novel Dokter Zhivago 47
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

"Ada kudakah hari ini?" tanya Gordon pada tiap kali Dr. Zhivago pulang untuk makan tengah hari. Mereka tinggal dalam teratak petani di Galici.

"Jangan harap. Lagipula, kau mau kemana? Tak dapat bergerak ke kanan atau ke kiri. Ada desas-desus yang kacau dan menakutkan, tak seorangpun yang mengerti. Di Selatan telah kita lewati lambung tentara Jerman di beberapa tempat dan menyusup ke tempat-tempat lainnya dan konon ada beberapa kesatuan kita yang terlalu rajin telah ditawan. Di Utara, tentara Jerman telah menyeberangi sungai Sventa pada tempat yang semula dianggap tak dapat dilalui; itulah kavaleri mereka, kekuatannya satu pasukan. Mereka meledakkan rel-rel, menghancurkan gudang-gudang persediaan dan kuduga mereka sedang mengepung kita. Begitulah gambarannya, jangan sebut-sebut soal kuda."

"Ayo Karpenko," tegurnya pada kurirnya, "lekas siapkan meja makan. Apa hidangannya siang ini? Kaki kambing? Bagus."

Barisan pengobatan dengan rumah sakitnya beserta gedung-gedung pelengkapnya tesebar di seluruh dusun yang secara ajaib masih tinggal utuh. Rumah-rumah mengkilap dengan jendela berkisi-kisi menurut gaya Barat yang terbentang dari tembok ke tembok, namun tak sekeping gentengpun yang rusak.

Akhirnya musim rontok yang panas dan keemasan telah menjelma jadi 'musim panas Indian.' Waktu siang para dokter dan perwira membuka jendela, memukul lalat-lalat yang merayap dalam bondongan hitam di sepanjang daun jendela serta langit-langit yang rendah, membuka baju dan mantel yang basah kuyup oleh keringat, lantas mengesip sop kubis yang sangat panas, ataupun teh.

Malam hari mereka duduk main kartu di depan tungku terbuka, meniup kebalok-balok basah dengan mata pedih kena asap dan memaki-maki para kurir karena tak pandai membikin api.

Malam sunyi. Gordon dan Zhivago berbaring di atas dua bangku tidur berhadap-hadapan. Antara mereka ada meja makan serta jendela rendah yang menjulur sepanjang dinding. Kaca jendela berkeringat; kamar panas dan penuh asap tembakau. Mereka telah membuka terali di kedua ujung, agar menghirup sekedar malam segar musim rontok. Seperti biasanya mereka bercakap-cakap dan seperti biasanya kaki langit di jurusan medan perang berkelip-kelip dengan cahaya jingga. Rentetan bedil yang tak putus-putus itu sekali tempo diselingi dentuman berat yang menggoyahkan tanah, seakan ada kopor berat berlapis baja sedang diseret di lantai, hingga catnya terkikis. Zhivago berdiam diri sebab kagum. "Itu si Bertha, meriam Jerman enam belas inci. Pelurunya sebesar bocah kecil, yang beratnya enampuluh pud."* Ketika mereka mulai omong-omong lagi lupalah ia apa yang sudah dibicarakannya.

"Apakah bau yang meliputi seluruh dusun ini," tanya Gordon. "Sudah kucium, waktu aku datang. Bau ini menjijikkan, manis dan memualkan seperti bau tikus."

"Aku tahu yang kau maksudkan. Itu ganja, banyak sekali ditanam di sini. Tumbuhannya sendiri berbau bangkai yang menyesakkan dan melengket ke hidung. Lagipula di daerah pertempuran seringlah mayat terhampar di padang ganja, tak terkubur sampai mulai membusuk. Tentu saja bau bangkai ada dimana-mana. Tak dapat tidak. Kau dengar itu? Itu Bertha lagi."

Di hari-hari belakangan ini mereka telah bercakap-cakap tentang segala sesuatu di bumi. Gordon mendengarkan gagasan kawannya tentang perang dan semangat zaman. Zhivago mengatakan betapa sulitnya baginya untuk menerima logika tak berbelas kasih tentang saling membinasakan, untuk membiasakan diri melihat orang luka-luka, istimewa kekejaman luka-luka tertentu yang terjadi sekarang ini serta mengenangkan mereka yang belum mati, tapi oleh tehnik pertempuran modern diubah menjadi bungkahan daging yang tersisa.

Sejak ia berhari-hari ikut dengannya, Gordonpun menyaksikan yang serba mengerikan. Ia sadar betapa tak berakhlak rasanya kalau melihat saja tanpa berbuat apa-apa, padahal orang lain menderita dengan berani; kalau menyaksikan usahanya yang luar biasa untuk mengatasi rasa takutnya terhadap maut; kalau nampak resiko yang diambilnya serta pengorbanan yang diberinya. Tapi iapun tak berpendapat bahwa orang menunjukkan budi yang lebih tinggi dengan menangis melulu tentang mereka. Ia lebih suka bertindak bersahaja dan jujur, menurut keadaan yang ditemuinya dalam penghidupan.

Bahwa orang mungkin pingsan melihat luka-luka, ia ketahui dari pengalamannya sendiri, setelah mereka kunjungi pos pertolongan pertama yang dipegang oleh kesatuan gerak cepat Palang Merah, tepat di belakang garis depan.

Mereka tiba ke tempat terbuka dalam hutan yang rusak redam oleh tembakan artileri. Kereta meriam peot-peot tergelimpang dalam belukar yang patah-patah dan terinjak-injak. Seekor kuda terikat ke sebatang pohon. Dekat di dalam hutan ada rumah yang didirikan untuk pos pertolongan pertama dan dua kemah abu-abu telah terpancang di seberang jalan yang menuju ke arahnya.

"Mestinya tak boleh kubawa kau," kata Zhivago. "Parit-parit ada satu dua mil dari sini, sedangkan baterai kitapun diseberang sana, di belakang hutan. Dapat kau dengar apa yang sedang terjadi. Jadi janganlah main pahlawan. Tak akan kupercaya kau berbuat begitu . Kau harus takut sekali, mau tak mau. Tiap saat keadaan bisa berobah dan mereka mulai menggranat kita."

Para prajurit muda yang letih dengan sepatu but besar, dengan baju kotor yang hitam kena peluh di dada dan di tulang belikat, berbaring terpencar-pencar telentang atau menelungkup di pinggir jalan. Inilah yang tinggal dari sebuah detasemen yang ditarik dari garis depan sehabis bertempur berat selama empat hari dan akan dikirim ke belakang guna mengaso sebentar. Mereka berbaring seperti terbuat dari batu, tanpa tenaga untuk senyum atau maki-maki dan tak ada yang menoleh, ketika beberapa kereta datang cepat berderak-derak di jalanan. Itulah kereta-kereta mesiu yang tak berpegas, waktu berjalan agak kencang ke pos pertolongan pertama, orang-orang luka yang dimuat kesitu tergoncang-goncang, segala tulang mereka terbentur-bentur dan usus terpiling-pilin. Di pos itu orang-orang yang luka ini akan buru-buru dibalut dan yang paling buruk keadaannya akan dirawat. Dalam jumlah yang mengagetkan, mereka sejam yang lalu dipungut di medan pertempuran dari depan parit-parit, ketika artileri berhenti menembak sejurus. Ada separoh yang pingsan.

Kereta-kereta berhenti di muka beranda kantor, kurir-kurir turun tangga dengan tandu-tandu untuk mengambil mereka. Seorang juru rawat wanita menyingkapkan kain penutup salah satu kemah yang berdiri mengamat-amati; ia sedang tak bertugas. Dua lelaki yang tadinya berbantah-bantah dengan lantang dalam hutan di belakang perkemahan --suara mereka bergema di celah celah pepohonan muda yang tinggi, tapi percakapan tak dapat diikuti-- kini keluar dan berjalan di jalanan ke arah kantor. Seorang dari merek adalah letnan muda yang dengan rusuhnya berseru-seru kepada yang lain, yakni perwira Palang Merah dari kesatuan gerak cepat; di tempat terbuka dalam hutan tadinya ada pos meriam dan ia ingin tahu kemana perginya pos itu. Dokter tak tahu menahu,. itu bukan urusannya; ia minta padanya supaya jangan berteriak-teriak dan meninggalkan dia saja --ia sibuk, orang-orang luka telah sampai; namun si perwira terus maki-maki Palang Merah, para penembak meriam dan seluruh dunia. Zhivago menghampiri dokter itu; mereka menyalam, lalu masuk kantor. Letnan yang masih lancang menyumpah-nyumpah dengan sedikit logat Tartar itu melepaskan tali kudanya, melompat ke pelana dan lari di jalanan masuk hutan. Jururawat masih saja melihat-lihat.

Sekonyong-konyong air mukanya mengungkap kengerian, "apa kerja kalian? Kamu gila!" teriaknya pada dua prajurit luka enteng yang berjalan tanpa bantuan diantara tandu-tandu. Ia lari ke arah mereka.

Kurir-kurir itu mengangkat orang yang tersiksa secara kejam bukan kepalang. Pecahan granat yang menghancurkan mukanya dan merobah lidah serta bibirnya menjadi bubur merah tanpa membunuhnya bersarang dalam susunan tulang rahangnya, menggantikan pipi yang sobek-sobek. Ia mengerang pendek-pendek dengan suara lembut yang tiada insaniah; tak seorangpun dapat mengartikan bunyi ini sebagai hal yang lain dari pada permintaan untuk menghabiskan dia lekas-lekas, untuk menghadiri siksaan-siksaan yang tak terbayangkan.

Jururawat memperoleh kesan bahwa dua orang luka ringan yang berjalan di sisi tandu itu amat terharu oleh ratap tangisnya, hingga mereka hendak segera mencabut pecahan besi tadi dengan tangan telanjang.

"Jangan begitu. Ahli bedah akan mengerjakan itu, dia ada alat-alat khusus...kalaupun perlu." (Allah, Allah ambilah dia, jangan sampai aku bimbang bahwa kau ada.)

Saat berikutnya, waktu ia diangkat ke atas tangga, orang itu menjerit, sekujur tubuhnya bergeletar dan iapun meninggal.

Yang baru saja wafat itu ialah preman Gimazetdin; perwira yang berhati rusuh yang teriak-teriak tadi adalah anaknya, Letnan Galiullin, jururawat itu Lara. Yang menyaksikan adalah Gordon dan Zhivago. Semuanya ada disitu, bersama-sama di satu tempat ini. Tapi beberapa diantara mereka tak pernah saling mengenal, sedangkan lain-lainnya waktu ini tak ingat-mengingat. Dan ada hal-hal mengenai mereka yang tak akan pernah diketahui dengan pasti, sedangkan orang-orang lain hanya menunggu kesempatan lain guna memperkenalkan diri.
***bersambung

*. Satu pud sama dengan 36 pon

ceritanet©listonpsiregar2000