sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

laporan Lorosae Itu Merdeka
Pratiwi

Dear Joko dan Riri,
Jok, ternyata kamu tertarik dengan makanan yang diolah pak polisi asal Thailand itu ya? Sanphet Marla memang tak menjelaskan kenapa 'mie kuning' bisa memperkuat kerja lever, jadi kamu tanya saja pada ahli pengobatan tradisional. Apa sih sebenarnya kandungan dalam tanaman parasit itu. Tapi kenapa tidak kamu coba saja dulu. Buktinya, kawan-kawanku yang menyantap masakan Sanphet masih saja hidup segar bugar sampai sekarang. Jadi kalau bikin mati kayaknya sih nggak ya. Kalau kata Pak Sanphet, 'mie kuning' bisa diolah apa saja sesuai dengan selera kita. Waktu itu pak polisi Sanphet Marla mengggoreng 'mie kuning' dengan bumbu garam, lada, dan bawang bombai. Mungkin kamu bisa tumis atau mengolahnya jadi kayak mie jawa. Kamu kan pintar masak. Tapi nanti kalau aku ke Viequeque mudah-mudahan masih bisa ketemu dia dan aku akan minta resep aslinya. Viequeque nggak jauh kok dari Dilli, cuma soal nyari waktu yang kosong atau pas saja.

Duh, senengnya aku dapat surat dari kawan-kawan lama. Ceritanya macem-macem. Sejak jasa pos dibuka surat-surat mulai mengalir. Ya, memang agak lama perjalanan surat dari Repbulik Indonesia ke Dilli sini. Mungkin karena harus mampir dulu ke Australia.

Surat yang paling aku suka dari Nina,. Dia bercerita tentang liputan media Indonesia tentang insiden Atambua. Dia memang cuma mau dengar berita dari layar kaca karena, katanya, muak baca koran. Ternyata peringatan kemerdekaan RI di Dilli sini juga disiarkan di televisi di Indonesia ya. Aku juga dengar bahwa salah satu acaranya adalah ziarah ke Taman Makam Pahlawan Seroja di Dilli. ''Malu bener menyaksikan para pembunuh itu dihormati sebagai pahlawan,'' tulis Nina. Tapi 'Ri, kawan-kawan di sini memplesetkan TMP jadi Tentara Mati Percuma. Bener juga ya.

Kalau menurut Nina, Indonesia nggak punya hak untuk merayakan kemerdekaan di Dilli, tapi supaya kalian tahu, satu-satunya konsulat Indonesia di seluruh dunia yang ada Taman Makam Pahlawannya, ya hanya di sini. Sayangnya kuburan itu sekarang sudah nggak terawat. Di areal yang kosong ditanami jagung atau sayuran, lantas tulisan Taman Makam Pahlawan Seroja sudah diporak-porandakan rakyat Timor. Sayang memang. Kalau dirawat secukupnya, selain untuk menghormati mereka --tentara atau polisi kan tetap saja jenasah manusia-- kan juga bisa jadi bukti bahwa Indonesia pernah menjajah Bumi Lorosae. Taman Makam Pahlawan Indonesia itu tidak hanya di Dilli saja, tapi juga ada di kota-kota lainnya. Tapi jangan sampai kalian membayangkan aku hadir saat peringatan itu. Ya nggak. Cuma pagi harinya aku ingat kalau almanak menunjukkan angka 17 Agustus.

Cerita Nina lain adalah tentang berita insiden Atambua selalu saja diikuti dengan pembelaan para petinggi Indonesia. Bahkan ada yang sampai berspekulasi tentang konspirasi negara-negara adi-kuasa sebagai otak dari kebrutalan Atambua itu. Menteri Pertahanan, kata Nina nih, bilang kalau orang-orang Timor Lorosae ternyata pengen Indonesia kembali lagi ke Indonesia. Yang terakhir aku dengar Megawati juga mengatakan hal serupa. Tapi ini kan sebenarnya urusan kecil, kenapa para petinggi itu tidak datang saja ke ke sini dan berbicara langsung dengan rakyat. Nggak usah diatur rakyat yang mana. Main asal tanya saja dan pasti mereka akan tahu kalau rakyat Timor Lorosae menghargai kebebasan yang telah mereka raih dengan darah dan air mata. Aku masih ingat salah satu spanduk yang ditulis di Suco Bairo Alto, Lahane waktu peringatan ulang tahun satu tahun hari kemenangan referendum itu: ''Kebebasan ini berasal dari darah dan tulang yang berserakan di seluruh Negeri Timor Lorosae.''

Tapi sudahlah, kan biasa ya pejabat tinggi Indonesia ngomong ngaco. Aku juga dengar katanya Mayjen Adam Damiri waktu diperiksa di Kejaksaan Agung mengatakan, keamanan di Timor selama proses referendum bukan menjadi tanggungjawab TNI dan pihak polisi. Kok bisa-bisanya bekas Pangdam IV Udayana itu asal ngomong, ya. Katanya, keamanan di Timor menjadi tanggung-jawab pihak PBB lewat UNAMET. Ini namanya jadi komandan tapi nggak tahu apa-apa. Sebagai Pangdam dia kan harusnya membaca dulu dong isi Kesepatan 5 Mei? Persetujuan antara Republik Indonesia dan Portugal itu ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan Portugal, wakut itu Ali Alatas sama Jaime Gama. Dan penanda-tanganan kesepakatan itu, tanggal 5 Mei 1999, disaksikan oleh Sekjen PBB, Kofi Annan di New York. Di situ, persisnya pasal 3, disebutkan dengan tegas ''Pemerintah Indonesia akan bertanggungjawab untuk menjaga perdamaian dan keamanan di Timor Lorosae, agar penentuan pendapat dapat dilaksanakan secara adil dan damai dalam suasana yang bebas dari intimidasi, kekerasan, dan campur tangan dari pihak mana pun.''

Sudah ah, bosan ngebahas para pejabat tinggi Republik Indonesia. Mentalnya masih asal ngomong seolah-olah semua orang itu bodoh, nggak bisa baca, nggak dengar radio, nggak nonton televisi.

Di Dilli sendiri, sejak insiden Atambua, suasana tenang-tenang saja. ''Aman terkendali'' kalau mau mengutip istilah tentara Idnonesia. Jadi kalau selama ini kalian selalu kuatir sama nasbiku yang bekerja di kawasan konflik, sebenarnya aku pun sekarang sering was-was membayangkan kalian. Setiap kali ada kerusuhan di sana, nama kalian berdua selalu termasuk dalam sejumlah daftar nama yang melintas ke benakku. Gimana ya Joko dan Riri, walaupun kayaknya kerusuhan itu jauh dari tempat kalian. Cuma ya siapa sih yang nggak was-was sama orang di Indonesia sekarang ini karena masih kacau balaunya situasi politik di sana.

Ya, soal aman atau tidak aman memang relatif. Bukan berarti di sini lantas aku tidak perlu berhati-hati. Aku pernah tiga kali dihadang sama anak-anak muda dalam perjalanan pulang ke rumah. Kadang aku pulang lat sampai malam. Karena aku naik sepeda dan menggendong ransel di punggung jadi dari jauh seperti orang bule. Orang sini memang mengidentikkan orang bule dengan sepeda dan ransel. Tapi kalau dihadang, aku harus sok tenang dulu. Menjawab pakai bahas Tetum dan kasih tahu kalau aku orang Indonesia tulen -mereka nggak begitu saja kok antipati sama semua orang Indonesia. Biasanya akan ada interogasi kecil dan kalau aku sudah sampai pada jawaban tempat bekerja dan alasan bekerja di Dilli, merekapun minta maaf. Pernah sekali aku pulang jam sembilan malam dan ada yang sampai mengantarkanku ke ujung gang.

Sampai detik ini aku tetap nggak tahu apa sih yang mereka cari sampai harus menyetop orang naik sepeda dan tanya-tanya. Aku sendiri bukan takut dirampok, tapi kalau mereka macam-macam, pakai menyerang secara seksual. Ini yang menghantuinya karena aku memang pernah punya pengalaman buruk. Sorru kalau baru sekarang aku ceritakan. Bukan apa-apa sampai sekarang aku belum sanggup mengingatnya apalagi menceritakannya.

Kekerasan di Timor Lorosae sepertinya menjadi gejala yang makin meluas. Dan ini masalah serius. Kami sedang mencoba mencari jalan keluarnya, tapi jelas tidak bisa kalau cuma lewat lewat diskusi atau lewat pemeriksaan jalanan oleh aparat kemanana setiap malam. Soalnya pemeriksaan aparat keamanan justru membuat rakyat was-was, di sisi lain pemeriksaan itu harus didukung karena kabar-kabarnya kelompok milisi yang dulu pro-integrasi sudah mulai mencoba masuk ke sini.

Cerita tentang milisi ini sendiri panjang dan sempat beberapa kali terjadi adu tembak dengan pasukan PBB. Terus ada yang menyerahkan diri. Nanti sajalah aku ceritakan. Kalian balas dulu ceritaku dan nanti baru balasan dari aku cerita soal milisi.

Joko dan Riri, kalau kabarku sendiri sesungguhnya tidak terlalu baik. Ukuran lensa bacaku rasanya bertambah terus sementara di sini tidak ada atau dokter mata. Tapi juga kok rasanya nggak mungkin terbang ke Denpasar hanya untuk mengganti lensa kacamata. Soal lensa kacamata ini bikin rumit. Untunglah ada sahabat dari Jepang, Natsuko, yang sebelum terbang ke Dilli sempat menelepon aku dulu. Aku minta tolong dia dibelikan 'loop.' Sekarang kalau aku membaca menggunakan kaca pembesar itu, seolah-olah yang dibaca itu naskah-naskah kuno, padahal ya surat kalian-kalian ini.

Kayaknya aku sering lupa kalau aku ini sudah beranjak uzur. Sempat juga aku kelabakan sakit gigi. Aku pergi ke beberapa klinik dan rumah sakit hanya untuk menemukan dokter gigi. Sekedar untuk menambal lubang gigi seujung jarum saja aku baru dapat giliran hampir dua pekan kemudian. Sambil menunggu tambal gigi itu, modalku cuma tablet dan obat kumur. Bukan saja karena peralatannya sangat minimal, tapi karena dokter gigi yang praktek di Klinik Motael itu adalah satu-satunya dokter yang praktek di Dilli. Kabarnya, dokter yang satu lagi mengabdi di Lospalos.

Terus kalau aku selalu menolak tawaran kalian untuk mengirimi kebutuhan sehari-hari bukan karena tak perlu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana hidup di sini seperti hidup orang-orang lainnya, sama seperti dengan orang-orang Timor yang aku jumpai setiap hari.

Oh ya Riri, sudah pasti aku tidak ikut meramaikan natal di rumahmu kayak yang dulu-dulu. Aku mau merayakan idul fitri saja di sini. Terus kalian berdua nggak pingin menikmati perubahan tahun di sini? Kalau kalian sibuk, ya jangan memaksa-maksa untuk berkabar, tapi kalau mau dengar cerita milisi ya kalian balas dulu dong suratku ini. Maksa ni ye….
Salam kangen,
Pratiwi
di Dilli tangal 27 September 2000

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000