laporan Sepuluh Keping Hidup Iran
Liston Siregar

Sedikitnya ada tiga hal yang --menurut saya-- mungkin bisa ditawarkan oleh Sepuluh, film terbaru Abbas Kiarostami. Yang pertama adalah penegasan kembali bahwa film Iran sudah masuk dalam jaringan film internasional non-Holywood. Sepuluh --walau film ini sebenarnya tidak berjudul-- diputar di ICA London selama satu bulan lebih --mulai akhir Oktober hingga akhir November-- dan pada hari yang ke 28 di suatu hari kerja, sepertiga kursi di bioskop utama ICA masih saja tetap terisi.

Film ini juga direview secara keroyokan oleh media utama Inggris, seperti The Guardian, The Times, The Independent, The Daily Telegraph, sehingga seolah-olah para media serius itu merasa akan ketinggalan jaman kalau tidak menyebut-nyebut Sepuluh.

Yang kedua, Sepuluh menawarkan terobosan dalam memproduksi sebuah film. Sepanjang 92 menit kamera menyorot dari dalam mobil --kira-kira letaknya di kaca spion tengah-- ke arah supir dan penumpangnya. Hanya satu kali saja kamera bergerak agak lama ke scene luas di luar mobil ; ketika seorang penumpang pekerja seks keluar mobil dan mencari tumpangan lain. Perempuan pekerja seks itu kemudian masuk ke dalam mobil Mercedes putih dan kamerapun kembali masuk menyorot ke dalam mobil utama , yang warna dan mereknya tidak bisa dilihat penonton.

Buat Abbas cara ini sudah pernah dilakukan di Taste of Cherry, tentang seorang pria yang mutar-mutar dengan mobilnya untuk menemukan orang yang bersedia membantunya bunuh diri. Cuma di Sepuluh sorotan utama semata-mata di dalam mobil untuk merekam supir dan penumpang. Keunggulan medium kamera untuk menangkap landmark besar atau fokus ditail jadi agak terasa tersia-siakan, tapi pada saat yang sama pula adalah keunggulan medium kamera juga untuk menangkap sesuatu sebagaimana adanya.

Dengan latar belakang gambar yang monoton --walau penumpang dan kerudung supir berganti-- maka bangunan dialog --dan tentu saja juga isinya-- antara penumpang dan supir menjadi amat penting. Dan itulah hal ketiga yang ditawarkan Sepuluh ; tekanan atas kaum perempuan di Iran yang ternyata tidak melemahkan semua perempuan di Iran.

Film dibuka dengan angka sepuluh dan Amin --seorang anak laki-laki yang takut terlambat ke kolam renang-- mulai perdebatan ringan dengan ibunya yang menyetir --diperankan oleh Mania Akbari. Yang tadinya terdengar seperti perdebatan biasa antara generasi anak dan ibu, meningkat menjadi serius sekaligus memaparkan satu keping hidup di Iran.

Mania bercerai dan menikah dengan pria lain. Amin suka bapaknya, yang juga sudah menikah lagi, dan benci dengan suami ibunya, yang bisa bercerai dengan cara berbohong. Dia mengatakan suami pertamanya tukang mabuk, tapi alasan ini tak bisa diterima Amin karena tidak benar. "Kamu tidak tahu kalau di sini perempuan baru boleh bercerai kalau berbohong suaminya pemabuk," teriak Mania. Keduanya nyaris lepas kendali, tapi untunglah mobil sampai di tempat tujuan.

Muncul angka sembilan dan kali ini yang terlihat adalah kakak Mania dan mereka membahas kehidupan keluarga, termasuk Amin yang jadi anak nakal yang tidak mau main dengan sepupu-sepupu lain.

Muncul lagi angka delapan, kali ini dengan keping kehidupan seorang penumpang wanita setengah baya yang ingin sembahyang ke masjid dan mendesak-desak Mania untuk ikut sembahyang. "Masuklah, biar aku yang jaga mobilmu. Ayolah," kata ibu penumpang itu, tapi Mania punya urusan lain.

Di salah satu angka muncul tamu seorang pekerja seksual yang sesekali tertawa genit dan sesekali putus harapan. "Perempuan yang menikah seperti kamu itu adalah penjual grosir sedang kami penjual eceran," katanya dari kursi belakang.

Di angka lainnya, seorang wanita yang baru pulang sembahyang menceritakan tentang kisah cintanya, tentang pacarnya yang, mungkin, akan menikahinya. Perempuan ini muncul kembali di salah satu angka lain dengan rambut yang sudah digundul karena pacarnya gagal menikahinya. Penumpang perempuan ini menangis dan sekaligus tertawa, untuk kesedihan dan juga rasa terbebas, sedangkan Mania memuji-muji rambut gundul di balik kerudungnya, seperti pesan solidaritas bagi sesama kaum.

Di angka terakhir, satu, Amin muncul lagi. Perdebatan lebih ringan dengan tawa-tawa lepas karena Mania mencoba mengorek-ngorek keping hidup dari ibu tiri Amin.

"Nggak mungkin dia lebih cantik dari aku," katanya.
"Tapi dia lebih baik dari kau," balas Amin.

Dalam standard Iran, agaknya, perempuan yang lebih baik adalah perempuan yang memasak, membersihkan rumah, membereskan tempat tidur, mencuci piring, mencuci pakaian ; perempuan yang tidak bekerja di luar rumah. "Dia tidak sibuk bekerja seperti kamu," tambah Amin.

Menjadi perempuan di Iran tidaklah sama menjadi perempuan di Inggris atau di Indonesia. Mungkin kebanyakan perempuan lebih suka menempuh operasi plastik untuk payudara atau pantat, tapi di Iran operasi plastik untuk hidung yang jauh lebih populer. Soalnya hanya kecantikan bagian wajah sajalah yang bisa terbuka untuk umum.

Di negara ini juga sedang diusulkan sistem kawin sementara untuk memungkinkan hubungan seksual di luar nikah. Dengan prosedur birokrasi resmi maka seorang pria --yang menikah ataupun yang tidak menikah-- boleh berhubungan seksual dengan seorang janda, yang membutuhkan uang untuk mata pencaharian. Tapi perempuan yang menikah ataupun yang tidak menikah dilarang masuk skema ini.

Di Iran pengantin perempuan harus dipulangkan ke keluarga jika dianggap sudah tidak perawan lagi berhubung pada malam pertama tidak mengeluarkan darah, dan sejumlah dokter perempuan yang menjadi 'hakim' dalam kasus-kasus seperti ini sering menyediakan kertas tisu yang lebih dulu diteteskan darah untuk ditunjukkan kepada penganten pria guna menyelamatkan kaum sesama, seperti dilaporkan The Independent.

Bagaimanapun Jackie Ballard -- seorang anggota Partai Liberal Demokrat Inggris yang beberapa kali berkunjung ke Iran-- menegaskan bahwa citra perempuan Iran yang tertekan tidak sepenuhnya benar. Setengah mahasiswa di universitas adalah perempuan, dan kaum perempuan boleh menyertir, boleh punya rumah, maupun bekerja seperti kaum perempuan di sejumlah tempat lain di dunia, katanya. Bahkan Jackie Ballard menekankan bahwa di Iran, seorang perempuan yang sedang berjalan tidak mungkin disiuli atau dilototi kaum laki-laki.

Saya belum pernah ke Iran, dan Abbas Kiarostami merupakan salah seorang yang amat membantu membuka jendela untuk mengintip ke negeri itu. Dan bagi saya, Sepuluh adalah jendela ke sebuah negeri yang mencengkram kuat kaum perempuannya, dan sekaligus keberhasilan sebagian perempuan keluar dari cengkraman itu.

Cuma soalnya adalah berapa banyak yang tidak berhasil. Seperti dikatakan seorang ibu --yang jelas punya sentimen keperempuanan-- usai menonton Sepuluh ; "It' so depressing."
***
ceritanet©listonpsiregar2000