novel
Smaradina
Muda Mangin
Syam
Asinar Radjam
Nikoton
dan Gelembung Balon Permen
Tibalah kampus --tempat
kegiatan dilangsungkan, sekitar pukul sembilan malam. Aku memarkir
motor yang panas. Dibawah pohon sonokeling.
Kuperhatikan Mangin
disambut kebimbangan, apa yang harus dikerjakan. Bukan masalah bagiku,
langsung kusambut tawaran panitia. Segelas kopi hangat di cangkir
bekas air mineral. Sudah aku tarik tungkai lengan Mangin untuk ikut
bergabung dalam lingkaran, di hadapan kopi yang mengepulkan aroma
kental. Dalam cengkraman yang hangat.
Kulihat Mangin terduduk
saja di pojok koridor gelap. Mengeluarkan bungkus kretek dari saku
jaket. Mencabut sebatang, dan kotak bungkus kretek itu kulihat disusupkan
lagi ke saku jaket. Batangan kretek yang tak juga dibakar. Hanya dipelintir-pelintir
saja oleh permainan jari.
"Penuhilah dada
tipismu dengan nikotin di pojok gelap ujung koridor," aku berkata
dalam hati. "Jika mampu menyelesaikan kebimbangan. Karena memilih
terlibat dalam diskusi di dalam kelas akan lebih menjeratmu sekalipun
itu sebuah ujian atas keberanianmu. Tak ada pilihan yang lebih baik.
Kecuali kalau mau kita lanjutkan saja diskusi tadi sore tentang Serelo
Draft fact sheet yang sedang kau coba susun. Bukan memilih ke sini."
Sayup terdengar petikan
gitar. Boyis? Boyis mungkin sebuah pilihan yang sedikit lebih menarik.
Lagu dan petikan gitar pasti diseling hisapan nikotin dan diskusi
kiri kanan depan belakang.
"Lekaslah ke sana, Goblok!" Batinku memerintah Mangin.
"Apa jadinya jika petani tak ada sawah,... Apa jadinya jika cukong-cukong
menguasai tanah...," koor Boyis cs sedikit keras.
Aku lihat Mangin
melangkah menuju Boyis. Dan duduk di bangku semen di sebelah Boyis.
Boyis terpaksa menggeser setang gitarnya supaya tak terkena badan
Mangin. Serta merta pula mengubah cara duduknya supaya lebih nyaman.
"Kerbau di kepalaku
ada yang suci, kerbau di kepalamu senang bekerja, kerbau di sini teman
petani. Ular dinegara maju menjadi sampah nuklir...." Kudengar
suara Mangin dalam lagu berbeda judul. Mataku tak akan melepaskan
pemandangan tentang Mangin. Aku ingat persis bagaimana gejala kejatuhan
cinta sang Mangin. Lelaki gamang satu kostku.
Sampai gelembung
balon permen karet muncul dari balik pintu ruangan diskusi. Dua sisi
gelembung balon karet tanpa sisi, membiaskan binar mata malam sebelumnya.
Dibawa mendekat oleh sepasang kets, t-shirt kuning dan rok flanel
motif skotland. Terlihat rupa keterkesiapan Mangin.
Memandangnya, Mangin
layaknya terjebak pada sensasi yang membingungkan. Dalam gelembung-gelembung
permen karet. Trampolin? Entah, tapi dia tertiup dari sebuah poros
yang dipompa entah oleh siapa.
Dia memajamkan matanya, menyiapkan kapanpun kelak terlempar keluar
orbit ketika sisi balon terpecah.
Selamat datang kebimbangan.
Boyis, Mangin dan kawan-kawan makin mengeraskan koor. Membuang semua
gelisah, bersama puntung rokok yang ada peringatan pemerintahnya.
Mengajarkan betapa hidup di jaman batu seperti sekarang membutuhkan
ambivalensi.
Tapi mungkin Mangin
telah kehilangan konsentrasinya. Tapi aku sempat memperhatikan gadis
yang membuat dia kehilangan konsentrasi itu. Pertama dalam gelembung
permen karet dan t-shirt kuning dan rok panjang motif Skot. Kedua
berganti kostum yang lebih simpel, blue jeans dan kemeja donker. Kemudian
beralih lagi bersalin warna ke asal, kuning dan kotak-kotak Skot.
Sebuah permainan warna yang menawan. Mangin tak tahu, mungkin? Tapi
otakku sempat mencatat.
***bersambung