draft novel Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Pagi-pagi buta, rombongan keluarga Jagger sampai di rumah orangtua Elaine di pinggiran kota Liverpool. Jagger bangun dari tidur saat mobil yang
dikemudikan Elaine berhenti di depan rumah. Ketika Jagger membuka pintu, hawa dingin menampar kulit muka, menembus celana kulit Cibaduyut yang dipakai.

Ketika ia menghirup nafas, dirasakan dingin membakar cuping hidungnya. Salju pun turun melayang-layang bagai kapas, menutup permukaan bumi dengan lapisan putih suci. Salju itu masih tipis, gelap dedaunan dan rumputan tampak menyembul di sela-sela putihnya. Jika salju terus turun, bisa dipastikan bahwa hari Natal akan berupa "white Christmas" bersalju.

Ketika diberitahu oleh mertua lelakinya, Jagger baru sadar bahwa cuaca Inggris bagian utara lebih dingin dibandingkan dengan bagian selatan.

Mertua menawari minum teh atau kopi atau port. Saat itu tahulah Jagger bahwa port adalah sejenis wine yang tinggi kadar alkoholnya, dan biasa diminum setelah makan malam sebelum tidur. "Would you like a night-cap?" tanya mertuanya, dan Jagger jadi tahu, bahwa night-cap, yang arti harfiahnya
adalah topi-malam, berarti sesloki minuman sebelum tidur.

Rumah mertua Jagger adalah rumah khas Inggris yang dinamakan two-up-two-down ; rumah dengan dua kamar di atas dan dua kamar di bawah. Di bagian bawah, ada ruang tamu dan dapur, sedangkan di atas ada dua kamar tidur. Satu kamar tidur dipakai mertua, satu lagi adalah kamar Keith dan Elaine semasa kecil.

Lalu ada satu lagi kamar kecil tambahan, dibuatkan khusus untuk Keith sewaktu dia mulai dewasa, yang memotong sebagian dari kamar tidur utama. Keluarga Jagger menempati kamar Elaine dulu, tetapi karena ranjangnya terlalu kecil, Jagger menggesernya ke tepi, menggelar bantal dan selimut tebal di lantai, dan sekeluarga mereka tidur di bawah. Sanca kecil, seperti biasa, bersikap manis dan tidak rewel, segera tidur dengan pulas dipelukan bapaknya.

Keesokan hari, ketika Jagger terbangun karena dingin : selimut yang menghangati tertarik oleh Elaine yang tidur mengapit Sanca, satu perasaan
aneh menyelimuti dirinya. Satu pertanyaan menggelisahkan hatinya. Apakah ini bulan Ramadhan? ... Jagger tak tahu persis. Dia selalu menghindari James
yang senantiasa mengajak ke masjid, dan sekarang, tiba-tiba ada perasaan panik di benaknya, panik bahwa dia sudah menapaki bulan suci Ramadhan tanpa
menyadarinya. Sebilah sesal menusuk hatinya. Hampir yakin dia merasakan bahwa saat ini adalah bulan Ramadhan, dan dia tidak puasa, malahan rajin
mabok minuman dan ganja. Kenapa aku tiba-tiba ingat puasa?

Biasanya dia tidak pernah puasa, kalaupun puasa dia hanya puasa selama beberapa hari, lalu meneruskan kebiasaan makan minum mengganja dan bercinta --maksiat semua menurut ujaran ahli agama. Kenapa sekarang saat bangun tidur tiba-tiba dia ingat dan rindu akan puasa?

Burung-burung liar berkicau dengan ramai di luar. Jagger mendengarkan sambil terlentang berjaga. Betapa di Jogja sudah tak ada lagi burung liar berkicau, pikirnya. Kenapa di Jawa yang mayoritas orang beragama dan Islam pula, tak ada lagi mahluk Tuhan bernama burung yang bebas berterbangan seperti di Inggris yang tidak beragama dan sudah sangat lebih terindustrialisasi dan sangat lebih maju?

Dalam hati Jagger menyalahkan Suharto dan Orde Barunya yang dengan semena-mena menggairahkan konsumerisme dan menebar pestisida di seluruh bumi Jawa demi intensifikasi pertanian yang ternyata menjerat petani dalam hutang karena biaya pupuk kimia dan pestisida yang dibutuhkan padi bibit unggul ternyata seringkali, bahkan biasanya, melampaui hasil panen. Racun-racun pertanian moderen itulah yang telah memunahkan burung-burung yang dikenalnya di masa kecil.

Berapa tahun sudah dia tak pernah melihat burung Srigunting yang gagah, dengan bulu ungu kehitaman dan ekor belah seperti gunting? Sudah
lama, mungkin Srigunting telah punah dari tanah Jawa. Burung Kepodang pemakan buah yang kuning menyala dengan semburat hijau tua di sayapnya?
Gelatik pemakan padi, mungil ungu kelabu dengan merah di lingkar matanya, yang berombongan dalam hitungan ribuan? Rajawali? Alap-alap? Lama sudah dia tak melihatnya. Tetapi di Inggris, tempat lahirnya kapitalisme, burung-burung liar telah jadi jinak karena tidak dimusuhi manusia, bebas berkicau menyambut pagi.

Pasti ini Ramadhan, pikir Jagger, dan aku tidak puasa. Bismillah kepalang basah, dia berdo'a dalam hati, dan dia niatkan saat itu juga untuk tidak
puasa, bahkan, dalam hati dia berdo'a minta diberi izin dan ridho Allah untuk tidak berpuasa, melainkan mabok dan makan sepuasnya. Baru dia sadari
mulutnya kering karena terlalu banyak minum alkohol sebelum tidur. Ia bangkit dan kencing lalu turun, ke dapur, di mana ibu Elaine sudah sibuk
menyiapkan bahan makanan untuk masakan hari itu.

Sambil turun tangga Jagger ingat bahwa selama di Inggris ini dia sudah beberapa kali berselingkuh meniduri perempuan selain Elaine. Ingatannya mencitrakan beberapa sosok perempuan di benaknya; Tania, Suzanne, dan Sarah, tiga orang baby-sitter yang dicumbunya di semak belukar Holland Park saat dia memomong Sanca di sana.

Ah, persetan, pikirnya, kalau gue masuk neraka, malah kebetulan bareng dengan Marilyn Monroe, simbol sex abad XX yang konon pernah bercinta sepukul dua pukul dengan Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
***bersambung

draft novel Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu menerima usul, saran dan kecaman ke Bramantyo Prijosusilo

ceritanet©listonpsiregar2000