Tempat
itu bukan main eloknya. Tiap dua menit seekor jalak kuning membunyikan
kicauannya sepanjang tiga nada, diikuti oleh kesepian agar seluruh
lagu sulingannya yang jernih dan lembah itu turun dan meresap
dalam tamasya. Bau bunga yang ditangkap tak berdaya oleh genangan
hawa, ditahan oleh panas dan terhimpun sepi atas persemaian.
Timbul olehnya kenangan kuat pada Antiba dan Bordighera! Ia terus
membelok ke kanan dan ke kiri. Hawa di atas padang rumput seperti
mimpi yang memgejutkan: suara ibunya mengiang dalam dengkur lebah
dan ungkapan lagu burung-burung. Dibuatnya ia menggigil oleh
dambaan hampa bahwa ibunya menunggu jawabannya, bahwa ia memanggilnya,
di sana-sini berganti-ganti.
Ia berjalan ke selokan
dan dengan melaui semak-semak yang merimbuni tepinya yang bersih
itu turunlah ia sampai ke tumbuh-tumbuhan yang berselimpangan
di tanah dasarnya. Gelap dan lembablah udara di situ antara dahan-dahan
gugur; bunga hanya sedikit dan batang-batang pohon ''ekor kuda''
yang tertigas nampak seperti lambang-lambang kerajinan Mesir
yang tergambar dalam kitab Injilnya.
Perasaan Yura bertambah
tertekan. Ia ingin menangis. Kepalanya menunduk ke lutut dan
iapun terisak-isak.
''Malaikat Tuhan, pelindung kudus,'' doanya, ''kuatkan aku di jalan kebenaran
dan kabarkan pada ibu bahwa aku sentosa dan dia tidah usah kuatir. Kalau
ada hidup sesudah mati, ya Tuhan, terimalah dia di kediaman ilahiatmu,
tempat wajah mereka yang keramat dan adil bersinar bagai dian. Ibuku
baik budi, tak mungkin berdosa; kasihanilah dia, Tuhan, dan jangan biarkan
dia menderita. Ibu!'' -dalam pedihnya yang menyayat hati dipanggilnya
ibunya dari sorga bagaikan orang keramat yang baru dikuduskan dan tiba-tiba
ia tak betah lagi menanggung, lalu jatuh pingsan.
Tak lama kemudian
ia siuman. Ketika ia sadarkan diri, ia dengar pamannya memanggil
daei atas. Ia menjawab dan mulai merangkak dari selokan. Sekonyong-konyong
ia ingat bahwa ia belum berdoa untuk ayahnya yang tak hadir itu,
seperti yang diajarkan ibunya.
Tapi sesudah pingsan
itu hatinya merasa sangat ringan dan senang; ia tak mau kehilangan
perasaan ini, pun ia menggagas bahwa tak akan banyak yang terjadi,
jika ia tunda doanya untuk ayahnya itu. ''Ayah boleh menunggu.''
demikian ia nyaris berpikir. Yura sama sekali tak ingat padanya.
Dalam kupe kelas
dua kereta api yang berhenti di tengah padang di seberang sungai
duduklah Misha Gordon* yang bepergian bersama ayannya, seorang
pengacara dari Orenburg. Misha adalah anak lelaki berumur sebelas
tahun dengan wajah perenung dan mata hitam yang besar; ia bersekolah
dalam kelas dua. Ayahnya, Grigory Osipovich Gordnon lagi pindah
ke jabatan baru di Moskow. Ibu serta para saudara perempuannya
sudah di sana membereskan rumah petak mereka.
Perjalanan Misha
dan ayahnya sudah tiga hari lamanya.
Rusia dengan ladang,
padang rumput, dusun dan kotanya yang pudar oleh sinar matahari,
beterbangan, lalu dibungkus dalam kepulan debu.
Deretan kereta-kereta
tentang disepanjangnya jalan; mereka meminggir dengan susah payah
pada simpangan jalan, maka dari kereta yang lari kencang itu
mereka seolah berhenti dan kuda-kudanyapun tak maju-maju.
Di stasiun-stasiun
besar para penumpang meloncat ke luar dan lari buru-buru ke bipet;
matahari yang hampir tenggelam di belakang stasiun menerangi
kaki mereka seta roda-roda kereta api.
Segala
gerak di dunia ini bila ditilik satu persatu adalah tenang dan
tertimbang, tapi jika diambil sebagai keseluruhan, namun seperti
dibiusi arus besar penghidupan yang memadu serta membinanya.
Orang bekerja dan berjuang, mereka dirangsang oleh kesulitan
dan kekuatiran masing-masing, namun dengan segala kegiatan ini
bagaikan pegas-pegas akan kehabisan daya, hingga mesinnya macet,
andaikata tak dikekang oleh perasaan tak acuh yang mendalam dan
meliputi segalanya. Perasaan ini timbul dari pengetahuan yang
menyenangkan bahwa semua penghidupan insani itu jalin menjalin,
dari perasaan bahwa yang satu mengalir dalam yang lain; bersyukurlah
orang dengan keyakinan bahwa semua peristiwa di dunia ini tak
hanya terjadi di bumi yang mengubur apa yang mati, tapi juga
di tingkat lebih tinggi yang oleh setengah orang dikenal sebagai
Kerjaaan Ilahi, oleh setengahnya lagi dikenal sebagai sejarah
dan oleh lain-lainnya lagi dikenal dengan nama lain.
Misha,
si remaja itu merasa celaka dan pahit getirnya, sebab dikecualikan
dari pola umum itu. Hasrat besarnya adalah sumber utama jiwanya,
maka ketidak-acuhan yang dialami dunia selebihnya itu taik meberinya
kesegaran dan keluhuran budi. Ia maklum akan sifatnya yang sudah
menjadi warisannya ini dan ia memandangnya dengan kesadaran diri
yang muram. Hal ini menyebabkan dia merasa malang dan hina.
Sebab
sepanjang ingatannya ia tak pernah lepas dari keheranannya, mengapa
mahluk insani dengan tangan dan kaki seperti manusia lainnya,
dengan bahasa dan cara hidup yang sama dengan umat selebihnya
bisa begitu lain --sedikit orang yang mengerti mengapa orang
tak bisa mencoba memperbaiki diri, menjadi seorang Yahudi? Apakah
tujuan pengertian itu? Apakah hasil atau pembenaran tantangan
tak bersenjata ini buahnya hanya pernderitaan?
Bila
dia bawa masalah ini pada ayahnya, ia mendapat jawaban bahwa
dalih-dalihnya tak masuk akal, bahwa alasannya tak wajar, tapi
iapun tak diberi pemecahan yang cukup mendalam untuk membuatnya
tunduk dengan mulut bungkam terhadap takdir.
Maka
dengan hanya mengecualikan orang-tuanya iapun lambat laun memandang
rendah pada semua orang dewasa yang telah menimbulkan kekisruhan
ini dan seama sekali tak mampu membereskannya. Ia yakin benar-benar
bahwa bila ia besar, ia akan meluruskan semuanya.
Misalnya
tak seorangpun dapat menyarankan supaya ayahnya jangan mengejar
orang gila itu ketika ia lari masuk gang, tak ada pula yang mencegahnya
menghentikan kereta api, ketika orang tadi mendorongnya ke samping,
membuka pintu, lantas melontarkan diri dengan terjerembab dari
kereta ekspres itu seperti tukang selam yang meloncat dari papan
lompat ke dalam kolam renang.
***
* Di Rusia, nama Gordon kerapkali merupakan
keluarga Yahudi
situs
nir-laba untuk
berbagi
karya tulis
ceritanet