sajak
Semangkuk Sereal Untukmu
:
josephira
T.S. Pinang
mengapa
pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,
ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah
bosan
menjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih
atas sepotong
keju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbang
ataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu
berita televisi
merampok selera makan
dan sebatang rokok menjadi sepengap asap mesiu
saat lagu kanak-kanak terdengar begitu pilu
hingga air mataku segan mengalir terlalu banyak
setitik saja cukuplah untuk sebuah sarapan pagi
seharusnya,
katamu, embun menguap membawa janji bumi
ke langit agar tak lagi kau dengar lagu pilu
saat kausisip kopi krem dengan segigit roti keju
seharusnya
matahari cukup hangat
seperti layaknya secangkir kopi
menguapkan harum
yogyakarta,
2001
Sangkuriang
terbatuk-batuk
masih kulihat engkau, terseok-seok mengusung keranda
sendiri. dimana masih tersisa sepetak bumi untuk kuburan cintaku
ini,
rintihmu menghiba pada angin kota, pada genang got riool tepi
jalan, pada
lampu merkuri malam-malam
mungkin kesepian
ini harus kautelan bulat, sebagai puisi ataukah doa, tak
penting benar. mungkin rumah hati telah terlalu sempit oleh
bangkai-bangkai
menung, filsafat-filsafat murung
"aku
haus air susu ibu!" raungmu mengepal tinju
pada bulan
dingin tanpa peduli, pada siapa lagi kaucari-cari. lalu engkau
perkosa ibumu sendiri seperti kau cabut jantung anjing, bapamu:
engkau pun
keluar dari bingkai dongeng!
yogyakarta, 2001