novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam

Lebung
Perjalanan singkat yang terasa amat panjang. Kiri kanan hanyalah rawa. Embun mulai turun. Rawa.

Aku dan Mangin melewati 65 persen daratan yang didominasi rawa. Lebak, lebung, lopak, semua menjadi sumber ikan dan lahan sawah dengan beragam jenis padi. Padi Pegagan yang pernah paling terkenal mungkin tinggal nama, tapi Mangin sempat mengecap manisnya beras Pegagan anyar di Pulau Kemaro. Padi itu kini terkumpul di Bank Gen IRRI Philipina, kekayaan hayati yang dirampas untuk kepentingan komersial pihak utara.

Dengan potensi ini petani memanfaatkan ikan sepanjang tahun. Mulai awal tahun kalender Masehi, petani menangkap ikan dengan jala, jaring, bubu, kemilar, dan bekarang, sampai Juni, karena air sedikit tinggi. Ketika air lebak lebung dangkal - antara Agustus dan Oktober- petani melebung. Semua penangkapan dilakukan kolektif. Antara Juli dan September petani memakai rebeh -sejenis rumpon untuk ikan dan udang dari kayu yang dipagarkan dan dahan-ranting kayu di bagian yang terpagar-- yang dipasangkan di sungai.

November sampai Desember ketika air lebak lebung kering, petani memanfaatkan lahan jadi persawahan. Dengan memulai masa penyiapan lahan dan menanam padi, musim panen pun tiba pada pertengahan Agustus hingga Oktober. Begitulah siklus kawasan lebak lebung.

Memang tak ada masa istirahat bagi petani, tapi ada masa istirahat bagi lahan pertanian. Jadi tak perlu pupuk ; karena masa istirahat yang cukup panjang, juga karena endapan lumpur kembali menjadi lebak atau lebung.

Mangin sempat dua bulan bergelut dengan melebung. Betapa nikmat menyantap patin bakar dengan ketan, melihat bocah-bocah menari riang di miang padi. Bujangan dan gadis bercengkrama di bawah pohon-pohon Bungur berbunga. Pada waktu dia menikmati dua bulannya, embam sejenis mangga sedang berbunga dan kuning bunga memantul di air sungai, jauh sepanjang hari masa sampai senja menjauhi matahari.

Tak ada pola ekspolitatif yang dianut petani sampai pada dikenalkannya sistem lelang. Petani menangkap ikan dengan alat tangkap sederhana dan tradisional. Kemilar, jala, bubu, jaring, pancing, rebeh. Lebak Lebung terkategoi sebagai lahan basah, wetlands, yang memiliki kekayaan hayati beragam.

Mulai dari ikan, mis, lele, sepat, betok, patin, toman, gabus, sepat siam, beringit, tembakang, jambala, baung, jelawat, udang gala, lais. Fauna bergantung pula disana ; beragam jenis burung mulai dari pemangsa flora kawasan seperti padi, dan teratai, serta beragam tumbuhan rawa sampai ke pemangsa burung, seperti burung elang, bangau, belibis, dan ayam-ayam.

Daftar ini baru teridentifikasi secara acak alamiah yang tidak dihargai rasionalitas modern sehingga begitu kentaranya ketidaktahuan akan kelestarian fungsi kawasan sebagai tempat hidup flora, fauna dan manusia.

Angin kencang menggetarkan stang sepeda motorku. Aku tersentak sekejap dan kulemaskan genggaman tangan kananku, memelan sedikit jatuh ke angka 40 di spedometer.

Dalam hitungan Mangin, tercatat 1114 objek lelang dari 993 lebak lebung di 18 kecamatan. Sayang, teramat disayangkan tak ada lagi tempat bagi rakyat untuk mengelola kekayaan ini secara merdeka. Lebak Lebung yang juga berisi ikan riu-riu --ikan penyengat yang sangat memedihkan-- di jaman pemerintahan marga dikelola secara kolektif.

Tapi dengan perubahan paradigma pembangunan yang berbau PAD-sasi, semuanya harus melahirkan beragam banyak aturan main. Sedikitnya tiga kali terjadi perubahan peraturan daerah mengenai pengelolaan lebak lebung paska diberlakukannya UU no. 5 tahun 1979 yang sangat keJawa-Jawaan. Padahal belum tentu laik sistem pemerintahan desa di pakai di kawasan dengan tipologi masyarakat yang berbeda.

Tak ada perbaikan secara signifikan dalam paska perubahan kebijakan-kebijakan tersebut. Rakyat tetap tidak ditempatkan sebagai pemilik sah atas kawasan lebak lebung secara komunal. Dan tetap saja membuka peluang monopolistis dan eksploitatif dengan mekanisme lelang. Betapa sebuah peluang terciptanya konflik pengelolaan sumber daya alam disengajakan.

Karena beberapa hal, penolakan lelang lebak lebung yang merugikan petani berarti harga lelang terlalu mahal sehingga hasil tangkapan atau biaya penangkapan ikan semakin mahal. Karena setiap petani lebak lebung harus membayar uang tangkap kepada pengemin yang menguasai kawasan, maka sebagian besar hasil pelelangan dinikmati pemerintah daerah dan panitia lelang.

Di pinggiran kota keberadaan rawa ini terincar ancaman pengembangan kota dan pengembangan ekonomi daerah.

Bintang gemintang menggenggam teropong
Purun megu menung
Dan di gelanggang olahraga; Pengusuran
(Sumber; Hikayat Jakabaring I, Sajak AMM)

Aku lirik dari kaca spion Mangin menatap jauh rawa, menerobos air coklat kental masuk menembus jauh ke dalam lumpur tebal

Rawa adalah daratan ; darat yang tergenang. Maka tentu saja menarik banyak pihak untuk menjadikan rawa darat sebagai daratan biasa yang dengan mantra reklamasi mencitapkan de-rawa-nisasi.

Tak urung Palembang yang memang berada di pinggir sungai besar Musi lambat laun kian tergenang. Musi tak lagi menyungai. Sedimentasi sampai enam juta ton pertahun terkirim ke hilir, plus disfungsi reservoar rawa asli ikut hilang.

Di Sumsel sendiri peruntukan lahan sangat tidak adil bagi kebutuhan keberlanjutan lingkungan hidup ; tujuh puluh persen dari 11 juta lahan diserahkan untuk kepentingan tambang, HTI, industri, perkebunan besar, dan macam-macam bau eksploitasi alam. Sisanya untuk petani, dan masyarakat --itupun masih dipotong dengan kebutuhan kawasan perkotaan, ruang terbuka bagi publik, fasilitas umum.

Kenyataan seperti ini menciptakan beragam konflik dan ketakberdayaan masyarakat mempertahankan kepemilikan tanah menciptakan komunitas orang-orang kalah yang termarginal. Politik pemerintah membuka lahan subur bagi investasi modal besar, dan bisa semuanya terpampang telanjang melalui Letter of Intent IMF.

Tak ada kekuatan politik masyarakat untuk mempertahankan apa yang sudah seharusnya dimiliki mempertajam ketidakadilan, demi sebuah kepentingan perusahaan besar yang berdiri di tengah-tengah hidup miskin mayoritas petani. Kondisi kontra produktif ini tidak memungkinkan pembangunan dari masyarakat bawah karena kepemilikan atas tanah merupakan satu-satunya alat produksi. Tuntutan untuk hidup hanya menjadi lapisan bawah jargon developmentalisme pemerintah.

Kekurangan dalam bentuk material kebutuhan hidup yang makin sulit untuk dipenuhi menjadi gambaran dari fakta kemiskinan sehari-hari proletariat, dan fenomena penindasan ini tidak begitu menjadi lebih penting karena sikap pasrah sebagai bentuk ketidakberdayaan, yang mestinya sudah harus diakhiri dengan memulai penolakan atas tindakan ketidakadilan pemilikan sumber daya alam. Bertani adalah pekerjaan dalam mengolah tanah oleh masyarakat yang memilikinya.

Mangin terkenang bagaimana masyarakat yang sejak tahun 1950-an membuka lahan rawa di Jakabaring tersingkir. Bermula sejak 1991, keinginan 'proyek' reklamasi akhirnya menguasai lahan, dan mereka tersingkir. Kejatuhan Suharto merajut mimpi mereka, membangun kebun, dan meminjam bahasa Imron Supriyadi, petani mengantar anak-anak mereka kembali ke sekolah.

Tapi kemana anak-anak akan sempat bersekolah setelah proyek PON XVI membuat mereka harus kalah lagi. Keringat petani tak berkutik dengan selembar surat. Sawah kebun siap berganti asrama atlet PON.

Kuingin menggaris tanah dengan ranting
Kubuat se-dua bentuk kotak
Bermain cak ingkling; olah raga yang tak menggusur
(Sumber; Hikayat Jakabaring VI, Sajak AMM)

Sepeda motor yang kami kendarai melaju saja membela rawa di kiri kanan. Menembus kabut yang pelahan menyelimuti dingin. Kupikir Mangin terdiam saja dalam sisa perjalanan. Dia berpikir tentang sesuatu, dan aku terasa mencatat kental keping-keping pikirannya, terpaku di seluruh lembar-lembar kesadaranku.

Bangunkanlah Hypodhrome, Colloseum
Tak mampu mengatasi rasa lapar
(sumber; Hikayat Jakabaring VII, Sajak AMM)

***bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000