cerpen Bumi Ketiga
Imron Supriyadi

Aku tergeragap. Sebuah kilat cahaya telah memecah bongkahan batu besar, tempat selama ini aku tidur di dalamnya. Sulit kuterjemahkan. Ia datang begitu cepat, Jika kilatan cahaya itu sudah reda, besok atau lusa, akan kutanyakan pada ahli meteorologi, agar aku tidak terus kebingungan.

Hari itu aku mendapat bahan penelitian baru yang belum terdata lembaga penelitian manapun ; tentang ilmu bumi. Inikah yang disebut sebagai peristiwa alam yang akan mengantarkan manusia ke alam baru? Bumi Ketiga? Ah, terlalu lancang aku.

"Plar, plar!" kilatan itu makin menjadi-jadi. Bongkahan-bongkahan batu kini pecah berkeping-keping, dengan berbagai bentuk, yang sulit untuk dikelompokan jadi satu, sehingga terkumpul dalam beberapa etalase, sesuai dengan jenis dan bentuknya; apakah ia batu marmer, batu akik, pualam, intan atau emas sekalipun.

Mungkin anaximandros, anaximenes dan ahli astronomi akan segera muncul dengan teori baru jika menyaksikan peristiwa menggemparkan ini. Atau bahkan mereka akan segera membuat ralat besar-besaran di berbagai media massa, untuk meluruskan teori kejadian alam yang pernah mereka tulis dalam ratusan buku.

Tapi itu bukan urusanku. Tak akan gampang menerima kejadian baru untuk disusun menjadi disiplin ilmu, atau dirangkum menjadi sebuah buku. Sedang ' teori' Tuhan memakan waktu yang tidak sebentar untuk diakui kebenarannya. Apalagi teori mahluk ciptaan Tuhan. Ah, mudah-mudahan dalam satu kesempatan nanti akan kutemui Tuhan…

Gemuruh longsoran bebatuan yang terpecah oleh kilatan cahaya itu makin menggumpal, menggelinding dari perbukitan, menuju kedataran rendah, tidak mencari tempat-tempat tersembunyi. Seperti daratan kering yang sudah seratus tahun tak terpercik air. Bongkahan-bongkahan yang menjadi kerikil terus memapas kilatan cahaya.

Secara perlahan, dari pecahan-pecahan yang seakan terburai dari perut bumi, berubah menjadi warna dan panorama baru. Dari ribuan pori-pori yang sulit diukur diagramnya itu, terjelma aneka bentuk kehidupan, yang aku rasakan seperti sedang dalam kebangkitan baru. Aku seperti terbangun oleh sapaan Tuhan, sama ketika Ashabul Kahfi juga dihidupkan Tuhan setelah 309 tahun terbaring dalam goa. Atau seperti Nabi Yunus yang hidup kembali setelah betahun-tahun di dalam perut ikan.

Oh, kucoba untuk menepis cahaya itu, agar sinarnya tak begitu menyilaukan. Kuambil selembar daun kering, melindungi sengatan yang makin menyebar di sekelilingku. Aku terus gagal. Kilatan cahaya itu terus berputar-putar bagaikan sinar laser yang menusuk tajam mengiris lapisan mata. Ia menyorot kemana-kemana.

"Cukup, cukup! Jangan kau hina aku dengan sinarmu! Aku makin kewalahan dengan pancaran yang benderang itu. Bermacam tempat kuraih, agar ia dapat tertampung. Tapi semua nihil. Sesekali, sinar itu singgah dalam tempat-tempat kosong. Tapi sedetik kemudian, ia kembali menjalar kemana-mana, menempati ruang-ruang kosong dalam setiap bentuk. Ia masuk dalam botol, cangkir, kotak, kantong baju sampai ke semua lekuk bumi. Tapi tak sesiapa bisa menghalauinya. Ia akan terus berjalan bersama udara.

" Tidak bisakah kau berhenti barang sebentar ?" Aku kian kebingungan mencari tempat berlindung.
"Kenapa mahluk sejenismu bingung dengan kedatanganku?" Ada suara menggema dari balik cahaya itu. "Bukankah kalian semua yang mengharapkan aku segera hadir disini?".

Suara itu terus memantul kesegala arah. Aku menjadi gagap menjawabnya. Ssebelum ini aku hanya tertidur pulas dalam sebongkah batu besar yang bisu. Seakan, aku sudah berada pada alam kematian panjang. Seperti tak ada angin, cahaya atau petir sekalipun yang dapat membangkitkanku dari pusara yang membantu.

Aku makin tak bisa mengendalikan arah cahaya itu. Ia bergerak sesukanya. Membakar semua kebisuan yang gagu. Dalam sebuah bejana, ia menyatu dengan udara, lalu menjelma menjadi air. Berselubung dalam setiap dengus nafas, membasahi pori-pori bumi dengan genangan keringat. Menyusup ke lapisan tanah yang paling bawah, memandikan bumi dengan ribuan mata air, melukis permukaan alam dengan kilauan merah.

Cahaya itu telah mencurahkan air mata dan darah. Tak ada yang perlu dipersalahkan. Toh aku dan mahluk sejenisku telah berada dalam wilayah itu. Tak mungkin lagi wahyu turun untuk membuat program transmigrasi ke bumi ke empat.

Cahaya, angin dan udara terus menyatu dalam irama yang sama. Air pun terus bergulung diantara kilatan-kilatan cahaya. Aku, dan mahluk sejenisku makin terasa malu atas ketidak-siapan tempat untuk menampung. Begitu panjang aku terlelap sehingga sama sekali aku tak pernah merasa terlatih membuat bejana-bejana penampungan, yang bisa menempatkan lautan cahaya.

Bumi pekat. Namun, kilatan cahaya tak termakan. Ia berjalan, merambah memasuki setiap rumah, yang setiap penghuninya menjadi gusar, akan kemana cahaya itu diarahkan.

Titik - titik embun terus menggelembung dikening para tetangga, menggambarkan ketidakberdayaannya menatap kilauan cahaya. Aku hanya menatap iba. Tak sesuatu pun yang bisa keperbuat sementara cahaya makin menerpa ke setiap raga. Ke setiap gedung-gedung bertingkat, ke ujung mercusuar, ke menara pagoda, sampai kesudut desa.

Pagi buta. Petang menjelang, sampai gulita menggulung siang, aku masih menatap cahaya dengan gamang. Aku mengais cuilan-cuilan kerikil yang tersisa kemarin siang. Tapi yang terpantul hanya goresan luka.

Dalam sebuah peta, puluhan bahkan ratusan wajah kehilangan cinta. Dalam hatinya tertoreh sebuah kata: masih adakah cinta disana? Tak seseiapa yang menjawab, desau angin terhantar, hanya membawa bau anyir darah, dan kabar kematian.

Cahaya masih berada di atas mega. Namun sinarnya takkan terhenti sampai disini. Ia kini bukan saja menjadi air, tetapi juga duri-duri tajam, pedang, sabit, celurit dan segala bentuk rupa yang makin sulit terjamahkan. Ia terus bergerak, menembus setiap jendela, menghujam pada semua bejana, meskipun aku dan mahluk sejenisku tetap tak punya kemampuan untuk berjalan beriringan bersama cahaya.

Entah esok, lusa dan sampai kapan, aku dan kami semua terus berada dalam Bumi Ketiga yang gagap.

Hanya satu jawaban; besok sebelum subuh tiba, aku akan berlari untuk menjumpai Tuhan, dan belajar dari keagunganNya, agar aku tidak terusberkepanjangan merasa bodoh berjalan bersama cahaya.
***
Lahat-Sumsel 1999-2002

ceritanet©listonpsiregar2000