draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Dapur mertua Jagger berlantai linoleum kotak-kotak hitam dan putih. Ia menyapa ibu mertua, mengambil gelas, mengalirkan kran, dan minum. Air dingin seteguk didiamkan di mulut, lalu ditelan perlahan. Di luar, salju turun lebih deras. Tidak seperti semalam, ketika salju tipis jatuh melayang bagai kapas dipermainkan angin, melainkan tebal dan deras. Langit putih, dan seluruh halaman belakang yang tampak dari jendela kaca di atas tempat cuci piring kelihatan putih bersih pula. Pagar-pagar kayu tinggi yang membatasi halaman belakang dari halaman belakang tetangga kiri dan kanan terlihat pendek karena permukaan tanah tertutup salju tebal.

Lagi-lagi, Jagger terkesima mendengar kicau burung ramai, dan tiba-tiba dia tangkap kelebat burung dari sudut mata kirinya. Di luar, dilihatnya sebuah rumah-rumahan kecil dipasang di atas tiang yang dipancangkan di tanah, dan di depan rumah-rumahan itu, sekantung biji-bijian sedang dikerubuti beberapa ekor burung sebesar burung dara dengan bulu ungu dan ekor panjang.

"Look! Look!" Kata Jagger, kagum melihat burung liar itu kelihatan demikian jinak. Ibu mertuanya menengok sebentar dan menjelaskan bahwa burung-burung itu adalah burang Jay, yang biasa datang dan makan di situ. Jagger minum seteguk air lagi, dan kembali pikirannya membandingkan dengan keadaan di tanah Jawa. Bagaimana mungkin, negara maju yang dibayangkan jauh dari segala yang alami ternyata justru memiliki rakyat yang memberi makan burung liar. Sedangkan di Indonesia, yang halus dan berbudaya Timur, burung selalu dikejar-kejar orang untuk dimakan atau dikurung di dalam sangkar. Ia memutar badan dan menghadap ibu mertuanya.

Ibu mertua sedang menyiapkan sepotong paha babi, dengan menusuk-nusukkan kembang-kembang cengkih ke dalam sayatan-sayatan kecil di kulit babi itu. Merasa Jagger sedang menatapnya, dia menjelaskan:

"This is for Keith and Dad. I know you don't eat pork, Jagger."

Jagger mengangguk, lalu pamit kembali ke atas untuk ke kamar mandi. Ternyata pintu kamar mandi yang berada di samping pintu kamar tidurnya, terkunci dari dalam. Jagger kembali ke kamar dan didapati Elaine sudah bangun, duduk dengan wajah gelisah. Dengan berbisik dia menarik lengan Jagger agar mendekat.

"Have you had a bath?" tanya Elaine.
" No. Why?"
"I forgot to tell you something about baths here." kata Elaine, dan dia jelaskan peraturan soal mandi di rumah orangtuanya.

Bak mandi hanya boleh diisi air panas satu kali saja, dan air itu dipakai berendam bergantian. Kenapa? Untuk menghemat. Jadi nanti Jagger harus mandi dengan air bekas berendam siapa saja?

"Jangan bikin persoalan, please, Jagger!"
"I don't want to bath in dirty water." Masa mandi di air bekas berendam orang lain! Pasti ada jembut-jembut berodol dan daki-daki jempol kaki mengapung di air itu.
"What about Sanca? He bath in dirty water too?"
"No, no, Sanca can have his own bath."
"Nah, I use Sanca's dirty water. OK?" dan legalah Jagger dengan keputusan itu. Dia akan mandi menggunakan air bekas Sanca.

Setelah lega mendapatkan pengertian Jagger soal air mandi Elaine bangkit, keluar kamar dan turun menemui ibunya. Jagger berbaring lagi, mengamati wajah anaknya yang tertidur damai dengan senyum tipis yang mengingatkan akan senyum Budha di candi Mendhut. Korden jendela masih tertutup dan kamar masih gelap. Diciuminya bau kepala anaknya, sedap nian bau itu menghangat mesra di dalam hatinya. Betapa senang punya anak.

Tiba-tiba dari arah bawah dia dengar suara wanita bertengkar, dan seketika itu juga ia mengenali itu sebagai suara istrinya sendiri. Apa yang dikatakanya tak jelas, pintu rapat tertutup cukup menghalangi pendengarannya, tetapi jelas dia mendengar suara Elaine nyerocos dalam nada tinggi, dibalas dengan nada tinggi suara ibunya. Wah, gawat nih, pikir Jagger, sambil mengamati wajah Sanca yang berkerut-kerut seperti sedang menangis di dalam mimpi buruk.

Terdengar suara gedombrang seperti seng dibanting, disusul dengan jerit tangis dan langkah kaki susul menyusul naik tangga dengan cepat. Dengan muka merah dan air mata mengalir, Elaine membuka pintu kamar, dan seketika itupun Sanca meledak dalam tangis. Pintu kamar
sebelah terdengar dibanting.

Masih berderai airmata, Elaine memeluk anaknya dan menyodorkan putingnya, semua dalam satu gerak mengalir tak terpotong. Dari kamar tidur sebelah sekarang terdengar suara ibu mertuanya menangis, masih tak jelas apa kata-katanya, tetapi terdengar pula suara Bapak mertua menghibur isterinya yang mulai diam.

"What happened?" Tanya Jagger dalam bisik. Elaine tidak menjawab, dan setelah menyadari adanya sorot api dalam mata Elaine, Jagger tidak bertanya lagi. Pintu kamar diketuk dan suara Bapak mertua Jagger terdengar memanggil.

"Elaine. Elaine. It's me. Open up, now. Your Mum is very upset."

Jagger membuka pintu mendapati mertuanya dengan wajah sedih. Ia melongok ke dalam.

"It's O.K Dad." kata Elaine yang sudah reda emosinya.

Ayah Elaine seperti hendak berkata sesuatu, tetapi urung, dan sambil beranjak, Jagger bertanya pelan: "What happened?"

Bapa mertua berkata pelan kepada Jagger "Women, you know, never happy."

Lalu dengan suara yang lebih nyaring: "See you downstairs for breakfast, Elaine."

Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba pagi yang indah dipecahkan oleh jerit ibu dan anak perempuan yang bertengkar? Ada apa dengan keluarga ini? Kenapa bertengkar justru menjelang merayakan Natal? Dan suara barang dibanting di dapur tadi, apa itu? Jagger cepat menyusul Bapa mertuanya ke bawah.

Di dapur, dilihatnya mertuanya sedang bengong menatap paha babi dan segala kelengkapannya berserakan di lantai. Melihat mertuanya beranjak mau membungkuk dengan susah payah untuk memungut paha babi itu, Jagger tergerak untuk mendahuluinya. Begitu tangannya mencengkeram kuli babi itu, barulah Jagger sadar bahwa seharusnya dia tidak memegang daging yang diharamkan itu. Seketika itu ada perasaan sekaligus pikiran: kepalang basah! dan di ambilnya sekalian piring logam yang dibanting di lantai itu, dan diaturnya paha babi itu seperti sediakala.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000