cerpen Bendera
Pulung Ciptoaji

Sudah berapa lama, aku sudah lupa. Pada kekangan tali bendera untuk berkibar di angkasa. Entah, mungkin hitungan ketukan telah berubah tempo, sehingga tali tarikan semakin kencang, dipercepat. Ataukah bendera telah terlalu ringan karena terlalu sering tertiup angin. Beban masa telah berkurang sehingga semakin tipis melayang di udara. Bahkan mungkin saja tangkai bingkaian sudah berbeda ukuran, semakin pendek bahkan mengecil. Tergesa-gesa aku tarik tali untuk berkibar di udara di tengah upacara bendera sekolah anak-anak cacat.

Beberapa mata melotot dengan hitungan berbeda. Mata-mata yang memanfaatkan ketukan sebagai tarikan nyayian Indonesia Raya, sehingga pada saat tarikan semakin cepat, semakin cepat pula hitungan syair untuk menghentak tali dalam mengekang. Telah berubah irama, hitungan tersebut menjadi sajian musik rock masa kini. Artinya tidak nyerah ; mereka memliki cara sendiri memuja negara.

Aku belum bosan untuk mengulang dengan hitungan seperti degap jantung yang bergetar. Degub-degub. Kemudian semakin cepat ketika energi yang keluar semakin panas dengan gerak. Ide ini memaksa hitungan yang lain untuk semakin cepat. Dan semakin cepat. Upacara bendera telah berubah warna, sebagai pesta kemenangan, dalam wujud perumpamaan. Pura-puralah aku merdeka. Sebenarnya, bahwa ketakutan mengurung karena kesalahan mengibarkan bendera ke angkasa. Jika demikian, bagaimana jika tanpa upacara, hanya reaksi spontan bahwa bendera harus dikibarkan tanpa iringan irama-irama dalam wujud lagu perjuangan.

Hal itu tidak akan pernah hilang, tapi upaca hari ini telah terjadi kekeliruan. Samar samar lagu tersebut berubah pelan. Suara semakin menepi ke pinggir. Pada puncak akhir, irama tersebut tak terdengar sekalipun. Padahal tali belum pernah sampai ke puncak. Akankah aku harus menunggu irama dengan diulang untuk melanjutkan tarikan tali. Padahal hal tersebut belum pernah ada dalam peta sejarah, bahwa terdapat lagu yang diulang hanya gara-gara bendera belum dipuncak irama telah habis. Juga tidak pernah ada dalam peraturan bahwa jika irama terhenti, berhenti juga langkah untuk mengibarkan sang bendera. Akhirnya menjadi simbul rasa sedih, setengah tiang.

"Tarik saja talinya hingga mengudara ke angkasa," usul si juling dari kejahuan dengan rasa cemas.
"Lebih kencang lagi, hentakkan dengan ketukan yang kau buat sendiri," timpal si tuli.

Dengan kencang, aku ikatkan tali memutar pada telapak tangan. Kencang, satu demi satu lengan mengambil langkah sedepa. Tapi tetap saja, sang saka tidak mengudara ke angkasa. Masih setengah tiang. Padahal, iringan lagu-lagu telah usai bergema, dan tidak memungkinkan yang mendahului itu diulang lagi.

"Hai..., lebih kencang lagi. Jika perlu dengan tubuhmu sebagai beban," usul si pincang.
"Yaa..., sisi yang lain dikendorkan, sehingga satu arah yang menarik kencang," tambah si tuli dengan berbisik.

Bendera masih setengah tiang. Tidak perlu dipertimbangkan, apakah perlu keterlibatan yang benar untuk mengekang tali bendara. Segera, aku lebih mengekang kencang sang saka untuk mengudara ke angsasa. Masih tidak terpikirkan. Rasanya aneh, sang saka masih bertahan pada setengah tiang.

Lamat-lamat aku berfikir, akankah kejanggalan terletak pada pucuk tiang yang menghadap angkasa. Ada benda sangar merintang gerak tali yang membawa bendera ke udara. Tapi bukankah jauh sebelum upacara, segala telah dipersiapkan. Atau akankah angin yang berhembus amat terlalu kencang, sehingga kain bendera yang berkibar terlalu beban terbawa angin. Lebih baik tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak pernah tepat. Yang terpenting bagaimana sang saka berkirbar keangkasa. Bukankah ini sebagai tanggungjawab yang dibebankan pada pundak petugas bendera saja. Jika hanya beban tanggung jawab, artinya hanya seorang aku saja yang memutuskan jalan terbaik untuk segala bentuk cara berkibar ke angkasa.

Sekilas, aku melihat ujung tiang. Tidak berubah dan tidak menunjukkan tanda tanda kejanggalan. Sejenak pula aku perhatikan sisi lain yang menarik arah berlawanan tali. Tidak jauh berbeda, Si Pincang masih dengan posisi yang sama dengan lengannya. Posisi berlawanan langkah mengikuti arus tali. Selebihnya aku yang cemas karena tidak mengangkasa. Tampak dia lebih panik menunggu reaksi tali.

"Hai, cepat jangan kau kekang, posisikan melonggar tali-talimu," kataku berbisik.
"Yahh, sudah aku lakukan, tapi rasanya tali masih terlalu jauh untuk kamu kekang ke angkasa," berbalik Si Pincang menyuruhku mengekang lebih kencang.

Aku semakin heran, padahal sarung tangan telah semakin memudar dari warna putih. Mungkin menurunkan bercak yang berbeda dalam bentuk campuran warna keringat. Bahkan telapak tangan telah berubah warna menjadi kemerahan. Mungkin telah ada segumpal darah yang membeku karena tertekan.

Aku tak peduli dengan semuanya, yang terpenting telapak tangan masih tegar untuk mengibarkan sang saka ke udara. Bukankah bentuk rasa cinta terhadap sesuatu itu tidak berlebihan, bukankah hanya perlu membendung emosi saja. Bahwa sebenarnya secara naluri kita lebih mencintai sang saka merah putih ketimbang tumpah darahnya. Aku percaya itu. Kita lebih mencintai simbul-simbul kejayaan. Dalam bentuk titipan gambar, seperti burung garuda dan kain merah dan putih dipojok ruang. Sementara simbul yang lain sepasang pimpinan dan wakilnya menggabarkan tampang kemenangan. Bisa dipercayakah itu. Jarang juga, jika sisi lain ditemukan berbeda dalam wujud kecintaan negara dalam bentuk keiklasan. Seperti kecintaan untuk mengemban pundi-pundi kebenaran yang sesungguhnya. Bukankah itu lebih bermanfaat.

Seketika aku masih bingung, dengan langkah sedetik yang harus ditempuh. Hanya beberapa orang petugas upacara, sementara beratus mata menuju terjang ke arah sumber utama. Yaitu bendera. Sebenarnya upacara bendera seperti itu berupa bungkusan aksesoris saja. Sebagai wujud penghormatan terhadap kekuatan pahlawan. Bukan hanya itu. Bagiku yang terpenting untuk saat ini, bagaimana sang bendera berkibar penuh di pucuk tiang, menjulang ke angkasa.

"Rasanya semakin berat, aku kawatir talinya putus," kataku berbisik yang lain.
"Itu tanggung jawabmu, artinya cepat lakukan sesuatu," bisik si juling.

Segera aku berfikir tajam. Sementara tangan kanan masih terdapat pada posisi atas untuk menarik tali. Posisi tersebut paling kuat untuk mengekang sang pusaka. Aku harus berbuat sesuatu, sebelum tali kekang putus.

Tiba-tiba angin semilir menghembus memberi dorongan. Dia membentuk tangan-tangan yang kekar untuk menerjang sang bendera. Secepat kibaran angin, kain merah putih itu mengembara dengan bebunyian kencang. Dia membentuk tarian yang penuh pesona. Dia berkibar searah angin, tapi masih setengah tiang.

Tanganku semakin mengikuti irama. Jangan pernah bermimpi untuk melepas tali, meskipun dia semakin berat karena kibaran angin. Jelang langkah, mungkin angin lewat sekilas tadi telah meninggalkan jejak langkah tepat di kain-kain bendera. Meskipun jejak langkah tersebut sangat kasat oleh mata, tapi aku yakin sangat jelas jika diteropong pada setiap pori-porinya. Dia bakal membentuk lingkaran-lingkaran dalam bentuk peta-peta.

Pengelompokkan berdasarkan jejak-jejak yang tertinggal. Terdapat peta virus influensa yang bentuk sperma dalam peta. Terdapat bakteri jamur yang memungkinkan akan lebih berkembang dalam bentuk spiral. Hai.., paling pojok tampak angin itu meninggalkan jejak berair. Pasti, jejak tersebut sisa penguburan mayat korban bencana. Yang terakhir, jejak lain membentuk lubang warna hitam. Aromanya sangat peka dengan sisa api pembakaran. Bukankah itu berasal dari abu yang bertebaran sisa rumah-rumah kosong yang ditinggal mengungsi yang terbakar.

Aku tak peduli itu. Yang terpenting saat ini, sang saka harus berkibar ke angkasa. Dalam bentuk apapun. Terlepas cara yang aku pergunakan, mengekang lebih kencang ataukah memanjat tiang. Yahhhh. Memanjat tiang, ide cemerlang.

"Aku harus memanjatnya," kataku berbisik lagi.
"Itu gila, dan tidak lazim dalam upacara bendera," bisik si pincang.
"Bukan masalah, yang tak lazim atau tidak. Harus dibiasakan menjadi terobosan jika keadaan yang sulit menjadi payungnya," bisik si buta.

Benar, yang tak lazim memang perlu menjadi terobosan. Asal harus dengan catatan terbatas, dengan tidak memangsa kemauan yang lain. Sesuatu yang tak lazim akan menjadi pedoman sebagai jalan ketiga. Jalan penengah yang paling konkrit.

"Cepat lakukan, biar aku ambil alih untuk mengekang talinya," bisik si bibir sumbing semangat.
"Yaa, cepat lakukan, aku ingin mendengar sang saka itu berkibar dengan suara kepaknya di angkasa," bisik si buta.

Segera, aku pindahkan tali kekangan pada si bibir sumbing. Cepat aku mengambil posisi memanjat tiang. Dengan pelan dan pasti, aku tatap ujung tiang yang gagah di angkasa. Sementara mataku pelan-pelan menyorot semakin ke bawah ke arah sang saka yang tidak bergerak-gerak untuk mengudara, masih setengah tiang. Sosok lain tali yang menjadi pusat kendali yang mungkin terdapat kekeliruan dalam pengekangan. Atau ancaman tali yang sudah mulai aus yang mestinya harus diganti. Yahh. Tepat langkahku jika harus memanjat tiang untuk megibarkan sang saka ke udara.

"Coba perhatikan dulu, kira-kira mana yang menjadi penghambat. Talinyakah, ataukah bentuk lain yang meski lebih dulu kamu singkirkan," bisik si tengeng.
"Tidak perlu, yang terpenting kamu memanjat dulu. Lalu perhatikan dan bagian mana yang mestinya kau perbaiki," bisik si pincang.
"Jangan diperbaiki, yang terpenting kau memanjat, kemudian ambil kain bendera dan ikat dan kibarkan di ujung tiang," timpal si tangan buntung.
"Asal sajalah, yang terpenting aku ingin mendengar sang saka di udara," suruh si buta.
"Aku semakin bingung dengan sisi mana yang patut didahulukan, dibetulkan talinya, atau dikibarkan sang saka dengan di ikat pada tiang," kataku dengan berbisik.
"Segera kau lakuan sajalah mengibarkan sang bedera," bentak si tengeng dengan menekan suaranya.
"Tapi harus dipilih, sisi mana yang didahulukan" kataku spontan.
"Gampang kamu betulkan tali, lalu turun. Kibarkan lagi dalam bentuk dikekang dari bawah oleh tangan seperti biasanya. Dalam bentuk upacara seremonial," usul si tuli.
"Hai.., itu tidak penting bukankah semua mata telah menunggu sang saka untuk berkibar," si buntung berargumen.
"Yang terpenting, kau ke atas. Kemudian kau ambil sang bendera dengan segera. Kemudian ikat di pucuk tiang," si juling memberi saran.

Aku diam, bingung rasanya sudut mana yag segera aku dilakukan. Dalam perhitungan, jika sang tali di betulkan dalam bentuk perbaikan kemudian aku memulai lagi dalam mengekang tali hingga pucuk tiang dengan tangan. Rasanya semakin rumit. Itupun jika yang rusak degan penuh beban itu
adalah tali. Nah, bagaimana yang rusak pada sudut lain, misalnya pada roda di puncak tiang. Sudah barang tentu aku harus berbuat sesuatu yang cerdas. Mungkin sang bendera aku tarik dari pucuk tiang, kemudian aku ikat dengan paksa ke udara. Jelas tidak mungkn jika roda tiang di betulkan. Perlu waktu. Mungkin selepas upacara bendera dengan bentuk tiang dirobohkan. Atau mungkin dengan tangga yang setinggi tiang. Aku semakin bingung, sudut mana yang perlu disiapkan.

"Aku memulai dari memanjat sajalah," kataku berbisik.
"Jangan dulu, amati dari bawah sisi mana yang rusak," bisik si botak.
"Yah.., jangan memanjat dulu, harus dipilih sisi yang mana yang rusak, kemudian itu yang harus kau betulkan ketika di atas nanti," usul si pucat.
"Aku tidak sepakat, jika kamu tidak langsung memanjat, bagaimana kamu tahu sisi yang rusak. Sementara kau berada di bawah dengan berbeda jarak dari sudut pengamatan dengan sisi yang rusak," si tongos berargumen.
"Yah.., kau harus segera memanjat. Tidak perlu ada perbaikan sisi yang rusak. Sekarang harus cepat ialah sang saka berkibar ke angkasa, entah bagaimana caramu bekerja. Kamu ikat dipucuk tiang, itu lebih bagus," kembali si buta usul konkrit.
"Cepat, kamu harus melakukan sesuatu. Aku melihat peserta upacara mulai gelisah," kata si juling lantang.

Aku semakin bingung, belahan sisi mana yang harus di dahulukan. Sementara sang saka masih setengah berkibar diangkasa. Akankah tiang dulu yang perlu dirobohkan, kemudian aku cari sisi tiang yang roboh untuk mendapatkan bentuk yang telah rusak itu. Ataukah cukup mengamati dari sisi bawah
dengan bagian mana yang rusak. Ataukah aku dengan memanjat tiang kemudian dengan segera aku menikmati prores mencari sisi yang rusak untuk diperbaiki. Ataukah aku harus memanjat dengan segera, menarik tali dengan mengikat sang saka di pucuk tiang. Aku semakin bingung dengan pilihan-pilihan. Sebenarnya, beban tanggung jawab siapakah yang mengibarkan sang saka ke udara. Milikku? Ataukah milik semua peserta upacara bendera dalam wujud seremonial?

Terpana aku untuk mengamati pucuk tiang. Rasanya sangat jauh dari jangkauan. Aku tak peduli dengan jarak itu, yang terpenting sang saka harus berkibar di angkasa. Bagaimana dengan iring-iringan dalam bentuk nyanyian lagu pujian. Bukankah lagu itu telah selesai jauh ketika bendera telah berada di tengah tiang. Atau mungkin benar adanya. Lagu itulah yang menyebabkan bendera tidak bersedia mengudara di angkasa. Mungkin dia merasa tidak afdol. Dan ngambek karena tanpa iringan. Sangat tidak lazim, mengibarkan bendera tanpa iringan lagu. Meskipun dalam bentuk keprihatinanpun, perlu ada iringan nyanyian. Matinya pahlawanpun juga diselingi dengan nyanyian. Entah apapun bentuknya, dari pada keheningan yang menjadi iringan-iringan, yang penting ada suara. Bukankah bendera juga bernyawa yang punya hobi menari ketika ditiup angin. Yah.. mungkin dia butuh bunyi-buyian. Dia butuh iringan. Bahkan pujian.
***
17 agustus 2002

ceritanet©listonpsiregar2000