novel Dokter Zhivago 45
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Garis depan sudah mulai bergerak. Sebelah Selatan dari distrik yang didatangi Gordon, pasukan-pasukan kita berhasil menerobos posisi-posisi musuh. Bala bantuan menyusul serta melebarkan bobolan, tapi mereka ketinggalan hingga kesatuan-kesatuan yang maju tadi terpencil dan ditangkap. Antara tawanan itu adalah Letnan Antipov yang terpaksa melaporkandiri, tatkala peletonnya menyerah.

Ia disangka kena granat dan teruruk oleh ledakannya. Ini diceritakan atas jaminan kawannya, Ensign Galiullin yang meninjau dengan teropong dari pos pengamatan, ketika Antipov memimpin serangan.

Yang dilihat Galiullin adalah pemandangan biasa atas kesatuan yang sedang menyerang. Orang maju cepat, hampir berlari, melintasi daerah tak bertuan, padang musim rontok dengan semak-semak kering dan... runcing tak bergerak. Tujuannya ialah menghalau tentara Australia dari parit-paritnya, lalu menubruk mereka dengan sangkur ataupun memusnahkan mereka dengan granat-granat. Bagi yang lari itu padang seolah tak berujung. Tanah di bawah kaki bergeser-geser bagai rawa. Pembawa panji-panni pada mulanya lari di depan, kemudian disamping mereka, sambil melambaikan pistol di atas kepalanya, mulutnya merekah dari kuping ke kuping oleh pekik-pekiknya yang tak tedengar olehnya sendiri maupun oleh pasukannya. Sekali tempo mereka merebahkan diri ke tanah, bangkit serentak, lantas lari berseru-seru. Tiap kali ada satu dua orang kena tembak, jatuh bersama lainnya, tapi caranya lain-lain; ia tergolek bagai pohon di hutan yang ditebang dan tiada bangkit kembali.

"Tembakan mereka melewati sasaran, panggil baterai," kata Galiullin dengan kuatir kepada perwira artileri yang berdiri di sisinya. "Tidak, tunggu, sudah beres."

Para penyerang hampir bertemu dengan musuh, ketika artileri berhenti menembak. Dalam kesunyian mendadak itu para peninjau mendengar deburan hati sendiri, seolah mereka tak ubahnya dengan Antipov, telah membawa anak buahnya ke pinggir parit musuh dan dalam sedikit menit berikutnya diharapkan akan menunjukkan kecakapan dan keberanian yang mengagumkan. Waktu itu mereka lihat dua bom enam belas inci Jerman meledak di depan kaum penyerang. Yang terjadi berikutnya ditutupi kepulan hitam dari debu dan asap. "Ya Allah! Habis. Mereka binasa," bisik Galiullin dengan bibir pucat; ia menduga pembawa panji-panji serta anak buahnya telah gugur. Granat lain turun ke pos pengamatan. Dengan melentik-lentik, para peninjau itu bergegas ke jarak yang lebih aman.

Galiullin dan Antipov tadinya menempati lobang perlindungan yang sama. Karena orang yakin bahwa Antipov meninggal, kawannya diminta mengurus dan menyimpan barang-barangnya untuk si janda yang fotonya banyak terdapat antara benda-benda lain.

Galiullin, seorang ahli mesin barusan mendapat promosi. Dialah anak Gimazetdin, jurukunci di kompleks gedung flat Tiverzin, yaitu Yusupka yang sebagai magang dalam masa jauh lampau dipukuli oleh Khudoleyev, dan berkat orang yang dulu menyiksanya itulah ia kini mendapatkan promosinya.

Setelah pengangkatannya itu, bertentangan dengan kemauannya sendiri dan entah apa sebabnya, ia diserahi pekerjaan enteng sebagai komandan tangsi dalam kota kecil di barisan belakang. Dalam tangsi ini terhimpun orang-orang setengah cacat; para instruktor yang setua mereka, tiap pagi membawa mereka ke latihan yang sudah dilupakan oleh kedua pihak. Ia harus mengawasi latihan serta pergantian pengawal di depan gudang ajudan. Selain itu tak diharapkan apa-apa daripadanya. Ia ongkang-ongkang saja, ketika antara orang-orang panggilan baru yang dikirim dari Moskow dan ditempatkan di bawah perintahnya itu muncul tokoh Pyotr Khudoleyev, yang sangat dikenalnya.

"Nah kawan lama," seringai Galiulin dengan masam.
"Ya tuan," kata Khudoleyev yang bangkit dengan patuh dan memberi salut.

Hal ini mustahil berakhir begitu saja. Pertama kalinya orang preman itu nampak membikin kesalahan dalam latihan, letnan itupun membentaknya dan ketika ia mendapat kesan bahwa orangnya tak memandangnya langsung ke mata tapi agak ke samping, dihantamnya ia pada rahangnya, lalu menahannya untuk dua hari dengan roti dan air dalam kamar tutupan.

Sejak itu tiap gerak-gerik Galiullin berbau dendam. Namun pembalasan begini yang berlandaskan pada kedudukan masing-masing dan pada segala peraturan yang diperkeras dengan tingkat itu terlalu kurang sportif, merendahkan budi. Apa akal? Mereka berdua tak boleh ditempat yang sama. Tapi alasan apa dapat dipakai seorang perwiea untuk memindahkan orang preman dari kesatuannya, dan kalau bukan sebab disiplin, kemanakah ia dapat memindahkannya? Dipandang dari sudut lain, dalih-dalih apa yang dapat dikemukakan Galiullin untuk minta kepindahannya sendiri? Dengan alasan bahwa tugasnya di tangsi menjemukan dan tak berfaedah, diajukannya permohonan supaya dikirim ke medan perang. Dengan begitu ia mendapat penghargaan dan ketika dalam pertempuran pertama ia menunjukkan ciri-ciri yang gilang gemilang, maka ia cepat naik menjati letnan.

Galiullin kenal Antipov dari masa kaim Tiverzin, waktu Pasha Antipov tinggal enam bulan lamanya di rumah mereka tahun 1905 dan ketika Yusupka datang main-main dengannya pada hari-hari Minggu. Disitupun ia ketemu Lara satu dua kali. Sejak itu ia tak dengar apa-apa dari mereka berdua. Tatkala Antipov tiba dari Yuryatin serta masuk resimen, Galiullin terkejut oleh perubahan pada sahabat lamanya yang dikenalnya dulu sebagai pemalu, nakal dan keperempuan-perempuanan, tapi kini telah berobah menjadi seorang terpelajar yang angkuh lagi murung di matanya. Ia cerdas, sangat berani, pendiam, dan sarkastis.

Kadang-kadang bila Galiullin menangkap ungkapan murung di matanya, ia akan berani sumpah bahwa dilihatnya di situ, hampir suatu gagasan yang merasukinya, barangkali juga rasa rindu pada anak atau istrinya. Baginya Antipiv seolah orang lain yang mengganti Antipov yang dulu, hasil penemuan seperti dalam dongeng. Sekarang Antipov lenyap dan tinggallah Galiullin dengan segala dokumen serta fotonya, di tangannya adalah rahasia perubahannya yang tak terungkai.

Terjadilah apa yang harus terjadi esok atau lusa: penyelidikan Lara tentang suaminya sampai pada Galiullin. Ia bermaksud hendak kirim surat padanya, tapi ia sibuk, ia tak punya waktu untuk menulis dengan seksama, pun ia ingin menyiapkannya menghadapi hal yang mengejutkan itu. Terus ia menunda-nunda sampai didengarnya bahwa Lara sendiri ada di suatu tempat di medan perang sebagai jururawat, tapi waktu itu ia tak tahu kemana mengalamatkan suratnya padanya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000