Pemimpin sayap
kiri yang terkenal Luiz Inacio da Silva hampir pasti memenangkan pemilihan
Presiden Brasil Hari Minggu dalam upayanya yang keempat, dan menjadi
warga kelas pekerja pertama yang berhasil menjadi pemimpin sepanjang
sejarah negara itu.
Tiga minggu setelah
ia gagal tipis untuk memenangkan langsung pemilihan di babak pertama,
dia maju ke babak kedua dengan selisih angka kemenangan 30 persen.
Dua calon yang
kalah dalam babak pertama sudah memutuskan untuk mendukung Lula --begitulah
ia dikenal di dunia internasional-- dan melawan calon dari partai
sayap tengah, Jose Serra, sehingga kemenangan mantan pegiat sarikat
buruh yang militan ini tidak bisa dihalangi lagi.
Jika dia memang
menang maka dia merupakan pemimpin kedua yang menerima kekuasan dari
presiden yang terpilih di sepanjang sejarah kekacauan politik Brasil
selama 113 tahun sebagai republik. Kemenangannya juga menjadi lambang
dari presiden yang punya latar belakang kemiskinan.
Brasil --dengan
penduduk 170 jta dan merupakan negara dengan ketimpangan pendapatan
yang paling tidak adil-- sebelumnya diperintah, kalau tidak oleh perwira
militer maka oleh tamatan universitas. Sedangkan pendidikan Lula putus
di tingkat sekolah dasar.
Pria yang berusia
57 tahun ini memanfaatkan gelombang rasa frustasi atas reformasi pasar
bebas yang ditempuh Presiden Fernando Henrique Cardoso selama delapan
tahun berkuasa. Walaupun tingkat inflasi bisa bertahan rendah, dan
mendorong investasi asing, namun tetap gagal meningkatkan perbaikan
sosial yang dijanjikan.
Tingginya tingkat
pengangguran dan kriminalitas mendorong rakyat Brasil untuk memberikan
kesempatan kepada Lula. Dalam pemilihan presiden tahun 1989, 1994
dan 1998 dia hanya berada di urutan kedua.
Terpilihnya dia
di negara terbesar di Amerika Latin ini akan menjadi penegasan terkuat
dari ayunan ke arah para calon yang menentang ekonomi neo-liberalisme
di daratan Amerika.
Lula dan Partai
Pekerja memang sudah keluar dari jalan mereka dengan menjadi lebih
moderat dan sudah berjanji untuk mempertahankan makro ekonomi ortodoks
yang dijalankan pemerintah saat ini. Namun kekuatiran akan ketidak-pastian
menimbulkan kegelisahan dan mata uang Brasil tahun ini kehilangan
nilainya sampai 40 %.
Namun makin banyak
saja pengusaha yang bergabung dengan Lula karena yakin dia merupakan
calon yang paling mungkin untuk memicu pertumbuhan dan merangsang
industri dalam negeri, maupun menciptakan lapngan kerja dan membela
kepentingan Brasil di luar negeri.
"Brasil sudah
berubah, Partai Pekerja sudah berubah dan saya sudah berubah,"
katanya pada masa kampanye.
Namun yang lebih
ditunggu daripada hasil pemilihan adalah siapa yang akan dia masukkan
dalam tim transisi dan bagaimana pasar internasional akan bereaksi.
Soalnya para investor
mempertanyakan kemampuannya dalam nengatasi hutang negara sebesar
US$ 260 milyar, dan ini berarti transisi akan menjadi krusial dalam
menjamin pemerintahan sayap kiri pertama selama 40 tahun ini, atau
pemerintah itu akan bangkrut sebelum memulai apa-apa.
***