kaset
lagu-lagu rohani dan pedagang-pedagang buku agama itu, hampir secara
bersamaan mulai berbenah mengemasi barang dagangan mereka. Mereka
ingin pulang. Hari sudah siang dan tak ada lagi calon pembeli; kecuali
beberapa orang jemaat yang masih mengobrol, sambil beranjak perlahan
me ninggalkan halaman gereja.
Ketika anak lelaki itu kembali
ke pintu halaman gereja, dengan mobilnya, ia melihat si kakek sedang
berbincang dengan seorang tua yang agaknya pengurus gereja. Halaman
gereja benar-benar lengang. Para pedagang itu telah pulang. Si anak
mengerutkan kening. Pikirannya kembali mendesak agar mereka segera
pulang; karena ia masih harus bepergian bersama teman-teman kuliahnya.
Sementara, si kakek dan temannya
berbicara itu memandang tak acuh ketika si anak menghampiri dengan
wajah cemas.
"Kek!... Kita pulang?"
Anak lelaki itu berdiri seperti
orang tolol.
"Jadi bapak melihat api menghanguskan
atap gereja ini? Cuma atap? Bagaimana dengan dinding dan isinya? Apa?..."
Anak lelaki itu tiba-tiba merasa
sedang berhadapan dengan dua orang tua sinting.
"Kalian sedang bergurau,
ya?"
"Api menyala-nyala."
"Tak ada pemadam kebakaran? Atau orang-orang yang datang menolong?..."
Kemudian, anak lelaki itu masih
mendengarkan pembicaraan yang tak ia mengerti ujung pangkalnya. Dan
si kakek masih saja melepaskan tangan anak lelaki itu, yang setiap
kali berusaha menariknya dari halaman gereja.
Si kakek menjelaskan dan seperti
tersadar, lalu tampak nyata seperti seorang bocah sekarang. "Saya
harus menyalami bapak. Terima kasih karena bapak sudah berkhotbah
dengan baik, dan masih berkenan membagi-bagikan firman yang indah
untuk kehidupan kami!..."
"Kakek?"
"...lalu bagaimana rumah pengurus gereja di belakang, apa kena
api? Heh, kok menyalami? Ya. Ya. Terima kasih, terima kasih."
"Kakek, mari kita pulang!"
Si anak kini merasa malu, dengan tak sabar menghentakkan tangan sang
kakek dan bermaksud menyer etnya. Namun si kakek meronta, terganggu,
"Tapi, pada mimpi-mimpi yang lain, api tak begitu besar!"
Si pengurus gereja kini mematung
bimbang melihat kakek dan cucu itu saling menarik dan meronta. Ia
meragu apakah akan menanggapi kata-kata yang baru didengarnya. Pikirnya,
kalau api memang tak besar, itu bagus sekali. Sebuah mimpi yang tak
begitu menyeramkan.
Anak lelaki itu mengerahkan
segenap tenaganya.
"Kalau tahu
kakek akan bertingkah kelewat aneh, saya akan menolak pekerjaan ini
tadi pagi!"
"Tolong dikabarkan
kepada semua jemaat, bapak pengetua. Api akan membakar gereja!"
"Ya. Bagus. Itu mimpi penting dan akan kami bicarakan. Tapi bapak
sudah harus pulang. Jangan membuat kesal cucu...Anda!"
"Ingat, Pak, jangan menunda-nunda mengabarkan kepada jemaat.
Itu jelas pertanda yang mendesak dipikirkan. Sebuah peringatan penting!"
"Baik, baik, mimpi itu boleh jadi peringatan. Tapi, Anda pulang
saja dulu. Hari sangat panas dan cucu Anda sudah tak sabar!"
"Mengapa bapak ikut mendorong saya?..."
Si kakek merasa kerepotan sekarang
karena ia ditarik anak lelaki itu dan juga didorong si pengurus sampai
ke dalam mobil. Pikirnya, ia memang harus segera pulang karena sudah
lapar dan ingin makan siang. Tapi, dalam persoalan yang begitu penting
yang sudah disampaikannya, ia belum menjelaskan siapa yang ia lihat
telah membakar gereja itu. Sebelum ia pulang dan makan siang, ia harus
menyampaikan kepada si bapak pengurus, bahwa beberapa orang berpakaian
hitam-hitam berikat kepala merah, malam-malam telah datang menyerang
dan membakar gereja itu dari segala penjuru.
Mereka melemparkan obor-obor menyala
dan tertawa-tawa gembira menyaksikan api cepat membesar menghanguskan
atap gereja, lalu mulai melalap dinding beton yang tinggi itu, dan
juga membakar bagian dalam: yang ternyata berisi orang-orang yang
sedang mengi kuti satu kebaktian penting dengan khusuk.
Maka, api pun tak tercegah menyala
di mana-mana dan jerit tangis para jemaat yang kaget, ketakutan dan
terkurung di dalam gereja menyeruak di antara gemuruh kekacauan ketika
bagian bela kang gereja mulai ambruk. Dengan pikiran dipenuhi tanda
tanya dan kecemasan, puluhan jemaat berhasil berlarian dan berebutan
keluar dari pintu gereja, namun mereka tak menyangka sudah dihadang
orang-orang berpakaian hitam-hitam itu dengan senjata otomatis di
tangan. Para jemaat itu sempat mengira, telah berhasil menyela matkan
diri dari ancaman nyala api yang mengerikan di belakang mereka; dan
tak pernah menyangka, akan ambruk hampir dalam waktu bersamaan oleh
"siraman" peluru-peluru panas dari tangan-tangan terampil
orang-orang berpakaian hitam-hitam di depan mereka!...
Dengan perasaan dilanda gerah
dan gelisah, si kakek tersadar dari mimpi singkat, dan menyandarkan
tubuh di jok mobil yang membawanya pulang. Ia melihat cucunya mengemudikan
mobil dengan tenang. Sementara, di matanya berkelebat bayangan peristiwa
terakhir dari mimpinya: ketika api menghanguskan segalanya, dan orang-orang
berpakaian hitam-hitam berikat kepala merah itu, dengan tawa seram
mereka, menghilang ke dalam gelap.
"Teruskan saja tidurnya,
Kek! Lumayan, masih lima sampai sepuluh menit lagi baru tiba di rumah!..."
kata anak lelaki itu mulai menyunggingkan senyum kemenangan!
***
Bekasi Timur, 1998