sajak Semangkuk Sereal Untukmu
: josephira
T.S. Pinang
mengapa pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,
ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah bosan
menjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih atas sepotong
keju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbang
ataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu

selengkapnya

 laporan Kota Itu Masih Tetap Tidak Tidur
Ningrum Sirait
Untuk kesekian kalinya aku berkunjung ke ibukota dunia ; 'Capital of the World,' kata mantan walikotanya Rudy Giulani yang terkenal berhasil membersihkan New York dari kriminal, dan memberinya wajah baru yang lebih menarik. Sebelas September sudah hampir setahun dan banyak sudut-sudut yang terasa tetap sama saja. Stasiun Grand Central masih berlangit langit langit rotunda yang cantik, dengan lukisan artistik. Subwaynya masih menyimpan beberapa warna hitam ketuaan, walau di beberapa stasiun kulihat juga marmer baru berwarna beige, yang aku yakin pergantiannya tidak ada hubungan dengan 11 September.
selengkapnya


draft novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Melewati rumah-rumah saudagar abad sembilanbelas yang kini umumnya telah dijadikan lima atau enam flat terpisah, tangannya mulai letih, pegangan tas seakan akan memotong jari-jarinya. Beberapa tas belanjaan berisi hadiah Natal untuk orang-tuanya, untuk Jagger, untuk Sanca, dan untuk Keith, dan juga beberapa bahan makanan untuk sumbangan makan siang hari Natal yang akan dirayakan berkumpul di rumah orangtuanya, makin berat. Membayangkan perayaan Natal di Liverpool, wajahnya yang cantik menjadi tegang. Sorot pandangnya mengeras.
selengkapnya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo),
disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960
Sembilan hari kemudian teman-teman mereka menyelenggarakan persta perpisahan untuk mereka, masih dalam kamar yang sama. Baik Pasha maupun Lara telah lulus ujian, kedua-duanya sama utamanya dan kedua-duanya telah ditawari pekerjaan di kota yang sama di daerah Ural; esok mereka berangkat ke sana. Sekali lagi orang minum-minum, menyanyi dan beramai-ramai, tapi kali ini yang hadir hanyalah yang muda-muda.
selengkapnya


penulis edisi 41

 cerpen Mental Kelelawar di Negeri Kelelawar
Imron Supriyadi
Lepas ashar, setiap kali aku duduk di serambi masjid, aku selalu menyaksikan puluhan, bahkan ratusan kelelawar. Di depan masjid itu memang ada pohon beringin yang cukup besar, dan diatasnya bergelantungan buah buah kecil yang suka dimakan burung dan kelelawar. Jadi tiap sore mulai menjelang, hampir semua kelelawar dan burung berkumpul dan beterbangan dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting.
selengkapnya

ceritanet©listonpsiregar2000