sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

            tentang ceritanet                                                                                            ceritanet
                                                                      situs nir-laba untuk karya tulis

 

sajak Kucing Beranak Dalam Kaus Kaki Presiden
T Widjaja


Presiden, kucing itu beranak di dalam kaos kakiku. 56 tahun membusuk. Bagai matematika dan keluguan yang bertanduk pisau. Presiden. Please, aku kencing ke dalam lambung. Duduk saja manis, katanya. Duduk jangan angkat kaki, dan berludah ke lantai. Jangan pula melihat ke langit-langit. Ini bukan rumahmu! Teriaknya.

Ya, aku memang bukan presiden. Kita cuma menyampaikan kalimat dan kalkulator tanpa bentuk. Persis sungai yang dilipat-lipat dalam proposalmu. Presiden ada orang-orang membaca kitab suci untukmu. Maukah kau menjamin surga bagi mereka? Aku nih takut neraka. Seandainya indah, kenapa kau pajangkan kepala-kepala itu lepas dari badan. Di mana? Di mana? Rumah tempat melepaskan hajat kebencian. Botol-botol sudah meledak di kaki-kaki VOC.

Tinggal tangan di bawah; beras murah dan senyuman Elizabeth dari internet. Persis lukisan Picasso yang terbakar di tangan penyapu jalanan. Oke, presiden, aku tidak suka dengan matematikamu yang lebih indah dari metafor-metafor penyair yang menderita asma di kotaku.

Lihatlah! Itu batuknya mengeluarkan berbaskom-baskom dahak kental. Miliaran kuman bergerak-gerak dan membangun kerajaan yang dinamakan "Dendam Seiris Donat". Ya, kau tahukan. Tahu. Aku benci dengan matematikamu. Matematikamu tidak secantik Yanti di salon yang dipenuhi lidah-lidah kucing. Matematikamu tidak seindah kebusukan para abang beca yang bertahun-tahun cuma tahu, tarik nafas dan menunggu nafasnya ditarik.

Begitu presiden. Umurmu berapa, sekarang? Aku masih gadis dan pernah dua kali menjadi perawan. Sejak Maryam tidak menulis berita kepada Tuhan, sejak kau bingung membedakan mana alkitab dan buku telepon.

Presiden, telepon aku sekarang. Aku berada di jalan. Dipenuhi tai aspal, dan setumpuk sabun-sabun yang mencair dari taman yang tak pernah ditumbuhi kembang, kecuali mereka: gay dan lesbian yang menunggu revolusi.

Presiden, kucing itu kembali beranak di dalam kaos kakiku. Mari kita masuk ke dalamnya. Ada sejuta anak-anak siap menjadi tentara dan pelayan toko. Mari kita rebus dan jemur. Asin dan gurih di lidah. Presiden, kalkulatormu kehilangan angka nol. Pergi! Cari di belakang meja tidurmu. Oi, ada bule yang mengulum kepalamu. Maaf, aku takut.
***
 
situs nir-laba untuk karya tulis ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000