laporan Imagine-nya Lenon di Abad 21
Lenah Susianty

Desember tahun lalu, ketika musim dingin mencengkramkan giginya di London, saya masuk dalam barisan antrian ular panjang di depan Kedutaan Perancis untuk minta visa. Pada kunjungan pertama, antrian sudah lebih 20 meter ketika saya tiba dan begitu saya berhasil mencapai pintu konsulat, petugas menutup pintu dengan alasan sudah terlalu banyak pelamar visa di dalam ruangan.

Saat itu saya sudah mengantri sekitar 5 jam di tengah dinginnya angin musim dingin. Orang-orang yang masih mengantri protes dan polisi sempat didatangkan karena ada yang mau memaksa masuk. Tapi petugas konsulat tak bergeming. Saya yakin mereka sudah dididik untuk berhati es supaya terbiasa melihat nenek tua, wanita hamil, dan anak-anak antri berjam-jam kedinginan di halaman gedung konsulat. Mereka sudah tak lagi punya empati atau simpati atau rasa iba atau apalah. Saya ngeri membayangkan kalau mereka juga berhati es di luar pekerjaan.

Bagaimanapun dengan semangat tinggi keesokannya saya datang lagi. Lebih pagi tapi antrian lebih panjang lagi dan gagal lagi. Tiga kali lagi saya datang ke sana, dan dalam salah satu kesempatan bertemu dengan seorang wanita lanjut usia yang akhirnya berhasil mendapat visa setelah menginap di depan konsulat. Saya taksir usia wanita itu mungkin 70an tahun dan malam-malam itu suhu bisa jatuh ke bawah titik nol. Saya juga sempat antri sambil membawa dorongan bayi karena tak ada yang menjaga anak di rumah.

Tapi salah satu upaya saya untuk mengantri ternyata amat mahal bayarannya. Waktu itu saya antri sendirian dan seperti sudah jadi bagian biasa dari kehidupan hari-hari itu; saya gagal lagi dapat visa. Di balik rutinitas itu, tangan anak saya kejepit pintu di rumah. Salah satu kuku jari kanannya putus dan harus dioperasi. Sampai di rumah yang saya dapati cuma darah berceceran dimana-mana dan kepanikan membawa anak ke rumah sakit.

Namun tiket ke Perancis sudah dibeli untuk liburan tahun baru di Perancis. Saya tak sanggup sendirian di rumah sementara seluruh keluarga --yang tak memerlukan visa Perancis-- berangkat berlibur di seberang Selat Channel. Akhirnya diputuskan saya akan menyelundup.

Dua hari sesudah natal, kami naik mobil ke pelabuhan Poole di sebelah barat daya Inggris untuk menyeberang dengan ferry ke wilayah Britanny di Perancis. Karena sudah berkali-kali menjalani rute ini, kami tahu pasti kalau pemeriksaan cuma ada satu kali, yaitu bersamaan dengan pemeriksaan tiket saat masuk pelabuhan. Di dalam ferry dan ke luar pelabuhan biasanya tidak pernah ada pemeriksaan apapun. Apalagi ferry akan merapat di Perancis subuh, ketika pelabuhan masih lengang.

Malam itu, begitu sampai di pelabuhan Poole petualangan kecil pun dimulai. Mendekati pelabuhan, duvet alias selimut besar yang tebal ditebar di tempat duduk belakang. Saya duduk di lantai mobil di balik sebaran duvet, bantal, dan macam-macam barang lainnya. Posisi amat tidak nyaman, ditambah harus duduk diam membisu sekitar 2 jam.

Begitu menyerahkan tiket dan paspor, bapaknya anak-anak menjelaskan kalau hanya tiga orang saja yang akhirnya berangkat walau ada empat nama yang tertera di tiket. Disebutkan kalau saya sedang sakit sehingga tidak jadi berangkat, sementara di bawah tumpukan duvet dan barang saya mendengar percakapan dengan gemetaran. Saya tahu persis bapaknya anak-anak pastilah ketar-ketir untuk berbohong dan saya kuatir kalau petugas jadi curiga dengan ketidak-lanaran penjelasannya.

Sebelumnya saya sudah menegaskan apakah dia siap menanggung resiko jika tertangkap, dan dia dengan yakin mengatakan siap walau dalam prakteknya tentu tidak mudah untuk membunuh total rasa takut. Yang menambah ketegangan adalah anak saya yang masih bayi sibuk memanggil-manggil 'mommy, mommy' karena dikiranya saya sedang bermain petak umpet. Iapun kemudian disogok diam dengan sebatang besar coklat.

Kegelapan malam sepertinya menutup ditail-ditail di dalam mobil sehingga kami bisa lolos. Persembunyian masih harus berlanjut sampai masuk ke dalam ferry karena setiap mobil diberi stiker yang mencantumkan jumlah penumpang di dalam mobil. Artinya saya harus berusaha untuk selalu tidak terlihat sampai tiba di Perancis, walaupun tak ada yang menjaga pelabuhan.

Sempat terlintas pikiran betapa tak enaknya menjadi warga negara berkembang karena alasan dari seluruh urusan visa ini adalah kekuatiran imigran gelap --seolah-olah semua orang negara berkembang pasti lebih suka tinggal di negara maju. Anak saya dan bapaknya yang berpaspor Inggris seenaknya saja keluar masuk Eropa daratan tanpa perduli visa-visaan. Dan saya bisa membayangkan betapa susahnya buat orang Indonesia di Jakarta untuk mendapatkan visa ke negara-negara maju.

Bagaimanapun persolan visa juga dihadapi warga negara lain, termasuk anak saya yang berpaspor Inggris. Untuk bisa berkunjung ke Indonesia, dia harus mendapat visa dari konsulat Indonesia di London. Bedanya, tak ada antrian panjang, dan petugasnya pun ramah karena sudah kenal --walau saya pernah menyaksikan kejudesan dan kesombongan staff konsulat Indonesia ketika berhadapan dengan pemohon visa berkulit hitam. Tapi prinsipnya, urusan visa di konsulat Indonesia sudah pasti lancar selama mau membayar.

Masalahnya tinggal empat minggu di Indonesia berarti harus membayar 18 poundsterling untuk visa sosial budaya yang bisa diperpanjang lagi di Indonesia. Sedang kalau mau tinggal lima minggu di Indonesia, biaya langsung melonjak dua kali lipat menjadi 30 poundsterling, juga bisa diperpanjang di Indonesia.

Saya tidak mengerti mengapa beda satu minggu bisa membuat biaya melonjak begitu jauh. Tapi logika seperti ini tentu gampang diatasi karena sebagian besar pemohon visa Indonesia memilih untuk 4 minggu saja, karena kalaupun mau diperpanjang jadi 8 minggu bisa dilakukan di Indonesia.

Dan di Indonesia urusan perpanjangan cuma sekdar urusan membayar saja. Setelah mendengar kalau mengurus sendiri ke kantor imigrasi akan memakan waktu dan melewati birokrasi yang bertele-tele, saya putuskan untuk membayar agen dengan tambahan esktra 650 ribu rupiah harus dikorbankan.

Waktu itu saya pikir itu tak masalah karena sudah bertekad untuk mengenalkan anak dengan tanah kelahiran saya di Sukabumi. Cuma ada seorang kawan yang punya anak berpaspor Australia dan dia mentertawakan saya karena sebenarnya anak-anak itu tak perlu membayar sepeserpun. Dengan paspor Austrlia dan Inggris, orang bisa mendapatkan visa turis selama dua bulan di bandara Seokarno-Hatta pada saat kedatangan. "Anak-anak saya selalu lolos masuk dengan visa turis," seringai sang kawan menertawai ketidak-beruntugan saya.

Sayapun mengingat staf konsulat Indonesia di London yang tidak menawarkan alternatif visa turis saat kedatangan di Jakarta, ataupun petugas kantor imigrasi yang mengingatkan agar lain kali bisa ditempuh cara yang lebih mudah. Mungkin memang para petugas konsulat yang mengurus visa, dimanapun, diharuskan untuk berhati es. Tinggal berhati es untuk menjaga antrian atau berhati es untuk mendapat pemasukan bagi konsulat.

Yang jelas sekarang saya jadi anti-visa dan anti-negara. Saya ingin tak ada lagi batasan negara sehingga semua orang bisa bebas melintas batas.

Jadi sayapun semakin teringat lagu Imagine John Lenon ; "...imagine there is no country..." Dan saya bercita-cita bikin partai dengan platform politik 'dunia tanpa batas negara untuk siapapun.'
***

 

ceritanet©listonpsiregar2000