sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

    ceritanet
                 situs nir-laba untuk karya tulis

 

laporan Upeti Jaket Menwa
Pakde Gogo

Perjuangan mahasiswa yang didukung oleh tentara, Angkatan Darat dan khususnya RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), sempat membuat hati kami --para mahasiswa-- berbunga-bunga. Kala itu, sekitar tahun-tahun 1967-1968 --hanya beberapa tahun setelah pemberontakan yang sudah umum disebut sebagai Peristiwa G.30 S./ P.K.I. atau Gestapu PKI-- ratusan mahasiswa dan pemuda di kota kami , Yogyakarta, digembleng dengan pelatihan dasar kemiliteran oleh apa yang kami sebut sebagai ''kakak-kakak'' dari RPKAD (sekarang Kopassus).

Saya ikut bersemangat --maklum kan saya masuk ke dalam jajaran Laskar Ampera Aris Margono, Yogyakarta. Bahkan saya menjabat sebagai Wakil Komandan Laskar, yang bermarkas di Pekapalan, yang teduh di depan gedung bioskop Soboharsono, Alun-alun Utara . Saya merasa bahwa secara fisik dan mental saya harus bersemangat militer.

Dalam beberapa kesempatan berikutnya, saya sempat ikut dalam operasi cidukan sejumlah orang yang dianggap sebagai anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia dan 'onderbouwnya.' Celakanya, yang diciduk kebanyakan justru tetangga-tetangga saya sendiri di Gondomanan. Namun, mental militer tadi mewajibkan saya bersikap tidak pilih bulu.

Setelah mantap menjadi militer yang mahasiswa, saya ikut ditunjuk menjadi anggota Komando Tertib Mahasiswa (Koterma), semacam CPM/ POM-nya Resimen Mahasiswa Mahakarta. Saya dan sekitar tiga puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta secara berkala piket di markas Koterma, Jalan Gondokusuman, di dekat Korem.

Dengan pakaian hijau, lengkap dengan senjata standard, dan kopel-rim dan sepatu boot, dan topi baja putih bergaris kuning, saya merasa diri sebagai 'orang kuat' di kalangan masyarakat yang menyembah ABRI pada masa itu. Naik bis ke manapun nggak mbayar, nonton filem gratis, jajan di restoran Cina tak usah bayar dan di kampung secara otomatis saya diangkat sebagai Ketua Pemuda yang harus kasih sambutan di perayaan 17 Agustus. Di perhelatan pun saya dipersilakan duduk di depan.

Hebatnya, ketika pada saat-saat itu puluhan mahasiswa --karena situasi ekonomi dan politik-- lebih suka menjadi tukang pukul, tukang keluyuran di malam hari dan bandar judi roulette piringan hitam. Sayapun sering terlibat secara tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan itu. Kalau lagi cepak uang saku, maka saya biasanya keluar rumah dengan jaket tentara saya, ngeluyur ke THR yang dulunya Kerkhoff (kuburan Belanda) untuk mendatangi rekan-rekan mahasiswa --kebanyakan anak mondok dari luar Jawa-- yang sedang asyik membandari roulette piringan hitam.

Thirrrr, piringan hitam dengan angka 1 sampai 36 dan sebuah penunjuk siap di sampingnya diputar dengan jari-jari mereka yang sudah trampil (agaknya lebih trampil daripada kalau dipakai untuk menulis waktu kuliah). Dari mulutnya yang bau rokok terdengar teriakan asli mBatak ; ''setop pasangan, setop pasangan,'' sembari menerima bantingan-bantingan uang dari massa yang mengelilinginya.

Saya sendiri tidak ikut membanting uang --tak punya soalnya! Tetapi dengan jaket saya, saya selalu menang. Lho? Sudah barang tentu, si bandar yang selalu menang hampir di setiap satu putaran, dengan cepat menekukkan tangannya ke belakang, ke arah saya berdiri - untuk memberi upeti kepada saya Rp.25 atau seadanya uang di tangannya. Dan sayapun pindah ke lingkaran lain dengan bandar lain, mengulangi prosedur yang sama.

Bandar-bandar itu ada yang sudah meninggal karena sakit, tetapi yang saya ketahui, ada yang sudah menjadi salah satu pejabat di Daerah Istimewa Yogyakarta, di Medan, dan dulu juga ada satu menjadi orang penting di Sumatra Selatan. Ada juga, yang sampai beberapa waktu lalu masih bergiat dalam teater dan siaran radio. Buat saya, yang nyasar jadi wartawan, bagian hidup saya yang bau militer mahasiswa itu cuma sebuah permainan pada masa itu. Permainan yang diterima sebagai kesempatan ketika orang tidak punya pilihan banyak, walau sampai sekarangpun saya tidak tahu pasti mana yang lebih baik; bandar --yang memberi upeti-- atau Menwa --yang menerima upeti.
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000