Hari ini Pasirah
Basman mendatangi kediaman Paduka Tuan Controleur keresidenan empat
suku negeri agung, karena disana sedang berkumpul para Demang dan
Depati yang sedang mengadakan pertemuan.
Dia menemui opas
penjaga keresidenan minta bertemu dengan Tuan Controleur, lama dia
menunggu di bale-bale resident. Sampai akhirnya tuan controleur datang
menemui dan bertanya tanpa tenggat sedikitpun Pasirah Basman bisa
menjawab.
"Apakah kamu
Seorang Demang atau depati? "Saya tidak tahu siapa kamu, Apa
kehendak kamu menemui saya?"
Pasirah Basman
menatap Controleur di hadapannya, sambil membetulkan kopiah airmasnya,
ia mulai berbicara.
"Aku bukan
Demang atau Depati, cuma seorang pasirah penguasa Marga Tanjung Serai."
Dia mengambil selembar
peta wilayah Marga dari balik payung merah-nya.
"Aku hendak menjual hutan Adat Marga Tanjung Serai! Aku ingin
ada demang atau depati yang membeli Hutan Adat Marga kami. Karena
saat ini rakyatku sedang memerlukan uang."
Tuan Controleur
terkejut, dan coba mencari kebohongan di wajah Pasirah Basman, nampak
sekali air mukanya mencirikan sedang risau.
"Kamu ingin menjual Hutan
adat. Apakah kamu sedang bercanda?"
"Aku ingin menjual Hutan adat !. Apakah Tuan controleur bisa
mencarikan pembelinya?"
"Kamu masih bercanda?"
"Aku tidak bercanda Tuan controleur !. Apakah kau bisa mencarikan
pembeli?"
"Kamu tahu hukumannya menjual Hutan adat? Kamu bisa ditangkap
oleh pemerintah Gouvernement Hindia Belanda, karena telah melanggar
ketentuan Undang-undang Simboer Tjahaja.
"Simboer Tjahaja yang mana Tuan Controleur, perlu tuan ketahui
rakyat Marga Tanjung Serai tidak pernah mengakui Undang-undang itu,
kami tak akan tunduk pada peraturan kaum penjajah."
Pasirah Basman diam sejenak, kopiah
airmasnya diletakkan di atas meja, mulutnya kembali berbicara.
"Keputusan ada ditangan rakyat
pedusunan Marga kami tuan, dan canang marga telah dibunyikan tanda
mufakat, Kelangkang kelingking anak matjan oeroe kenoeling namanya."
Tuan controleur diam gagap, tanpa
menyangka seberani itu keputusan rakyat Marga Tanjung Serai. Lalu
kembali dia bertanya.
"Mengapa rakyatmu sepakat ingin menjual Hutan adat Marga kalian
?."
Pasirah Basman tersenyum sinis,
sambil membuka peta wilayah marganya di depan Controleur, jari telunjuk-nya
mulai sibuk seliweran kesana kemari.
"Anda tahu Tuan Controleur,
Hutan adat marga kami selain sangat luas dan memiliki beragam jenis
kayu yang berumur ratusan tahun, didalamnya terdapat
bahan tambang dan mineral."
"Ooo
," Tuan
Controleur berdecak kagum, sekaligus mulai tertarik mendengar pembicaraan
Pasirah Basman yang berapi-api.
"Lalu mengapa ingin kalian jual," pembicaraan tuan controleur
mulai memancing Pasirah Basman.
"Mungkin Anda sudah tahu sendiri Tuan controleur, jika kondisi
Hutan Adat kami sampai diketahui oleh pemerintah Gouvernement Hindia
Belanda, dan
tersiar sampai ke telinga para Demang dan Depati kemungkinan akan
terjadi perselisihan antara Gouvernement Kehutanan dan Pertambangan,
belum lagi ancaman arbitrase Internasional bila hal ini sampai diadukan
oleh Gouvernement pertambangan, kondisi ini akan membuat runyam rakyat
pedusunan Marga kami," Papar Pasirah Basman dengan penuh percaya
diri.
"Baiklah kalau begitu pasirah, Aku hanya seorang Controleur yang
mengemban tugas dari pemerintah Gouvernement Hindia Belanda, resiko
ada pada rakyatmu dan kamu selaku pasirah. Dan Aku hanya minta persekot
dari hasil penjualan Hutan adat Marga-mu, bagaimana pasirah kamu bersedia?"
Pasirah Basman menyunggingkan
senyum, dia sangat hapal sekali perilaku pejabat di pemerintahan Gouvernement
Hindia Belanda, semuanya harus disuap dengan ringgit.
"Baiklah tuan Controleur
aku setuju, Cobalah anda mulai tawarkan Hutan Adat Marga kami kepada
para Demang dan Depati yang berada didalam Balairung pertemuan itu!"
"Berapa Harganya?"
"Berapa Mereka berani
menawar ?."
"Tunjukkan Peta Wilayah Marga dusun mu biar mereka bisa menilainya."
Pasirah Basman memberikan Peta
Wilayah Marga Dusunnya dan Tuan Controleur mengambil-nya kemudian
hilang ditelan Balairung pertemuan yang sangat besar itu sambil membayangkan
persekot yang akan diterimanya.
***
Didalam Balairung
Suara tampak begitu gaduh, kursi dibanting, sampah berserakan, minuman
keras dan wanita penghibur bertebaran disetiap pojok ruangan menghiasi
paha Demang dan Depati yang sedang rapat.
"Sungguh,"
kata Demang itu.
"Sungguh," kata Tuan Controleur.
"Seribu Ringgit,Aku beli."
"Dan sedikit persekot untukku, Demang."
"Aku beli ! Aku tidak pernah lupa memberi persekot !."
Tuan Controleur
bergegas menemui Pasirah Basman diluar.
"Ada seorang
Demang yang mau membeli Hutan Adatmu, Dia berani Lima ratus Ringgit
!."
"Cuma sebegitu ?, Alangkah murahnya ! Tidak adakah yang dapat
menghargai Hutan Adat Marga kami lebih tinggi ?."
Tuan Controleur berpikir
sebentar. Kemudian menatap Pasirah Basman.
"Akan ku coba
tawarkan kepada Demang dan Depati yang lain, kau minta berapa?"
"Aku cuma minta hutan adatku di hargai pantas!"
"Berapa itu?"
"Berapa yang kau sebutkan?"
"Baiklah, akan kucoba tawarkan lagi!"
Tuan Controleur itu pun pergi menawarkan hutan adat itu kepada Demang
dan Depati yang lain, tetapi kali ini ia mencoba dengan cara lelang
seperti pada lelang lebak-lebong Marga Lawang kidul beberapa waktu
yang lalu.
"Sungguh, ?,"
kata mereka.
"Sungguh !," kata Tuan Controleur.
Demang dan Depati
mulai kasak kusuk, melirik kiri kanan, menghitung dengan jari, menggaruk
kepala. Semuanya berhitung hutan menjadi ringgit. Semuanya bergoba-goba.
"Seribu Ringgit,"
teriak Demang Ali.
"Seribu seratus Ringgit, " teriak Depati yang lain.
"Seribu lima ratus Ringgit."
"Dua ribu Ringgit."
Semuanya diam terpaku
pada nilai lelang tertinggi Dua ribu Ringgit, seluruh Demang dan Depati
didalam Balairung mulai mengeluarkan Sepoah menghitung batang kayu,
dan bahan tambang diubah kedalam bentuk Ringgit. Tetapi terlambat
beberapa saat kemudian Tuan Controleur menggigit sepoah dengan mulutnya.
"Terjual, Dua ribu
Ringgit, dan sedikit persekot untukku."
Tuan Controleur bergegas
mendatangi Pasirah Basman untuk mengabarkan hasil Lelang Hutan adat
marganya.
"Kau tidak perlu memberi persekot untukku ! Aku telah diberi
Demang yang membeli Hutan Adat margamu."
"Berapa dia berani."
"Dua ribu Ringgit !."
"Cuma senilai itu Hutan Adat Margaku dihargai?"
"Lalu kamu maunya berapa Pasirah?"
"Aku mau kepada yang bisa menghargai Hutan Adat Margaku dengan
harga yang pantas!"
"Berapa harga yang pantas?"
"Berapa mereka berani!"
"Kalau begitu kau dengarkan sendirilah harga pantas yang akan
mereka ucapkan! Aku sudah bosan menawarkan Hutan Adatmu!"
"Antarkan aku pada Demang itu."
Tuan Controleur
kemudian membawa Pasirah Basman menemui Demang yang akan membeli Hutan
Adat Marganya.
"Dia tidak mau Dua Ribu Ringgit!" kata Tuan Controleur.
"Berapa kau mau," simbat Tuan Demang.
"Aku mau harga yang pantas!"
"Berapa harga yang pantas itu, ?" sahut Demang.
"Berapa yang menurutmu pantas?" jawab Pasirah Basman lantang.
"Silakan kalian tawar menawar, Aku akan keluar !," Tuan
Controleur mencegat pembicaraan kedua orang itu. Dan pergi hilang
didaun pintu.
***
Sekarang tinggal Pasirah Basman
dan Demang duduk berhadapan disatu meja. Tuan Controleur mengintip
dari balik daun jendela, walau tak segetarpun pembicaraan mereka tertangkap.
Tuan Demang telah berpuluh kali menambahkan tumpukan Ringgit, tapi
tetap saja Pasirah Basman enggan menganggukkan kepalanya.
Hingga akhirnya Tuan Demang menyodorkan
satu keponjen berisi tumpukan Ringgit.
"Nah, ini pasti Harga yang
pantas," bisik Tuan Controleur dari balik daun jendela Balairung.
Beberapa saat kemudian Tuan Controleur
terkejut bukan kepalang, ketika Pasirah Basman menggelengkan kepalanya,
sedetik kemudian Sang Demang menadahkan tangannya kedepan. Dan Pasirah
Basman telah hilang lenyap.
Tuan Controleur kembali ke ruang
kerjanya, sambil berpikir. Di dalam hatinya ia bertanya, "Berapa
harga yang pantas untuk Sebuah Hutan Adat ?."
***
Rumah Hijau, 10 April
2002
Pukul 03.00 dini hari
ceritanet©listonpsiregar2000