laporan Membawa New York ke Jakarta
Maya Maniez

Membandingkan Jakarta dan New York city, memang terlalu berlebihan. Tapi apakah meniru juga berlebihan? Meniru bagaimana caranya New York menghasilkan pendapatan besar dari sektor pariwisata dengan menjual hal-hal yang sudah ada, tanpa harus sengaja membangun obyek wisata.

Mungkin meniru New York juga berlebihan bagi Jakarta, yang ketinggalan jauh di belakang. Hanya saja dengan modifikasi sedikit saja, menurutku, arek Suroboyo, Jakarta mestinya bisa jadi tujuan wisata .

Saat mengunjungi New York untuk pertama kali, aku tidak pernah tahu apa sebenarnya yang membuat kota ini begitu terkenal di seantero jagad. Aku pikir, paling hanya gedung-gedung pencakar langit yang kalo dilihat dari bawah, bisa membuat pegal leher. Tapi ternyata pemerintah kota New York tahu betul memanfaatkan potensi yang dimiliki. Banyak objek wisata dalam kota yang sebenarnya bukan tempat wisata tapi ternyata jadi tujuan wisata yang menarik.

Yang pertama New York Stock Exchange NYSE. Seluruh dunia pasti tahu pusat keuangan di lower Manhattan itu jadi acuan di seluruh dunia. Tidak ada biaya untuk masuk ke gedung NYSE, selain mengambil semacam tiket masuk di tempat khusus dekat pintu masuk. Menurut petugas pemberi tiket, aku cukup beruntung datang hari itu karena tidak banyak antrian. Katanya, biasanya antrian untuk masuk bisa sampai ke jalan raya.

Pengamanan untuk masuk, menurutku, cukup ketat walaupun sebelum serangan WTC. Walau ini tempat bekerja yang amat serius, tapi tak terasa bahwa NYSE adalah kantor karena sejak dari pintu masuk sampai naik lift, rombongan pelancong pasti disertai seorang pemandu wisata. Jadi seperti memang sedang berwisata benaran, dengan penjelasan kita berada dimana dan apa saja nanti yang harus dilakukan serta apa saja yang akan akan dijumpai.

Dan para pelancong bisa naik ke deck khusus untuk melihat lantai perdagangan, yang disertai dengan penjelasan lewat speaker tentang apa dan bagaimana bisnis milyaran dollar sehari-harinya berlangsung di NYSE. Di depan kaca yang mempertontonkan langsung aktivitas bursa sehari-hari, ada headphone untuk penjelasan berbagai bahasa ; Jerman, Arab, Cina, tapi tak ada Indonesia.

Setelah penjelasan sekitar 10 menitan di deck khusus itu, aku keluar dan mendapati semacam mesin yang bisa digunakan untuk mengetahui saham-saham yang tercatat di NYSE, lengkap dengan bagaimana seandainya ingin melakukan transaksi. Aku sempat menekan tombol-tombol sekedar kepengen tahu saja, bukan mau beli saham.

Hal yang hampir sama tapi berbeda kualami di Gedung Perserikatan Bangsa-bangsa PBB. Persamaannya, ada fasilitas tour walau di gedung inilah digodok berbagai kebijakan menyangkut nasib seluruh dunia. Bedanya, tour di kantor PBB membayar US $13, atau sekitar Rp 117.000.

Setelah mendaftar dan beli tiket aku harus menunggu karena tour baru jalan kalau rombongan sudah penuh, sekitar 10 sampai 15 orang dengan seorang pemandu wisata --yang ini sama seperti omprengan yang nunggu penuh dulu baru narik. Pemandu wisataku orang Jerman, paling tidak berbahasa ibu Jerman, yang bahasa Inggrisnya fasih. Aksen Jermannya masih kerasa dan menambah atmosfir perjalanan wisata di PBB, markas segala bangsa.

Sekali lagi aku cukup beruntung karena sempat menyaksikan Sidang Dewan Keamanan sedang bersidang, walau cuma dari jauh. Lantas ruang Sidang Majelis Umum sedang kosong jadi rombongan kami juga boleh melihat-lihat tempat para petinggi dunia berdebat dan kasak-kusuk dalam menetapkan sebuah kebijakan.

Di Gedung PBB ada pajangan foto-foto yang menunjukkan bagaimana perjuangan rakyat Timor-Timur mencapai kemerdekaan. Si pemandu wisata memberi penjelasan tentan pasukan perdamaian PBB yang diterjunkan ke Timor-timur, yang menurut bahasanya "untuk membebaskan negara itu dari penindasan negara Indonesia." Cukup terganggu juga aku mendengar penjelasan si pemandu wisata itu, tapi aku cuma tersenyum kecut saja karena tidak tepat rasanya menantang penjelasan si pemandu wisata itu. Aku tidak mau juga perjalanan wisata rombongan kami jadi perdebatan politik.

Usai wisata keliling aku sempatkan singgah mengintip berbagai souvenir dari negara-negara anggota PBB, dan salah satu tujuanku adalah menemukan souvenir dari Indonesia. Kali ini ada; wayang golek dari Jawa Barat dan beberapa boneka pakaian khas berbagai daerah di tanah air. Letaknya persis bawah rak souvenir Rusia yang antara lain memajang , kumpulan boneka berbagai ukuran yang saling bisa dimasukkan.

Tujuan wisata lainnya adalah menara kembar WTC, bertingkat 122 tapi sekarang sudah hancur lebur.

Yang lainnya Patung Liberty, walau yang satu ini memang dibangun sebagai monumen khusus untuk menyambut para imigran yang datang dan membangun Amerika. Untuk mencapai kesana, harus naik fery selama sekitar setengah jam dengan tarif US$ 10. Di sini nasibku tak terlalu beruntung karena antrian amat panjang dan ferry tampak padat.

Dan bagi yang tak mau menunggu antrian panjang, masih ada pelepas rasa kecewa dengan toko souvenir di pelabuhan ferry dan seorang artis berdanda bak Patung Liberty, lengkap dengan obornya. Banyak pelancong yang tak ikut menyeberang memutuskan untuk berfoto dengan 'Patung Libery' ini dan tak ada tarif khusus.

Memang Jakarta dan New York amat berbeda, tapi Jakarta juga punya Monas dan jadi tempat wisata, walau sekarang katanya sudah dipagar tinggi, menjagar jarak dengan orang banyak. Tapi bagaimana dengan Gedung BEJ atau Gedung BNI yang dulu menjadi gedung pintar pertama di Indonesia karena dikelola lewat komputer. Atau Balai Kota Jakarta, dengan arsitek peninggalan Belanda, yang tentu tidak setiap saat dipakai bersidang.

Mewujudkan sebagai tempat wisata memerlukan sedikitnya dua hal. Yang pertama adalah keterbukaan untuk menerima rakyat umum sebagai bagian dari kehidupan bersama, jadi bukan dicurigai atau dipastikan membuat kotor oleh pengelola gedung ataupun Satpam. Dan yang kedua, kesadaran rakyat umum bahwa gedung-gedung indah itu merupakan milik bersama yang harus dijaga bersama. Dua hal ini bisa sulit dan bisa gampang.

Di New York, soal itu rasanya gampang --walau tentu saja WTC ambruk dengan semangat kebencian dari satu kelompok atas kelompok lainnya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000