sajak Malam Menyergapmu
Ghassan Zaqtan

Sitok Srengenge
Malam menyergapmu dengan serbuk jelaga beracun
Peziarah yang lelah, bersandar batang sikamor seratus tahun
Baling-baling musim gugur berkesiur
menawarkan tidur

Merinding, menahan dingin
dan pandang sepi orang-orang asing
Jiwa yang gelisah, pewaris abadi hari-hari remah
Ramallah

selengkapnya


draft novel
Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo
Jadilah Natalan pertama di Inggris itu teramat berkesan bagi Jagger. Bukan saja pada Natal itu dia untuk pertamakali makan daging babi, tetapi di dalam suasana Natal itupun dia mengenal lebih jauh tentang kehidupan keluarga Elaine. Pertentangan-pertentangan yang ada di dalam keluarga itu meledak pagi itu, dan berlanjut sampai malam hari, hingga esoknya pula.
Keluarga Elaine tidak merayakan Natal dengan beribadah ke gereja, mereka hanya akan saling menukar hadiah dan makan-minum seharian. Namun persoalan-persoalan lama muncul kembali dan bagai setetes tuba, merusak suasana kekeluargaan yang semula diharapkan hangat dan membahagiakan.Masalah antara Keith dan Elaine juga mengemuka, berawal ketika Elaine dan ibunya bertengkar perkara suatu kejadian yang terjadi belasan tahun silam.
selengkapnya

novel Smaradina Muda Mangin
Syam Asinar Radjam
Bersamaku, Mangin menembus pekat aspal yang mulai berkabut. Mengejar 32 km di depan. Yang aku paham Mangin, mengejar sepasang mata yang satu malam sebelumnya melupakan dia tentang keindahan bintang. Secara eksplisit dia pernah kelepasan omongan tentang ini. Mangin mengendus keindahan, terbawa riung angin yang meriapkan rambut tak akrab sisir nya.
Bergantian lampu dekat jauh menyentuh marka dan rambu, berpendar fluoresenct. Beriringan berberapa kendaraan dengan arah lampu beradu arah. Kadang ketika jalur aspal bersisian dengan jalur kereta api aku merasa berkejaran dengan kereta menuju batubara yang kosong.
Mangin malam itu, yang aku paham bukan hendak menemui raut gadis malam sebelumnya semata.

selengkapnya


novel Dokter Zhivago 46
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo),
disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960
Suami istri Antipov lekas bemukim di Yuryatin. Keluarga Guishar dikenangkan dengan penuh kesayangan dan hal ini telah membantu Lara mengatasi kesukaran untuk menyusun rumah tangga di tempat yang baru. Kini mereka sudah empat tahun di situ. Lara serba repot dan banyak pula yang perlu dipikirnya. Ia harus menjgara rumah maupun Katya, anak perempuan yang kini berumur tiga tahun. Marfutka, bujang berambut merah bekerja keras namun tak sanggup menyelesaikan semua pekerjaannya. Kecuali itu Lara ikut memperhatikan segala kepentingan Pasha, pun mengajar di sekolah menengah putri. Ia bekerja terus menerus dan merasa bahagia. Inilah justru penghidupan yang dimpi-impikannya. Ia suka Yuryatin.
selengkapnya

ceritanet©listonpsiregar2000