sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 4, Sabtu 3 Februari 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

cerpen How Low Can You Go
Pulung Ciptoaji

Reaksi kimia, mengalir dalam darahku bagaikan gelombang. Puncak titik api menyiramkan peluh bersenyawa lautan. Rajam mesin-mesin suara melintas memekakkan. Aku jadi lilin menggeliat, meliuk pada bara apinya. Tubuh penuh peluh meleleh berdecak seirama gelombang. Reaksi kimia menyeretku lepas, aku ingin bercinta.

Masih dengan irama, dia disampingku tersenyum tergerai. Dia peluk aku dengan ikatan dingin menggigil separuh waktu. Dia cium aku dengan menggigit seluruh mulut ditelannya. Dia natap aku, sama saling bersorot tajam. Kita saling bergoyang se irama kuda, tanpa letih menggeliang. Reaksi kimia menyeretku sadis, aku terangsang. Walau aku tahu seberapa dangkal untuk sekedar dibuyarkan. Semua anganku diletihnya jauh tanpa sejarah yang patut ditiru. Rendahnya nyali jika ditatap dengan kesedihan, dikejar tapi nasib menjauh. Hanya reaksi kimia yang serba tahu dimana letak kelonggaran. Dia aku telan, dia aku kunyah, dan dia aku biuskan pada sejengkal titik darah kimia.

Mesin suara berlanjut, dia malu-malu menyelinap di nadi nafsu. Tapi perlu waktu untuk jinakkan sinyal-sinyal kebutuhan. Seketika sekedar cairan libido menggerayang melayang di ruang-ruang hampa. Aku rasakan, semakin keras seiring mesin suara yang semakin sombong. Kepala tajam tiba-tiba menggerayang aku, terlepas lamunan. Aku bagai lilin api, semakin meleleh di bola lampu yang remang-remang. Aku telanjang. Kita seirama, tatapanku hanya hitam. Tak ada suara, hanya lamat-lamat mendorongku untuk bercinta. Aku mainkan dekapan jiwanya, dengan tanpa perantara. Aku manfaatkan bola lampu remang untuk semakin menjilat. Dia semakin menekan, reaksi kimia membawaku pada bara api kegirangan.

Tanpa ragu, tanpa busana menggadaikan pada ketinggian derajat yang semakin kecil untuk ditatap dari bawah. Bagai cabik yang menekan beban, tempatku buatmu tidak jauh berbeda. Diriku, dirimu adalah sejiwa dalam sel perkelaminan. Aku semakin mendengus seperti bisik ular yang lapar. Hanya nafas yang tertekan karena ini hanya sebagian tersederhana dari totonan malam.

Silahkan mencicipi, pada remang malam dan hawa asap tembakau mengepul di udara. Tanpa hening di skat-skat bangku warna serat merah. Sorot tajam lampu perak pada peraduan sederhana. Irama mesin suara semakin tertelan karena pelan, hawa nafas dipandu penghuni ruang. Aku orgasme.

Gelap mata sepengalir reaksi kimia yang menuntunku untuk beratraksi lain. Sepertinya sengaja menuntunku pada gerakan babak-babak baru yang semakin menantang. Penghuni ruang tertegun melihat sang ratu ayu dinobatkan pada sebuah singgasana. Dan ratu itu menjingkat semakin cepat untuk menggerang. Atraksi terpengah sejalan aku kekelahan. Kini aku terlentang.

Entah siapa, dia tersenyum tersipu. Masih menatapku semusim peradaban yang manusiawi. Hanya sejengkal insting primitif untuk sekedar modal menemani tidur. Tidak jauh berbeda setengah panggung kita telah meleleh. Hawa asin lautan menyilaukan kita pada ketakutan diri sendiri. Aku telah menyepakati bahwa sangat resiko jika membatasi pada profesi-profesi yang normatif. Dosa milik siapa ?, miliknya yang tiba-tiba menelanku lagi di peluknya.

Aku tidak puas, semakin sadis dengan mesin suara yang tidak terhenti. Penghuni ruang semakin ereksi, hanya deru nafas yang menggiring pada perkhayalan sendiri-sendiri. Mereka masih diam mengikuti adegan. Adalah hak azasi untuk berfikir tentang pertalian dua anak bapak seorang Adam dan Hawa. Telah membuat iri para setan dalam surga ketika bercumbuan di alam terbuka. Terlalu istimewa karena anak dan bapak saling menindih, wajar jika hubungan ini diprotes pada Tuhan suatu saat.

Saat yang paling tepat. Aku melengking di udara, menukik pada rongga kerongkonan yang kehausan. Lepas tanpa batas untuk ditembus waktu. Mengupas reaksi kimia pada puncaknya. Tanpa seutas tali penghubung atau pemisah antara aku di udarayang harus dipotong pada sebuah adegan. Dia memberi hujan dengan air hangatnya setetes jatuh di tali pusar perut. Warnanya silau karena kepastian alam. Dia mengikuti gerakkan yang aku putar sendiri.

Sementara aku masih di udara untuk meyakinkan skenario besar penuh penjiwaan pada sebuah peradaban. Mesin suara semakin cepat menuju ke puncak diakhiri dengan gerakan memutar di temali-temali selendang maya. Aku memaksa, penonton semakin terkesima. Tampak di teropong selama diudara, penghuni rung terkesima, menahan sedetik nafas tanpa suara. Lamat-lamat aku bisa mendengar detak jantung yang merambat. Mereka menyambutku dengan asap, seperti dupa di areal pemujaan para arwah-arwah moyangnya.

Aku diam tak bergerak terlentang pada papan yang diselimuti lilin-lilin. Cahaya lampu dipadamkan dan selambu lebar dengan dikait tali menutupi panggung. Penghuni ruang keluar dengan pikiran menggoda, untuk berbuat sesuatu yang paling purba. Reaksi kimia kini tinggal menunggu detik-detik gelombang, yang menyembur pada gumpalan darah pelan-pelan. Tanpa reaksi apa-apa, hanya sekujur tubuh ditanduk berjuta ton tumbukan. Hawa dingin menyelimuti tulangh-tulang.

Seseorang menatap, samar aku pastikan dia dari perwujutannya. Tidak meleset tidak jauh beda dengan seseorang yang melayaniku tiap malam, di atas panggung dikerubuti para penghuni ruang. Seseorang melata menjauh, aku panggil dengan sebutan engkau. Minimal serupa dengan manusia, tapi dia tidak ada.

Adaptasi Slank
Batam, Planet Diskotik April 2000

situs nir-laba untuk karya tulis ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000