draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Ketika pagi-pagi Tahun Baru Elaine kembali ke flatnya, suami dan anaknya masih tidur berpelukan. Diletakkannya coat tebal di gantungan dekat pintu dan dialirkannya air hangat ke dalam bath-tub. Perasaannya tak enak, seolah pemandangan-pemandangan liar di pesta semalam telah menempel di kulitnya. Rambut dan pakaiannya bau asap rokok, tetapi pemandangan pesta sex beramai-ramai lebih mengganggu batinnya. Belum pernah dia melihat yang seperti itu. Apa yang akan dirasakan Jagger kalau dia tahu mengenai pesta sex itu? Tidakkah dia akan semakin mengkafirkan masyarakat Inggris?

Belakangan Elaine sering mengkhawatirkan Jagger yang makin sering mengutarakan pendirian-pendirian yang berbau fanatik. Elaine menganggap gejala itu serius, sebab Jagger sendiri tidak pernah memperlihatkan ketaatan menjalankan agama Islam. Kenapa dalam pikirannya dia semakin menjadi fundamentalis? Ataukah Jagger hanya memilih bagian ajaran agama yang mengenakkan dan meninggalkan yang dianggap merepotkan?

Jagger tidak sembahyang dan tidak puasa, namun menuntut bahwa Elaine berlaku sebagai istri Muslim. Bagaimana sebenarnya kewajiban seorang istri Muslim itu tak demikian jelas bagi Elaine. Jagger mengatakan, sebagai istri dan ibu, Elaine mempunyai kewajiban untuk mengurus suami dan anaknya.

Elaine menutup pintu kamar mandi dan melepas pakaiannya. Air panas dan dingin yang mengalir bersamaan ke dalam bath-tub mengepulkan uap tebal. Diambilnya sebotol kecil minyak esensi dari bunga Lavender dan diteteskannya tiga tetes ke dalam air bath-tub. Seketika uap di dalam kamar mandi beraroma Lavender.

Elaine mengangkat kedua tangannya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Uap air yang bercampur dengan esensi bunga Lavender menyegarkan otaknya. Ia rasakan udara memasuki paru-paru, sampai ke ujung-ujung bronki. Perlahan dia keluarkan nafas, dan sambil merunduk, dia rasakan air di bath-tub yang mulai penuh. Cukup hangat; tidak terlalu panas, tidak pula terlampau dingin. Elaine rebah di dalam air hangat, dan dimatikan kedua kran yang sejak tadi ngocor.

Jagger semakin aneh belakangan ini. Seakan dia tidak mengerti bahwa Elaine bekerja keras itu adalah demi mengurus suami dan anaknya juga. Bukankah itu kewajiban seorang istri menurut Islam? Ah, Elaine tidak tahu. Yang dia tahu, tak mungkin keluarganya mengandalkan penghasilan Jagger yang nol besar. Jagger tidak bekerja dan rasanya sulit membayangkan dia bekerja dengan penghasilan layak di London. Apa yang bisa dia lakukan? Jadi wartawan? Tak mungkin kemampuannya memadai. Paling-paling dia mendapat pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih, bahasa Inggris Jagger pun tak cukup memenuhi syarat untuk bekerja sebagai pelayan toko, misalnya.

Jadi mau tak mau Elaine yang harus bekerja. Gajin Elaine tidak kecil, bahkan termasuk besar. Kenapa Jagger tidak bersikap mensyukuri? Bukankah mensyukuri rejeki adalah sifat Islam?

Setengah jam kemudian ketika air di bath tub makin dingin, Elaine mengeringkan badannya dengan handuk besar dari gantungan handuk berpenghangat. Sambil menggosok kulitnya dengan handuk, dia mendapatkan kesimpulan mengenai Jagger, suami yang dicintai.

Semua gejala aneh yang dirasakan muncul di diri Jagger, adalah gejala rindu kampung halaman. Itulah kesimpulan Elaine McKenzie. Jagger sudah lama tidak ketemu dengan sesama warga Indonesia. Itu sebabnya dia gelisah batin, selalu mencari-cari kesalahan dan kekurangan Elaine dan negeri serta masyarakat Inggris.

Sambil bersijingkat memasuki kamar tidur Elaine teringat omongan kameramannya pagi-pagi buta tadi, bahwa di Brixton, London Selatan, ada satu restoran masakan Indonesia yang dikelola oleh anak-anak muda Indonesia. Kata rekan kameraman itu, masakan dan suasana di restoran itu menyenangkan sekali. Yang jadi masalah, restoran itu terletak di Brixton, bagian kota London yang berpenduduk mayoritas kulit hitam dan terkenal karena kejahatan jalanan: penodongan dan perdagangan crack cocaine dan heroin.

Bukan hanya itu, restoran bernama "Mawar Medan" itu terletak di Vining Street, satu jalan di belakang jalan utama Coldharbour Lane di Brixton. Vining Street adalah jalan buntu yang gelap, tempat para pecandu narkotika berat bertransaksi, dan kadang pula jadi lokasi penodongan dan penembakan. Apa boleh buat, kalau ada waktu, Jagger perlu diperkenalkan kepada komunitas Indonesia yang ada di sana. Elaine membayangkan perasaannya sendiri bila untuk masa lama dia tidak berkomunikasi dengan rekan sebangsanya. Pasti Jagger rindu sekali sekedar mendengarkan bahasa Indonesia dan gelak tawa Indonesia yang khas itu.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000