Hari
berikutnya, ketika Zhivago pulang untuk makan siang, ia berkata: "Nah,
kau sangat ingin berangkat, sekarang kita semua akan berangkat. Tak
kukatakan 'syukurlah,' sebab bukanlah syukur namanya, kalau kita terjepit
dan kalah lagi. Semua kesatuan pengobatan diperintahkan keluar. Kita
pergi besok atau lusa. Entah kemana. Dan kukira, Karpenko, pakaian
dalam tuan Gordon belum pula dicuci. Selalu begitu saja. Menurut Karpenko,
ia memasrahkannya pada gadisnya, tapi asal ditanyai siapa dan dimana
dia, si tolol ini tidak tahu."
Ia
tak mengacuhkan alasan Karpenko yang bohong itu dan juga permintaan
maaf Gordon karena meminjam kemeja-kemeja tuan rumahnya.
"Beginilah
hidup di tentara," sambungnya, "Sehabis membiasakan diri
di satu tempat, harus pindah ke tempat lain. Waktu kami datang, tak
ada yang kusukai di sini. Kotor, pengap tungku salah letak, langit-langit
terlalu rendah. Dan sekarang, sungguh aku tak ingat lagi bagaimana
tempat yang kami tinggalkan dulu. Aku merasa tak keberatan tinggal
seumur hidupku di tempat ini, memandangi sudut tungku ini dengan sinar
matahari di lantai dan bayang-bayang pohon itu bergerak-gerak di situ."
Mereka
berkemas tanpa buru-buru.
Malam
hari mereka bangun oleh teriakan orang, tembakan bedil dan langkah-langkah
yang berlari-larian. Dusun diterangi cahaya geram, dari atas. Banyak
bayangan berkebelatan lewat jendela. Pemilik rumah dan istrinya bangun
di belakang sekatan. Yury menyuruh kurirnya supaya bertanya apa sebab
keributan itu.
Didapatnya
kabar, tentara Jerman telah menerobos. Yuri bergegas ke rumah sakit
serta menyaksikan kebenaran kabar itu. Dusun sedang ditembaki. Rumah
sakit harus segera dipindahkan dengan tiada menunggu perintah untuk
mengungsi.
"Sebelum
fajar kita semua akan pergi," kata Yuri pada Gordon. "Kau
ikut regu pertama, pedati sudah siap sekarang, tapi kupesan mereka
supaya menunggu kau. Nah selamat jalan. Kuantar kau, agar tempat dudukmu
terjamin."
Mereka
lari di jalan dusun, membungkuk-bungkuk dan memeluk tembok-tembok.
Peluru-peluru berdesing lalu, dan dari simpangan-simpangan terlihat
ledakan granat laksana payung menyala yang terbuka di atas padang.
"Kau
akan berbuat apa?" tanya Gordon sambil berlari.
"Aku
menyusul dengan regu kedua. Aku harus kembali dulu untuk mengemas
barang-barangku."
Mereka
berpisah di pinggir desa. Pedati dan beberapa kereta yang merupakan
konvoi bergerak, berantukan satu sama lain dan berangsur-angsur merenggang.
Yuri melambai ke sahabatnya yang melihatnya sejenak lagi dalam cahaya
gudang terbakar.
Dengan
mencari lindungan rumah-rumah lagi, Yuri buru-buru pulang. Beberapa
meter dari rumahnya ia terpelanting oleh tekanan hawa letusan dan
kena pecahan granat. Ia jatuh di tengah jalan, berlumuruan darah dan
pingsan.
***bersambung
*.
Dahl adalah penyusun kamus baru Rusia yang menjadi klasik dan berisi
antara lain daftar panjang tentang keanehan-keanehan ilmu bahasa.
ceritanet©listonpsiregar2000