Perjalanan ini pastilah menuju
negeri mati. Dingin di sekitar. Bangku-bangku banyak yang kosong.
Penerbangan terakhir ini berangkat terlalu malam. Dari lapangan terbang
tadi yang tergambar adalah pemandangan menjelang tidur. Kabarnya,
karena sejak sore cuaca sangat buruk, beberapa penumpang telah menunda
penerbangan mereka untuk esok pagi. Tinggal aku dan beberapa orang
tua, yang agaknya mendesak untuk tiba di kota tujuan malam ini juga.
Tapi, kekosongan yang kualami
tak berlangsung lama. Udara dingin memang masih menusuk sampai tulang.
Namun mataku sudah berkejap-kejap hangat menerima ramainya sorotan
cahaya. Lalu telingaku juga mendengar suara gendang bertalu-talu,
ramai sekali. Irama gendang itu mengiringi orang-orang berpakaian
adat lengkap sedang menari. Tarian orang-orang itu pernah kukenal;
tarian pengantar jenazah ke kuburan. Siapa yang meninggal? Siapa yang
mati kali ini?
"Beri dia jalan!"
"Biarkan dia lewat!"
Kudengar suara-suara di sekitar.
Suara-suara manusia yang rasanya pernah kukenal, dulu. Jadinya, udara
dingin yang sejak semula nyaris membekukan tubuhku kini buyar, berganti
dengan percik-percik kehangatan yang mulai mengoyak dari dasar tubuhku.
Sehembus angin kesadaran pun bertiup di benakku agar lebih memperhatikan
sekitar.
Beberapa orang ibu sedang membereskan
dandananku. Aku kini mengenakan pakaian adat lengkap, kemudian, ternyata
sedang melangkah di tengah-tengah halaman kampung. Malam terasa baru
dengan sorotan cahaya lampu (ternyata lampu gas) yang lebih banyak
lagi. Lampu-lampu gas itu digantungkan tinggi-tinggi di beberapa tiang
yang didirikan melingkari halaman kampung. Lalu semakin jelas, suara
gendang bertalu-talu itu ternyata diselingi oleh suara dengung gong
dan suara serunai yang meliuk-liuk dan terkadang melengking tajam.
Dan, aku ternyata sudah mulai menari, menari bersama banyak orang
di halaman kampung.
Pada masa kecil, aku hanyalah
seorang penonton yang tidak penting di antara para penonton lainnya.
Kini, lebih dua puluh tahun kemudian, kurasakan, akulah yang menjadi
pusat tontonan. Semua mata rasanya mengarah padaku. Semua mata rasanya
mengikuti setiap gerak-gerik tarianku. Lalu tiap kali aku melakukan
gerak lambang yang dilanjutkan dengan hentakan cepat sepasang kaki
menginjak bumi, serentak terdengarlah teriakan, "Heaahh! Heaahh!
Heeaahh!".
Mulanya teriakan-teriakan itu
masih menyebar, satu demi satu. Tapi kemudian suara-suara teriakan
itu menjadi irama koor membahana yang sanggupmendirikan bulu roma
serta membakar semangat. Lalu ketika gerak tarian dan suara-suara
teriakan semakin padu, para penonton dan para penari pun seperti tenggelam
dalam kekhusukan yang sama. Namun, aneh-nya, aku malah merasakan kelegaan
yang amat sangat, dan rasanya baru kali itu kualami. "Heeaahh!
Heeaahh! Heeaahh!".
"Dia sudah datang dari jauh,"
kata seorang ibu yang kulalui ketika menari.
"Dia memang perantau yang malang," kata ibu lainnya.
Sekilas kulirik, dalam pancaran
cahaya lampu gas, kedua ibu itu belum terlalu tua. Paling jauh berusia
enam puluhan. Seperti ibuku. Tapi pakaian mereka yang berwarna hitam
dan rambut mereka yang dibiarkan terurai panjang, menambah usia mereka
di dunia ini. Kurasakan, pastilah mereka telah berabad di dunia ini,
hanya menari untuk mengantar orang-orang mati, dan mengeluarkan kata-kata
yang sama kepada tiap pemuda yang sedang diarak memimpin upacara kematian
di kampung itu.
"Kenapa baru pulang sekarang?"
suara adikku menyentakkanku dari kegalauan oleh cahaya lampu gas.
"Abang terlalu. Tak pernah berkirim surat. Pulang hanya untuk
memberangkatkan mayat!" kata adik perempuanku menyambut uluran
tanganku dengan tepisan.
Sepertinya, kali ini cahaya seluruh
lampu gas itu serentak khusus menerangi wajahku yang memerah kemudian
memucat.
"Tak ada yang mengurusnya!
Tak ada teman mengobrol!" kata kakak perempuanku.
"Ombak di danau sana jadi saksi, bagaimana setiap sore ia memandang
kapal berlabuh, mencari-cari kau di antara penumpang yang turun,"
kata abang sulungku seraya memukul dadaku dengan telapak tangannya
yang keras.
Aku terhenyak. Tarianku terasa
terganggu. Kedua tangan dan kedua kakiku seperti enggan mengikuti
teriakan-teriakan yang membahana di sekitar. Cahaya lampu gas itu
pasti memperlihatkan kepada orang-orang, bagaimana aku berkeringat
dingin dan terkadang melangkah agak limbung.
"Ayo! Jangan berhenti!"
"Pusatkan pikiranmu!"
Beberapa teriakan kembali mempengaruhi
kesadaranku. Kemudian, aku pun mengikuti perintah suara-suara itu,
mengumpulkan segenap kekuatan dan kembali menari. Kini, menari dengan
rasa penasaran di dada, ingin tahu siapa yang meninggal kali ini,
siapa yang mati? Ayahkah? Tidak!
Dua puluh tahun yang lalu aku
terlanjur yakin, ayah pastilah hidup abadi. Jadi mustahil tari yang
kupimpin di halaman kampung yang diterangi cahaya lampu gas itu adalah
untuk ayah. Ayah pastilah abadi, karena selama hidup ia selalu menghadiri
acara tarian mengantar orang mati, untuk mengantarkan orang lain.
Ayah berkali-kali menjadi pemimpin acara tarian sejenis untuk memberangkatkan
teman-teman seumurnya. Ayah pastilah abadi karena langit dan bumi
menghendaki demikian.
Tahun demi tahun terus berganti,
generasi demi generasi terus berlanjut, namun ayah masih tetap di
puncak kekuasaan sebagai ketua adat. Ayah pastilah abadi karena beberapa
kecelakaan besar tak berhasil menghentikan kemauan hidupnya. Sudah
tiga kali ayah lolos dari peristiwa tabrakan bus yang akhirnya menelan
korban banyak penumpang lainnya.
Kabarnya, pada masa mudanya, ayah
beberapa kali lolos dari usaha peracunan yang direncanakan oleh lawan-lawannya
di meja judi. Ayah tak pernah kelihatan rapuh, kecuali dalam sebuah
surat yang dikirimkan oleh abangku, ketika menginjak tahun kelima
aku meninggalkan kampung halaman.
"Kudengar kabar, di Jerman
kau sempat menjadi gelandangan," kata seorang paman.
"Ada yang bilang, kau pernah dipecat dari kapalmu di Jepang,"
kata seorang bibi sambil memandang iba padaku.
Lalu bermacam-macam komentar terdengar
lagi, menjadi nada-nada lain bagi irama tarian yang kulakukan dengan
segenap tenaga. Terkadang aku melompat. Terkadang kedua tanganku seperti
sepasang tangan seorang pemain silat yang sedang mempersiapkan kuda-kudanya
sebelum menyerang musuh. Terkadang aku pun menghentak-hentakkan kakiku.
Keseluruhannya, seirama dengan suara gendang bertalu-talu, dengung
gong, jerit serunai, dan teriakan-teriakan para penonton yang membahana
membelah malam sunyi di kampung tepi danau itu.
"Ayo teruskan!"
"Teruskan!"
"Hentakkan kuat-kuat kakimu!"
"Biar bumi terguncang-guncang!"
"Biar tanah kian terbelah!"
"Biar lapang jalan ayahmu!"
"Biar leluasa ia melenggang pulang!"
Tak mungkin ayah, jeritku dalam hati. Lalu dua butir air mata hangat
bergulir di pipiku yang dingin.
***
Jakarta,1993