cerpen
Kalina
Ramadhan
Pohan
Kalina
puteri Balkan. Gadis ayu ini lebih pantas menjadi anakku. Atau
sekurang-kurangnya adalah keponakanku. Umurnya baru dua puluh
tahun. Tidak sampai separuh dari usiaku yang 43 tahun ini. Sesungguhnya.
''Benarkah
kamu serius ingin mengawini saya?''
''Hmm... Kenapa bertanya begitu?
''Aku ingin meyakini macam-macam perasaanku.
Perasaanmu. Atau mungkin perasaan kita.''
''Jika aku menjawab ya, apakah kamu...?''
''Heh... Tentu saja aku tak mau!''
Sudah sekian kali aku mengajukan proposal kawin pada Kalina.
Tak pernah ia menyetujuinya. Untuk kesekian kali aku tak bosan-bosan
merayunya. Yang kesekian kali juga ia tak bosan menolaknya.
Kawan-kawan,
terus terang sesungguhnya aku tidak serius merayu Kalina. Hah,
menikahinya?! Ho oh, tak mungkin... itu semua tak mungkin. Aku
masih mempunyai kewarasan kelakian. Sebuah kewarasan yang kujadikan
senjata bagi surviveku. Kewarasan yang amat aku bangga-banggakan.
Kewarasan
mengajarkan perbedaan kontras tentang kultur masyarakatku yang
senantiasa kuusung sampai di negeri ini. Seorang calon istriku
mestilah taat dalam ajaran agama. Ia juga pandai mengurus suami.
Bisa mengatur budget keuangan keluarga. Ia pun harus pintar
mengambil hati supaya bisa masuk ke dalam sanubari selera keluargaku.
Selera masyarakatku. Negeriku.
Pada diri
Kalina, satu pun tak ada yang pas dengan kriteria tersebut.
Bahkan sangat berjauhan. Kalina tidak bakal bisa mau mengerti
tuntutan dan pelbagai tetek-bengek itu. Konsep perkawinannya,
menurut reka-rekaku, sebatas pada kepentingan dia dan suaminya.
Atau dia dengan anak-anaknya, itu pun jika ia memang ingin memiliki
anak.
Ah, persetan betul dengan kewarasan! Aku menyukai Kalina. Titik.
Aku tidak bakal mau memperisterinya. Titik. Aku mau senang-senang
saja. Titik. Aku tidak mau terikat tetek-bengek birokrasi, misalnya
administrasi pernikahan apapun dengan dia. Titik. Semua, jika
bisa harus kubuat titik. Titik.
Jika bung-bung paham, sebenarnya konsepsiku sudah jelas. Aku
tahu apa yang kuinginkan. Aku tahu apa yang harus kuhindarkan.
Semua ada di kepalaku. Semua ada pada rancanganku.
Aku sangat mengerti kecantikan Kalina. Tubuhnya langsing semampai.
Rambutnya lurus melewati bahu. Matanya biru meniru langit. Tatapannya
acap membikin jantung berdebar-debar. Belum lagi bibirnya...
Kalina memang sangat pintar bermain cinta.Ia selalu membuatku
lupa segala-galanya. Lupa umur. Lupa waktu. Lupa ruang. Lupa
status. Lupa kenyataan potensi kelakianku.
Aku dan Kalina sering bepergian ke luar kota. Berdua saja. Musim
semi lalu kami pergi ke Lembah Mawar, Kazanlek. Lalu memutar
perjalanan ke sebuah kota kecil tempat wisata: Bansko yang berjarak
160 km dari Sofia. Ini kunjungan kami yang kesekian. Di sini
kami biasa melakukan pendakian. Mendaki bukit. Mendaki cinta.
Sebuah
kota bangunkan kita
Kamu ngelantur main cinta
Tubuhku meluncur dari ketinggian bukit
Bagai bola salju menghantam tiang-tiang troly
Di musim dingin nanti
Aku tergelincir di bibirmu beku
Kita akhirnya terbakar
Kota mendamparkan kenyataan
kewanitaanmu janjikan cahaya
kelakianku kembali masa purba
Aku belajar tentang kegelisahan
Gelisah adalah kelahiranku
...
Yang kubawa berlari di pebukitan Balkan
dan menghempaskannya ke sejumlah susu
Sampai pada masa karam
di atas malam bersuhu nol
pada sebuah peristirahatan ketinggian Bansko
Di situ kita jatuh dan aku bergulingan
dengan bayangku yang dimangsa embun
Aku suka
geli jika membaca catatan percintaanku dengan Kalina itu. Setiap
saat, jika catatan itu kubaca secara sengaja atau tidak sengaja,
rinduku langsung menyentuh langit. Bagai remaja belasan tahun,
akupun memburunya ke mana saja. Setelah bertemu, biasanya kencan
kami jadi jauh lebih ambisius.
Kalina
mewarisi kecantikan Slav. Aku merasa beruntung menetap di Balkan.
Bersyukur mengetahui kemolekan gadis-gadisnya. Satu di antaranya
adalah kau, Kalina.
Bung, padamu
kukatakan, Kalina jauh lebih memikat dibandingkan empat percintaanku
di Yogya dulu. Kalina memiliki kecantikan yang berpotensi meruntuhkan
iman. Aku senantiasa menemukan kelakianku pada tubuhnya. Sementara
di Yogya dulu, masa percintaan lebih diisi dialog budaya, diskusi
kehidupan dan membeber kata-kata yang sesungguhnya sia-sia.
Tidak ada
tidur bersama. Paling sekadar berciuman. Itu pun musti di tempat
yang tersembunyi dari pandangan publik.
Masa lampauku memang membutuhkan itu. Masa kiniku memerlukan
tuntutan lain. Cinta kubentuk lewat tubuh. Lewat bibir. Lewat
ranjang. Bukan lewat kata-kata. Atau nurani. Atau norma dan
nilai "ketimuran" (Aku begitu alergi dengan istilah
ini).
Bung, ada juga aku mendengar tipikal wanita seperti Kalina banyak
di Jakarta sekarang ini. Bahwa mereka gampang diajak tidur.
Gampang dicium di sembarang waktu dan tempat. Tetapi, bung,
aku sangat tak yakin kecantikan mereka bisa mengimbangi Kalina.
Permainan cinta Kalina pun jauh lebih piawai! (Bung menduga,
komparasi ini tentu berdasarkan pengalaman empiris. Aku jawab:
Masya Allah!). Aku tidak mengada-ada.
Kalina bagai penari. Tahu kapan dan kemana jari-jemarinya memetik
berahi. Menyapu nafasku. Membuatku terbang. Menyadarkan kelakianku.
Pada gilirannya Kalina otomatis telah membangkitkan vitalitas
kerjaku sebagai manager perusahaan ekspor-impor pakaian jadi.
***
Kalina puteri Balkan. Gadis ayu ini lebih pantas menjadi anakku.
Atau sekurang-kurangnya adalah keponakanku. Umurnya baru dua
puluh tahun. Tidak sampai separuh dari usiaku yang 43 tahun
ini. Sesungguhnya.
Kalina tiba-tiba
mengejutkan. Dia datang tidak dengan jati dirinya yang lain.
Matanya menatap tajam, menghunus sebuah nafsu. Semula kutafsirkan
ia ingin mengajakku tidur. Atau menawarkan gagasan mengajakku
ke luar kota. Liburan musim panas.
Konsepsiku
tentang Kalina segera berantakan. Membuatku panas dingin. Ketidakpercayaan.
Ketakutan. Was was. Cemas. Ragu-ragu. Curiga. Aku menduga-duga
mana yang harus kuyakini.
Kalina
minta dinikahi! Karena alasan ekonomi.Ayahnya kena PHK gara-gara
bank tempatnya bekerja bangkrut. Inflasi Bulgaria merajalela.
Mata uang keras, terutama US$, dengan perkasa menginjak daya
mata uang negeri mereka, Leva. Jika 3 bulan sebelumnya US$ 1
= Lv 75, kini menjadi Lv 190. Harga-harga membubung ke langit
pekat.
''Masa alasan ekonomi begitu membuatmu berubah?''tanyaku.
''Kamu
menolak? Terserah. Kita bisa pisah sekarang!''
Aku seketika tahu Kalina benar-benar serius. Diam-diam dia pun
menyadari keberpuraanku mengajaknya menikah dulu. Dia pun mengetahui
tipikal lelaki penipu seperti apa aku. Ya, aku memang suka berpura-pura.
Aku memang egois. Sesungguhnya aku memang tidak pernah serius.
Kecuali aku sangat serius untuk bermain-main.
Kalina pergi meninggalkan ultimatum. Aku hanya diberi waktu
24 jam memberi keputusan. Tidak ada kompromi lagi. Tidak ada
basa-basi. Tidak ada senda gurau. Ada pertanyaan. Maka harus
ada jawaban. Absolut.
Aku benci dengan situasi ini. Semula kupikir ini akan mudah.
Aku cukup mengatakan "Tidak". Lalu cao-cao. Dan aku
bisa mencari burung Balkan lain yang bisa menjadi pelipur sunyi.
Toh, apa sih susahnya mencari wanita seperti Kalina di sini.
Ibarat mencari warung tegal di Jakarta.
Tapi aku menyadari bahwa tubuhku sulit menerima wanita lain
kecuali Kalina. Aku sudah mendapatkan tipikal wanita yang kucari
saat ini. Aku tidak bakal bisa tenang tanpa merasakan baunya.
Bibirnya. Tubuhnya...
Bung, akhirnya aku menyadari kelemahanku ini. Betapa aku didominasi
oleh selera murah kaum lelaki. Bahwa aku tak lebih pemuja seks.
Bahwa aku ternyata juga lelaki absolut.
Semula ajakan
perkawinan kujadikan permainan. Sekarang tidak bisa lagi. Kini
aku dituntut untuk serius dengan permainan itu. Aku tak bisa
bermain-main dengan keseriusan itu.
Aku belum
mempunyai keputusan menerima atau menolak Kalina. Aku tahu aku
masih membutuhkan tubuhnya. Aku tahu aku tidak membutuhkan administrasi
pengesahan hubungan kami. Aku tak menganggap perlu lembaga perkawinan.
Paling tidak buat Kalina.
Bung, aku
sempat terpikir untuk menerima ajakan Kalina. Menikah. Dengan
begitu aku bisa tetap memiliki tubuhnya. Bahkan jadi lebih permanen.
Soal ekonomi dia, terpecahkan. Soal biologisku, menemukan solusi.
Dia senang, aku pun begitu.
Tetapi
masalahnya, aku tak siap menerima cercaan keluargaku, teman-temanku,
kerabat-kerabatku. Masyarakatku. Negeriku. Sebab mereka menganggap
aku lebih pantas menikah dengan seorang perawan Melayu.
Hah, keperawanan?! Omongan busuk apa lagi ini.Walau hati kecilku
memang menginginkan itu. Lelaki sebrengsek aku masih membutuhkan
status perawan istriku? Lalu Kalina?
Sebelum tidur denganku, Kalina sudah biasa melakukannya dengan
macam-macam lelaki. Katanya, dia memulai hubungan seks sejak
berusia 14 tahun-- sesuatu yang amat lumrah bagi masyarakat
Kalina. Sesuatu yang sangat tidak lumrah bagi masyarakat aku.
Aku sendiri? Sejak dua puluh tahun lalu aku mulai mengenal hubungan
seks. Pertama kali dengan Bibi Sita, istri dari teman Pakde
Kardjo yang aku lupa namanya. Itu terus berlanjut. Jika dihitung,
hingga kini aku sudah meniduri minimal 99 wanita. Mereka dari
pelbagai etnis. Macam-macam bangsa.
Aduh, Kalina, kau berikan soal super pelik padaku. Kau semburkan
ide gila pernikahan. Sesuatu yang amat memuakkan aku. Melemahkan
mentalku. Meluruhkan semangat hidupku. Membuka kedok kepalsuanku.
Menguak tabir catatan buruk jalan hidupku.
Bung-bung, aku pun sempat terpikir untuk lari saja dari soal
Kalina. Aku membencinya. Aku mau muntah.
Masa deadline dari Kalina tinggal sesaat lagi.Semalaman aku
tidak bisa tidur. Beribu cerita mengalir di kepalaku. Biografi
hidup dia menjulur satu persatu dari memoriku.
Sampai pada saat yang kritis. Adalah bayangan Kalina menampar
libidoku. Kisah winter yang lalu. Dalam memori itu, Kalina menarik
dan mencomoti mantel dan pakaianku pada sebuah lift blok apartemenku.
Bibir Kalina memerah. Lembut. Sesegar cocktail. Dan aku ingin
mengunyah sopska salata ...
***
Sofia, Summer 1996