novel Dokter Zhivago 49
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Sekali lagi mereka berbaring di bangku tidur depan kedua ujung jendela yang sangat panjang itu; hari telah malam dan mereka becakap-cakap.

Zhivago bercerita pada Gordon, bagaimana ia pada suatu hari bertemu Tsar di medan perang.

Waktu itu adalah musim semi pertama yang dialami Yuri dalam tentara. Ia diperbantukan pada kesatuan yang menduduki muara lembah di Pegunungan Carpathia serta merintanginya terhadap Hungaria. Markas besarnya ada di lembah.

Di dasar lembah ada stasiun kereta api. Zhivago melukiskan rupa tamasya; gunung-gunung ditumbuhi pohon-pohon ru dan pinus yang besar dengan awan berumbai-rumbai di puncaknya; karang-karang batu tulis dan grafit tampak dari celah-celah rimba seperti bungkah-bungkah gundul yang aus dilingkungi bulu-bulu tebal. Pagi lembab dan gelap dalam bulan April, abu-abu seperti batu tulis, dikepit gunung-gunung dari segala jurusan, jadi sepi tak berangin. Kabut terkatung di atas lembah, segalanya di situ menguap dan meruap ke atas --asap lokomotif dari stasiun dan kabut kelabu dari padang-padang, pegunungan kelabu dan rimba gelap dan mendung gelap.

Tatkala itu Kaisar mengadakan pemeriksaan keliling di Galicia; mendadak terdapat kabar, ia akan memeriksa kesatuan dimana ia menjadi kolonel kehormatannya. Ia bisa datang setiap saat. Barisan pengawal kehormatan disiapkan di peron. Waktu berjam jam berlalu penuh kegairahan, maka tibalah dua kereta api rombongan Kaisar dengan cepatnya, satu demi satu dan tak lama kemudian masuklah kereta api Tsar.

Diiringi oleh Tumenggung Besar Nicolas, Tsar memeriksa barisan grenadir. Tiap kata dari salam tenangnya mencetuskan seruan 'hura' yang meletup dan berderai-derai, lantang dan berkumandang dengan bunyi memencar seperti air dari ember yang terayun.

Tsar senyum-senyum dan gelisah, nampak lebih tua dari gambarannya di mata uang dan medali. Parasnya lesu lagi empuk sedikit.

Dengan ungkapan minta maaf ia terus menatap kepada Tumenggung Besar, tak tahu apa yang dikehendaki dari padanya pada tiap saat, maka Tumenggung Besar itupun dengan membungkuk khidmat menunjukkan padanya jalan untuk keluar dari kesulitan, tidak dengan kata-kata, melainkan dengan mengerakkan alis atau pundaknya.

Sambil mengamati dia pada pagi yang panaa yang kelabu di pegunungan itu Yuri berbelas hati pada Tsar dan merasa ngeri oleh pikirannya bahwa sifat menyendiri yang takut-takut dan pemalu ini adalah atribut hakiki pada sang penindas, bahwa kelemahan begitu rupa dapat membunuh atau memaafkan, mengikat atau melepaskan.

"Selayaknya ia berpidato, 'Aku, pedangku, rakyatku' seperti Wilhelm. Setidak-tidaknya 'rakyat' harus disebut. Tapi kau tahu ia bertindak sewajarnya, secara Rusia; tragisnya, ia mengatasi yang banal itu. Dan memanglah main sandiwara macam ini mustahil di Rusia, bukan? Sebab main sandiwara adalah main sandiwara. Aku hanya bisa menerima bahwa ada 'rakyat-rakyat' semasa Cesar, bangsa-bangsa Galia, Scythia, Illyria. Tapi kemudian gagasan itu hanya khayalan semata, suatu frase bagi kaum Tsar, raja dan politikus untuk digunakan dalam pidato : 'Rakyat, rakyatku."

"Sekarang medan perang dibanjiri wartawan dan penulis harian. Mereka mengamat-amati, mengumpul kebijakan populer, mengunjungi yang luka-luka dan menyusun teori-teori baru tentang jiwa rakyat. Itulah versi baru dari Dahl* dan sama omong kosongnya --grafomania dalam ilmu bahasa dan ketiadaan kekangan diri dalam bahasa. Itu satu jenis --dan ada jenis lain-- bahasa secekak, 'sketsa dan adegan.' kebimbangan dan misantropi. Karangan macam itu kubaca tempo hari. Masih kusimpan. Ini dia. 'Hari muram macam kemarin. Hujan sejak pagi, lumpur salju. Aku menjenguk dari jendela dan melihat di jalanan. Barisan tawanan tak berujung. Luka-luka. Tembakan senapan. Menembak hari ini seperti kemarin, besok seperti sekarang dan tiap hari dan tiap jam.' Subtil dan berakal! Tapi mengapa menyalahkan bedil? Tak waras, kalau mengharap keragaman dari bedil? Mengapa tak dilihatnya diri sendiri, menembakkan segala kalimat yang sama, koma, daftar kejadian, hari demi hari, memegang teguh kebajikan kewartawanan berentet-rentet, secepat regu kutu yang meloncat-loncat? Mengapa tak masuk akalnya bahwa dialah yang mesti berhenti mengulangi diri --bukan bedil-- bahwa tak ada artinya menetes-neteskan omong kosong dari buku catatan bagaimanapun lamanya ia berbuat begitu; sebab fakta tak ada sebelum manusia menempatkannya dalam suatu segi kepribadiannya, dalam ukuran menurut semangat jiwa insaniahnya sendiri yang punya kemauan tertenu --menurut dongeng atau mitos."

"Kau benar semata-mata," sela Gordon. "Dan sekarang kututurkan pendapatku tentang peristiwa yang kita saksikan tadi. Kosak yang memperolok si datuk tua itu dan seribu satu peristiwa lain yang sejenis --tentulah tak usah dibikin teori tentangnya. Tak perlu dipikirkan, yang perlu hanyalah menampar muka seseorang. Tapi masalah Yahudi dalam keseluruhannya --nah jadi juga berfilsafat. Yang kututurkan ini bukannya barang baru --kita berdua mendapat gagasan dari pamanmu.

"Kau bilang tadi, apakah rakyar?... Dan siapa berbuat lebih banyak bagi rakyat, dia yang mengelus-elusnya atau dia lupa segala-galanya tentangnya, namun menghelanya pada keuniversalan serta kekesalan, berkat keindahan murni ama budinya? Nah tentu tak usah diperdebatkan lagi...

"Dan apakah sebetulnya bangsa-bangsa yang kita bicarakan ini sekarang, dalam jaman Kristus? Bukan hanya bangsa belaka, melainkan bangsa yang tersusun dari banyak perorangan yang telah berganti keyakinan, berobah. Yang penting tentang mereka ialah percobaan mereka, bukan kekuatan mereka kepada cara-cara kuno.

"Sekarang, apa yang disebut Evangeli tentangnya? Untuk mulai, Evangeli tak menetapkan undang-undang, jadi bukannya penentuan: "Ini begini dan ini begitu." Evangeli adalah tawaran percobaan yang naif : "Sudikah kamu hidup secara baru sama sekali? Sukakah kamu mencecap kebahagiaan rohaniah?" Dan tiap orang senang, semua menerima baik, semua terbawa olehnya beribu-ribu tahun lamanya..."

"Kalau Evangeli mengatakan bahwa di Kerajaan Tuhan tak ada Yahudi atau bukan Yahudi, adalah itu berarti bahwa semua manusia sederajat di pandangan Tuhan? Aku tak percaya bahwa itu saja artinya --itu sudah diketahui-- dikenal para filsuf Yunani, moralis Romawi dan Nabi-Nabi Hebrewa. Yang dituturkan oleh Evangeli ialah bahwa dalam hidup serta masyarakat baru yang lahir dari hati dan dinamakan Kerajaan Tuhan ini tak ada bangsa-bangsa, melainkan hanya orang-orang.

"Tadi kau katakan, fakta saja tak punya arti apa-apa --sebelum ada pengertian tertanam kedalamnya. Nah pengertian yang harus kau tanam dalam fakta-fakta itu agar mempunyai arti bagi insani hanya itulah; jiwa Krsiten, rahasia kepribadian...

"Lalu kita bicara tentang perlombaan kaum politikus yang sudah biasa --mereka tak memperhatikan penghidupan sebagai keseluruhan, orang-orang macam ini pikirannya tak terbatas dan mereka suka pembatasan hanya karena pembatasan belaka. Mereka senang seperti si Badut, kalau dapat menyuruh tiap orang berpikir dan bicara tentang kelompok yang dibatasi dengan rapi, kian terbatas, kian baik --suatu bangsa, terutama bangsa yang kecil, paling cocok lagi jika bangsa itu mengalami kesulitan hingga mereka bisa banyak mengadili dan menimbang dan mengatur dan memutuskan serta berbelas hati untuk membuat pembagian keuntungan. Nah, adakah contoh lebih tepat tentang korban-korban mentalitet ini selain bagsa Yahudi? Cara berpikir sebagai bangsa telah memaksa mereka dari abad ke abad untuk menjadi bangsa dan tak lebih daripada bangsa --dan yang luar biasa ialah mereka terbelengu oleh kewajiban yang mematikan ini selama berabad-abad itu, sedangkan dunia selebihnya dibebaskan daripadanya oleh kekuatan baru yang telah muncul dari tengah-tengah mereka sendiri! Luar biasa, bukan? Apa sebab musababnya menurut kau? Coba pikir! Pembebasan luhur dari keuga-harian, dari pencekikan hidup sehari-hari yang suram lagi menjemukan itu pertama-tama tercapai di bumi mereka, dinyatakan dalam bahasa mereka, menjadi milik bangsa mereka! Dan mereka sebenarnya menyaksikan dan mendengarnya, namun mereka lepaskan itu! Mengapa begitu? Mengapakah jiwa dengan daya dan keindahannya yang bukan kepalang itu mereka biarkan saja keluar, meninggalkan mereka terlantar bagaikan kulit kosong yang ditanggalkannya! Untuk kepentingan siapakah kesahidan yang sura rela ini? Siapa akan beruntung kalau jiwa itu tetap keluar, hingga segenap lelaki, perempuan tua tak bersalah ini, kanak-kanak dan seluruh bangsa yang pandai, baik budi, berperi-kemanusiaan ini harus senantiasa diolok-olok, dipukuli dari abad ke abad? Dan apa sebabnya semua sahabat 'rakyat' ini, semua pengarang yang menulis tentang masalah-masalah nasional, dari bangsa manapun mereka berasal, selalu tak berdaya-khayalan, tak berbakat? Apa sebabnya para pemimpin intelektuil bangsa Yahudi tak pernah melampaui Weltschmer yang penurut serta ironi? Apa sebabnya mereka, sekalipun harus meledak bagai ketel, akibat tekanan tugas mereka, tak membubarkan tentara ini yang senantiasa bertempur dan terbunuh besar-besaran, entah untuk apa? Apa sebabnya para pemimpn itu tidak berkata pada mereka : 'Cukup, berhentilah kini. Tak usah kaupegang teguh identikmu, jangan berkumpul berbondong-bondong, Berpencarlah. Jadilah seperti yang lain-lain. Kamu umat Kristen yang pertama dan yang terbaik di dunia. Kamu telah menjadi apa yang dilawan oleh yang paling buruk dan paling lemah antara kami."
***bersambung
*. Dahl adalah penyusun kamus baru Rusia yang menjadi klasik dan berisi antara lain daftar panjang tentang keanehan-keanehan ilmu bahasa.

ceritanet©listonpsiregar2000