cerpen Tarian Jenazah
Arie MP Tamba
Perjalanan ini pastilah menuju negeri mati. Dingin di sekitar. Bangku-bangku banyak yang kosong. Penerbangan terakhir ini berangkat terlalu malam. Dari lapangan terbang tadi yang tergambar adalah pemandangan menjelang tidur. Kabarnya, karena sejak sore cuaca sangat buruk, beberapa penumpang telah menunda penerbangan mereka untuk esok pagi. Tinggal aku dan beberapa orang tua, yang agaknya mendesak untuk tiba di kota tujuan malam ini juga. Tapi, kekosongan yang kualami tak berlangsung lama. Udara dingin memang masih menusuk sampai tulang. Namun mataku sudah berkejap-kejap hangat menerima ramainya sorotan cahaya. Lalu telingaku juga mendengar suara gendang bertalu-talu, ramai sekali.
selengkapnya

laporan Sepuluh Keping Hidup Iran
Liston P. Siregar
Sedikitnya ada tiga hal yang --menurut saya-- mungkin bisa ditawarkan oleh Sepuluh, film terbaru Abbas Kiarostami. Yang pertama adalah penegasan kembali bahwa film Iran sudah masuk dalam jaringan film internasional non-Holywood. Sepuluh --walau film ini sebenarnya tidak berjudul-- diputar di ICA London selama satu bulan lebih --mulai akhir Oktober hingga akhir November-- dan pada hari yang ke 28 di suatu hari kerja, sepertiga kursi di bioskop utama ICA dipusat kota London masih saja tetap terisi.
selengkapnya

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Tibalah kampus --tempat kegiatan dilangsungkan, sekitar pukul sembilan malam. Aku memarkir motor yang panas. Dibawah pohon sonokeling. Kuperhatikan Mangin disambut kebimbangan, apa yang harus dikerjakan. Bukan masalah bagiku, langsung kusambut tawaran panitia. Segelas kopi hangat di cangkir bekas air mineral. Sudah aku tarik tungkai lengan Mangin untuk ikut bergabung dalam lingkaran, di hadapan kopi yang mengepulkan aroma kental. Dalam cengkraman yang hangat. K
ulihat Mangin terduduk saja di pojok koridor gelap. Mengeluarkan bungkus kretek dari saku jaket. Mencabut sebatang, dan kotak bungkus kretek itu kulihat disusupkan lagi ke saku jaket. Batangan kretek yang tak juga dibakar.
selengkapnya

novel Dokter Zhivago 48
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo),
disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960
Di wilayah ini dusun-dusun agaknya secara ajaib luput dari permusnahan, merupakan pulau-pulau keamanan tak terbilang di tengah lautan reruntuhan. Suatu sore waktu matahari terbenam, Gordon dan Zhivago pulang naik kereta. Di sebelah desa nampak seorang Kosak muda dikerumuni orang banyak yang bergembira; Kosak itu melambungkan mata uang tembaga dan seorang Yahudi tua dengan jenggot putih dan jubah panjang disuruh menangkapnya. Si tua berkali-kali gagal. Mata uang terbang lewat tangan-tangannya yang direntangkan dan jatuh ke lumpur. Kasihan!
selengkapnya

ceritanet©listonpsiregar2000