laporan Gerakan Para Sineas 'Baik-baik'
tentang Eliana Eliana dan Bendera
Ging Ginajar

Dua film ini, Eliana-Eliana karya Riri Riza dan Bendera karya Nan Achnas, masuk pasar dalam waktu hampir bersamaan, akhir bulan lalu. Perbedaannya cuma seminggu, dan keduanya diputar di bioskop-bioskop yang kira-kira sama pula. Sehingga kita menyaksikan pemandangan yang jarang: dua film Indonesia diputar bersamaan pada sinepleks yang sama. Sayangnya, keduanya tak banyak didatangi penonton.

Ini berbeda dengan apa yang terjadi beberapa bulan lalu ketika untuk pertama kalinya dua film Indonesia diputar bersamaan di jaringan 21, yakni menyangkut Jelangkung karya Rizal Mantovani dan Ada Apa Dengan Cinta karya Rudi Sudjarwo. Waktu itu Jelangkung masuk edar berpekan-pekan lebih awal, dan tanpa dinyana bertahan sangat lama dengan penonton bejibun, bahkan ketika Ada Apa Dengan Cinta mendampinginya di peredaran, jubelan penonton lebih banyak lagi.

Tetapi tandem Eliana Eliana - Bendera memang berbeda dengan tandem Jelangkung - Ada Apa Dengan Cinta. Bahkan sejak dari nawaetunya. Eliana dan Bendera sejak awal diniatkan sebagai proyek idealis dari kedua sutradara eksponen I-sinema ini. Baik Riri maupun Nan berniat membuat karya personal berbiaya rendah. Mereka bermaksud mencipta karya seni. Dan keduanya tidak gagal sama sekali.

Sungguh menarik bagaimana sejumlah kesamaan muncul dari dua film ini. Kesamaan pertama tentu dari segi teknis. Keduanya sama dibuat dengan digital video, dengan kamera ditenteng. Kesamaan lain terletak pada sifatnya sebagai sinema perjalanan. Lalu tokoh-tokohnya yang minimal. Keduanya sama-sama pula membawa kita pada 'pedalaman' Jakarta, daerah-daerah ibu kota yang langka dijelajahi film-film kita sebelumnya.

Dan yang boleh secara khusus kita catat adalah bahwa keduanya memberi kita rasa senang ekstra sebagai penonton, karena 'mengaduk-aduk' Jakarta tanpa menampilkan Monas dan bundaran Hotel Indonesia. Saya tak ingat statistiknya tapi rasanya setiap kali menampilkan Jakarta, film Indonesia selama ini hampir pasti akan memperlihatkan gambar monas dan/atau bundaran HI. Penggambaran kesemerawutan Jakarta tanpa dua landmark ini, secara berseloroh bisa kita catat sebagai pencapaian khusus Eliana dan Bendera.

Yang lebih serius tentang pencapaian Eliana dan Bendera adalah keberhasilannya untuk memperlakukan kekumuhan dan kesmerawutan Jakarta urban secara wajar, tanpa dramatisasi, tanpa upaya menampilkan kontras-kontras sosial. Kita sudah menyaksikan belasan barangkali puluhan film lain, berbagai jenis, komedi, tragedi, melodrama, yang seperti punya kewajiban religius untuk barang satu shot dua shot membuat pernyataan tentang kesenjangan sosial yang memang edan di Jakarta, melalui kontras shots pencakar langit dengan gubuk reyot atau becak atau bajaj atau apalah. Bendera dan Eliana, syukurlah berhasil melewati godaan itu dengan selamat.

Eliana mengalirkan pertunjukkan melalui perjalanan yang digambarkan Riri Riza berlangsung dalam 10 jam. Eliana (Rachel Sayidina) kedatangan sang ibu yang dipanggilnya Bunda (Jajang C. Noer) dari Padang yang memaksanya menikah 5 tahun lalu dan karenanya Eliana kabur ke Jakarta.

Pertemuan pertama kedua anak beranak itu hampir jadi adegan menggetarkan. Eliana di tempat kosnya, di dapur atau ruang makan terserahlah, mendapati ibunya secara tak terduga. Keduanya saling mendekat pelan dalam pancaran emosi yang siap meledak. Hakul yakin keduanya akan saling berpelukan dan saling memecah tangis, atau sebaliknya saling meledakkan kutukan.

Ternyata tidak. Riri membangun adegan ini seperti sebuah koreografi: ia biarkan keduanya saling bergerak dengan mata saling menatap, memutar dan mengambil tempat duduk dengan tanpa mengubah raut muka. Ini adegan yang desainnya sangat indah, namun daya getarnya sedikit terganggu oleh penampilan Rachel Sayidina yang tidak begitu meyakinkan.

Ekspresi datar dalam mimik dan pengucapan dialog macam ini, menjadi nada dasar keseluruhan film. Sekali waktu ini dipecahkan oleh letupan emosi Eliana -yang juga tak begitu meyakinkan- tetapi Riri mengembalikan suasana datar film ini dengan segera.

Riri yang juga menulis skenarionya bersama Prima Rusdi, mendesain Eliana sebagai film yang minim dialog. Ia mengembangkan dan mengeksplorasi karakter para tokohnya melalui suasana dan peristiwa. Ini studi yang sangat menarik. Lebih-lebih lagi bila diingat bahwa film ----dan sinetron-- Indonesia biasanya sangat cerewet --apa pun dikatakan, tapi tak mengungkapkan apa-apa kecuali kecupetan para pembuatnya.

Eliana dan Bunda menjelajahi Jakarta satu malam, bersama Bungaran (Arswendy Nasution), seorang sopir taksi yang semrawut. Interaksi yang terjadi di antara ketiganya menjadi media penonton untuk mengenali mereka: perangainya, dunianya, riwayatnya, dan sedikit sejarahnya.

Kalau Eliana adalah studi watak, maka Bendera merupakan suatu studi peristiwa. Bendera mengarahkan kita pada pengenalan kembali kemungkinan-kemungkinan kejadian seputar kita. Apapun bisa terjadi, kita menginginkannya atau tidak, untuk alasan yang masuk akal atau konyol.

Budi (Hafidz Khoir) dan Rosi (Nuansa Jawadwipa) yang ditugasi guru mereka untuk mencuci bendera, yang ternyata pusaka sekolah, untuk digunakan dalam upacara Seninan. Bendera itu ternyata tak bisa diam: ia lenyap dari tempat pencucian karena embernya dipake Bang Ali, pengemudi Bajaj yang perlente, dibawa tukang loak, disamber koboi tengik di kereta. Dengan hemat kata namun kaya peristiwa Nan membawa kita pada petualangan dua bocah ini untuk menemukan kembali benderanya, menjelajahi Jakarta: gang-gang sempit Manggarai, kemacetan jalanan, bantaran kali, gerbong kereta Jabotabek, trotoar.

Dalam Bendera dialog jauh lebih sedikit lagi. Budi dan Rosi dua tokoh bocah penggulir film ini, hanya berbicara sesekali. Kata-kata betul-betul cuma penyampai maksud belaka, dan digunakan secara sangat irit. Dalam banyak peristiwa komunikasi keduanya berlangsung bahkan cuma dengan siulan. Bendera memang dibuat tidak dengan skenario ketat. Improvisasi mendapat tempat yang leluasa.

Bendera dan Eliana menemukan akhir yang sama. Bahwa pencarian berujung pada penemuan. Eliana menemukan tapi kehilangan Heni, namun menemukan kembali ibu dan inti kasihnya. Budi dan Rosi menemukan kembali bendera pusakanya kendati rok Rosi harus digunting sedikit untuk menambal tali bendera itu.

Semua orang lega, bahagia.

Dan pada akhirnya kesamaan paling pokok kedua film ini ialah pesan moralnya tentang nilai-nilai lama yang dianggap adiluhung.

Pada awalnya Eliana seperti menjanjikan pada kita pertentangan nilai habis-habisan antara sepasang ibu anak yang saling durhaka. Berlatarkan peristiwa saling melukai 5 tahun lalu: Bunda mengawinkan paksa, dan Eliana kabur di hari ia mesti kawin.

Bunda datang ternyata masih dalam sikap 5 tahun lalu: di tangannya ada tiket untuk mereka berdua kembali ke Padang derngan pesawat pertama esok pagi. Sebagaimana 5 tahun lalu, Bunda tak merasa perlu berunding dengan Eliana. Bunda mengambil segala keputusan.

Eliana tak pernah betul-betul menjawab sikap otoriter Bunda itu. Ia hanya membawa bundanya melakukan perjalanan menempuh malam Jakarta, mencari Heni, teman tempatnya menemukan dirinya. Dan kita merasa Eliana Eliana tengah menyiapkan suatu komplikasi persoalan. Ternyata itu hanya berwujud letupan kecil.

Pada akhirnya Eliana menemukan Heni yang berbeda, dan si anak hilang pun kembali pada ibunya. Riri Riza memang melunturkan sedikit sikap Bunda di akhir, untuk tak membuat Eliana tak terlalu tampak menyerah. Tapi pada intinya, Riri Riza membawa Eliana Eliana pada penolakan atas pendurhakaan. Sermua masalah selama ini diperlakukan seakan semacam kesalahpahaman artau kehilafan belaka, seakan mesin ngadat yang dengan mudah direparasi. Maka Eliana kembali pada Bunda dan Bunda kembali kepada Eliana.

Semua tokoh memancarkan energi positif: Eliana, Bunda, Henny dan Ratna. Semuanya baik-baik saja. Kesalahan Bunda, pengkhianatan Henny, kegelapan hidup Ratna, pemberontakan Eliana, semua ada alasannya dan dalam suatu koridor moral yang terjaga.

Pada Bendera, seluruh haru-biru perjalanan Budi dan Rosi berakhir dengan keberhasilan membawa bendera pusaka dalam upacara Seninan pada waktunya. Senyum kebanggaan pun mengembang: bahwa keduanya berhasil dalam perjuangan demi simbol-simbol kehormatan bangsa.

Kehormatan bangsa? Pesan moral film ini memang terasa rada tinggi: nasionalisme. Nan, sutradaranya mengatakan, dorongan pembuatan film ini muncul lantaran Peristiwa Mei 1998.

Bendera dan Eliana kaya akan upaya mencari kebaruan. Penjelejahan kamera tenteng dan digital video. Teknik bercerita dan topiknya sendiri, sungguh mengasyikan. Keduanya memperlihatkan penjelajahan yang sangat serius ihwal cara bicara sederhana dalam sinema. Ini sebuah kontras terhadap kecenderungan film kita yang biasanya ingin bicara banyak dengan berbagai cara.

Begitu penuh akan kebaruan, begitu banyak hal menarik di kedua film ini. Dan di luar berbagai kekurangan teknis, ada yang terasa kurang. Dan yang absen itu adalah kegelisahan.

Eliana membicarakan cinta yang intim ibu dan anak --yang tak pernah digarap dalam film kita. Bendera membicarakan perjuangan sederhana dua bocah, juga hal yang tak pernah disentuh. Tetapi keduanya belum juga memperlihatkan pencarian dan penjelajahan yang otentik tentang, katakanlah nilai-nilai.

Berbagai kerumitan di kedua film akhirnya kembali pada nilai-nilai lama tentang keluhuran cinta ibu-anak dan kehormatan, yang selama ini memang sudah menjadi semacam kepercayaan bersama yang hidup di masyarakat kita. Eliana dan bendera merasa nyaman dalam nilai, kepercayaan dan norma-norma itu. Tak terlihat gugatan, atau protes atas semua itu. Tak ada keraguan, tak ada kesangsian.Tak ada kegelisahan. Bahkan sekadar untuk bermain-main, apalagi memperolok nilai-nilai itu pun tidak.

Kerumitan peristiwa, konflik, bentrokan, muncul lebih untuk mengkonfirmasi kebenaran nilai-nilai itu. Seperti sudah disebut, konflik Eliana-Bunda yang terbayang begitu prinsipal, toh terpecahkan dengan aman dan damai, dan muncullah pesan tentang tak tergantikannya kesejatian cinta ibu-anak.

Sementara dalam bendera rentetan kejadian yang sesekali jenaka, pada momen-momen tertentu justru diberi beban. Misalnya nyanyian tukang loak, Agus Jolly , dengan tembang Jawa berpetatah-petitih. Bandingkan dengan sebuah adegan dalam Marsinah karya Slamet Rahardjo yang baru saja beredar. Dalam adegan itu seorang yang dikambinghitamkan sebagai pembunuh Marsinah, disiksa dengan disetrum kelaminnya. Ketika menahan siksaan, ia justru menyanyikan, dengan kesakitan, sebuah lagu cengeng dari Favourites Group: "Ingin Diam, silahkan! Asal jangan kau putuskan cintaku, ooooo". Pada Marsinah yang penuh dimensi politik, kita ditampar dengan olok-olok yang kurang-ajar seperti itu.

Eliana dan Bendera merupakan karya personal dan subyektif dari Riri Riza dan Nan Achnas yang sebelumnya sukses dengan Petualangan Sherina dan Pasir Berbisik. Kedua film ini boleh dilihat sebagai suatu gerakan dalam film Indonesia mutakhir. Namun gerakan itu masih belum dengan gugatan. Jangan-jangan karena para para kreator kedua film ini adalah seniman 'baik-baik. Yang tidak merasa ada yang salah dengan nilai sekeliling mereka. Tidak ada yang perlu dipertanyakan apalagi dijungkirbalikkan.

Eliana dan Bendera datang pada kita tidak dengan pertanyaan. Melainkan memberi peneguhan, konfirmasi atas suatu pedoman lama, nilai-nilai establish: jangan engkau durhaka, pada ibu, pada negara. Tidak apa-apa juga. ***

ceritanet©listonpsiregar2000