Sudah berapa lama,
aku sudah lupa. Pada kekangan tali bendera untuk berkibar di angkasa.
Entah, mungkin hitungan ketukan telah berubah tempo, sehingga tali
tarikan semakin kencang, dipercepat. Ataukah bendera telah terlalu
ringan karena terlalu sering tertiup angin. Beban masa telah berkurang
sehingga semakin tipis melayang di udara. Bahkan mungkin saja tangkai
bingkaian sudah berbeda ukuran, semakin pendek bahkan mengecil. Tergesa-gesa
aku tarik tali untuk berkibar di udara di tengah upacara bendera sekolah
anak-anak cacat.
Beberapa mata melotot
dengan hitungan berbeda. Mata-mata yang memanfaatkan ketukan sebagai
tarikan nyayian Indonesia Raya, sehingga pada saat tarikan semakin
cepat, semakin cepat pula hitungan syair untuk menghentak tali dalam
mengekang. Telah berubah irama, hitungan tersebut menjadi sajian musik
rock masa kini. Artinya tidak nyerah ; mereka memliki cara sendiri
memuja negara.
Aku belum bosan untuk
mengulang dengan hitungan seperti degap jantung yang bergetar. Degub-degub.
Kemudian semakin cepat ketika energi yang keluar semakin panas dengan
gerak. Ide ini memaksa hitungan yang lain untuk semakin cepat. Dan
semakin cepat. Upacara bendera telah berubah warna, sebagai pesta
kemenangan, dalam wujud perumpamaan. Pura-puralah aku merdeka. Sebenarnya,
bahwa ketakutan mengurung karena kesalahan mengibarkan bendera ke
angkasa. Jika demikian, bagaimana jika tanpa upacara, hanya reaksi
spontan bahwa bendera harus dikibarkan tanpa iringan irama-irama dalam
wujud lagu perjuangan.
Hal itu tidak akan
pernah hilang, tapi upaca hari ini telah terjadi kekeliruan. Samar
samar lagu tersebut berubah pelan. Suara semakin menepi ke pinggir.
Pada puncak akhir, irama tersebut tak terdengar sekalipun. Padahal
tali belum pernah sampai ke puncak. Akankah aku harus menunggu irama
dengan diulang untuk melanjutkan tarikan tali. Padahal hal tersebut
belum pernah ada dalam peta sejarah, bahwa terdapat lagu yang diulang
hanya gara-gara bendera belum dipuncak irama telah habis. Juga tidak
pernah ada dalam peraturan bahwa jika irama terhenti, berhenti juga
langkah untuk mengibarkan sang bendera. Akhirnya menjadi simbul rasa
sedih, setengah tiang.
"Tarik saja talinya hingga
mengudara ke angkasa," usul si juling dari kejahuan dengan rasa
cemas.
"Lebih kencang lagi,
hentakkan dengan ketukan yang kau buat sendiri," timpal si tuli.
Dengan kencang, aku
ikatkan tali memutar pada telapak tangan. Kencang, satu demi satu
lengan mengambil langkah sedepa. Tapi tetap saja, sang saka tidak
mengudara ke angkasa. Masih setengah tiang. Padahal, iringan lagu-lagu
telah usai bergema, dan tidak memungkinkan yang mendahului itu diulang
lagi.
"Hai..., lebih kencang lagi.
Jika perlu dengan tubuhmu sebagai beban," usul si pincang.
"Yaa..., sisi yang
lain dikendorkan, sehingga satu arah yang menarik kencang," tambah
si tuli dengan berbisik.
Bendera masih setengah
tiang. Tidak perlu dipertimbangkan, apakah perlu keterlibatan yang
benar untuk mengekang tali bendara. Segera, aku lebih mengekang kencang
sang saka untuk mengudara ke angsasa. Masih tidak terpikirkan. Rasanya
aneh, sang saka masih bertahan pada setengah tiang.
Lamat-lamat aku berfikir,
akankah kejanggalan terletak pada pucuk tiang yang menghadap angkasa.
Ada benda sangar merintang gerak tali yang membawa bendera ke udara.
Tapi bukankah jauh sebelum upacara, segala telah dipersiapkan. Atau
akankah angin yang berhembus amat terlalu kencang, sehingga kain bendera
yang berkibar terlalu beban terbawa angin. Lebih baik tidak perlu
memikirkan sesuatu yang tidak pernah tepat. Yang terpenting bagaimana
sang saka berkirbar keangkasa. Bukankah ini sebagai tanggungjawab
yang dibebankan pada pundak petugas bendera saja. Jika hanya beban
tanggung jawab, artinya hanya seorang aku saja yang memutuskan jalan
terbaik untuk segala bentuk cara berkibar ke angkasa.
Sekilas, aku melihat
ujung tiang. Tidak berubah dan tidak menunjukkan tanda tanda kejanggalan.
Sejenak pula aku perhatikan sisi lain yang menarik arah berlawanan
tali. Tidak jauh berbeda, Si Pincang masih dengan posisi yang sama
dengan lengannya. Posisi berlawanan langkah mengikuti arus tali. Selebihnya
aku yang cemas karena tidak mengangkasa. Tampak dia lebih panik menunggu
reaksi tali.
"Hai, cepat jangan kau kekang,
posisikan melonggar tali-talimu," kataku berbisik.
"Yahh, sudah aku lakukan,
tapi rasanya tali masih terlalu jauh untuk kamu kekang ke angkasa,"
berbalik Si Pincang menyuruhku mengekang lebih kencang.
Aku semakin heran,
padahal sarung tangan telah semakin memudar dari warna putih. Mungkin
menurunkan bercak yang berbeda dalam bentuk campuran warna keringat.
Bahkan telapak tangan telah berubah warna menjadi kemerahan. Mungkin
telah ada segumpal darah yang membeku karena tertekan.
Aku tak peduli dengan
semuanya, yang terpenting telapak tangan masih tegar untuk mengibarkan
sang saka ke udara. Bukankah bentuk rasa cinta terhadap sesuatu itu
tidak berlebihan, bukankah hanya perlu membendung emosi saja. Bahwa
sebenarnya secara naluri kita lebih mencintai sang saka merah putih
ketimbang tumpah darahnya. Aku percaya itu. Kita lebih mencintai simbul-simbul
kejayaan. Dalam bentuk titipan gambar, seperti burung garuda dan kain
merah dan putih dipojok ruang. Sementara simbul yang lain sepasang
pimpinan dan wakilnya menggabarkan tampang kemenangan. Bisa dipercayakah
itu. Jarang juga, jika sisi lain ditemukan berbeda dalam wujud kecintaan
negara dalam bentuk keiklasan. Seperti kecintaan untuk mengemban pundi-pundi
kebenaran yang sesungguhnya. Bukankah itu lebih bermanfaat.
Seketika aku masih
bingung, dengan langkah sedetik yang harus ditempuh. Hanya beberapa
orang petugas upacara, sementara beratus mata menuju terjang ke arah
sumber utama. Yaitu bendera. Sebenarnya upacara bendera seperti itu
berupa bungkusan aksesoris saja. Sebagai wujud penghormatan terhadap
kekuatan pahlawan. Bukan hanya itu. Bagiku yang terpenting untuk saat
ini, bagaimana sang bendera berkibar penuh di pucuk tiang, menjulang
ke angkasa.
"Rasanya semakin berat, aku
kawatir talinya putus," kataku berbisik yang lain.
"Itu tanggung jawabmu,
artinya cepat lakukan sesuatu," bisik si juling.
Segera aku berfikir
tajam. Sementara tangan kanan masih terdapat pada posisi atas untuk
menarik tali. Posisi tersebut paling kuat untuk mengekang sang pusaka.
Aku harus berbuat sesuatu, sebelum tali kekang putus.
Tiba-tiba angin semilir
menghembus memberi dorongan. Dia membentuk tangan-tangan yang kekar
untuk menerjang sang bendera. Secepat kibaran angin, kain merah putih
itu mengembara dengan bebunyian kencang. Dia membentuk tarian yang
penuh pesona. Dia berkibar searah angin, tapi masih setengah tiang.
Tanganku semakin
mengikuti irama. Jangan pernah bermimpi untuk melepas tali, meskipun
dia semakin berat karena kibaran angin. Jelang langkah, mungkin angin
lewat sekilas tadi telah meninggalkan jejak langkah tepat di kain-kain
bendera. Meskipun jejak langkah tersebut sangat kasat oleh mata, tapi
aku yakin sangat jelas jika diteropong pada setiap pori-porinya. Dia
bakal membentuk lingkaran-lingkaran dalam bentuk peta-peta.
Pengelompokkan berdasarkan
jejak-jejak yang tertinggal. Terdapat peta virus influensa yang bentuk
sperma dalam peta. Terdapat bakteri jamur yang memungkinkan akan lebih
berkembang dalam bentuk spiral. Hai.., paling pojok tampak angin itu
meninggalkan jejak berair. Pasti, jejak tersebut sisa penguburan mayat
korban bencana. Yang terakhir, jejak lain membentuk lubang warna hitam.
Aromanya sangat peka dengan sisa api pembakaran. Bukankah itu berasal
dari abu yang bertebaran sisa rumah-rumah kosong yang ditinggal mengungsi
yang terbakar.
Aku tak peduli itu.
Yang terpenting saat ini, sang saka harus berkibar ke angkasa. Dalam
bentuk apapun. Terlepas cara yang aku pergunakan, mengekang lebih
kencang ataukah memanjat tiang. Yahhhh. Memanjat tiang, ide cemerlang.
"Aku harus memanjatnya,"
kataku berbisik lagi.
"Itu gila, dan tidak
lazim dalam upacara bendera," bisik si pincang.
"Bukan masalah, yang
tak lazim atau tidak. Harus dibiasakan menjadi terobosan jika keadaan
yang sulit menjadi payungnya," bisik si buta.
Benar, yang tak lazim
memang perlu menjadi terobosan. Asal harus dengan catatan terbatas,
dengan tidak memangsa kemauan yang lain. Sesuatu yang tak lazim akan
menjadi pedoman sebagai jalan ketiga. Jalan penengah yang paling konkrit.
"Cepat lakukan, biar aku
ambil alih untuk mengekang talinya," bisik si bibir sumbing semangat.
"Yaa, cepat lakukan,
aku ingin mendengar sang saka itu berkibar dengan suara kepaknya di
angkasa," bisik si buta.
Segera, aku pindahkan
tali kekangan pada si bibir sumbing. Cepat aku mengambil posisi memanjat
tiang. Dengan pelan dan pasti, aku tatap ujung tiang yang gagah di
angkasa. Sementara mataku pelan-pelan menyorot semakin ke bawah ke
arah sang saka yang tidak bergerak-gerak untuk mengudara, masih setengah
tiang. Sosok lain tali yang menjadi pusat kendali yang mungkin terdapat
kekeliruan dalam pengekangan. Atau ancaman tali yang sudah mulai aus
yang mestinya harus diganti. Yahh. Tepat langkahku jika harus memanjat
tiang untuk megibarkan sang saka ke udara.
"Coba perhatikan dulu, kira-kira
mana yang menjadi penghambat. Talinyakah, ataukah bentuk lain yang
meski lebih dulu kamu singkirkan," bisik si tengeng.
"Tidak perlu, yang
terpenting kamu memanjat dulu. Lalu perhatikan dan bagian mana yang
mestinya kau perbaiki," bisik si pincang.
"Jangan diperbaiki,
yang terpenting kau memanjat, kemudian ambil kain bendera dan ikat
dan kibarkan di ujung tiang," timpal si tangan buntung.
"Asal sajalah, yang
terpenting aku ingin mendengar sang saka di udara," suruh si
buta.
"Aku semakin bingung
dengan sisi mana yang patut didahulukan, dibetulkan talinya, atau
dikibarkan sang saka dengan di ikat pada tiang," kataku dengan
berbisik.
"Segera kau lakuan
sajalah mengibarkan sang bedera," bentak si tengeng dengan menekan
suaranya.
"Tapi harus dipilih,
sisi mana yang didahulukan" kataku spontan.
"Gampang kamu betulkan
tali, lalu turun. Kibarkan lagi dalam bentuk dikekang dari bawah oleh
tangan seperti biasanya. Dalam bentuk upacara seremonial," usul
si tuli.
"Hai.., itu tidak penting
bukankah semua mata telah menunggu sang saka untuk berkibar,"
si buntung berargumen.
"Yang terpenting, kau
ke atas. Kemudian kau ambil sang bendera dengan segera. Kemudian ikat
di pucuk tiang," si juling memberi saran.
Aku diam, bingung
rasanya sudut mana yag segera aku dilakukan. Dalam perhitungan, jika
sang tali di betulkan dalam bentuk perbaikan kemudian aku memulai
lagi dalam mengekang tali hingga pucuk tiang dengan tangan. Rasanya
semakin rumit. Itupun jika yang rusak degan penuh beban itu
adalah tali. Nah, bagaimana yang rusak pada sudut lain, misalnya pada
roda di puncak tiang. Sudah barang tentu aku harus berbuat sesuatu
yang cerdas. Mungkin sang bendera aku tarik dari pucuk tiang, kemudian
aku ikat dengan paksa ke udara. Jelas tidak mungkn jika roda tiang
di betulkan. Perlu waktu. Mungkin selepas upacara bendera dengan bentuk
tiang dirobohkan. Atau mungkin dengan tangga yang setinggi tiang.
Aku semakin bingung, sudut mana yang perlu disiapkan.
"Aku memulai dari memanjat
sajalah," kataku berbisik.
"Jangan dulu, amati
dari bawah sisi mana yang rusak," bisik si botak.
"Yah.., jangan memanjat
dulu, harus dipilih sisi yang mana yang rusak, kemudian itu yang harus
kau betulkan ketika di atas nanti," usul si pucat.
"Aku tidak sepakat,
jika kamu tidak langsung memanjat, bagaimana kamu tahu sisi yang rusak.
Sementara kau berada di bawah dengan berbeda jarak dari sudut pengamatan
dengan sisi yang rusak," si tongos berargumen.
"Yah.., kau harus segera
memanjat. Tidak perlu ada perbaikan sisi yang rusak. Sekarang harus
cepat ialah sang saka berkibar ke angkasa, entah bagaimana caramu
bekerja. Kamu ikat dipucuk tiang, itu lebih bagus," kembali si
buta usul konkrit.
"Cepat, kamu harus
melakukan sesuatu. Aku melihat peserta upacara mulai gelisah,"
kata si juling lantang.
Aku semakin bingung,
belahan sisi mana yang harus di dahulukan. Sementara sang saka masih
setengah berkibar diangkasa. Akankah tiang dulu yang perlu dirobohkan,
kemudian aku cari sisi tiang yang roboh untuk mendapatkan bentuk yang
telah rusak itu. Ataukah cukup mengamati dari sisi bawah
dengan bagian mana yang rusak. Ataukah aku dengan memanjat tiang kemudian
dengan segera aku menikmati prores mencari sisi yang rusak untuk diperbaiki.
Ataukah aku harus memanjat dengan segera, menarik tali dengan mengikat
sang saka di pucuk tiang. Aku semakin bingung dengan pilihan-pilihan.
Sebenarnya, beban tanggung jawab siapakah yang mengibarkan sang saka
ke udara. Milikku? Ataukah milik semua peserta upacara bendera dalam
wujud seremonial?
Terpana aku untuk
mengamati pucuk tiang. Rasanya sangat jauh dari jangkauan. Aku tak
peduli dengan jarak itu, yang terpenting sang saka harus berkibar
di angkasa. Bagaimana dengan iring-iringan dalam bentuk nyanyian lagu
pujian. Bukankah lagu itu telah selesai jauh ketika bendera telah
berada di tengah tiang. Atau mungkin benar adanya. Lagu itulah yang
menyebabkan bendera tidak bersedia mengudara di angkasa. Mungkin dia
merasa tidak afdol. Dan ngambek karena tanpa iringan. Sangat tidak
lazim, mengibarkan bendera tanpa iringan lagu. Meskipun dalam bentuk
keprihatinanpun, perlu ada iringan nyanyian. Matinya pahlawanpun juga
diselingi dengan nyanyian. Entah apapun bentuknya, dari pada keheningan
yang menjadi iringan-iringan, yang penting ada suara. Bukankah bendera
juga bernyawa yang punya hobi menari ketika ditiup angin. Yah.. mungkin
dia butuh bunyi-buyian. Dia butuh iringan. Bahkan pujian.
***
17 agustus 2002
ceritanet©listonpsiregar2000