Mesin
suara berlanjut, dia malu-malu menyelinap di nadi nafsu. Tapi
perlu waktu untuk jinakkan sinyal-sinyal kebutuhan. Seketika
sekedar cairan libido menggerayang melayang di ruang-ruang hampa.
Aku rasakan, semakin keras seiring mesin suara yang semakin sombong.
Kepala tajam tiba-tiba menggerayang aku, terlepas lamunan. Aku
bagai lilin api, semakin meleleh di bola lampu yang remang-remang.
Aku telanjang. Kita seirama, tatapanku hanya hitam. Tak ada suara,
hanya lamat-lamat mendorongku untuk bercinta. Aku mainkan dekapan
jiwanya, dengan tanpa perantara. Aku manfaatkan bola lampu remang
untuk semakin menjilat. Dia semakin menekan, reaksi kimia membawaku
pada bara api kegirangan.
Tanpa
ragu, tanpa busana menggadaikan pada ketinggian derajat yang
semakin kecil untuk ditatap dari bawah. Bagai cabik yang menekan
beban, tempatku buatmu tidak jauh berbeda. Diriku, dirimu adalah
sejiwa dalam sel perkelaminan. Aku semakin mendengus seperti
bisik ular yang lapar. Hanya nafas yang tertekan karena ini hanya
sebagian tersederhana dari totonan malam.
Silahkan
mencicipi, pada remang malam dan hawa asap tembakau mengepul
di udara. Tanpa hening di skat-skat bangku warna serat merah.
Sorot tajam lampu perak pada peraduan sederhana. Irama mesin
suara semakin tertelan karena pelan, hawa nafas dipandu penghuni
ruang. Aku orgasme.
Gelap
mata sepengalir reaksi kimia yang menuntunku untuk beratraksi
lain. Sepertinya sengaja menuntunku pada gerakan babak-babak
baru yang semakin menantang. Penghuni ruang tertegun melihat
sang ratu ayu dinobatkan pada sebuah singgasana. Dan ratu itu
menjingkat semakin cepat untuk menggerang. Atraksi terpengah
sejalan aku kekelahan. Kini aku terlentang.
Entah
siapa, dia tersenyum tersipu. Masih menatapku semusim peradaban
yang manusiawi. Hanya sejengkal insting primitif untuk sekedar
modal menemani tidur. Tidak jauh berbeda setengah panggung kita
telah meleleh. Hawa asin lautan menyilaukan kita pada ketakutan
diri sendiri. Aku telah menyepakati bahwa sangat resiko jika
membatasi pada profesi-profesi yang normatif. Dosa milik siapa
?, miliknya yang tiba-tiba menelanku lagi di peluknya.
Aku
tidak puas, semakin sadis dengan mesin suara yang tidak terhenti.
Penghuni ruang semakin ereksi, hanya deru nafas yang menggiring
pada perkhayalan sendiri-sendiri. Mereka masih diam mengikuti
adegan. Adalah hak azasi untuk berfikir tentang pertalian dua
anak bapak seorang Adam dan Hawa. Telah membuat iri para setan
dalam surga ketika bercumbuan di alam terbuka. Terlalu istimewa
karena anak dan bapak saling menindih, wajar jika hubungan
ini diprotes pada Tuhan suatu saat.
Saat
yang paling tepat. Aku melengking di udara, menukik pada rongga
kerongkonan yang kehausan. Lepas tanpa batas untuk ditembus
waktu. Mengupas reaksi kimia pada puncaknya. Tanpa seutas tali
penghubung atau pemisah antara aku di udarayang harus dipotong
pada sebuah adegan. Dia memberi hujan dengan air hangatnya
setetes jatuh di tali pusar perut. Warnanya silau karena kepastian
alam. Dia mengikuti gerakkan yang aku putar sendiri.
Sementara
aku masih di udara untuk meyakinkan skenario besar penuh penjiwaan
pada sebuah peradaban. Mesin suara semakin cepat menuju ke puncak
diakhiri dengan gerakan memutar di temali-temali selendang maya.
Aku memaksa, penonton semakin terkesima. Tampak di teropong selama
diudara, penghuni rung terkesima, menahan sedetik nafas tanpa
suara. Lamat-lamat aku bisa mendengar detak jantung yang merambat.
Mereka menyambutku dengan asap, seperti dupa di areal pemujaan
para arwah-arwah moyangnya.
Aku
diam tak bergerak terlentang pada papan yang diselimuti lilin-lilin.
Cahaya lampu dipadamkan dan selambu lebar dengan dikait tali
menutupi panggung. Penghuni ruang keluar dengan pikiran menggoda,
untuk berbuat sesuatu yang paling purba. Reaksi kimia kini tinggal
menunggu detik-detik gelombang, yang menyembur pada gumpalan
darah pelan-pelan. Tanpa reaksi apa-apa, hanya sekujur tubuh
ditanduk berjuta ton tumbukan. Hawa dingin menyelimuti tulangh-tulang.
Seseorang
menatap, samar aku pastikan dia dari perwujutannya. Tidak meleset
tidak jauh beda dengan seseorang yang melayaniku tiap malam,
di atas panggung dikerubuti para penghuni ruang. Seseorang melata
menjauh, aku panggil dengan sebutan engkau. Minimal serupa dengan
manusia, tapi dia tidak ada.