"Ada kudakah
hari ini?" tanya Gordon pada tiap kali Dr. Zhivago pulang untuk
makan tengah hari. Mereka tinggal dalam teratak petani di Galici.
"Jangan harap.
Lagipula, kau mau kemana? Tak dapat bergerak ke kanan atau ke kiri.
Ada desas-desus yang kacau dan menakutkan, tak seorangpun yang mengerti.
Di Selatan telah kita lewati lambung tentara Jerman di beberapa tempat
dan menyusup ke tempat-tempat lainnya dan konon ada beberapa kesatuan
kita yang terlalu rajin telah ditawan. Di Utara, tentara Jerman telah
menyeberangi sungai Sventa pada tempat yang semula dianggap tak dapat
dilalui; itulah kavaleri mereka, kekuatannya satu pasukan. Mereka meledakkan
rel-rel, menghancurkan gudang-gudang persediaan dan kuduga mereka sedang
mengepung kita. Begitulah gambarannya, jangan sebut-sebut soal kuda."
"Ayo Karpenko,"
tegurnya pada kurirnya, "lekas siapkan meja makan. Apa hidangannya
siang ini? Kaki kambing? Bagus."
Barisan pengobatan
dengan rumah sakitnya beserta gedung-gedung pelengkapnya tesebar di
seluruh dusun yang secara ajaib masih tinggal utuh. Rumah-rumah mengkilap
dengan jendela berkisi-kisi menurut gaya Barat yang terbentang dari
tembok ke tembok, namun tak sekeping gentengpun yang rusak.
Akhirnya musim rontok
yang panas dan keemasan telah menjelma jadi 'musim panas Indian.' Waktu
siang para dokter dan perwira membuka jendela, memukul lalat-lalat yang
merayap dalam bondongan hitam di sepanjang daun jendela serta langit-langit
yang rendah, membuka baju dan mantel yang basah kuyup oleh keringat,
lantas mengesip sop kubis yang sangat panas, ataupun teh.
Malam hari mereka
duduk main kartu di depan tungku terbuka, meniup kebalok-balok basah
dengan mata pedih kena asap dan memaki-maki para kurir karena tak pandai
membikin api.
Malam sunyi. Gordon
dan Zhivago berbaring di atas dua bangku tidur berhadap-hadapan. Antara
mereka ada meja makan serta jendela rendah yang menjulur sepanjang dinding.
Kaca jendela berkeringat; kamar panas dan penuh asap tembakau. Mereka
telah membuka terali di kedua ujung, agar menghirup sekedar malam segar
musim rontok. Seperti biasanya mereka bercakap-cakap dan seperti biasanya
kaki langit di jurusan medan perang berkelip-kelip dengan cahaya jingga.
Rentetan bedil yang tak putus-putus itu sekali tempo diselingi dentuman
berat yang menggoyahkan tanah, seakan ada kopor berat berlapis baja
sedang diseret di lantai, hingga catnya terkikis. Zhivago berdiam diri
sebab kagum. "Itu si Bertha, meriam Jerman enam belas inci. Pelurunya
sebesar bocah kecil, yang beratnya enampuluh pud."* Ketika mereka
mulai omong-omong lagi lupalah ia apa yang sudah dibicarakannya.
"Apakah bau
yang meliputi seluruh dusun ini," tanya Gordon. "Sudah kucium,
waktu aku datang. Bau ini menjijikkan, manis dan memualkan seperti bau
tikus."
"Aku tahu yang
kau maksudkan. Itu ganja, banyak sekali ditanam di sini. Tumbuhannya
sendiri berbau bangkai yang menyesakkan dan melengket ke hidung. Lagipula
di daerah pertempuran seringlah mayat terhampar di padang ganja, tak
terkubur sampai mulai membusuk. Tentu saja bau bangkai ada dimana-mana.
Tak dapat tidak. Kau dengar itu? Itu Bertha lagi."
Di
hari-hari belakangan ini mereka telah bercakap-cakap tentang segala
sesuatu di bumi. Gordon mendengarkan gagasan kawannya tentang perang
dan semangat zaman. Zhivago mengatakan betapa sulitnya baginya untuk
menerima logika tak berbelas kasih tentang saling membinasakan, untuk
membiasakan diri melihat orang luka-luka, istimewa kekejaman luka-luka
tertentu yang terjadi sekarang ini serta mengenangkan mereka yang belum
mati, tapi oleh tehnik pertempuran modern diubah menjadi bungkahan daging
yang tersisa.
Sejak
ia berhari-hari ikut dengannya, Gordonpun menyaksikan yang serba mengerikan.
Ia sadar betapa tak berakhlak rasanya kalau melihat saja tanpa berbuat
apa-apa, padahal orang lain menderita dengan berani; kalau menyaksikan
usahanya yang luar biasa untuk mengatasi rasa takutnya terhadap maut;
kalau nampak resiko yang diambilnya serta pengorbanan yang diberinya.
Tapi iapun tak berpendapat bahwa orang menunjukkan budi yang lebih tinggi
dengan menangis melulu tentang mereka. Ia lebih suka bertindak bersahaja
dan jujur, menurut keadaan yang ditemuinya dalam penghidupan.
Bahwa
orang mungkin pingsan melihat luka-luka, ia ketahui dari pengalamannya
sendiri, setelah mereka kunjungi pos pertolongan pertama yang dipegang
oleh kesatuan gerak cepat Palang Merah, tepat di belakang garis depan.
Mereka
tiba ke tempat terbuka dalam hutan yang rusak redam oleh tembakan artileri.
Kereta meriam peot-peot tergelimpang dalam belukar yang patah-patah
dan terinjak-injak. Seekor kuda terikat ke sebatang pohon. Dekat di
dalam hutan ada rumah yang didirikan untuk pos pertolongan pertama dan
dua kemah abu-abu telah terpancang di seberang jalan yang menuju ke
arahnya.
"Mestinya
tak boleh kubawa kau," kata Zhivago. "Parit-parit ada satu
dua mil dari sini, sedangkan baterai kitapun diseberang sana, di belakang
hutan. Dapat kau dengar apa yang sedang terjadi. Jadi janganlah main
pahlawan. Tak akan kupercaya kau berbuat begitu . Kau harus takut sekali,
mau tak mau. Tiap saat keadaan bisa berobah dan mereka mulai menggranat
kita."
Para prajurit muda
yang letih dengan sepatu but besar, dengan baju kotor yang hitam kena
peluh di dada dan di tulang belikat, berbaring terpencar-pencar telentang
atau menelungkup di pinggir jalan. Inilah yang tinggal dari sebuah detasemen
yang ditarik dari garis depan sehabis bertempur berat selama empat hari
dan akan dikirim ke belakang guna mengaso sebentar. Mereka berbaring
seperti terbuat dari batu, tanpa tenaga untuk senyum atau maki-maki
dan tak ada yang menoleh, ketika beberapa kereta datang cepat berderak-derak
di jalanan. Itulah kereta-kereta mesiu yang tak berpegas, waktu berjalan
agak kencang ke pos pertolongan pertama, orang-orang luka yang dimuat
kesitu tergoncang-goncang, segala tulang mereka terbentur-bentur dan
usus terpiling-pilin. Di pos itu orang-orang yang luka ini akan buru-buru
dibalut dan yang paling buruk keadaannya akan dirawat. Dalam jumlah
yang mengagetkan, mereka sejam yang lalu dipungut di medan pertempuran
dari depan parit-parit, ketika artileri berhenti menembak sejurus. Ada
separoh yang pingsan.
Kereta-kereta berhenti
di muka beranda kantor, kurir-kurir turun tangga dengan tandu-tandu
untuk mengambil mereka. Seorang juru rawat wanita menyingkapkan kain
penutup salah satu kemah yang berdiri mengamat-amati; ia sedang tak
bertugas. Dua lelaki yang tadinya berbantah-bantah dengan lantang dalam
hutan di belakang perkemahan --suara mereka bergema di celah celah pepohonan
muda yang tinggi, tapi percakapan tak dapat diikuti-- kini keluar dan
berjalan di jalanan ke arah kantor. Seorang dari merek adalah letnan
muda yang dengan rusuhnya berseru-seru kepada yang lain, yakni perwira
Palang Merah dari kesatuan gerak cepat; di tempat terbuka dalam hutan
tadinya ada pos meriam dan ia ingin tahu kemana perginya pos itu. Dokter
tak tahu menahu,. itu bukan urusannya; ia minta padanya supaya jangan
berteriak-teriak dan meninggalkan dia saja --ia sibuk, orang-orang luka
telah sampai; namun si perwira terus maki-maki Palang Merah, para penembak
meriam dan seluruh dunia. Zhivago menghampiri dokter itu; mereka menyalam,
lalu masuk kantor. Letnan yang masih lancang menyumpah-nyumpah dengan
sedikit logat Tartar itu melepaskan tali kudanya, melompat ke pelana
dan lari di jalanan masuk hutan. Jururawat masih saja melihat-lihat.
Sekonyong-konyong
air mukanya mengungkap kengerian, "apa kerja kalian? Kamu gila!"
teriaknya pada dua prajurit luka enteng yang berjalan tanpa bantuan
diantara tandu-tandu. Ia lari ke arah mereka.
Kurir-kurir itu
mengangkat orang yang tersiksa secara kejam bukan kepalang. Pecahan
granat yang menghancurkan mukanya dan merobah lidah serta bibirnya menjadi
bubur merah tanpa membunuhnya bersarang dalam susunan tulang rahangnya,
menggantikan pipi yang sobek-sobek. Ia mengerang pendek-pendek dengan
suara lembut yang tiada insaniah; tak seorangpun dapat mengartikan bunyi
ini sebagai hal yang lain dari pada permintaan untuk menghabiskan dia
lekas-lekas, untuk menghadiri siksaan-siksaan yang tak terbayangkan.
Jururawat memperoleh
kesan bahwa dua orang luka ringan yang berjalan di sisi tandu itu amat
terharu oleh ratap tangisnya, hingga mereka hendak segera mencabut pecahan
besi tadi dengan tangan telanjang.
"Jangan begitu.
Ahli bedah akan mengerjakan itu, dia ada alat-alat khusus...kalaupun
perlu." (Allah, Allah ambilah dia, jangan sampai aku bimbang bahwa
kau ada.)
Saat berikutnya,
waktu ia diangkat ke atas tangga, orang itu menjerit, sekujur tubuhnya
bergeletar dan iapun meninggal.
Yang baru saja wafat
itu ialah preman Gimazetdin; perwira yang berhati rusuh yang teriak-teriak
tadi adalah anaknya, Letnan Galiullin, jururawat itu Lara. Yang menyaksikan
adalah Gordon dan Zhivago. Semuanya ada disitu, bersama-sama di satu
tempat ini. Tapi beberapa diantara mereka tak pernah saling mengenal,
sedangkan lain-lainnya waktu ini tak ingat-mengingat. Dan ada hal-hal
mengenai mereka yang tak akan pernah diketahui dengan pasti, sedangkan
orang-orang lain hanya menunggu kesempatan lain guna memperkenalkan
diri.
***bersambung
*. Satu pud sama
dengan 36 pon
ceritanet©listonpsiregar2000