laporan Teman-teman Kuta, Sebelum Bom
Sanie B. Kuncoro

Hari Minggu, hanya beberapa jam sesudah musibah Bali 1210, saya menerima banyak telepon dari teman-teman. Semua menyatakan penyesalan atas musibah itu, sebagian besar di antaranya mensyukuri kepindahan saya dari Bali setahun lalu.

Mengapa mereka merasa perlu menyatakan penyesalan itu pada saya ?

Saya bukan orang Bali, tapi tahun lalu saya memang bekerja dan tinggal di Bali, di Kuta Square, sekitar setengah tahun. Mungkin itu yang membuat teman-teman merasa saya adalah orang yang tepat untuk diajak berbicara tentang musibah itu; untuk berbagi kesedihan.

Memang saya sedih, tapi mereka juga merasakan duka yang sama, dan begitu juga banyak orang lainnya, tanpa harus pernah tinggal di Bali. Tragedi kemanusiaan adalah duka bersama banyak orang, dan Bali sepertinya juga milik banyak orang -begitulah kesadaran pengalaman saya selama bekerja di Kuta Square.

Waktu itu saya saya bekerja di sebuah Art Shop di Kuta Square. Pekerjaan yang sesungguhnya sangat menarik bagi saya, meskipun kemudian saya terpaksa memilih untuk meninggalkannya.

Bekerja di Kuta, sebagai salah satu tujuan utama wisata Bali, membuat saya bisa bertemu berbagai ragam manusia. Multi ras, multi sosial, multi dimensi. Banyak di antaranya menjadi teman kilat, meski hanya sesaat tapi ada rasa yang tertinggal.

Sebagai seorang yang tidak suka basa-basi, maka saya tidak pernah menggunakan sapaan standar untuk menyapa tamu : " Ada yang bisa saya bantu ?" atau " Mencari apa ?". Sapaan pembuka saya tidak ada standar. Terserah mood saja, atau tergantung dari apa yang ingin saya ketahui tentang tamu itu. Jadi saya bisa bertanya tentang apa saja, nyaris tanpa batas.

Jadi saya sama sekali tidak merasa aneh bertanya tentang usia kehamilan, atau bahkan tinggi badan karena ada orang yang 'menjulang' tinggi. Model sapaan ini, jika dikaitkan dengan teknik penjualan memang sangat tidak memenuhi syarat. Strategi penjualan umumnya langsung mengarahkan konsumen pada barang yang ditawarkan, sementara saya justru memecah konsentrasi tamu dari barang-barang yang ditawarkan dan lebih menyibukkan mereka dengan obrolan.

Tapi apakah itu salah? Entahlah. Lagipula apa peduli saya? Saya bukan tipe penjual ambisius. Target penjualan bukan sesuatu hal yang berpengaruh besar pada pola kerja saya. Saya lebih banyak didomniasi oleh obsesi untuk berkunjung ke berbagai belahan dunia sehingga saya lebih cenderung ingin tahu tentang mereka dari berbagai belahan dunia itu.

Kenyataanya sapaan saya ini biasanya justru mengalirkan pembicaraan panjang yang membuat para tamu bertahan lama di toko. Meskipun tidak selalu efektif untuk menjadikan mereka sebagai pembelanja yang potensial, namun persentase keberhasilannya lebih besar -dengan standard saya. Banyak yang berkali-kali berkunjung kembali ke toko. Memang tidak selalu untuk berbelanja, bisa saja sekedar pinjam toilet, titip barang, tanya jalan atau sekedar ngobrol sembari menunggu sunset.

Ssaya pun punya kesempatan lebih besar untuk mencoba mengenal karakter mereka, dan ternyata memang ada juga yang disebut sebagai potret umum bangsa dengan karakteristik masing-masing.

Tturis Spanyol cenderung pelit. Ngotot keras untuk menawar meskipun sudah dibilang fix price shop. Apalagi bahasa Inggris mereka itu biasanya parah sehingga perdebatan sering terjadi dalam dua bahasa yang berbeda. Kalau sudah mentok biasanya saya nyelutuk saja pakai Jawa Ngoko. Sekalian saja parah.

Favorit kami turis Jepang. Meskipun tidak bisa bahasa Inggris, mereka tipe turis yang sungkan tapi santun. Dengan bahasa isyarat mereka suka berbelanja dalam jumlah besar tanpa minta diskon. Uniknya, kalau berbelanja untuk oleh-oleh mereka selalu membeli barang yang sama dalam jumlah besar. Misalnya sumpit 100 pasang atau puluhan book mark. Kalau jumlah yang mereka inginkan tidak mencukupi, pasti batal dan berganti pilihan. Rupanya mereka tipe yang adil, sama untuk semua atau tidak sama sekali.

Turis Eropa biasanya lebih pendiam tapi ramah. Kalau kita puji sesuatu tentang negaranya, mereka sangat apresiatif dan cerita mengalir panjang. Lucunya, bagi orang Inggris kalau dikatakan London sebagai tempat yang amat mahal, mereka pun sangat antusias untuk setuju dan langsunglah keluar keluhan panjang pendek.

Lain lagi orang India. Mereka bisa dibedakan antara India perantauan dan India asli dari sononya. India perantauan cenderung rendah hati dan apresiatif, sementara India asli sangat pemilih dan cenderung menuntut pelayanan maksimal. Tapi ada kesamaan juga; kebanggaan mereka langsung terlihat kalau saya ceritakan bahwa pemilik kerajaan sinetron di Indonesia adalah orang India.

Turis Taiwan sangat friendly. Cuma disapa 'ni hau ma?' saja mereka bisa langsung ngomong panjang. Akibatnya saya mesti menafsir dengan ilmu kira-kira, sebab pengetahuan bahasa Mandarin saya cuma seputar angka dan kalimat-kalimat simple macam 'cao an' dan 'ni hau ma ' tadi.
Kalau saja saya masih di Bali, tentu makin banyak bahan obrolan saya dengan mereka.

Turis Australia? Wah, mereka adalah tipe turis yang tampak amat familiar. Mereka sepertinya menganggap dirinya bukan orang asing dan seperti berada di rumah sendiri, atau sebagai kawan yang sedang berkunjung ke rumah sebelah. Rasanya sulit menemukan turis Australia yang baru pertama kali berkunjung ke Bali. Umumnya mereka sudah berkali-kali datang, termasuk anak-anak.

Setiap hari tamu datang dan pergi. Ada yang sekedar lewat, ada yang berbelanja, dan ada yang sekedar ngobrol sambil lalu. Beberapa di antaranya menjadi teman-teman instan saya.

Suatu kali pernah terjadi, sepasang suami istri datang berkunjung. Sang istri asyik memilih barang tanpa peduli suaminya tampak sekali sangat jemu. Bahkan secara demonstratif suami itu sengaja berdiri menunggu di depan pintu. Isyarat yang sangat jelas, tapi sayangnya koleksi cendera mata di toko kami memang sangat menarik sehingga sulit untuk dilewatkan.

Tanggap atas hal itu, saya lalu menyodorkan kursi dan menyapa ala kadarnya. Saya tidak terlalu ingat apa yang kami bicarakan saat itu, yang saya ingat beberapa saat kemudian istrinya datang dan mengutarakan keheranannya karena baru sekali ini ia tidak melihat kemarahan suaminya atas kegiatan belanjanya. Astaga, jadi aksi demonstratif di depan pintu tadi sama sekali tidak diketahuinya.

Esok harinya mereka datang lagi. Tapi rupanya sang suami cuma mau numpang duduk dan ngobrol, sementara sang istri kesempatan berlanjut dengan wisata belanjanya. Wah.

Pernah juga seorang wantita paruh baya, bule dari Afrika Selatan yang berbelanja begitu banyak sehingga kami memerlukan kotak besar ukuran 1x1x1 meter untuk membungkusnya. Sementara menunggu pembungkusan, dia bertanya apa pendapat saya. Tentu saja saya katakan bahwa saya senang bertemu dengan top buyer macam dia, hanya saja : " How about your husband ? I am afraid he will kill you."

Komentar saya asal saja. Tak disangka perempuan itu langsung tergelak, tawanya meledak keras. Rupanya dia suka dengan komentar saya ; "sangat tepat," katanya.

Sore harinya sesudah sunset dia datang lagi. Kali ini tidak sendirian, melainkan serombongan ; suami dengan satu anak kandung dan dua anak tiri. Rupanya mereka pengantin baru, janda ketemu duda dan berbulan madu dengan anggota keluarga baru di Bali.

Lama sesudah saya meninggalkan Bali Bali, saya masih beberapa kali bila bertemu dengan mantan bos pemilik art shop di Kuta Square itu. Dia selalu bercerita tentang tamu-tamu yang bertanya tentang saya. Mereka tentulah turis yang berasal dari Australia, Singapore atau wisatawan domestik dari Surabaya dan Jakarta. Tipe orang-orang yang secara geografis memungkinkan untuk wira-wiri ke Bali.

Saya tidak selalu ingat 'yang mana' mereka yang bertanya itu. Begitu banyak orang datang dan pergi setiap hari. Meski banyak di antaranya yang mengesankan, namun ruang memori terbatas dan, harus diakui, mereka terbatas sebagai teman-teman instan.

Yang selalu terkenang adalah wajah-wajah tanpa beban, sukacita, menikmati hidup, dan selalu ingin kembali lagi ke Bali. Turis-turis yang di hari terakhir liburannya selalu, dengan antusias, mengatakan;" I 'll be back !"

Dan saya ingat, saya selalu terharu dengan salam perpisahan itu. Terharu oleh harapannya. Harapan untuk mengulang hari-hari indah dan harapan untuk bertemu dengan Bali dan segala suasana eksotisnya.

Tapi sesudah tragedi 1210 itu, masih bisakah memiliki harapan-harapan itu? Ataukah harus menjadikan Bali sebagai kenangan belaka? Ingin sekali saya bertemu mereka lagi, walau hanya untuk satu pesan ; "Jangan biarkan terorisme menang."
***

ceritanet©listonpsiregar2000