novel
Smaradina Muda Mangin
Syam
Asinar Radjam
Malam
berubah menjadi sangat pendiam, ketika aku memulai memutuskan untuk
membaca ulang pesan-pesan Mangin. Sebuah amplop tebal. Sayup percik
air menuruni batuan jauh di bawah pondokan. Sungainya, ---dari penjaga
pondok tempatku menginap malam ini ---tidaklah sejernih suaranya.
Keruh berbau pinggir kota. Bulan sesekali pemalu. Dijaga awan, pucat
kafan. Pelepah-pelepah kelapa yang terlihat, menunggu sapa angin.
Gegas kubuka amplop yang dia titipkan sebelum aku berangkat meninggalkan
Palembang. Pertemuanku terakhir dengan Mangin, tak bertemu muka. Hanya
sebuah paket post. Dia memintaku untuk menjauhkan masa lalunya. Tak
masuk akal.
selengkapnya
novel
Pangeran
Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo
Prijosusilo
Dapur
mertua Jagger berlantai linoleum kotak-kotak hitam dan putih.
Ia menyapa ibu mertua, mengambil gelas, mengalirkan kran, dan
minum. Air dingin seteguk didiamkan di mulut, lalu ditelan perlahan.
Di luar, salju turun lebih deras. Tidak seperti semalam, ketika
salju tipis jatuh melayang bagai kapas dipermainkan angin, melainkan
tebal dan deras. Langit putih, dan seluruh halaman belakang
yang tampak dari jendela kaca di atas tempat cuci piring kelihatan
putih bersih pula. Pagar-pagar kayu tinggi yang membatasi halaman
belakang dari halaman belakang tetangga kiri dan kanan terlihat
pendek karena permukaan tanah tertutup salju tebal.
selengkapnya
novel
Dokter
Zhivago 45
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo),
disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960
Kereta
api Palang Merah, diperlengkapi dengan sumbangan-sumbangan sukarela
yang dikumpulkan oleh Panitia Tatyana Penolong Orang Luka-luka* tiba
di Markas Besar Divisi. Kereta api ini panjang, sebagian besar tersusun
dari gerbong-gerbong barang yang buruk lagi pendek; dalam deresi kelas
satu yang satu-satunya, duduk orang-orang terkemuka dari Moskow dengan
hadiah-hadiah untuk tentara. Antara mereka adalah Gordon. Ia tahu bahwa
teman semasa kecilnya Zhivago ditugaskan di rumah sakit Divisi; mendengar
bahwa rumah sakit itu di sebuah dusun yang dekat, iapun minta ijinyang
perlu untuk berjalan di daerah tepat di belakang medan perang, lalu
ia membonceng kereta yang menuju ke dusun itu.
selengkapnya
ceritanet©listonpsiregar2000
|