novel Dokter Zhivago 44
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Mendengar putusan Pasha, Lara tercenung dan mula-mula tak percaya pada kupingnya sendiri. "Gila," pikirnya, "ia hilang akal. Asal tak kuperhatikan, ia akan lupa.

Namun ternyata ia telah bersiap-siap selama dua minggu terakhir. Ia mengirim surat-surat keterangan pada perwira yang ditugasi pendaftaran, penggantinya di sekolah menengah sudah ada, lagipula ia telah menerima perintah supaya berangkat ke sekolah latihan militer di Omsk.

Lara melolong bagai istri petani, menggapai tangan Pasha dan terguling-guling di depan kakinya. "Pasha, Pasha sayang," pekiknya, "jangan tinggalkan kami. Jangan begitu, jangan. Belum lagi terlambat, kuurus semuanya. Kau belum pula menempuh ujian ilmu kedokteran dan lagi hatimu itu... Kau malu berobah pikiran? Tapi tak malu mengorbankan keluargamu untuk gagasan yang gila? Kau tak pantas jadi tentara sukarela! Seumur hidupmu kau ketawai Rodya, tapi sekarang kau iri hati. Kaupun akan membanggakan diri berpakaian seragam, akan ikut main-main pedang. Pasha, mengapa kau? Kau kehilangan pribadimu, lain dari biasanya. Apa sebab kau berobah? Katakan dengan jujur, demi Kristus, tanpa ucapan muluk-muluk, betulkah ini yang dibutuhkan Rusia?"

Tiba-tiba sadarlah ia bahwa sama sekali bukan itulah soalnya. Meskipun ia tak mengerti seluruhnya, namun yang terpenting dapat dirabanya. Pasha salah paham tentang sikap Lara terhadapnya. Ditentangnya perasaan keibuan yang selama hidupnya merupakan sebagian dari kasih sayangnya kepadanya; ia tak mengberti bahwa cinta demikian adalah lebih, bukannya kurang dari perasaan biasa wanita terhadap lelaki.

Lara menggigit bibir dan dengan meringkuk, seolah ia dicambuk dan menelan air matanya, mulailah ia mengemaskan barang-barang Pasha.

Sesudah suaminya berangkat, seluruh kota seolah sunyi, bahkan seolah jumlah gagak yang berterbangan di langit berkurang. "Nyonya, nyonya," Marfutka hendak menenangkan kembali. "Ibu, ibu," Katya menarik-narik lengannya. Dia telah mengalami kekalahannya yang terbesar selama hidupnya. Harapannya yang paling baik dan cemerlang telah runtuh.

Surat-surat Pasha dari Siberia mengisahkan segenap perasaannya. Ia melihatnya segala lebih terang. Ia amat rindu pada istri dan anaknya.

Namun beberapa bulan kemudian ia mendapat pengangkatan darurat sebagai tanda pengharggan dan secara tiba-tiba pula ia dikirim untuk tugas aktif. Perjalanannya tak mendekati Yuryatin, sedangkan Moskow ia tak punya waktu untuk mengunjungi siapa-siapa.

Ketika ia menulis dari medan perang, bunyi suratnya tak begitu murung. Ia hendak berbuat yang istimewa, hingga sebagai hadiahnya atau sebagai akibat luka enteng ia mungkin boleh cuti dan pulang untuk menengok keluarganya. Ia lekas mendapat kesempatan. Pasukan-pasukan Brussilov menerobos dan menyerang. Surat-surat Pasha tak datang lagi. Lara mula-mula tak kuatir. Disangkanya Pasha bungkam itu karena operasi-operasi militer, ia tak sempat menulis bila resimennya bergerak. Tapi di musim rontok kemajuan kian lambat, pasukan-pasukan menunggu dalam parit-parit, namun masih saja belum ada kabar dari padanya. Ia mulai gelisah dan mencari keterangan, pertama-tama ditempatnya sendiri di Yuryatin, lalu melalui pos di Moskow, kemudian ke alamatnya yang lama di medan perang. Jawaban tak ada, agaknya tak seorangpun mengetahui apa-apa.

Bersama wanita-wanita setempat lainnya, Lara telah membantu di bagian militer yang digabungkan pada rumah sakit kota. Kini ia berlatih sungguh-sungguh dalam kualitetnya sebagai juru rawat, memperoleh ijin meninggalkan sekolahnya untuk enam bulan; kemudian dengan memasrahkan rumahnya pada pengawasan Marfutka, dibawanya Katya ke Moskow. Ditinggalkannya anaknya pada Lipa yang hidup sendirian, sebab suaminya Friensendank adalah warga Jerman, hingga diinternir bersama warga-warga musuh lainnya di Ufa.

Karena yakin bahwa cara-cara lain untuk mencoba mendapat kabar dari Pasha tidak ada guna, Lara telah memutuskan untuk pergi mencarinya. Dengan maksud inilah ia beroleh pekerjaan sebagai perawat dalam kereta api klinik yang menuju ke tapal batas Hungaria, melalui kota Liski, alamat terakhir oleh Pasha yang diberikan padanya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000