novel
Dokter
Zhivago 42
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan
Djambatan, Maret 1960.
Hawa
sangat buruk sampai hari ketiga yang tengah berlalu. Waktu itu musim
rontok kedua dari peperangan. Hasil-hasil bagus tahun pertama diikuti
kemerosotan-kemerosotan. Tentara Kedelapan Brussilov yang dipusatkan
di Carpathia dan sudah siap menuruni lereng-lereng Hungaria, malahan
mundur, hanyut oleh air surut pemunduran umum. Kita menarik diri dari
Galicia yang kita duduki selama bulan-bulan pertama pertempuran.
Dr.
Zhivago yang belum lama berselang dikenal sebagai Yura tapi kini makin
sering ditegur sebagai Yury Andreyvich berdiri dalam gang dari seksi
gynecologi rumah sakit, diluar pintu bagian perempuan, dimana ia baru
saja membawa Tonya, istrinya. Ia telah berpamit dari padanya dan kini
sedang menanti untuk bertemu dengan bidan serta mengatur caranya untuk
memperoleh kabar dan panggilan, bila keadaan mendesak.
Ia
perlu buru-buru kembali ke sumah sakitnya sendiri. Ia masih harus
memenuhi dua panggilan pasien, tapi disinilah ia malah memboroskan
waktu yang berharga dengan memandang nanap dari jendela ke air hujan
berleret-leret miring yang dicambuk oleh angin musim rontok, bagaikan
ladang gandum dalam badai.
Hari
masih belum gelap sekali. Dapat dilihatnya rumah sakit sebelah belakang,
beranda bertutup kaca dari rumah-rumah preman di pelataran serta rel
cabang trem yang menuju ke salah satu blok rumah sakit.
Hujan
mengucur tegar lagi muram, tak tambah cepat atau lambat dilanda angin,
maka anginpun agaknya gusar oleh ketidak-acuhan air ini, lalu menggoncang-goncangkan
pohon merayap di salah satu rumah, seakan hendar merenggutnya sampai
akar-akarnya, melambungkannya ke udara dan mencampaknya dengan muak
bagai kain compang-camping.
Ada
trem dengan dua kereta gandengan lewat depan beranda ke gerbang rumah
sakit. Orang-orang yang kena luka diangkut masuk.
Rumah-rumah
sakit di Moskow terlalu penuh sesak, apa lagi sehabis pertempuran
di Lutsk. Orang-orang yang luka diletakkan di segala gang dan bordes.
Karena semua tempat sudah dijejali, orang mulai memakai bagian-bagian
perempuan.
Yury
berpaling dari jendela menguap lantaran letih. Tak ada yang perlu
dipikirnya. Sekonyong ia ingat peristiwa di rumah sakit Salib Kudus,
tempatnya bekerja. Sedikit hari berselang ada perempuan meninggal
di bagian pembedahan. Diagnosa Yuri ialah echinococcus limpa, tapi
semua orang menyalahkan dia. Hari ini dia harus dilakukan penmeriksaan
mayat, tapi orang interns yang bertugas adalah pemabuk besar dan hanya
Tuhanlah yang maklum apa yang akan dihasilkannya.
Malam
mendadak tiba. Di luar tak kelihatan apa-apa lagi. Seolah akibat sentuhan
tingkat mukjzat, di semua jendela muncullah cahaya.
Gynecolog
kepala keluar dari bagian Tonya melalui serambi yang memisahkannya
dari gang. Gynecolog ini seorang raksasa. Bila orang bertanya padanya,
ia menjawab dengan angkat bahu dan putar-putar mata saja; ini agaknya
berarti bahwa betapa majupun ilmu pengetahuan, namun "masih banyak
lagi di langit dan bumi, Haritio..."
Ia
lewat di depan Yuri dengan senyum dan anggukan member isyarat beberpa
kali dengan tangannya yang gemuk, hendak menyatakan bahwa tak ada
jalan lain selain kesabaran, lalu meninggalkan gang untuk merokok
di kamar tunggu.
Dibelakangnya
datanglah asisten yang suka omong, kebalikan dari gynecolog tadi yang
peminum.
"Kalau
saya jadi tuan, saya pulang saja," tuturnya pada Yuri. "Besok
saya telepon tuan di Salib Kudus. Tak bakal terjadi apa-apa antara
kini dan esok. Banyak alasan untuk mengharapkan kelahiran normal,
pembedahan tak akan perlu. Tapi rongga pinggangnya memang sempit,
kepala bayi dalam posisi occipito-posterio, nyeri tak ada, pun konstraksinya
lemah. Semua ini memberi alasan untuk gelisah. Namun tak bisa lekas
ditentukan. Tergantung dari meningkatnya rasa nyeri bila persalinan
mulai. Barulah kita tahu apa akan terjadi."
Ketika
esok harinya Yuri menilpun, jurukunci rumah sakit yang menerima panggilannya
minta ia menunggu selama dicarinya keterangan; sesudah membiarkan
ia menunggu dengan pilu sepuluh menit lamanya, iapun kembali dengan
keterangan kabur yang disampaikan secara kasar : "Mereka bilang,
katakan padanya, dia bawa istrinya terlalu pagi, ia mesti mengambilnya
pulang."
Dengan
berang Yuri mengatakan supaya dipanggil orang yang lebih bertanggung-jawab.
Jururawat yang akhirnya menjawab menuturkan bahwa gejala-gejala telah
menyesatkan, bahwa dokter tak perlu kuatir, tapi mungkin mesti menunggu
dua hari lagi.
Pada
hari ketiga ia dengar persalinan telah mulai malam yang lalu, airnya
telah keluar waktu fajar, nyerinya hebat dengan selingan pendek-pendek
sejak dinihari.
Ia
terbirit-birit ke rumah sakit. Waktu melalui gang menuju pintu yang
secara khilaf dibiarkan separoh terbuka, ia dengar jerit pekik Tonya
yang menyayat hati; ia berteriak sebagai korban kecelakaan dengan
anggota-anggota badan yang remuk ditarik dari bawah roda kereta api.
Ia
tak boleh melihatnya. Ia menggigit jarinya sampai berdarah, lantas
melihat ke jendela; hujan lebat masih berleretan miring seperti kemarin
dan kemarin dulu.
Seorang
perawat keluar dan didengarnya tangis bayi yang baru lahir : "Ia
aman, ia aman," pikir Yuri yang pulih gembiranya; ia hampir tak
menangkap apa yang dikatakan perawat itu, pun bahwa ia disangkutkan
olehnya dalah ucapan selamatnya, seolah ia berperan dalam apa yang
terjadi. Apakah sebetulnya hubungannya dengan kejadian ini? Ayah-anak;
tak dilihatnya sesuatu yang patut dibanggakan dalam kedudukannya sebagai
ayah yang bukan hasil jerih payahnya ini; ia tak dapat merasa apa-apa
mengenai hadiah ke orang-tuaan yang turun padanya dari langit. Semua
itu di luar kesadaran. Yang penting ialah bahwa Tonya, Tonya yang
tadi mengalamai bahaya maut, kini aman sentosa.
Ada
pasiennya yang tinggal dekat rumah sakit. Ia pergi mengunjunginya
dan balik dalam setengah jam. Pintu serambi maupun pintu seksi terbuka
pula sedikit. Tanpa sadar akan perbuatannya, Yuri buru-buru masuk
ke serambi.
Gynecolog
raksasa dengan jubah putihnya muncul di depannya, seakan timbul dari
tanah serta merintangi jalannya.
"Tuan
mau berbuat apa?" bisiknya sengal-sengal supaya si sakit tak
mendengarnya. "Tuan hilang akal? Ada luka-luka, darah, resiko
akan sepsis, belum pula kegoncangan batin! Baik benar kelakukan tuan,
sedangkan tuan seorang dokter."
"Bukan
maksud saya... Boleh melihat sepintas saja? Dari sinilah, mengintip
pintu."
"O
baiklah, itu lain halnya. Silahkan kalau tuan ingin. Tapi jangan sampai
kepergok saya... Kapan dia lihat tuan, saya bekuk leher tuan, pembunuhan
akan terjadi."
Di
dalam kamar itu dua perempuan berjubah putih berdiri membelakangi
pintu; mereka adalah bidan dan jururawat. Di tapak tangan si perawat
terbaring seorang tunas kerdil insani yang menangis-nangis menggeliat
dan meringkuk seperti sepotong karet India merah tua. Bidan meletakkan
balut di pusat sebelum memotong tembuni. Tonya terbaring atas ranjang
pembedahan dengan papan yang dapat digerakkan di tengah kamar. Ranjang
ini agak tinggi. Yuri yang dalam gairahnya melebih-lebihkan segala
hal mengira Tonya terbaring kira-kira pada ketinggian sebuah lesenar,
yang didepannya orang menulis sampil berdiri.
Terangkat
lebih tinggi, lebih dekat ke langit-langit dari yang bisa dialami
mahluk fana biasa, Tonya terkapar ngah-ngah dalam mendung kepedihannya
yang telah diderita. Bagi Yuri ia seperti bahtera sedang mengaso di
tengah pelabuhan, sehabis berlabuh dan lagi dibongkar, bahtera yang
terombang-ambing antara negeri tak dikenal dan benua kehidupan di
seberang lautan maut, dimuati jiwa-jiwa yang baru mengungsi. Satu
jiwa baru saja mendarat dan bahteranya kini bersauh, istirahat dengan
lambang ringan karena kosong. Bahtera itu seluruhnya mengaso, tiang-tiang
yang diuji berat serta badannya dan kenangannya yang tercuci bersih
dari bayangan pantai lainnya, dari penyeberangan serta berlabuhnya.
Dan
lantaran tak ada yang pernah menyelidik negeri yang dia kibarkan benderanya,
tak ada pula yang kenal bahasanya untuk bicara dengannya.
Tiap
orang di rumah sakitnya mengucapkan selamat padanya. Heranlah ia menyaksikan
betapa cepat kabar itu beredar.
Ia
masuk kamar pegawai yang terkenal dengan nama Pelimbahan. Karena rumah
sakit kekurangan ruangan, kamar itu dipakai sebagai kamar pakaian
; orang masuk dari luar membawa sepatu salju, mereka lupakan bingkisan
mereka dan mengotori lantai dengan kertas dan puntung rokok.
Seorang
intern yang tua lagi lemah berdiri dekat jendela, menating botol berisi
cairan hitam di depan cahaya dan memeriksanya dari atas kacamatanya.
"Selamat,"
ujarnya tanpa menoleh.
"Terimakasih. Tuan baik hati."
"Jangan berterima-kasih pada saya. Saya tak sangkut-paut. Pichuskin
yang memeriksa mayat. Tapi tiap orang takjub, ternyata memang echinococcus.
Ahli diagnosa benar, kata mereka semua. Tiap orang membicarakan itu."
Saat
itu masuklah dokter kepala, ia menyalam dan berkata : "Persetan,
tempat ini diapakan saja? Kotornya bukan main! Hai, Zhivago, memang
benar echinococcus; coba pikir, kami keliru. Selamatlah. Ada satu
hal lagi. Menjemukan. Orang mengontrol kelasmu. Kali ini saya tak
dapat mencegah mereka. Kurangnya personil medis ini mengkuatirkan.
Tak lama lagi akan kamu cium bau mesiu."
***