novel
Smaradina
Muda Mangin
Syam
Asinar Radjam
S
M S
Mangin sesuatu saat pikirannya
terhenyak. Ketika sesosok datang dari kejauhan dengan rambut tergerai
dan bunyi termos air yang terguncang karena tinggal separuh. Membawa
senyum yang sangat sopan. Dinda.
"Eh, apa khabar, besok ujian tengah." Dan dia berlalu.
Seperti obrolan di SMS yang tak pernah lebih dari 160 karakter, itulah
percakapan mereka. Lalu, sama-sama berlalu. Tak terusik lalu-lalang
mahasiswa di koridor hijau kampus. Hanya pertanyaan-pertanyaan di
kepala Mangin, mengapa dia harus terseret pada bangunan pembicaraan
yang selalu terpotong.
"Percaya dengan love
at first sight?" Pernah sekali Dinda bertanya.
Mangin mau tak mau
merelakan tak menyaksikan two point shoot dengan rebound pemain basket
fakultas mereka. Pertanyaan yang mengalahkan histeria sorai para suporter
tim basket mereka melawan Fakultas Ekonomi.
"Sangat percaya, andai saja kau ganti kata 'cinta' dengan 'kegelian'."
Mangin menjawab dengan pelan dan hati-hati.
SMS, tetapi ditambah
lekukan lesung pipi. Itu membuatnya lebih dari teknologi komunikasi
manapun. Dengan kemampuan menyengat lebih dari jenis lebah spesies
apapun. Jangan terlalu dalam kau sengat lelaki. Karena sengatmu kan
patah, dan umurmu sampai.
"Aku baru tahu kau saat training itu. Tapi aku memang pernah
dengar namamu." Kala itu mereka dalam perjalanan singkat menuju
rumah singgah tempat aktivitas memilin enceng gondok di tepi kota
Palembang.
"So, tak mengejutkan, kan?"
Dia hanya tersenyum. Dua pasang kaki menapak trotoar yang mulai retak
ubin kelas rendah. Di sebuah hari Minggu. Lebih banyak diam. Hanya
lalu lalang kendaraan sedikit ribut. Semua diam. Jalur hijau yang
tak sukses tumbuh, memang tak dirawat. Bocah-bocah mengisi sore dengan
bola kaki di lapangan hijau sempit perumahan. Mangin menunduk saja
sesekali, menghitung retak ubin di trotoar. Menghitung desah nafas
sendiri.
"Kelihatannya
kau seorang yang tak berkawan akrab?"
Sebenarnya Mangin tak perlu menjawab. Pertanyaan itu, telak.
"Kadang aku lebih suka berjalan sendirian, memang. Kau akan lihat
jika aku di kampus."
"Artinya tak punya pacar juga, ha ha ha?"
"Entah, tapi aku tak pernah sebut dia pacar. Namanya Hujan."
Pertanyaan yang memaksa Mangin memutar piringan ingatan di dalam tempurung
kepalanya.
Sore itu mungkin satu-satunya diskusi yang agak panjang.
* * *
Tentang
Hujan
Oh, ya. Tentang Hujan. Suatu sore Mangin terpaksa menceritakan sedikit
tentang Hujan kepada ku dan Dinda. Tahulah kami sedikit, bahwa Hujan
adalah perempuan terdekat dengan Mangin saat ini. Pertemuan Mangin
dan Hujan tanpa rencana, tanpa disangka. Mungkin layak disebut sebagai
pacar. Tetapi Mangin sendiri tak mau memberi label apa pun.
Kadang terminologi pacar adalah
pertanyaan yang sangat membingungkan. Siapa yang harus disalahkan?
Tapi Mangin berpendapat bahwa semua dimulai ketika kegelian jelata
pribumi melihat perilaku sinyo dan noni Belanda. Diluar kebiasaan.
Kedekatan Mangin dan Hujan, bukan melalui pandangan pertama. Entah
berapa ratus pandangan harus mereka lalui kemudian memutuskan untuk
berjalan bersama. Mangin berhenti sebentar berkisah tentang Hujan.
Merogoh kantong jeans belelnya.
Dia membaca pesan. Sebuah
SMS masuk.
Keypad active
Ndut, Banyak ikan mabuk dan mati di dekat PT. Pusri.
kurang lebih 50 buah motor ketek menangkap ikan mabuk itu.
Keypad locked
Lalu Mangin melanjutkan kisahnya.
Tak tergerak oleh sebuah pesan yang baru masuk. Pesan yang kembali
masuk saku celana.
Tentang Mereka.Tak semulus sebuah
bayangan. Harus beberapa kali memutuskan sikap untuk saling membangun
jarak pemisah. Lalu dua bulan Mangin- Hujan bertemu lagi. Datang dengan
sama-sama meminta maaf. Sama-sama dengan persediaan memaafkan. Memutuskan
berjalan bersama lagi. Entah bebeberapa kemudian peristiwa berulang.
Sampai sekarang, hingga saat ini. Tapi harus Mangin bahwa witing trisno
jalaran soko kulino, seperti tuturan orang-orang tua Jawa.
Sekali lagi tentang Hujan. Mangin
menyukai perjalanan mereka. Percintaan yang tak terprovokasi oleh
kehidupan post-modernis. Tak berbau malam-malam metropolis. Sekalipun
Mangin tak alim. Pahit, komentar kawan-kawannya. Manis padahal. Tahukah
kita kalau tebu pun terkadang pahit. Di sebuah PTPN tebu banyak terdengar
penghilangan hak atas tanah dari petani lokal.
Kulihat Mangin memeriksa Handphonenya
lagi.
Keypad active
Aku ke sana? Atau kontak oki, shaful, dll?
Dogy?
Oke
Keypad locked
"Maaf, aku harus pergi."
Dia tiba-tiba pamit. Meninggalkan aku dan Dinda.
Awan siap berubah menebal, menjelma
mendung, menutupi larik matahari. Hujan mungkin datang dalam hitungan
menit. Semua kan cepat berubah, toh iklim berubah dan telah terjadi.
Semua dalam hitungan detik, pulsa telepon selular, rudal-rudal Amerika
ke Afghan, Letter of Intens IMF, perampokan di lorong gelap, kematian,
khabar buruk, sejarah, berjalan dalam hitungan detik.
Aku teringat sesuatu, yang juga
sekrusial urusan Mangin. Jemuran pakaian dalamku.
***
Surat
Mangin telah
merapikan rambutnya sehabis keramas. Rambut gondrong yang semula ingin
dia ubah warna, abu-abu seperti uban -tetapi urung karena rambut harus
di bleach. Seperti di film Swordman, katanya. Urung, tak dia relakan
pigmen rambut pemberian Tuhan. Sebatang kretek, secangkir kopi pagar
alam menemaninya membuka sebuah kertas yang dititipkan untuk dia.
Mangin membaca surat;
Katanya
mau ke Bogor? Hati-hati dan bawain oleh-oleh 'Kebun Raya'
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 52)
Very short massage, Mangin harus memaki lagi? Biasanya langsung dia
balas, dengan surat. Sebetulnya dia merasa sungkan, malas. Tapi ditulis
juga;
Yth, Dinda
Nih, aku kasih surat
Dulu kau meminta seiris kebun raya
Memaksa meski tak mudah
Ku ingat kau punya taman yang lebih indah
Dibanding yang dipunya Babylonia sekalipun
Tapi kan dibawakan, segenggam benih sejumput bibit
Temanmu menyiangi rumput
Pilih mana? Bunga atau buah?
(Sumber; Buku Harian Mangin Halaman 52)
Dinda
menjawab; Buah.
***
Lodicula
Apapun alasan
Dinda memilih buah, apalah bedanya. Bunga diserbuki kumbang, angin,
atau apa saja. Tercatat dalam analisis-analisis biologi bahwa peristiwa
itu terjadi pada kurun pukul sembilan sampai sebelas pagi. Bertemulah
serbuk sari, pollen dengan kepala putik. Dibantu cairan di kepala
putik. Pollen berkecambah memanjang hingga bertemu indung telur. Pertemuan
mereka melahirkan keping lembaga, endosperm yang menjadi sumber bahan
makanan cadangan bagi banyak biji tumbuhan yang baru berkecambah kelak.
Putik menjadi buah, menjadi benih
Jika saja dia padi, tentulah dinanti para kekasih
Petani, manyar,...
(Sumber; Sajak Putik I, AMM)
Nutrisi
dalam endosperma menghantarkan benih melalui proses perkecambahan.
Kecambah disetubuhi uap air dan hangat matahari, menjadi sebuah pohon,
perdu, atau apalah yang kelak menumbuhkan kuntum-kuntum baru; bunga.
Cobalah
kau tunggu saja. Kuntum membuka
Terdengar aliran cairan dari bakal buah
Dan bunga merekah
(Sumber; Sajak Putik II, AMM)
Mangin
melepas jauh bagan aliran penyerbukan dan pembuahan yang lebih lima
tahun lalu dia dapatkan di kapur tulis yang menempel di papan hitam.
Ketika itu mau saja dia menggoreskan sketsa bunga di dinding keras
sekeping hati. Dinda dalam pandangannya yang tak bosan-bosan mencabuti
bunga ilalang.
Dia
menuju dapur, mengambil stoples kopi dan gula di lemari. Menyeduhnya
dengan air yang baru saja mendidih. Lalu ke depan lagi. Memasang kaset
baru di walkman. Earphone membisikkan love will find a way selama
lima menit dua puluh satu detik. Milik Tesla, yang dulu posternya
sempat memenuhi kamar tidur Mangin ketika SMA.
Sebatang
kretek dinyalakan. Bau belerang diujung korek api. Betapa nikmat ketika
sisa-sisa belerang membakar tembakau dan nikotin menyusup dada. Asapnya
terhembus menerobos udara.
Bunga
menjadi buah. Buah menjadi bunga. Sekalipun tidak Kun serta merta
Fayakun.
Bunga
mereka. Benang sari yang sedang memanjang keluar beriring kandung
serbuk memecah. Bunga digoyang angin, di singahi kumbang, dihinggapi
kupu-kupu, tersenggol paruh burung, tersepak lebah,... dan tepung
sari jatuh menimpa kepala putik.
Sebuah
daur. Yang tak bisa di lawan, oleh teknologi transgenik sekalipun.
Pembuahan.
Semuanya
daur. Tuhan bersengaja. Tidak seperti ketika pemilik modal melihat
hutan, terukur diameter, terjumlah kubikasi, dan tergantilah semuanya
dengan rupiah, dollar, yen, cent, kelip...
Lalu hutan yang gelisah dihabiskan saja untuk dibangun perkebunan
dengan tanaman seraga, rupa. Tentu dari modal mengkubikasikan hutan.
Hasil tanaman membutuhkan olah lanjut. Berdiri corong-corong pembuangan
limbah. Tak ada sebuah daur disana.
Jika
ada, bohong.
***bersambung
ceritanet©listonpsiregar2000