sajak
Menatap
Luka
TS
Pinang
lihatlah,
luka seratus abad tak lewat oleh badai
sementara sayu kelopak matamu lelah
didera berita televisi atau purnama dini hari
sungguh, ketakutan menjadi semacam rindu
pada warna pada denting piano dan suara serakmu
lalu seperti biasa senyummu berlalu
tawar saja, tanpa gula atau krim susu
"tataplah
mataku!" kata gambar pada layar
dan
bilangan berpendaran begitu saja
seperti dedaunan rontok pada musimnya
atau remah winter dan lumut merah
lecutan
itu telah mulai, gelinjanglah
kematian datang ribuan kali, tarikanlah
dengarlah,
reracau pipit merayakan bulir
lalu meruyak kata-kata seperti sperma
kau bungkus dalam sarung sebagai sajak
sebagai kutuk peradaban
atau cuma teman sarapan
"tataplah
mataku!" kata gambar pada layar
dan
rapalan sihir bertebaran kemana-mana
seperti coretan aerosol di tembok-tembok kota
atau surat cinta di layar kaca
lecutan
itu telah mulai, gelinjanglah
kematian datang ribuan kali, tarikanlah
yogyakarta, 2001
Untuk
Seorang Guru : Selamat Datang ke Surga
bersama setiap patah cekuh-cekih
kau ludahi sejarah dalam derai, ringkih
meski, dengan sisa kepahlawanan yang rombeng
masih, kaucoba melawan penjajahan paling zalim:
cacing perut bernyanyi parau dalam dentang kaleng
lalu kaubungkus sepiring tuhan,
cukuplah
untuk hari ini. entah esok. mesti kautelisik lagi
diantara lipatan-lipatan bau busuk dan lalat-lalat:
mungkin tuhan sedang rapat, tak bisa diganggu!
(sepuntung rokok akan menjadi sekretarisnya
siang ini
cukup cantik. lumayan, pengobat dosa-dosa pagi
saat malaikat masih mabuk oleh puja-puji
dan para pezina bersijingkat. kenakan lagi
jubah sucinya yang paling sufi)
"sudah sore, tuan. pulanglah."
lalu tuhan menyamar. senyuman itu.
satu sedotan rokok sepuntung. asap larung:
selamat datang ke surga!
yogyakarta, 2001
Seekor
Tikus
seekor tikus menyusup
dalam tumpukan koran
mungkin ia sedang membaca berita perselingkuhan
sambil menikmati remah-remah halaman iklan
televisi memendar
cahaya remang-remang
ledakan demi ledakan masih mengiang
gaungnya menghisap oksigen dalam ruang
seekor tikus menyusup
dalam tumpukan koran
terkesiap sebentar, ada apa gerangan?
lalu kembali dengan berita kecelakaan
cicak tertawa, tak
peduli berita apa
baginya tak ada yang istimewa di dunia
yang ada hanya nyamuk calon mangsa
dan seekor tikus dalam
tumpukan koran
sedang apa lagi ia sekarang?
mungkin sedang keracunan
ia sekarang
oleh asap mesiu berita perang
yogyakarta, 2001
ceritanet©listonpsiregar2000