sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba
untuk karya tulis

laporan Lorosae Itu Merdeka
Pratiwi

Dear Joko dan Riri,
Jok, ternyata kamu tertarik dengan makanan yang diolah pak polisi asal Thailand itu ya? Sanphet Marla memang tak menjelaskan kenapa 'mie kuning' bisa memperkuat kerja lever, jadi kamu tanya saja pada ahli pengobatan tradisional. Apa sih sebenarnya kandungan dalam tanaman parasit itu. Tapi kenapa tidak kamu coba saja dulu. Buktinya, kawan-kawanku yang menyantap masakan Sanphet masih saja hidup segar bugar sampai sekarang. Jadi kalau bikin mati kayaknya sih nggak ya. Kalau kata Pak Sanphet, 'mie kuning' bisa diolah apa saja sesuai dengan selera kita. Waktu itu pak polisi Sanphet Marla mengggoreng 'mie kuning' dengan bumbu garam, lada, dan bawang bombai. Mungkin kamu bisa tumis atau mengolahnya jadi kayak mie jawa. Kamu kan pintar masak. Tapi nanti kalau aku ke Viequeque mudah-mudahan masih bisa ketemu dia dan aku akan minta resep aslinya. Viequeque nggak jauh kok dari Dilli, cuma soal nyari waktu yang kosong atau pas saja.
Selengkapnya

 

memoar Upeti Jaket Menwa
Pakde Gogo
Perjuangan mahasiswa yang didukung oleh tentara, Angkatan Darat dan khususnya RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), sempat membuat hati kami --para mahasiswa-- berbunga-bunga. Kala itu, sekitar tahun-tahun 1967-1968 --hanya beberapa tahun setelah pemberontakan yang sudah umum disebut sebagai Peristiwa G.30 S./ P.K.I. atau Gestapu PKI-- ratusan mahasiswa dan pemuda di kota kami , Yogyakarta, digembleng dengan pelatihan dasar kemiliteran oleh apa yang kami sebut sebagai ''kakak-kakak'' dari RPKAD (sekarang Kopassus). Saya ikut bersemangat --maklum kan saya masuk ke dalam jajaran Laskar Ampera Aris Margono, Yogyakarta. Bahkan saya menjabat sebagai Wakil Komandan Laskar, yang bermarkas di Pekapalan, yang teduh di depan gedung bioskop Soboharsono, Alun-alun Utara . Saya merasa bahwa secara fisik dan mental saya harus bersemangat militer.
Selengkapnya

 

sajak Kucing Beranak Dalam Kaus Kaki Presiden
T Widjaja

Presiden, kucing itu beranak di dalam kaos kakiku. 56 tahun membusuk. Bagai matematika dan keluguan yang bertanduk pisau. Presiden. Please, aku kencing ke dalam lambung. Duduk saja manis, katanya. Duduk jangan angkat kaki, dan berludah ke lantai. Jangan pula melihat ke langit-langit. Ini bukan rumahmu! Teriaknya. Ya, aku memang bukan presiden. Kita cuma menyampaikan kalimat dan kalkulator tanpa bentuk. Persis sungai yang dilipat-lipat dalam proposalmu. Presiden ada orang-orang membaca kitab suci untukmu. Maukah kau menjamin surga bagi mereka? Aku nih takut neraka. Seandainya indah, kenapa kau pajangkan kepala-kepala itu lepas dari badan. Di mana? Di mana? Rumah tempat melepaskan hajat kebencian. Botol-botol sudah meledak di kaki-kaki VOC.Ya, aku memang bukan presiden. Kita cuma menyampaikan kalimat dan kalkulator tanpa bentuk. Persis sungai yang dilipat-lipat dalam proposalmu. Presiden ada orang-orang membaca kitab suci untukmu. Maukah kau menjamin surga bagi mereka?
Selengkapnya

 

cerpen How Low Can You Go
Pulung Ciptoaji
Reaksi kimia, mengalir dalam darahku bagaikan gelombang. Puncak titik api menyiramkan peluh bersenyawa lautan. Rajam mesin-mesin suara melintas memekakkan. Aku jadi lilin menggeliat, meliuk pada bara apinya. Tubuh penuh peluh meleleh berdecak seirama gelombang. Reaksi kimia menyeretku lepas, aku ingin bercinta.Masih dengan irama, dia disampingku tersenyum tergerai. Dia peluk aku dengan ikatan dingin menggigil separuh waktu. Dia cium aku dengan menggigit seluruh mulut ditelannya. Dia natap aku, sama saling bersorot tajam. Kita saling bergoyang se irama kuda, tanpa letih menggeliang. Reaksi kimia menyeretku sadis, aku terangsang. Walau aku tahu seberapa dangkal untuk sekedar dibuyarkan. Semua anganku diletihnya jauh tanpa sejarah yang patut ditiru. Rendahnya nyali jika ditatap dengan kesedihan, dikejar tapi nasib menjauh. Hanya reaksi kimia yang serba tahu dimana letak kelonggaran. Dia aku telan, dia aku kunyah, dan dia aku biuskan pada sejengkal titik darah kimia.
Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 4
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Nicky tak terjumpa di rumah maupun di taman. Yura terpaksa jalan-jalan tak bertujuan di sekitar rumah, selama pamannya dan Ivan Ivanovich bekerja di beranda; ia menduga bahwa kawannya itu sembunyi, sebab ia tak suka pada tamu, sedangkan Yura tak dianggapnya sepadan.Tempat itu bukan main eloknya. Tiap dua menit seekor jalak kuning membunyikan kicauannya sepanjang tiga nada, diikuti oleh kesepian agar seluruh lagu sulingannya yang jernih dan lembah itu turun dan meresap dalam tamasya. Bau bunga yang ditangkap tak berdaya oleh genangan hawa, ditahan oleh panas dan terhimpun sepi atas persemaian. Timbul olehnya kenangan kuat pada Antiba dan Bordighera! Ia terus membelok ke kanan dan ke kiri. Hawa di atas padang rumput seperti mimpi yang memgejutkan: suara ibunya mengiang dalam dengkur lebah dan ungkapan lagu burung-burung. Dibuatnya ia menggigil oleh dambaan hampa bahwa ibunya menunggu jawabannya, bahwa ia memanggilnya, di sana-sini berganti-ganti.
Selengkapnya

 
situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar