cerpen Presiden Shinta
T. Wijaya

Sejak lahir Shinta sudah mempertanyakan soal kematian. Saat itu kereta api sudah mengenal klas eksekutif. Abahnya yang bertugas membersihkan sampah dan mencuci lantai gerbong eksekutif, setiap kali kereta tiba di stasion Kertapati. Jawaban atas pertanyaan Shinta mengenai kematian hanya satu: kemiskinan.

Shinta duduk dua jam lebih di ruangan karaoke. Dia tidak masuk kuliah. Sudah sepuluh lagu dinyanyikannya. Dimulai dari Kopi Dangdut, Yang Ayo Mang sampai lagu Meteor Garden,yang mengingatkan banyak orang pada warna rambut kami : pirang metalik.

Kaki Shinta cukup indah. Panjang, bersih, putih kekuningan, dan tidak ada bekas luka. Ini cukup aneh. Semasa kecil, saat kedua orangtuanya tinggal di rumah rakit, Shinta seringkali luka karena main di tepian Sungai Musi di dekat pabrik karet.
"Kaki saya mengalami keajaiban ketika perawan saya dijual lima juta oleh ibu tiri saya," kata Shinta.

Maksudnya, uang sebesar satu juta rupiah dia belikan minyak sayur, dan setiap hari dia mandi minyak sayur dengan suhu 10 derajat celcius.
"Ah, dongeng," kata Manto, lelaki kurus kering yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, yang punya dua istri.
"Ya, syaratnya harus gadis yang perawannya baru jebol," tambahnya terus tertawa.

Manto akhirnya gagal melobi Shinta.
"Badanmu terlalu kurus dan aku butuh uang banyak. Maaf, ya," ujar Shinta.

Ruangan saat itu terasa dingin. Air keluar dari dinding hall karaoke. Shinta tahu air itu adalah air Sungai Musi. Dia meloncat kegirangan. Disedotnya dalam-dalam aroma tanah dan lembabnya air. Air itu terus menaiki tubuhnya. Mula-mula membasahi ujung jari kakinya, merayap ke paha, dan puncaknya memasuki mulutnya yang mungil. "Banjir!"

Banjir selama lima menit. Lampu mati. Dia baru sadar air membawanya ke kamar karaoke.

Sekelompok aktivis mogok makan. Mereka menuntut pemerintah memberikan tunjangan terhadap pengangguran. Di sebelah seorang aktivis ada seekor tikus yang bercerita bahwa dulunya dia seekor babi yang kemudian dikutuk menjadi seorang manusia, dan kemudian secara jantan mengutuk dirinya sendiri menjadi tikus.

Dia sempat berkenalan dengan Shinta.
"Shinta itu anaknya pendiam. Sopan. Dan suka menyumbang saya dan teman-teman jika ada kegiatan," kata si tikus.
"O, kau kenal Shinta? Apa dia juga setuju dengan pengadilan terhadap para jenderal yang melakukan pelanggaran HAM?" tanya si aktivis.
"Dia bahkan setuju jika satu generasi di atas kita dihabisi!"
"Radikal?" tanya si aktivis terkejut.
"Baginya itu realis. Sebab hanya melalui itu cita-cita reformasi dapat diwujudkan."

Asap menyesaki ruangan. Shinta duduk di dekat tangga setelah mengalami kepanikan sekitar setengah jam. Dia hanya menyaksikan puluhan orang berebut naik tangga ; berlomba-lomba menyelamatkan diri.
"Aku pikir inilah kematian sesungguhnya. Kematian menembus kemiskinan."
***

Di Paris pukul tiga sore. Bayi itu merangkak di jalanan yang tenang. Jenggotnya panjang. Ujung kemaluannya terseret-seret menyentuh aspal jalan. Tak ada rasa sakit. Tersingkirnya Perancis pada babak pertama Piala Dunia 2002 mungkin lebih menyakitkan.

Shinta duduk di sebuah le café. Dia memperhatikan celana seorang pengunjung yang sedang membaca buku, dua meter dariya. Celana lelaki itu berwarna merah. Merah adalah warna yang membuat Shinta selalu bergairah. Meskipun warna itu dianggap berbahaya tatkala Soeharto berkuasa di Indonesia. Merah, menurut Suharto dan antek-anteknya, identik dengan komunis.

Sudah dua bulan Shinta tinggal di Rue 18 Paris. Dia hidup bersama seekor babi, anjing, dan bebek. Ketiga binatang ini merupakan sahabatnya.
Mereka pernah sama-sama mati saat kebakaran sebuah tempat hiburan di Palembang.

"Surga ternyata hanya kumpulan para pengkhayal mengenai kedamaian," kata Shinta terus merobek ujung koran. Dia berjalan, dan menjemput sang bayi yang sudah kelelahan merangkak di jalanan.

"Mari kita pulang. Kita harus menyusun artikel untuk kawan di Ukraina. Mereka membutuhkan teori mengenai perjuangan terhadap kaum perempuan."

Bayi itu mantan seorang menteri. Big baby. Di ruangan tamu, Shinta meletakan bayi di atas sofa, kemudian berbisik kepada anjing agar membuat dua cangkir kopi.
"Jangan lupa kasih setetes parfum," katanya.

Bayi itu datang begitu saja. Dia dikirim tukang pos di dalam sebuah kotak, langsung dari Jakarta.
"Aku sudah mati?" tanya si bayi.
"Kau tidak boleh mati. Kita harus membuat artikel untuk kawan di Ukraina," ujar Shinta.

Di hadapan handphone Ericsson T-68i, Shinta dan si bayi sibuk menyusun kalimat. Kalimat itu tak berlari dari kata: mati karena kemiskinan. Artikel melalui SMS itu pun terkirim. Besoknya, ribuan rakyat Ukraina membunuh presidennya yang tengah berpesta makan coklat.

Shinta dan bayi terus menyusuri jalan-jalan di Paris. "Surga memang hanya melahirkan sejumlah rencana."
***

Asap terus memasuki paru-parunya. Gerbong eksekutif yang dibersihkan abahnya sudah menyambung dengan gerbong bisnis. Gerbong eksekutif hanya diisi lima penumpang. Di klas bisnis puluhan anak-anak berteriak, mengalahkan suara perut ibu dan bapak mereka. Sesak. Kipas angin mengola ribuan aroma.

Shinta terus mengikuti asap. Setelah memenuhi paru-parunya, asap itu pelan-pelan mengeringkan kulitnya. Kemudian dagingnya. Dan suhu yang naik hingga 300 derajat celcius meledakan otak kepalanya. Bertaburan.

Air dari pemadan kebakaran akhirnya menyebarkan seluruh serpihan tubuhnya. Shinta terbang. Dia memesan tiket ke Jakarta. Di Jakarta dia memesan tiket ke Paris. Dia membawa sekantung kecemasan sejumlah pejabat.

Kantung itu di masukan ke lubang toilet pesawat. Puluhan aktivis yang mogok makan melakukan aksi ke jalan. Jalanan sepi. Gedung pemerintah sepi. Mereka menuntut subsidi bagi pengangguran. Tak ada yang menjawab.

Shinta akhirnya menjadi poster. Poster bagi saya yang bermimpi mengalahkan kemiskinan. Saya adalah Susi. Anak petani dan mempunyai lima adik. Saya kuliah dan ingin bekerja sebagai karyawan bank. Tapi, menjadi sales pun saya mau.

Telepon saya jika anda membutuhkan pelayanan. Saya harus mengalahkan kemiskinan.

"Subsidi itu merusak stablitas pembangunan. Aku tak mau mengkhianati negara dan bangsa ini. Negara ini butuh pajak agar tercapai nasionalisme yang damai."

Sekali lagi, telepon saya jika butuh pelayanan. Shinta adalah presidenku.
***

ceritanet©listonpsiregar2000