laporan Upeti
Jaket Menwa
Pakde Gogo
Perjuangan
mahasiswa yang didukung oleh tentara, Angkatan Darat dan khususnya
RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), sempat membuat hati
kami --para mahasiswa-- berbunga-bunga. Kala itu, sekitar tahun-tahun
1967-1968 --hanya beberapa tahun setelah pemberontakan yang sudah
umum disebut sebagai Peristiwa G.30 S./ P.K.I. atau Gestapu PKI--
ratusan mahasiswa dan pemuda di kota kami , Yogyakarta, digembleng
dengan pelatihan dasar kemiliteran oleh apa yang kami sebut sebagai
''kakak-kakak'' dari RPKAD (sekarang Kopassus).
Saya ikut
bersemangat --maklum kan saya masuk ke dalam jajaran Laskar Ampera
Aris Margono, Yogyakarta. Bahkan saya menjabat sebagai Wakil Komandan
Laskar, yang bermarkas di Pekapalan, yang teduh di depan gedung
bioskop Soboharsono, Alun-alun Utara . Saya merasa bahwa secara
fisik dan mental saya harus bersemangat militer.
Dalam
beberapa kesempatan berikutnya, saya sempat ikut dalam operasi
cidukan sejumlah orang yang dianggap sebagai anggota atau simpatisan
Partai Komunis Indonesia dan 'onderbouwnya.' Celakanya, yang diciduk
kebanyakan justru tetangga-tetangga saya sendiri di Gondomanan.
Namun, mental militer tadi mewajibkan saya bersikap tidak pilih
bulu.
Setelah
mantap menjadi militer yang mahasiswa, saya ikut ditunjuk menjadi
anggota Komando Tertib Mahasiswa (Koterma), semacam CPM/ POM-nya
Resimen Mahasiswa Mahakarta. Saya dan sekitar tiga puluhan mahasiswa
dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta secara berkala piket
di markas Koterma, Jalan Gondokusuman, di dekat Korem.
Dengan
pakaian hijau, lengkap dengan senjata standard, dan kopel-rim dan
sepatu boot, dan topi baja putih bergaris kuning, saya merasa diri
sebagai 'orang kuat' di kalangan masyarakat yang menyembah ABRI
pada masa itu. Naik bis ke manapun nggak mbayar, nonton filem gratis,
jajan di restoran Cina tak usah bayar dan di kampung secara otomatis
saya diangkat sebagai Ketua Pemuda yang harus kasih sambutan di
perayaan 17 Agustus. Di perhelatan pun saya dipersilakan duduk
di depan.
Hebatnya,
ketika pada saat-saat itu puluhan mahasiswa --karena situasi ekonomi
dan politik-- lebih suka menjadi tukang pukul, tukang keluyuran
di malam hari dan bandar judi roulette piringan hitam. Sayapun
sering terlibat secara tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan
itu. Kalau lagi cepak uang saku, maka saya biasanya keluar rumah
dengan jaket tentara saya, ngeluyur ke THR yang dulunya Kerkhoff
(kuburan Belanda) untuk mendatangi rekan-rekan mahasiswa --kebanyakan
anak mondok dari luar Jawa-- yang sedang asyik membandari roulette
piringan hitam.
Thirrrr,
piringan hitam dengan angka 1 sampai 36 dan sebuah penunjuk siap
di sampingnya diputar dengan jari-jari mereka yang sudah trampil
(agaknya lebih trampil daripada kalau dipakai untuk menulis waktu
kuliah). Dari mulutnya yang bau rokok terdengar teriakan asli mBatak
; ''setop pasangan, setop pasangan,'' sembari menerima bantingan-bantingan
uang dari massa yang mengelilinginya.
Saya
sendiri tidak ikut membanting uang --tak punya soalnya! Tetapi
dengan jaket saya, saya selalu menang. Lho? Sudah barang tentu,
si bandar yang selalu menang hampir di setiap satu putaran, dengan
cepat menekukkan tangannya ke belakang, ke arah saya berdiri -
untuk memberi upeti kepada saya Rp.25 atau seadanya uang di tangannya.
Dan sayapun pindah ke lingkaran lain dengan bandar lain, mengulangi
prosedur yang sama.
Bandar-bandar
itu ada yang sudah meninggal karena sakit, tetapi yang saya ketahui,
ada yang sudah menjadi salah satu pejabat di Daerah Istimewa Yogyakarta,
di Medan, dan dulu juga ada satu menjadi orang penting di Sumatra
Selatan. Ada juga, yang sampai beberapa waktu lalu masih bergiat
dalam teater dan siaran radio. Buat saya, yang nyasar jadi wartawan,
bagian hidup saya yang bau militer mahasiswa itu cuma sebuah permainan
pada masa itu. Permainan yang diterima sebagai kesempatan ketika
orang tidak punya pilihan banyak, walau sampai sekarangpun saya
tidak tahu pasti mana yang lebih baik; bandar --yang memberi upeti--
atau Menwa --yang menerima upeti.
***