Garis depan sudah
mulai bergerak. Sebelah Selatan dari distrik yang didatangi Gordon,
pasukan-pasukan kita berhasil menerobos posisi-posisi musuh. Bala bantuan
menyusul serta melebarkan bobolan, tapi mereka ketinggalan hingga kesatuan-kesatuan
yang maju tadi terpencil dan ditangkap. Antara tawanan itu adalah Letnan
Antipov yang terpaksa melaporkandiri, tatkala peletonnya menyerah.
Ia disangka kena
granat dan teruruk oleh ledakannya. Ini diceritakan atas jaminan kawannya,
Ensign Galiullin yang meninjau dengan teropong dari pos pengamatan,
ketika Antipov memimpin serangan.
Yang dilihat Galiullin
adalah pemandangan biasa atas kesatuan yang sedang menyerang. Orang
maju cepat, hampir berlari, melintasi daerah tak bertuan, padang musim
rontok dengan semak-semak kering dan... runcing tak bergerak. Tujuannya
ialah menghalau tentara Australia dari parit-paritnya, lalu menubruk
mereka dengan sangkur ataupun memusnahkan mereka dengan granat-granat.
Bagi yang lari itu padang seolah tak berujung. Tanah di bawah kaki bergeser-geser
bagai rawa. Pembawa panji-panni pada mulanya lari di depan, kemudian
disamping mereka, sambil melambaikan pistol di atas kepalanya, mulutnya
merekah dari kuping ke kuping oleh pekik-pekiknya yang tak tedengar
olehnya sendiri maupun oleh pasukannya. Sekali tempo mereka merebahkan
diri ke tanah, bangkit serentak, lantas lari berseru-seru. Tiap kali
ada satu dua orang kena tembak, jatuh bersama lainnya, tapi caranya
lain-lain; ia tergolek bagai pohon di hutan yang ditebang dan tiada
bangkit kembali.
"Tembakan mereka
melewati sasaran, panggil baterai," kata Galiullin dengan kuatir
kepada perwira artileri yang berdiri di sisinya. "Tidak, tunggu,
sudah beres."
Para penyerang hampir
bertemu dengan musuh, ketika artileri berhenti menembak. Dalam kesunyian
mendadak itu para peninjau mendengar deburan hati sendiri, seolah mereka
tak ubahnya dengan Antipov, telah membawa anak buahnya ke pinggir parit
musuh dan dalam sedikit menit berikutnya diharapkan akan menunjukkan
kecakapan dan keberanian yang mengagumkan. Waktu itu mereka lihat dua
bom enam belas inci Jerman meledak di depan kaum penyerang. Yang terjadi
berikutnya ditutupi kepulan hitam dari debu dan asap. "Ya Allah!
Habis. Mereka binasa," bisik Galiullin dengan bibir pucat; ia menduga
pembawa panji-panji serta anak buahnya telah gugur. Granat lain turun
ke pos pengamatan. Dengan melentik-lentik, para peninjau itu bergegas
ke jarak yang lebih aman.
Galiullin dan Antipov
tadinya menempati lobang perlindungan yang sama. Karena orang yakin
bahwa Antipov meninggal, kawannya diminta mengurus dan menyimpan barang-barangnya
untuk si janda yang fotonya banyak terdapat antara benda-benda lain.
Galiullin,
seorang ahli mesin barusan mendapat promosi. Dialah anak Gimazetdin,
jurukunci di kompleks gedung flat Tiverzin, yaitu Yusupka yang sebagai
magang dalam masa jauh lampau dipukuli oleh Khudoleyev, dan berkat orang
yang dulu menyiksanya itulah ia kini mendapatkan promosinya.
Setelah
pengangkatannya itu, bertentangan dengan kemauannya sendiri dan entah
apa sebabnya, ia diserahi pekerjaan enteng sebagai komandan tangsi dalam
kota kecil di barisan belakang. Dalam tangsi ini terhimpun orang-orang
setengah cacat; para instruktor yang setua mereka, tiap pagi membawa
mereka ke latihan yang sudah dilupakan oleh kedua pihak. Ia harus mengawasi
latihan serta pergantian pengawal di depan gudang ajudan. Selain itu
tak diharapkan apa-apa daripadanya. Ia ongkang-ongkang saja, ketika
antara orang-orang panggilan baru yang dikirim dari Moskow dan ditempatkan
di bawah perintahnya itu muncul tokoh Pyotr Khudoleyev, yang sangat
dikenalnya.
"Nah
kawan lama," seringai Galiulin dengan masam.
"Ya tuan," kata Khudoleyev yang bangkit dengan patuh dan memberi
salut.
Hal
ini mustahil berakhir begitu saja. Pertama kalinya orang preman itu
nampak membikin kesalahan dalam latihan, letnan itupun membentaknya
dan ketika ia mendapat kesan bahwa orangnya tak memandangnya langsung
ke mata tapi agak ke samping, dihantamnya ia pada rahangnya, lalu menahannya
untuk dua hari dengan roti dan air dalam kamar tutupan.
Sejak
itu tiap gerak-gerik Galiullin berbau dendam. Namun pembalasan begini
yang berlandaskan pada kedudukan masing-masing dan pada segala peraturan
yang diperkeras dengan tingkat itu terlalu kurang sportif, merendahkan
budi. Apa akal? Mereka berdua tak boleh ditempat yang sama. Tapi alasan
apa dapat dipakai seorang perwiea untuk memindahkan orang preman dari
kesatuannya, dan kalau bukan sebab disiplin, kemanakah ia dapat memindahkannya?
Dipandang dari sudut lain, dalih-dalih apa yang dapat dikemukakan Galiullin
untuk minta kepindahannya sendiri? Dengan alasan bahwa tugasnya di tangsi
menjemukan dan tak berfaedah, diajukannya permohonan supaya dikirim
ke medan perang. Dengan begitu ia mendapat penghargaan dan ketika dalam
pertempuran pertama ia menunjukkan ciri-ciri yang gilang gemilang, maka
ia cepat naik menjati letnan.
Galiullin
kenal Antipov dari masa kaim Tiverzin, waktu Pasha Antipov tinggal enam
bulan lamanya di rumah mereka tahun 1905 dan ketika Yusupka datang main-main
dengannya pada hari-hari Minggu. Disitupun ia ketemu Lara satu dua kali.
Sejak itu ia tak dengar apa-apa dari mereka berdua. Tatkala Antipov
tiba dari Yuryatin serta masuk resimen, Galiullin terkejut oleh perubahan
pada sahabat lamanya yang dikenalnya dulu sebagai pemalu, nakal dan
keperempuan-perempuanan, tapi kini telah berobah menjadi seorang terpelajar
yang angkuh lagi murung di matanya. Ia cerdas, sangat berani, pendiam,
dan sarkastis.
Kadang-kadang
bila Galiullin menangkap ungkapan murung di matanya, ia akan berani
sumpah bahwa dilihatnya di situ, hampir suatu gagasan yang merasukinya,
barangkali juga rasa rindu pada anak atau istrinya. Baginya Antipiv
seolah orang lain yang mengganti Antipov yang dulu, hasil penemuan seperti
dalam dongeng. Sekarang Antipov lenyap dan tinggallah Galiullin dengan
segala dokumen serta fotonya, di tangannya adalah rahasia perubahannya
yang tak terungkai.
Terjadilah
apa yang harus terjadi esok atau lusa: penyelidikan Lara tentang suaminya
sampai pada Galiullin. Ia bermaksud hendak kirim surat padanya, tapi
ia sibuk, ia tak punya waktu untuk menulis dengan seksama, pun ia ingin
menyiapkannya menghadapi hal yang mengejutkan itu. Terus ia menunda-nunda
sampai didengarnya bahwa Lara sendiri ada di suatu tempat di medan perang
sebagai jururawat, tapi waktu itu ia tak tahu kemana mengalamatkan suratnya
padanya.
***
ceritanet©listonpsiregar2000