Sekali lagi mereka
berbaring di bangku tidur depan kedua ujung jendela yang sangat panjang
itu; hari telah malam dan mereka becakap-cakap.
Zhivago bercerita
pada Gordon, bagaimana ia pada suatu hari bertemu Tsar di medan perang.
Waktu itu adalah
musim semi pertama yang dialami Yuri dalam tentara. Ia diperbantukan
pada kesatuan yang menduduki muara lembah di Pegunungan Carpathia
serta merintanginya terhadap Hungaria. Markas besarnya ada di lembah.
Di dasar lembah
ada stasiun kereta api. Zhivago melukiskan rupa tamasya; gunung-gunung
ditumbuhi pohon-pohon ru dan pinus yang besar dengan awan berumbai-rumbai
di puncaknya; karang-karang batu tulis dan grafit tampak dari celah-celah
rimba seperti bungkah-bungkah gundul yang aus dilingkungi bulu-bulu
tebal. Pagi lembab dan gelap dalam bulan April, abu-abu seperti batu
tulis, dikepit gunung-gunung dari segala jurusan, jadi sepi tak berangin.
Kabut terkatung di atas lembah, segalanya di situ menguap dan meruap
ke atas --asap lokomotif dari stasiun dan kabut kelabu dari padang-padang,
pegunungan kelabu dan rimba gelap dan mendung gelap.
Tatkala itu Kaisar
mengadakan pemeriksaan keliling di Galicia; mendadak terdapat kabar,
ia akan memeriksa kesatuan dimana ia menjadi kolonel kehormatannya.
Ia bisa datang setiap saat. Barisan pengawal kehormatan disiapkan
di peron. Waktu berjam jam berlalu penuh kegairahan, maka tibalah
dua kereta api rombongan Kaisar dengan cepatnya, satu demi satu dan
tak lama kemudian masuklah kereta api Tsar.
Diiringi oleh
Tumenggung Besar Nicolas, Tsar memeriksa barisan grenadir. Tiap kata
dari salam tenangnya mencetuskan seruan 'hura' yang meletup dan berderai-derai,
lantang dan berkumandang dengan bunyi memencar seperti air dari ember
yang terayun.
Tsar senyum-senyum
dan gelisah, nampak lebih tua dari gambarannya di mata uang dan medali.
Parasnya lesu lagi empuk sedikit.
Dengan ungkapan
minta maaf ia terus menatap kepada Tumenggung Besar, tak tahu apa
yang dikehendaki dari padanya pada tiap saat, maka Tumenggung Besar
itupun dengan membungkuk khidmat menunjukkan padanya jalan untuk keluar
dari kesulitan, tidak dengan kata-kata, melainkan dengan mengerakkan
alis atau pundaknya.
Sambil mengamati
dia pada pagi yang panaa yang kelabu di pegunungan itu Yuri berbelas
hati pada Tsar dan merasa ngeri oleh pikirannya bahwa sifat menyendiri
yang takut-takut dan pemalu ini adalah atribut hakiki pada sang penindas,
bahwa kelemahan begitu rupa dapat membunuh atau memaafkan, mengikat
atau melepaskan.
"Selayaknya
ia berpidato, 'Aku, pedangku, rakyatku' seperti Wilhelm. Setidak-tidaknya
'rakyat' harus disebut. Tapi kau tahu ia bertindak sewajarnya, secara
Rusia; tragisnya, ia mengatasi yang banal itu. Dan memanglah main
sandiwara macam ini mustahil di Rusia, bukan? Sebab main sandiwara
adalah main sandiwara. Aku hanya bisa menerima bahwa ada 'rakyat-rakyat'
semasa Cesar, bangsa-bangsa Galia, Scythia, Illyria. Tapi kemudian
gagasan itu hanya khayalan semata, suatu frase bagi kaum Tsar, raja
dan politikus untuk digunakan dalam pidato : 'Rakyat, rakyatku."
"Sekarang
medan perang dibanjiri wartawan dan penulis harian. Mereka mengamat-amati,
mengumpul kebijakan populer, mengunjungi yang luka-luka dan menyusun
teori-teori baru tentang jiwa rakyat. Itulah versi baru dari Dahl*
dan sama omong kosongnya --grafomania dalam ilmu bahasa dan ketiadaan
kekangan diri dalam bahasa. Itu satu jenis --dan ada jenis lain--
bahasa secekak, 'sketsa dan adegan.' kebimbangan dan misantropi. Karangan
macam itu kubaca tempo hari. Masih kusimpan. Ini dia. 'Hari muram
macam kemarin. Hujan sejak pagi, lumpur salju. Aku menjenguk dari
jendela dan melihat di jalanan. Barisan tawanan tak berujung. Luka-luka.
Tembakan senapan. Menembak hari ini seperti kemarin, besok seperti
sekarang dan tiap hari dan tiap jam.' Subtil dan berakal! Tapi mengapa
menyalahkan bedil? Tak waras, kalau mengharap keragaman dari bedil?
Mengapa tak dilihatnya diri sendiri, menembakkan segala kalimat yang
sama, koma, daftar kejadian, hari demi hari, memegang teguh kebajikan
kewartawanan berentet-rentet, secepat regu kutu yang meloncat-loncat?
Mengapa tak masuk akalnya bahwa dialah yang mesti berhenti mengulangi
diri --bukan bedil-- bahwa tak ada artinya menetes-neteskan omong
kosong dari buku catatan bagaimanapun lamanya ia berbuat begitu; sebab
fakta tak ada sebelum manusia menempatkannya dalam suatu segi kepribadiannya,
dalam ukuran menurut semangat jiwa insaniahnya sendiri yang punya
kemauan tertenu --menurut dongeng atau mitos."
"Kau
benar semata-mata," sela Gordon. "Dan sekarang kututurkan
pendapatku tentang peristiwa yang kita saksikan tadi. Kosak yang memperolok
si datuk tua itu dan seribu satu peristiwa lain yang sejenis --tentulah
tak usah dibikin teori tentangnya. Tak perlu dipikirkan, yang perlu
hanyalah menampar muka seseorang. Tapi masalah Yahudi dalam keseluruhannya
--nah jadi juga berfilsafat. Yang kututurkan ini bukannya barang baru
--kita berdua mendapat gagasan dari pamanmu.
"Kau
bilang tadi, apakah rakyar?... Dan siapa berbuat lebih banyak bagi
rakyat, dia yang mengelus-elusnya atau dia lupa segala-galanya tentangnya,
namun menghelanya pada keuniversalan serta kekesalan, berkat keindahan
murni ama budinya? Nah tentu tak usah diperdebatkan lagi...
"Dan
apakah sebetulnya bangsa-bangsa yang kita bicarakan ini sekarang,
dalam jaman Kristus? Bukan hanya bangsa belaka, melainkan bangsa yang
tersusun dari banyak perorangan yang telah berganti keyakinan, berobah.
Yang penting tentang mereka ialah percobaan mereka, bukan kekuatan
mereka kepada cara-cara kuno.
"Sekarang,
apa yang disebut Evangeli tentangnya? Untuk mulai, Evangeli tak menetapkan
undang-undang, jadi bukannya penentuan: "Ini begini dan ini begitu."
Evangeli adalah tawaran percobaan yang naif : "Sudikah kamu hidup
secara baru sama sekali? Sukakah kamu mencecap kebahagiaan rohaniah?"
Dan tiap orang senang, semua menerima baik, semua terbawa olehnya
beribu-ribu tahun lamanya..."
"Kalau
Evangeli mengatakan bahwa di Kerajaan Tuhan tak ada Yahudi atau bukan
Yahudi, adalah itu berarti bahwa semua manusia sederajat di pandangan
Tuhan? Aku tak percaya bahwa itu saja artinya --itu sudah diketahui--
dikenal para filsuf Yunani, moralis Romawi dan Nabi-Nabi Hebrewa.
Yang dituturkan oleh Evangeli ialah bahwa dalam hidup serta masyarakat
baru yang lahir dari hati dan dinamakan Kerajaan Tuhan ini tak ada
bangsa-bangsa, melainkan hanya orang-orang.
"Tadi
kau katakan, fakta saja tak punya arti apa-apa --sebelum ada pengertian
tertanam kedalamnya. Nah pengertian yang harus kau tanam dalam fakta-fakta
itu agar mempunyai arti bagi insani hanya itulah; jiwa Krsiten, rahasia
kepribadian...
"Lalu kita
bicara tentang perlombaan kaum politikus yang sudah biasa --mereka
tak memperhatikan penghidupan sebagai keseluruhan, orang-orang macam
ini pikirannya tak terbatas dan mereka suka pembatasan hanya karena
pembatasan belaka. Mereka senang seperti si Badut, kalau dapat menyuruh
tiap orang berpikir dan bicara tentang kelompok yang dibatasi dengan
rapi, kian terbatas, kian baik --suatu bangsa, terutama bangsa yang
kecil, paling cocok lagi jika bangsa itu mengalami kesulitan hingga
mereka bisa banyak mengadili dan menimbang dan mengatur dan memutuskan
serta berbelas hati untuk membuat pembagian keuntungan. Nah, adakah
contoh lebih tepat tentang korban-korban mentalitet ini selain bagsa
Yahudi? Cara berpikir sebagai bangsa telah memaksa mereka dari abad
ke abad untuk menjadi bangsa dan tak lebih daripada bangsa --dan yang
luar biasa ialah mereka terbelengu oleh kewajiban yang mematikan ini
selama berabad-abad itu, sedangkan dunia selebihnya dibebaskan daripadanya
oleh kekuatan baru yang telah muncul dari tengah-tengah mereka sendiri!
Luar biasa, bukan? Apa sebab musababnya menurut kau? Coba pikir! Pembebasan
luhur dari keuga-harian, dari pencekikan hidup sehari-hari yang suram
lagi menjemukan itu pertama-tama tercapai di bumi mereka, dinyatakan
dalam bahasa mereka, menjadi milik bangsa mereka! Dan mereka sebenarnya
menyaksikan dan mendengarnya, namun mereka lepaskan itu! Mengapa begitu?
Mengapakah jiwa dengan daya dan keindahannya yang bukan kepalang itu
mereka biarkan saja keluar, meninggalkan mereka terlantar bagaikan
kulit kosong yang ditanggalkannya! Untuk kepentingan siapakah kesahidan
yang sura rela ini? Siapa akan beruntung kalau jiwa itu tetap keluar,
hingga segenap lelaki, perempuan tua tak bersalah ini, kanak-kanak
dan seluruh bangsa yang pandai, baik budi, berperi-kemanusiaan ini
harus senantiasa diolok-olok, dipukuli dari abad ke abad? Dan apa
sebabnya semua sahabat 'rakyat' ini, semua pengarang yang menulis
tentang masalah-masalah nasional, dari bangsa manapun mereka berasal,
selalu tak berdaya-khayalan, tak berbakat? Apa sebabnya para pemimpin
intelektuil bangsa Yahudi tak pernah melampaui Weltschmer yang penurut
serta ironi? Apa sebabnya mereka, sekalipun harus meledak bagai ketel,
akibat tekanan tugas mereka, tak membubarkan tentara ini yang senantiasa
bertempur dan terbunuh besar-besaran, entah untuk apa? Apa sebabnya
para pemimpn itu tidak berkata pada mereka : 'Cukup, berhentilah kini.
Tak usah kaupegang teguh identikmu, jangan berkumpul berbondong-bondong,
Berpencarlah. Jadilah seperti yang lain-lain. Kamu umat Kristen yang
pertama dan yang terbaik di dunia. Kamu telah menjadi apa yang dilawan
oleh yang paling buruk dan paling lemah antara kami."
***bersambung
*.
Dahl adalah penyusun kamus baru Rusia yang menjadi klasik dan berisi
antara lain daftar panjang tentang keanehan-keanehan ilmu bahasa.
ceritanet©listonpsiregar2000