sajak Menanti Kelahiran
(:gelegar carnellian talenta)
Ari Setya Ardhi

setelah puas merejam matahari
sepuas kekelaman, rembulan menebar cahaya
tiba-tiba. ruh-ruh yang berkeliaran
berkelebat bersama taburan kenanga.
melati bukan lagi putik kesucian
Yang mesti dipertaruhkan, lantaran
beragam aroma telah mengharuskan
wangi menjadi semerbak yang terpendar
lewat rahim dunia. bumi dan semesta
pertanda kesempurnaan kehadiranmu
keringat dan air mata mengaliri
sungai-sungai sepanjang dada, melepas
muara menebar perahu-perahu di segala
pulau. pasir-pasir menekuk gelombang,
menghadang buih-buih merasuk kegamangan
jantungmu. sementara, alur-alur
pelepas dermaga mereguk dahaga
yang telah menjadi milik kami!

telah usai penantian kelahiran
badai yang menjadi warisan darahku
mendebur kesetiaan benak pada belantara
waktu. kita bertahta. aku membangun
pelangi bersama kebersahajaan lembayungmu
menyambut bias singgasana dunia.
o, cakrawala tertunduk menyambut
derai jantung yang dipersatukan,
membangun langit dengan fondasi
ketulusan yang tak lagi jadi perhitungan.

kita bersimpuh menanti kelahiran
talenta. melepas gerai besale,
melupakan kegurunan padang pelaminan
yang sempat tertunda. oase itu,
tak sekedar sejarah yang harus
ditorehkan dalam legenda nasib.
kemudian, mendirikan prasasti
pada tapal-tapal yang tak mementingkan
batas. lantaran, nyanyian kubur
telah membentangkan nisan-nisan
dengan gugur kamboja melawati
kesejatian nama-nama sebagai
kesepakatan meneruskan impian kematian!
mari, kita sambut bahagia
jadi kesiapan menyambut perkabungan
Bohemian Jambi, 16 Juni 2002

Merasuki Obituari Pantai

jalan-jalan itu terpampang, menawarkan kerlip
lampu semesta. membelah ritual cahaya
yang berloncatan dari setiap sudut panorama
kita tergenang diantara ketersiaan ruang-ruang
hampa. kalimat kosong tak lagi
menjanjikan kesetiaan keranda. sementara
gugur kamboja setia menebarkan
wangi ke setiap lubang pemakaman!
sementara obituari pantai, senantiasa jadi penantian
dengan kesaratan kenang, menggali kubur-kubur
waktu, menancapkan kegelisahan alamat-alamat,
terlanjur menghanguskan peta-peta
harapan bersama pilar-pilar keabadian
merasuki semerbak asap kehampaan
diantara dengus bar, lenguh lagu-lagu
yang mengalir tiada birama. lantaran
notasi bukan lagi pertaruhan
yang mampu diperdagangkan, melumat benak
merasuki pulau-pulau tanpa debur ombak


hanya saja, sesekali obituari itu
menghujam ketersebatangkaraan pantai
sekedar kenangan yang tiada terelakkan, nun.
meninabobokkan impian pada gigir hujan?
air mata tak lagi menyodorkan kegundahan
sepanjang lorong-lorong gerimis. dermaga
jadi impian nanah yang kau bawa-bawa
lewat kebeningan mata sanubari.
ah, kemabukan cuma seantara persinggahan
yang merontokkan nadi, melepas keliaran
menggeliat, dan merontokkan nyanyian darah.
alur tersisa, menghantarkan gemerlap
kerinduan yang memerlukan kebersahajaan
meski jentera terburai tetap saja menggiring
aroma alkohol yang pecah di kepala,
mengangsurkan nurani purba sepanjang
kesetiaan dendam tanpa perlu pelunasan.

merasuki obituari pantai, impian gerangan
mampu menyalakan keremangan lilin
menunda hasrat sepanjang abad,
sekedar membangun prasasti tanpa sejarah.
lalu, temaram bintang jadi percakapan
yang senantiasa terabaikan. Hingga
geliat malam menjelma kesedihan,
mengucurkan entah. kendati kesetiaan
embun selalu meratapi luka, bermekaran.
belantara apa lagi mampu menepis
kesunyian? sementara suara-suara
masa lalu terus menghampiri kemustahilan.
kapan lagi dendang mayat-mayat
berkerumun tanpa nada. aku mencoba
memahami kegersangan cakrawala
maka, jangan biarkan derit surga
sekedar gemersik dahan-dahan,
merontokkan dengus daun-daun,
akar-akar yang kau tanam
terlanjur menghela badai sepanjang dahaga?
Bohemian Jambi, 30 Juli 2002
***

ceritanet©listonpsiregar2000