draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Akhirnya dengan segala hiruk-pikuk lahir maupun
batin, Elaine, Jagger dan Sanca berhasil tiba di London sebelum malam
Tahun Baru, dan langsung saja, Elaine bergiat bersama rekan-rekan
kerjanya menyusun rencana untuk dokumentasi pesta rave di luar kota.
Mengikuti percakapan Elaine tentang ecstacy, Jagger jadi kepingin
mencoba. Selama dia mengenal obat-obatan di Indonesia, belum pernah
dia bertemu ecstacy, namun dia pernah mendengar drug itu membawakan
nikmat tak bertara. Karena itu dia senang sekali ketika Elaine berjanji
untuk membawa obat nikmat itu, jika memang bisa ditemukan saat membuat
film.
Tanggal 31 Desember, selepas makan siang, Elaine dijemput taksi berangkat
ke stasiun kereta api Charing Cross, di London kilometer nol. Di stasiun
dia bergabung dengan rekan-rekannya, Mary, assisten sutradara, Richard,
kameramen, dan John, perekam suara. Sejam perjalanan kereta api dan
ditambah beberapa menit dengan taksi, sampailah rombongan Elaine di
satu lahan pertanian kosong di daerah Kent.
Orang-orang sudah memasang perlengkapan soundsystem besar di tengah-tengah
sebuah gudang yang berada ditengah lapangan tempat mengumbar sapi-sapi
milik seorang petani muda, tapi lapangan sudah dikosongkan dan sapi-sapi
entah dipindahkan ke mana. Tak tampak seekorpun sapi itu, namun penuh
onggokkan tahi sapi yang ditengarai dengan lebih suburnya rumput disekitar
tahi sapi itu.
Elaine
segera bekerja, berkoordinasi dengan panitia rave yang memasang musik
tekno sambil mengisap ganja. Di dalam gudang udara tidak sedingin
di luar karena terpasang beberapa pemanas ruangan di sudut dekat mixer
soundsystem. Panitia juga menyediakan bar yang menjual bir, cocktail
botol, permen karet dan berkotak-kotak air mineral botol kecil.
Penyelenggara
rave itu adalah petani muda pemilik lahan. Kepalanya gundul kelimis
dan bertato motif suku Maori New Zealand, gayanya feminin, dan baju
berbahan nilon ketat membalut tubuh langsingnya yang berotot sexy.
Wajahmya kekanakan dan tercukur bersih, penuh dengan tindikan dan
perhiasan perak, menempel di pipi, alis, bibir, cuping hidung, lidah,
dan tentu saja kupingnya.
Kepada kamera
arahan Elaine, dia menjelaskan bahwa musik tekno dan pesta rave memang
didesain khusus untuk menikmati ecstacy, yang membuat orang kuat berdansa
sampai 24 jam dan bahkan lebih, dan karenanya membutuhkan banyak air
minum. Dijelaskan sambil berkerling genit kebancian, bahwa permen
karet juga disediakan bagi para penikmat ecstacy karena salah satu
efek samping pil itu adalah kejang-kejang di rahang, yang teratasi
dengan mengunyah permen karet. Dari sakunya dikeluarkannya sebutir
pil berwarna pink dan diletakkannya di dekat subang perak yang terpasang
ditengah-tengah lidahnya.
Richard, sang
kameramen, mengambil gambar pil dan subang perak di lidah itu dari
jarak super dekat.
Menurut kesepakatan
antara Elaine dan Julian, petani banci pelaksana pesta itu, maka ia
dan beberapa kawannya akan diikuti kamera dari awal mereka menenggak
ecstacy sampai akhir pesta. Setiap sebentar mereka akan diwawancarai
di depan kamera untuk mengetahui perasaan yang muncul akibat menenggak
ecstacy. Julian menelan ecstacy yang berada di lidahnya bersama dengan
seteguk air mineral dan lalu bertepuk tangan dan berseru: "Let's
party!"
Seseorang meninggikan
volume suara musik dan Julian berjoged, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi,
menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyorong-nyorongkan pinggulnya
bagai sedang berhubungan sex secara buas penuh nafsu. Elaine berseru
sambil tertawa: "That was great Julian!" dan Richardpun
menyalakan kamera.
Matahari
musim dingin segera tenggelam, dan pada pukul lima cuaca sudah gelap.
Para pengunjung pesta berdatangan, terus mengalir memasuki pintu gudang
di tanah pertanian milik Julian. Mobil-mobil terparkir di lapangan
yang dicapai lewat jalan tanah yang cukup jauh dari jalan aspal. Di
depan pintu gudang, panitia menarik uang masuk sepuluh pound sterling
untuk satu orang, dan memberikan sebuah cap Donald Bebek pada tangan
sebagai pengganti karcis masuk. Banyak di antara pengunjung terlihat
sudah menenggak ecstasy sebelum datang, dan merekapun sudah berjoged
sambil antri memasuki gedung.
Di
dalam pintu masuk, panitia memberikan secarik tiket untuk menyimpan
jaket-jaket , yang diletakkan pada gantungan baju di rak-rak yang
menempel di dinding gudang yang terbuat dari besi bergelombang. Musik
semakin menggila, dan sebentar-sebentar terdengar disc-jockey berteriak-teriak
mengatakan sesuatu yang tak jelas sambil menggeser piringan hitam
yang satu dengan yang lain. Tiap sebentar diapun menggosok dan menggesek
piringan hitamnya, menciptakan pengulangan-pengulangan suara jerit
dan pekik elektrik. Pada pukul sebelas malam, gudang itu sudah penuh
dengan muda-mudi yang berjoged bagai kemasukan roh.
Musik
semakin keras, cepat, dan monoton, dengan bass yang keras berdegum-degum
bagai denyut jantung seorang raksasa yang sedang memuncak birahi.
Berberapa proyektor menembakkan slide-slide berbagai gambar, dengan
irama cepat seperti irama bass musik, ke langit-langit gudang yang
tinggi. Sinar laser warna-warni memotong-motong gelap, bersusulan
dengan blitz bergetar yang membuat semua orang terlihat bergerak dalam
getar-getar kejut. Pada musim dingin itu, hawa di dalam gudang di
daerah Kent itu menjadi semakin panas. Semua yang berjoged bercucuran
keringat dan semua yang berkeringat, kesurupan. Elaine menarik Julian
untuk diwawancarai lagi.
"So,
how many tablets have you popped, Julian?" teriak Elaine, namun
suara musik menenggelamkan suaranya. Julian tidak mendengar apa yang
dikatakannya. Mata Julian terlihat membesar dan seolah menyala, dan
Julianpun berteriak: "I love you baby, I love you!" Iapun
memeluk Elaine dan mencium bibirnya.
Seorang
lelaki tinggi besar berkumis, dengan badan binaragawan, menarik Julian
dari belakang. Lelaki gagah itu bertelanjang dada, dan dadanya yang
berbulu, basah oleh keringat. Ia merogoh kantung celana kulitnya yang
ketat dan mengeluarkan sebutir ecsatasy, lalu meletakkannya di tengah-tengah
lidahnya yang terjulur. Julian berjoged dengannya, sambil tangannya
meraba-raba dada telanjangnya, lalu kedua lelaki itupun bercipokan
saling melumat lidah dan tablet ecstasy. Richard merekam semua yang
terjadi dengan kameranya ; mengambil gambar dekat mulut kedua lelaki
yang berciuman penuh nafsu itu.
Richard
mengikuti kedua lelaki itu berjalan ke sudut gudang, ke belakang loudspeaker
besar di samping mixer. Letika lelaki gagah itu bersimpuh, membuka
ritsleting celana Julian dan mengulum kemaluannya. Richard mematikan
kamera, berbalik menjauh, menyalakan sebatang rokok dan menghembus
lepas asapnya ke langit.
Elaine
menengok arloji: pukul setengah empat pagi. Di belakang mixer dan
di sudut-sudut gudang lain, terlihat banyak pasangan berasyik dengan
masyuk. Ada pasangan lelaki dan lelaki, ada wanita dan wanita, dan
ada pula lelaki dan wanita. Beberapa kasur yang sengaja disediakan
di sudut dekat tempat penyimpanan jaket, dan di situ tergolek beberapa
muda-mudi lelaki dan wanita ; semuanya saling mencium dan menjilat
kemaluan kawannya, bertiga, berempat, berlima
Elaine berseru kepada Richard agar jangan mengambil close-up penis
ataupun vagina sebab gambar demikian tak akan boleh ditayangkan. Richard
mengambil gambar para penikmat seks gotong-royong itu dari jauha,
dan hanya terlihat beberapa pantat telanjang yang nungging dan bergoyang
berirama.
***bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo
Prijosusilo