sajak Letug Yang Kehilangan dan Mencari Mengenang Iing
J.J. Kusni

1.
baris-barismu bertutur tentang duka, rindu, luka dan kehilangan
berkisah tentang masa silam jauh seperti cakrawala tak lagi tergapai tangan
sedangkan senjanya berwarna merah hari-hari berdarah
dan kau menjadi burung yang terbang melintasinya mencari ufuk bersarang
coba hitung berapa banyak mereka di langit ke utara ke selatan diterbang nasib

boleh jadi begini, letug sahabatku yang pengembara
cinta yang sungguh lebih banyak menuntut kesanggupan bertarung
kesanggupan untuk menarungi luka, rindu, kehilangan dan kenangan
merenungi jalan sudah kulewat dan juga ketika berbincang
dengan matahari berulang datang di depan jendela
ketika mencoba memahami arti warna malam akupun sampai pada pertanyaan:

bukankah perobahan dan perobahan saja yang kekal
lalu mengapa aku patut tersedu dan di hadapan duka lantas hilang akal
malampun seperti matahari seperti musim selalu saja berganti tak tertahan
hingga bertahan menjaga haluan jauh memberi kemungkinan pada harapan
sedangkan menyerah hanya jadi kehancuran sia-sia -- total sia-sia
kerna itu kukatakan pada diri pertarungan itu buaianmu, kusni
kerna sering kita tak dewasa-dewasa dan sering jadi bocah kembali


2.
kau kehilangan iing-mu
becky, elceem entah siapa lagi
boleh jadi satu di antara lima penduduk negeri ini
adalah orang-orang kehilangan, luka dan dilukai
orang-orang yang didera apalagi jika menolak kelaliman
dan aku tak mengutuk indonesia yang juga menderita
aku cuma menuding dan menggugat pengangkang negeri
untuk mempunyai negeri kita patut melakukan penjungkirbalikan sistem

3.
pernah iing menyanyikan indonesia raya dengan berurai airmata
artinya ia merasa dan memang anak indonesia
kemudian anak bangsa inipun hilang entah ke mana
seperti masih kudengar hari ini, bung letug, iing masih berseru dan menyanyi
indonesia raya kerna ia tak mecampakkan diri dan warnanya
kerna indonesia bukan monopoli tapi milik bersama
lima puluh tahun lebih waktu sudah menciptakan tanda kebersamaan
abad demi abad sudah lama memperkenalkan suku demi suku
kitapun jadi fasih berbahasa persatuan yang bukan impor
masa lalu, hari ini dan kelakpun kehilangan dan derita yang melukai
tak bakal usai kukira dan hidup mewajibkan kita bertarung tanpa menyerah
aku masih mempercayai kemenangan manusia juga di sini, letug!
***
Perjalanan 2002

ceritanet©listonpsiregar2000