sajak Malam Menyergapmu
Ghassan Zaqtan
Sitok Srengenge

Malam menyergapmu dengan serbuk jelaga beracun
Peziarah yang lelah, bersandar batang sikamor seratus tahun
Baling-baling musim gugur berkesiur
menawarkan tidur

Merinding, menahan dingin
dan pandang sepi orang-orang asing
Jiwa yang gelisah, pewaris abadi hari-hari remah
Ramallah

Sepasang tupai melompat ke dalam sungai yang beku
Tangan-tangan malam yang kekar berjuluran dari masa lalu
menggali lubang dan mengubur matahari di tubuhmu
Segala yang telah kautandai dengan kata-kata
seketika kembali ke dalam fana

O, petualang yang mengembarai puing-puing surga
kembali ke ruang hampa, buka jendela, pandangi kapitol tua
Kelindan angin dan cahaya dan bayang-bayang
berselingan menayang terang dan temaram
seakan harap, hadir dan lenyap,
berselisih dengan sedih
2001

Mata Betina
Nin Michaelides
Sitok Srengenge

Mata betina, lekuk teluk, rumpun leli meriapi tepi,
genangan rasa rawan, beriak karena angin ringan
Sauh nelayanku bergetar, alunmu menggeliatkan sunyi,
gelembung air bersembulan dari dalam cangkang kerang

Sunyi dalam jiwaku dentang lonceng puncak menara batu,
gaung kelepak keluang dan malam mengendus getah eukaliptus

Kudengar denyar, samar, saat di tebing ombak pun rebah,
datang jauh dari wilayah dalam diriku yang entah,
mungkin gairah atau pembuluh darah yang pecah

Aku terdampar bagai sepotong dahan damar
Rumput laut, lumut, lumpur, serpih kain layar
Amis-asin kelenjar, aku hasratkan segar air tawar

Oh gelambir lunak ubur-ubur, kelopak-kelopak kelamin!
Oh tubuh yang ngelindur, kecipak riak dan dengus angin!

Mata betinaku, aku perlahan karam ke kelung palungmu
di atas tebing-tebing batu kulupakan jalan keras berliku
Arusmu mengalir tenang, aku terenggut hanyut
di dunia ambang kurengkuh maut, demi hidup berdenyut
2002


Twelve Apostles, Port Campbell
Lauren Bain
Sitok Srengenge

Di lautmu matahari menatahi terumbu
angin bagai prana, bahasa di luar kata,
jejak di pasir kikis sebelum gerimis reda

Dari rimba jiwaku (kaudengar?) gelepar liar seekor bekisar,
putik gairah di dasar kelenjar meletik menjelma kelepak camar

Dibimbing angin yang bagai prana, bahasa di luar kata,
mengisari gelombangmu, matahari yang menatahi terumbu
dikulum kerang di ceruk bebatu

Gerimis mencetak bercak di paras lautan
terguris sejenak lalu lenyap bagai kenangan

Angin dan air ganas mendengus, tebing-tebing cadas tergerus
kau dan aku pun kandas sebelum senja lampus

Kelak kaudengar suaraku, kudengar suaramu,
ketika selusin penempuh tebing itu telah jadi debu
2002

ceritanet©listonpsiregar2000