sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


novel
Dokter Zhivago 4
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Nicky tak terjumpa di rumah maupun di taman. Yura terpaksa jalan-jalan tak bertujuan di sekitar rumah, selama pamannya dan Ivan Ivanovich bekerja di beranda; ia menduga bahwa kawannya itu sembunyi, sebab ia tak suka pada tamu, sedangkan Yura tak dianggapnya sepadan.

Tempat itu bukan main eloknya. Tiap dua menit seekor jalak kuning membunyikan kicauannya sepanjang tiga nada, diikuti oleh kesepian agar seluruh lagu sulingannya yang jernih dan lembah itu turun dan meresap dalam tamasya. Bau bunga yang ditangkap tak berdaya oleh genangan hawa, ditahan oleh panas dan terhimpun sepi atas persemaian. Timbul olehnya kenangan kuat pada Antiba dan Bordighera! Ia terus membelok ke kanan dan ke kiri. Hawa di atas padang rumput seperti mimpi yang memgejutkan: suara ibunya mengiang dalam dengkur lebah dan ungkapan lagu burung-burung. Dibuatnya ia menggigil oleh dambaan hampa bahwa ibunya menunggu jawabannya, bahwa ia memanggilnya, di sana-sini berganti-ganti.

Ia berjalan ke selokan dan dengan melaui semak-semak yang merimbuni tepinya yang bersih itu turunlah ia sampai ke tumbuh-tumbuhan yang berselimpangan di tanah dasarnya. Gelap dan lembablah udara di situ antara dahan-dahan gugur; bunga hanya sedikit dan batang-batang pohon ''ekor kuda'' yang tertigas nampak seperti lambang-lambang kerajinan Mesir yang tergambar dalam kitab Injilnya.

Perasaan Yura bertambah tertekan. Ia ingin menangis. Kepalanya menunduk ke lutut dan iapun terisak-isak.
''Malaikat Tuhan, pelindung kudus,'' doanya, ''kuatkan aku di jalan kebenaran dan kabarkan pada ibu bahwa aku sentosa dan dia tidah usah kuatir. Kalau ada hidup sesudah mati, ya Tuhan, terimalah dia di kediaman ilahiatmu, tempat wajah mereka yang keramat dan adil bersinar bagai dian. Ibuku baik budi, tak mungkin berdosa; kasihanilah dia, Tuhan, dan jangan biarkan dia menderita. Ibu!'' -dalam pedihnya yang menyayat hati dipanggilnya ibunya dari sorga bagaikan orang keramat yang baru dikuduskan dan tiba-tiba ia tak betah lagi menanggung, lalu jatuh pingsan.

Tak lama kemudian ia siuman. Ketika ia sadarkan diri, ia dengar pamannya memanggil daei atas. Ia menjawab dan mulai merangkak dari selokan. Sekonyong-konyong ia ingat bahwa ia belum berdoa untuk ayahnya yang tak hadir itu, seperti yang diajarkan ibunya.

Tapi sesudah pingsan itu hatinya merasa sangat ringan dan senang; ia tak mau kehilangan perasaan ini, pun ia menggagas bahwa tak akan banyak yang terjadi, jika ia tunda doanya untuk ayahnya itu. ''Ayah boleh menunggu.'' demikian ia nyaris berpikir. Yura sama sekali tak ingat padanya.

Dalam kupe kelas dua kereta api yang berhenti di tengah padang di seberang sungai duduklah Misha Gordon* yang bepergian bersama ayannya, seorang pengacara dari Orenburg. Misha adalah anak lelaki berumur sebelas tahun dengan wajah perenung dan mata hitam yang besar; ia bersekolah dalam kelas dua. Ayahnya, Grigory Osipovich Gordnon lagi pindah ke jabatan baru di Moskow. Ibu serta para saudara perempuannya sudah di sana membereskan rumah petak mereka.

Perjalanan Misha dan ayahnya sudah tiga hari lamanya.

Rusia dengan ladang, padang rumput, dusun dan kotanya yang pudar oleh sinar matahari, beterbangan, lalu dibungkus dalam kepulan debu.

Deretan kereta-kereta tentang disepanjangnya jalan; mereka meminggir dengan susah payah pada simpangan jalan, maka dari kereta yang lari kencang itu mereka seolah berhenti dan kuda-kudanyapun tak maju-maju.

Di stasiun-stasiun besar para penumpang meloncat ke luar dan lari buru-buru ke bipet; matahari yang hampir tenggelam di belakang stasiun menerangi kaki mereka seta roda-roda kereta api.

Segala gerak di dunia ini bila ditilik satu persatu adalah tenang dan tertimbang, tapi jika diambil sebagai keseluruhan, namun seperti dibiusi arus besar penghidupan yang memadu serta membinanya. Orang bekerja dan berjuang, mereka dirangsang oleh kesulitan dan kekuatiran masing-masing, namun dengan segala kegiatan ini bagaikan pegas-pegas akan kehabisan daya, hingga mesinnya macet, andaikata tak dikekang oleh perasaan tak acuh yang mendalam dan meliputi segalanya. Perasaan ini timbul dari pengetahuan yang menyenangkan bahwa semua penghidupan insani itu jalin menjalin, dari perasaan bahwa yang satu mengalir dalam yang lain; bersyukurlah orang dengan keyakinan bahwa semua peristiwa di dunia ini tak hanya terjadi di bumi yang mengubur apa yang mati, tapi juga di tingkat lebih tinggi yang oleh setengah orang dikenal sebagai Kerjaaan Ilahi, oleh setengahnya lagi dikenal sebagai sejarah dan oleh lain-lainnya lagi dikenal dengan nama lain.

Misha, si remaja itu merasa celaka dan pahit getirnya, sebab dikecualikan dari pola umum itu. Hasrat besarnya adalah sumber utama jiwanya, maka ketidak-acuhan yang dialami dunia selebihnya itu taik meberinya kesegaran dan keluhuran budi. Ia maklum akan sifatnya yang sudah menjadi warisannya ini dan ia memandangnya dengan kesadaran diri yang muram. Hal ini menyebabkan dia merasa malang dan hina.

Sebab sepanjang ingatannya ia tak pernah lepas dari keheranannya, mengapa mahluk insani dengan tangan dan kaki seperti manusia lainnya, dengan bahasa dan cara hidup yang sama dengan umat selebihnya bisa begitu lain --sedikit orang yang mengerti mengapa orang tak bisa mencoba memperbaiki diri, menjadi seorang Yahudi? Apakah tujuan pengertian itu? Apakah hasil atau pembenaran tantangan tak bersenjata ini buahnya hanya pernderitaan?

Bila dia bawa masalah ini pada ayahnya, ia mendapat jawaban bahwa dalih-dalihnya tak masuk akal, bahwa alasannya tak wajar, tapi iapun tak diberi pemecahan yang cukup mendalam untuk membuatnya tunduk dengan mulut bungkam terhadap takdir.

Maka dengan hanya mengecualikan orang-tuanya iapun lambat laun memandang rendah pada semua orang dewasa yang telah menimbulkan kekisruhan ini dan seama sekali tak mampu membereskannya. Ia yakin benar-benar bahwa bila ia besar, ia akan meluruskan semuanya.

Misalnya tak seorangpun dapat menyarankan supaya ayahnya jangan mengejar orang gila itu ketika ia lari masuk gang, tak ada pula yang mencegahnya menghentikan kereta api, ketika orang tadi mendorongnya ke samping, membuka pintu, lantas melontarkan diri dengan terjerembab dari kereta ekspres itu seperti tukang selam yang meloncat dari papan lompat ke dalam kolam renang.
***

* Di Rusia, nama Gordon kerapkali merupakan keluarga Yahudi

situs nir-laba untuk
berbagi karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000