draft
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Ditinggal Keith, Elaine kelabakan. Pekerjaan menuntutnya balik ke
London sebelum Tahun Baru, untuk merekam gambar tentang pesta ecstasy
muda-mudi di akhir tahun. Lagipula, Natal yang diawali dan diakhiri
dengan pertengkaran membuat kepalanya pusing sebelah. Ingin rasanya
cepat-cepat sampai di flatnya sendiri, di mana dia bisa menjadi dirinya
sendiri, tanpa harus bertenggang rasa dengan kedua orangtuanya.
Meskipun Bapak
dan Ibu McKenzie adalah orangtuanya sendiri, nilai-nilai yang dianutnya
di dalam kehidupan sangat berbeda. Pada saat tertentu, ternyata perbedaan
itupun dapat menjadi permusuhan.
Elaine pusing sebelah
akibat pertengkaran yang bertubi dan tekanan pekerjaan yang menuntutnya
kembali ke London. Tekanan yang menjadi makin berat akibat kelakuan
Keith: ngambek dan pulang lebih dulu. Akibatnya sekarang Elaine terperangkap
dalam musim liburan di Liverpool, jauh di Utara kota London.
Pagi-pagi setelah
hari Natal, mulailah dia menelpon mencari tiket kendaraan umum. Hasilnya,
nihil. Kereta api penuh, dan bus juga idem ditto. Akhirnya, Elaine
memutuskan untuk menyewa mobil saja, dan menyetir sendiri pulang ke
London.
Sementara semua itu terjadi, Jagger
menyelimuti perasaannya dengan asap ganja. Sambil menggendong Sanca
yang berpakaian tebal dan berlapis, Jagger merokok ganja di halaman
belakang rumah mertuanya.
Ketika terasa dingin, dan ganjanya
habis selinting, dia masuk kembali, namun bila didapati suasana di
dalam rumah masih tegang dan berlistrik, dia segera meracik selinting
ganja lagi dan keluar. Di luar dia bercanda dengan Sanca, mengagumi
salju yang putih bersih dan udara yang segar dingin. Dalam hati dia
bertanya-tanya pula, apa yang telah terjadi dengan hidupnya? Kenapa
tiba-tiba dia bergabung menjadi anggota keluarga yang demikian banyak
menyimpan permusuhan antar anak dan dengan orangtua? Kenapa dia tiba-tiba
dengan senang hati makan babi?
Jagger menghembuskan asap ganja
menjauh dari muka Sanca yang dibebat dalam gendongan selendang. Udara
dingin membuat asap yang keluar dari mulut Jagger lebih panjang, uap
air dalam nafasnyapun terlihat mengepul bagai asap. Dari dalam rumah
masih terdengar suara teriak-teriak.
Kini suara Elaine, tinggi. Suara
Keithpun menyanggah, tinggi pula. Jagger berjalan ke ujung halaman
belakang, menjauhi suara pertengkaran di
dalam rumah. Nalurinya tidak membolehkan Sanca mendengarkan keluarga
McKenzie bertengkar. Lagipula, apa yang dipertengkarkan? Tidak jelas.
Jagger melongok pagar belakang,
jinjit kakinya, dan di balik pagar dilihat halaman belakang satu rumah
yang hampir sama persis dengan rumah mertuanya. Ke kanan dan ke kiri
dilihatnya pagar-pagar, rumah-rumah seragam, halaman-halaman belakang
yang tertutup salju. Kapling-kapling tiap rumah rupanya memanjang
dan saling membelakangi.
Berbeda dari rumahnya
di West London, yang berupa flat di tingkat atas satu rumah tua tiga
lantai dan satu basement yang dibagi-bagi menjadi enam flat, rumah
di sini, di pinggiran Liverpool, berupa jenis rumah yang dinamakan
rumah semi-detached, semi-terpisah, jadi satu bangunan disekat jadi
dua kapling. Tiap kapling segi panjang bentuknya, dan di ujung halaman
belakang, cukup jauh untuk tidak mendengar pertengkaran keluarga
McKenzie.
Ke kanan dan ke
kiri kapling-kapling serupa, bangunan-bangunan serupa, jendela-jendela
serupa, dan pagar-pagar serupa pula. Salju yang menenggelamkan semua
detail dalam selimut putih menambah kesan keseragaman. Kelap-kelip
pohon terang terlihat dibalik gorden-gorden tipis yang menutupi jendela-jendela
kaca yang lebar, juga seragam.
Jagger kebelet kencing.
Disadarinya jari-jari
tangannya mulai ngilu kedinginan. Tak dipakai sarung tangan karena
mau merokok. Menyentuh ritsliting celana kulitnya, tersadar bahwa
tangannya kebal, menghilang indera perabanya. Susah payah dia mengeluarkan
penis dan dengan lega dia kencing, ngocor, mengepul-ngepul uap.
Kenapa aku dengan
suka hati makan babi? Puntung ganja mati menggantung dari sudut kiri
bibirnya yang dower. Tangannya yang mulai hangat akibat memegangi
pelir cekatan membetulkan celananya, lalu menyalakan Zippo dengan
suara clak yang dipermantap gerak tangan. Meski
dia berada jauh dari pertengkaran keluarga McKenzie, meski dia juga
diam dan tidak ikut dalam sengketa, sebenarnya batinnya kecamuk.
Kenapa aku sukarela
makan babi? Ada apa dengan keluarga McKenzie ini? Kenapa semua bertengkar?
Jangan-jangan nanti aku juga kena serang. ... Dengan rakus dihisapnya
puntung ganja. Belum lagi habis, dingin telah mendorong kaki melangkah
kembali menuju ke pintu dapur, menapaki lagi jejak di salju.
Di dalam rumah, hangat memeluk,
dan ternyata sudah terjadi genjatan senjata. Mungkin mereka ingat
sedang merayakan Natal. Jagger ingat, kawan-kawannya orang-orang Kristen
dan Katolik di Jogja semua merayakan Natal. Mereka rata-rata semua
ke gereja dan dalam tingkahlaku, citra beragama ditonjolkan.
Keluarga McKenzie tidak ke gereja,
mengganti upacara dengan perang mulut mengungkit-ungkit hal-hal yang
sudah terjadi, makan kalkun, makan babi, makan dan makan lagi, lalu
bertengkar lagi. Apakah ini yang dinamakan kafir? Tidak beriman?
Perbuatan makan babi dalam batin
Jagger mulai dikaitkan, di dalam batinnya, dengan keluarga McKenzie.
Dalam hati, mereka dia salahkan. Sialan lu. Gara-gara lu, gua makan
babi, pikirnya.
Duduk di kursi nyaman di sudut
ruang tamu yang aman, ayah mertuanya menggeriapkan alis menawari minum,
dan ketika Jagger bersikap menerima, dia bangkit mengambil gelas pendek
dan menuangkan sherry sampai tiga perempat penuh. Jagger duduk disampingnya,
mereguk minuman asing.
Kali ini Jagger lebih berhati-hati.
Sejak pertama datang dan pagi-pagi sebelum hari Natal di buka dengan
perang mulut antara Elaine dengan ibunya, Jagger membatasi makan dan
minum. Tak enak makan sambil mendengar orang bertengkar, meski yang
bertengkar ternyata lahap bahkan rakus. Jagger mengamati saja, makan
secukupnya, diam dan duduk manis minum apa saja yang disodorkan oleh
mertua lelakinya. Tiap bentar dicuri waktu mengganja di luar.
Malam itu, Jagger
tak bisa menghindar lagi dari giliran bersitegang, Elaine membentaknya
dengan gugatan.
"Jagger, why
did you eat pork!"
Dalam benaknya
Jagger menemukan jawaban ; 'karena memang gue bejat.' Tapi mulutnya
membela diri.
"You, McKenzie
family make me. It was darurat. You too much eat. Eat fight, eat fight.
Kafir, you know."
Mana mungkin Elaine
terima dikatakan begitu?.Meluncurlah ludah apinya. Jagger dalam hati
menerima semua daftar dosa yang disodorkan Elaine.
Kewalahan juga dia menjawab sampai dia tak tahan lagi. Tidur, dininabobokan
protes-protes Elaine yang akhirnya diam sendiri: sibuk mengurusi Sanca
yang terbangun kalut oleh pertengkaran orangtuanya.
***bersambung
draft
novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo
Prijosusilo