novel
Dokter
Zhivago 41
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
Sembilan
hari kemudian teman-teman mereka menyelenggarakan persta perpisahan
untuk mereka, masih dalam kamar yang sama. Baik Pasha maupun Lara
telah lulus ujian, kedua-duanya sama utamanya dan kedua-duanya telah
ditawari pekerjaan di kota yang sama di daerah Ural; esok mereka berangkat
ke sana.
Sekali
lagi orang minum-minum, menyanyi dan beramai-ramai, tapi kali ini
yang hadir hanyalah yang muda-muda.
Di
belakang sekatan yang memisahkan tempat kediaman dari studio ada kopor,
terbikin dari ranting-ranting dan sebuah lagi yang lebih kecil kepunyaan
Lara; ada seperti barang-barang gerabah dan beberapa karung. Bagasinya
banyak sekali. Sebagian akan dikirim sebagai barang muatan esok harinya.
Hampir
semuanya telah terkemas, tapi masih ada lowongan kecil dalam peti
dan keranjang-keranjang. Berkali-kali Lara mendapat pikiran untuk
membawa sesuatu, lantas dimasukkannya itu dalam salah sebuah keranjang
dengan mengatur kembali lapisan atas supaya rata.
Pasha
ada di rumah dan sudah menghibur tamu-tamu ketika Lara kembali dari
kantor pendaftarannya di Perguruan Tinggi; ia kesitu untuk mengambil
surat kelahirannya serta dokumen-dokumen lainnya; ia naik diikuti
jurukunci dengan seberkas kain pembungkus dan tambang kokoh kuat untuk
barang-barang yang akan dikirim sebagai barang muatan. Jurukunci disuruhnya
pergi; ia keliling menemui tamu-tamu, berjabatan tangan dengan beberapa
orang serta mencium lain-lainnya, kemudian masuk kamar untuk ganti
pakaian. Waktu ia tampil kembali. orangpun bertepuk tangan, lalu duduk,
maka mulailah keriuhan seperti pada santapan perkawinan beberapa hari
yang lampau. Vodka disuguhkan agar para tetangga lebih terhibur lagi;
tangan dan garpu bertemu di tengah meja, tempat terhidang roti, makanan
pendahuluan dan makanan rebusan; pidato diadakan dan orangpun mengerecok
sambil menghabiskan isi gelas mereka, bertukaran lelucon dan mabuk-mabuk.
"Aku
letih lesu," kata Lara yang duduk di sisi suaminya. "Kau
berhasil menyelesaikan yang perlu-perlu?"
"Ya."
"Bagaimanapun juga aku merasa senang sekali. Aku bahagia. kau
juga?"
"Tentu. Tapi itu panjang ceritanya."
Sebagai pengecualian, Komarovsky telah dibolehkan ikut serta dengan
pesta pemuda ini. Pada akhir perayaan ia mulai mengatakan betapa sedih
rasanya nanti, bila kedua teman mudanya itu meninggalkan Moskow --kota
akan semacam gurun, gurun Sahara; tapi ia menjadi amat sentimentil
dan tersedu-sedu, sampai terpaksa mulai dari pemulaan lagi.
Pada
suami istri Antipov ia minta ijin untuk menyurati dan mengunjungi
mereka di Ural, jika ia tak betah menanggung perpisahan.
"Itu
tak guna sama sekali," kata Lara dengan suara lantang lagi tercenung.
"Dan menulis surat, Sahara dan sebagainya itu pada umumnya tak
bermakna. Soal berkunjung tak usah digagas. Berkat Tuhan, kau akan
selamat tanpa kami, kami bukanlah orang-orang istimewa. Bukankah begitu,
Pasha? Kalau mujur, akan kau jumpai teman-teman muda lainnya."
Sekonyong-konyong
ia lupa apa yang diucapkannya, lalu pergilah ia ke atas, lari ke dapur.
Di situ ia mencopoti gilingan daging serta menjejalkan semua bagiannya
ke sudut-sudut peti barang gerabah dan mengganjalnya dengan jerami
sejemput-jemput.
Waktu
berbuat begitu, ia melukai diri dengan tepi peti dan nyaris ketusuk.
Karena
tekun dalam pekerjaaannya, ia tak mendengarkan lagi suara tamu-tamunya,
lupa segalah hal ; mereka sampai diingatkan akan hadirat mereka oleh
gelak ketawa yang tiba-tiba. Ia mendapat kesan bahwa orang mabuk selalu
hendak melakukan peranan orang yang mabuk; makin mabuk makin keras
usahanya hingga pemeranannya itu makin berlebih-lebihan.
Pada
saat itu ada bunyi lain yang datang dari pekarangan, menarik perhatiannya.
Ia kuakkan tirai lalu menjenguk ke luar.
Seekor
kuda yang pincang melintasi pekarangan dengan loncatan-loncatan pendek
serba tempang. Ia tak tahu, kuda siapa itu dan bagaimana ia sampai
kesasar di pekarangan. Kota yang sedang tidur itu seperti mati, bermandi
hawa subuh dingin yang biru kelabu. Lara memajamkan mata, hanyut pada
pikiran mendalam serta kesenangan penghidupan di dusun, entah bagaimana
berkat bunyi langkah kuda yang pincang tadi, beda dari bunyi lainnya.
Bel
di pintu mendering; ada orang naik tangga untuk membuka pintu. Lara
menajamkan telinga. Itulah Nadya. Lara lari menjemputnya. Nadya datang
langsung dari kereta api, segar, mempesona, seolah dibawanya harum
bunga bakung di lenbah Duplyanka. Dua kawan itu berdiri dengan bungkam
saja karena terharu, hanya sanggup rangkul merangkul dan menangis
sepuas-puasnya.
Nadya
mengantarkan pada Lara ucapan selamat serta salam dari seluruh keluarga
dan hadiah orang tuanya. Diambilnya kotak permata dari tasnya, dibukanya
itu dan diulurkannya kalung yang sangat indah.
Nafas
orang menggagap karena senang dan kagum. Seorang tamu yang mabuk,
tapi sudah siuman sedikit, berkata :
"Itu
permata jingga. Ya, ya, jingga, percaya atau tidak. Begitulah.Sama
berharganya dengan intan."
Tapi
menurut Nadya batu-batu itu adalah safir yang kuning.
Lara
mengajak Nadya duduk di sampingnya untuk makandan minum. Kalung ada
di sisi piringnya dan ia melihatnya tak henti-henti. Batu-batu itu
terletak dalam lekuk-lekuk di bantalan ungu yang melapisi kotaknya,
kadang mirip pada embun, kadang serupa dengan sebulir buah anggur
kecil.
Sementara
itu beberapa tamu yang telah sadar kembali, telah minum lagi untuk
menemani Nadya yang segera dibuat mabuk oleh mereka.
Tak
lama kemudian tiap orang dalam flat itu tidur lelap. Kebanyakan mereka
akan mengantar Lara dan Pasha esoknya, jadi menginap saja. Banyak
yan sudah ngorok sebelum kedatangan Nadya, dan Lara sendiri lelah
tak pernah paham apa sebabnya ia tidur berpakaian lengkap di sofa
dekat Ira Lagodina.
Malam
hari ia bangun oleh suara-suara di pekarangan; para pemilik kuda telah
datang mengambil hewan itu. Waku membuka mata, berkata ia dalam bathin
: "Apa pula kerja Pasha mengendap-endap di tengah kamar?"
Tapi ketika orang yang disangkanya Pasha itu menoleh, nampaklah muka
yang menakutkan, bopeng dan ada bekas lukanya dari kening sampai dagu.
Ia mengerti bahwa itu pencuri, dicobanya berteriak tapi tak sanggup
mengeluarkan suara. Ia ingat kalungnya, maka setelah ia hati-hati
menegakkan diri dengan sikutnya, iapun melihat ke meja, dimana kalung
itu ditinggalkannya.
Kalung
masih di situ antara remah-remah roti dan bungkus-bungkus coklat yang
kosong; pencuri dungu itu tak melihatnya. Ia hanya mengorek-ngorek
dalam kopor yang ia kemaskan tadi dengan teliti, hingga pekerjaan
Lara dikacaukannya; hanya itulah yang dapat dipikirkannya saat itu,
setengah tidur dan masih mabuk. Dicobanya lagi berteriak dan dialaminya
lagi bahwa ia tak bisa. Akihirnya ia menyodok perut Ira dengan lututnya
dan ketika Ira menjerit kesakitan iapun mendapatkan kembali suaranya.
Pencuri tadi membuang segala-galanya dan lari. Beberapa lelaki melompat
hendak menangkapnya, tanpa mengetahui ada apa yang sebetulnya, tapi
waktu mereka tiba keluar si pencuri sudah lenyap.
Kegaduhan
ini membangunkan tiap orang dan Lara tak membolehkan mereka tidur
lagi. Ia membuat kopi untuk mereka, lalu menyilakan mereka pulang;
sampai tiba waktunya untuk pergi ke setasiun.
Kemudian
ia bekerja; buru-buru ia menyumbat keranjang-keranjang dengan seprei
dan sarung bantal, menutup bagasinya serta mengikatnya dengan tambang,
sedangkan pada Pasha dan istri jurukunci ia hanya minta agar tak mengganggu
dia dengan mencoba membantunya.
Semuanya
selesai pada waktunya. Suami istri Antipov dapat mencapai kereta api.
Semua berjalan lancar, seakan terkipas oleh topi-topi para teman yang
dilambaikan di belakang mereka. Waktu mereka berhenti dan melambai
dan tiga kali menyerukan sesuatu --barangkali ; Hure-- kereta api
menambah kecepatannya.***