novel Dokter Zhivago 45
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Kereta api Palang Merah, diperlengkapi dengan sumbangan-sumbangan sukarela yang dikumpulkan oleh Panitia Tatyana Penolong Orang Luka-luka* tiba di Markas Besar Divisi. Kereta api ini panjang, sebagian besar tersusun dari gerbong-gerbong barang yang buruk lagi pendek; dalam deresi kelas satu yang satu-satunya, duduk orang-orang terkemuka dari Moskow dengan hadiah-hadiah untuk tentara. Antara mereka adalah Gordon. Ia tahu bahwa teman semasa kecilnya Zhivago ditugaskan di rumah sakit Divisi; mendengar bahwa rumah sakit itu di sebuah dusun yang dekat, iapun minta ijinyang perlu untuk berjalan di daerah tepat di belakang medan perang, lalu ia membonceng kereta yang menuju ke dusun itu.

Sopirnya adalah orang Beylo-Rusia atau Lithuania yang bahasa Rusianya buruk. Kekuatiran orang yang berlebih-lebihan terhadap mata-mata waktu itu membatasi percakapannya pada omongan resmi yang tak segar; kecewa oleh ketaatannya yang menonjolkan diri itu, Gordon berdiam diri saja selama bagian terbesar perjalanannya.

Di Markas Besar orang sudah biasa dengan tentara yang bergerak serta mengukur jarak dengan kesatuan seratus mil, maka didapatnya keterangan bahwa dusun itu sangat dekat -paling lima belas mil, tapi sebenarnya jaraknya lebih mirip pada lima puluh mil.

Di sepanjang jalanya terdengar desah desau geram dari kaki langit sebelah kiri. Gordon belum pernah mengalami gempa bumi, namun dengan tepat diterkanya bahwa bungi gerantang dari artileri musuh dari jauh yang nyaris tak terdengar itu mirip benar pada goncangan dan deru-deram akibat gunung berapi. Menjelang magrib, nyala jingga berdenyar di atas kaki langit di sebelah itu dan terus berkedip-kedip sampai fajar.

Mereka lewat dusun-dusun yang hancur. Ada yang dikosongkan ada yang penduduknya hidup dalam kolong-kolong jauh di bawah tanah. Banyak tumpukan debu dan reruntuhan berjejer-jejer, seperti dulu rumah-rumah. Seluruh tempat tinggal yang terbakar demikian itu dapat dilihat sekejap mata, sejenis bumi yang tandus kering. Para perempuan tua mengoerk-ngoerk dalam abu, masing-masing di atas reruntuhan rumahnya sendiri, sekali-sekali menggali sesuatu dan menyimpannya; agaknya merasa terlindung dari mata orang asing, seakan dinding-dinding masih berdiri di sekitar mereka. Mereka menengadah ke Gordon dan memandangnya dari belakang waktu ia lewat seolah menanyakan padanya kapan lagi dunia pulih otak sehatnya, kapan perdamaian dan tata tertib dikembalikan dalam kehidupan mereka.

Setelah gelap, kereta di tahan patroli, disuruh meninggalkan jalan raya. Sopir itu tak kenal trayek kereta yang baru. Mereka putar-putar saja berjam-jam tanpa sampai kemana-mana. Waktu fajar tibalah mereka ke dusun yang namanya seperti yang dicari itu, namun tak adayang tahu menahu tentang rumah sakit. Ternyata ada dua dusun dengan nama yang sama. Akhirnya pada pagi hari terjumpailan dusun yang dimaksudkan itu. Tatkala mereka lewat di jalan desa yang berbau bunga dan iodoform, Gordon mengambil putusan tak hendak menginap, tapi mengawani Zhivago siag hari, lantas balik sore itu ke stasiun kereta api tempat ia tinggalkan kawan-kawannya. Tapi keadaan menahannya di sini lebih seminggu.
***
*. Panitia yang diketuai Tatyana, istri Tumenggung Besar, putri Tsar.

ceritanet©listonpsiregar2000